12/05/2009

Between Girl and Boy 18

Sama sekali tak ada semangat untuk menjalani hari ini. Segalanya terasa berat, padahal tak ada hal lain yang membebani hatiku selain masalahku dengan Abel. Ah, memang ini yang terbaik mungkin. Kuputuskan untuk tidak lagi memikirkannya, tapi sepertinya kepalaku masih dipenuhi oleh bayangan dirinya. Ups, aku harus cepat-cepat melupakannya supaya bisa kembali bersemangat seperti biasanya. Kalau tidak, aku akan menjadi orang paling bodoh karena cuma aku yang memikirkannya seperti ini. Aku yakin, ia takkan peduli lagi padaku. Hufff... aku menghela nafas.
"Kenapa, Lir? Lesu amat lo." Desti nyeletuk.
Kuangkat kepalaku yang tadinya tergeletak di atas meja. "Hei, Des." Sapaanku pun terdengar lemas. Apa aku sesedih ini ya, pikirku membatin.
"Ya ampun, Lira. Lo lagi kenapa sih? Kayak gak ada semangat hidup aja. Lagi ada problem?"
"Kurang lebih gitulah, Des."
"Kenapa? Cerita-cerita dong. Siapa tau aja gue bisa ngebantuin lo, Lir."
Aku tertawa pahit. "Gak bakal ada yang bisa bantuin, Des."
"Lho, emang kenapa?" Entah angin apa yang membuat kedua mataku basah dan berair mendadak. Aku menangis? Oh, aku tak percaya ini. Untuk apa aku menangis, tanyaku bodoh dalam hati. "Lira..." Desti memelukku. Mungkin ialah sahabatku yang paling bisa mengertiku di antara semua sahabat yang kupunya. "Kalo lo lagi ada masalah, cerita-cerita aja. Seenggaknya kalo lo cerita, beban lo berkurang, Lir. Tapi kalo emang lo gak mau cerita, gue gak akan maksa. Gue akan tunggu lo sampe tenang."
Aku jadi sesenggukkan. Uh, memalukan. "Gue...pu-tus..." Desti terlihat agak syok mendengarnya, tapi ia berusaha menyembunyikan rasa kagetnya itu dan membiarkanku melanjutkan kalimatku yang terputus-putus karena terisak. "Apa gue salah karna udah mutusin dia, Des?" tanyaku masih sambil terisak.
"Gue yakin, lo punya alasan yang kuat buat putus, Lir."
Sadar bahwa aku telah melakukan hal paling memalukan, yakni menangis di depan umum seperti ini, aku langsung melepaskan diri dari pelukan Desti dan menyeka air mata yang membasahi wajahku dan membuatku berantakan. "Thanks ya, Des. Gue udah lega sekarang."
"Jangan sedih lagi ya, Lir. Kalo lo sedih, gue jadi ikut sedih nih."
Kucoba untuk menarik senyumku lebar-lebar. "Iya, tenang aja. Gue rasa, gue cukup tegar untuk ngadepin masalah kayak gini." Menghibur diri sendiri, mungkin itulah usaha pertama yang harus kulakukan.

Axel memarkir motornya di lapangan parkir motor yang telah disediakan. Setelah memastikan tidak ada barang yang tertinggal di motornya, ia berjalan beriringan dengan salah seorang temannya. "Udah dapet ide mau beli apa, San?" tanya Axel berbasa-basi.
"Hm, belom sih, tapi coba cari-cari mungkin bakal ketemu ntar."
"Eh, sebelumnya, makan dulu yuk. Lo laper 'kan?"
"Yah, bolehlah. Gue emang agak laper sih."
Satu hal yang membuat Axel kagum pada gadis satu ini adalah sifat apa adanya Sandra. Selama ia mengenal Sandra, penilaian itu tak pernah berubah. Tapi kelebihan itu baru membuat Axel tergugah sekarang. Ada sedikit penyesalan karena sebelumnya ia sama sekali tak tergugah pada kelebihan Sandra itu.

to be continued...

11/17/2009

Between Girl and Boy 17

Di kantin sekolah, di sanalah aku terduduk seorang diri sambil mengaduk-aduk teh manis hangat yang kupesan pagi ini. Aku sedang malas berada di dalam kelas. Alasannya sudah jelas karena tiap pagi aku harus melihat sahabatku dan pacarnya berduaan di sudut ruang kelas. Membuatku iri saja, gerutuku kesal. Aku tidak mengharapkan seseorang datang menghampiriku dan mengajakku berbincang sebentar, sama sekali tidak. Tapi yang terjadi malah sesosok pemuda yang sama sekali tak ingin kutemui mendekatiku dan duduk tepat di hadapanku dengan wajah seolah tidak ada masalah apapun. Dengan wajah polosnya itu, ia berceletuk, "Tumben ke kantin pagi-pagi." Rasa kesal memenuhi hatiku, sehingga tak kugubris celetukannya ini walau hanya dengan segaris senyum di bibirku. Aku betul-betul marah. "Kenapa sih, kok kayak bete gitu?"
Tak mampu menahan emosi, aku langsung menggertaknya. "Lo tuh emang pelupa atau emang sengaja lupa sih? Lo udah bikin gue keki, sekarang malah nanya kenapa? Perasaan lo tuh, di mana sih, Bel?" Tak peduli semua mata tertuju pada kami, aku cuma ingin meluapkan emosiku yang meledak-ledak dari semalam.
"Tunggu, tenang dulu dong, Lir. Lo kenapa tiba-tiba ngomel ke gue? Gue gak ngerti nih."
"Perlu gue jelasin? Oke, gue jelasin ya. Kemaren lo janji bakal pulang bareng gue sepulang sekolah. Lo bakal nganter gue pulang. Gue tungguin di koridor sekolah, tapi ternyata lo malah nganter cewek lain. Gue pikir, lo cuma nganter bentar. Tapi setelah berjam-jam gue nungguin lo, ternyata lo gak balik lagi ke sekolah. Dengan kata lain, lo lupa sama janji lo ke gue... lagi!!!" Ini sudah ke sekian kalinya ia melupakan janjinya. Entah pura-pura atau memang lupa, tapi yang jelas ini sudah kelewatan.
Abel nyaris mati gaya, tapi ia mencoba memberi penjelasan padaku. "Oke, gue salah. Tapi gue emang bener-bener lupa, Lir. Sumpah, gue..."
Aku tak memberinya kesempatan untuk melanjutkan penjelasannya. "Udahlah, Bel, gue udah capek. Mau berapa kali lo minta maaf sama gue sih? Gue aja udah bosen dengerinnya. Mendingan kita udahan aja, lagian kita pacaran juga cuma nyoba-nyoba." Aku langsung meninggalkannya tanpa menggubris panggilannya. Aku cuma bisa menangis di dalam hati, menyayangkan rusaknya hubunganku dengan Abel hanya karena masalah sepele yang sebenarnya bisa diperbaiki. Ah, tahu begitu lebih baik aku berteman saja dengannya, sesalku kemudian.

Axel sama sekali tidak tahu tentang keributan yang terjadi di kantin sekolah. Ia sedang asyik duduk di tempat duduknya sambil membaca buku catatannya. Sepertinya hari ini akan ada ulangan. Tiba-tiba kehadiran seseorang mengalihkan pandangan matanya dari buku. Sesosok yang berbeda di matanya muncul tepat di hadapannya. "Siapa ya?" Tanpa sadar, dari mulutnya keluar pertanyaan yang dianggapnya bodoh. Orang itu menoleh ke arah Axel dan barulah Axel mengenalnya. "Astaga, gue pikir siapa gitu. Ternyata lo, San."
"Lah? Emang lo pikir bakal ada anak baru yang masuk gitu?"
"Bukannya gitu sih. Eh, udah belajar buat ulangan?"
Gadis bernama Sandra itu meletakkan tas sekolahnya, lalu duduk di tempatnya dan menjawab, "Udah, sebagian. Lo?"
"Kurang lebih lah. Susah nih, ngafalinnya."
"Iya. Otak gue juga udah lumayan penat sama beginian. Pengen cepet-cepet ulangan, terus udah deh, lega." Sandra membuka lembaran catatannya dan mulai menghafal. Sementara mata Axel tidak bisa lepas dari sosok gadis yang tiba-tiba menjadi berbeda di pandangannya. "Eh, besok Alfa ulangtahun. Lo diundang juga 'kan?" tanyanya tiba-tiba, membuat Axel harus pura-pura mengalihkan pandangannya.
"Eum... iya, gue diundang kok. Lo ikut? Bareng yuk."
"Boleh aja sih, kalo gak ngerepotin lo."
"Gak, masa gitu aja ngerepotin? Gue gak merasa direpotin kok. Lo udah beli kado? Bingung mau kasih kado apa nih."
"Gue juga bingung. Habis gue juga gak pinter milih kado buat cowok."
"Pulang sekolah, milih kado bareng yuk."
"Boleh aja sih, tapi mungkin ntar bubar gue masih mau ke perpus dulu, mau balikin buku perpus."
"Sip, tenang aja. Ntar bareng ke perpus aja. Siapa tau dapet ide beli kado apa di perpus," kelakar Axel sehingga Sandra ikut tertawa kecil.

Abel duduk di antara kerumunan teman-temannya. Ia masih melamun, memikirkan kejadian di kantin tadi pagi. "Apa gue emang salah ya?" tanyanya pada dirinya sendiri, tapi ternyata teman-temannya mendengarnya.
"Salah apaan, Bel?"
"Euh... nggak kok, nggak papa."
"Duh, Bel, lo kalo ada masalah cerita-cerita dong. Lo lagi kenapa sih? Mikirin cewek?"
Abel tertawa kecil, tawa palsu. "Iya nih, baru diputusin cewek."
"Hah? Diputusin cewek? Emang kapan lo jadian, bro?"
"Kapan ya? Gue juga lupa."
"Ah, lo mah emang pelupa."
"Apa boleh buat, gue juga gak bisa apa-apa sama sifat pelupa gue."
"Tandain dong, di kalender."
"Masa iya gue bawa-bawa kalender ke sekolah?"
"By the way, terus kok bisa diputusin? Emang gimana ceritanya?"
"Yah, gitu... gara-gara sifat pelupa gue itu. Ah, gue jadi pusing sendiri mikirinnya."
"Ngomong-ngomong, mantan cewek lo emang siapa, Bel? Kok kita-kita gak pernah liat lo bareng ama dia?"
"Ada deh. Masa gue harus beberin semuanya ke lo pada? Ini 'kan termasuk privasi gue."
"Ah, gitu lo. Cerita-cerita dong, bro."
"Lo pada kayak cewek aja ya, demen banget ngegosip. Udah ah, gue pengen cari udara seger dulu." Abel pergi meninggalkan komunitasnya yang ramai sekali di dalam kelas.

to be continued...

11/05/2009

Between Girl and Boy 16

Di dalam satu ruangan berlampu remang-remang, di sanalah aku dan Abel berada. Ini masih jam lima pagi dan Axel belum juga bangun dari mimpinya yang indah. Keadaan rumahku masih sepi dan waktunya kami berdua beraksi bersama. Kutancapkan beberapa benda kecil berbentuk silinder yang berwarna-warni. Setelah yakin bahwa benda itu takkan jatuh, barulah kubiarkan cucu dari si raja merah melahapnya perlahan-lahan.
Kami berdua, aku dan Abel, melangkah perlahan-lahan menaiki anak-anak tangga dan berhenti tepat di depan pintu kamar Axel yang masih tertidur pulas. Abel membuka pintu kamar itu pelan-pelan dan aku terus melangkah dengan mengendap-endap, seperti seorang pencuri. Setelah pas dengan posisi berdiriku, aku dan Abel baru membuat keributan di dalam kamar Axel yang sunyi sebelumnya.
"Happy birthday to you, happy birthday to you, happy birthday dear Axel... happy birthday to you..." Axel yang terganggu akan keberisikan yang kami ciptakan, mulai membuka matanya pelan-pelan dan melihat keberadaan kami di hadapannya. "Bangun, bangun, udah pagi," seruku sambil terus memegang kue ulangtahun Axel yang kubuat sendirian semalam.
"Hei, Xel, met pagi." Abel cuma tersenyum.
Axel baru benar-benar duduk di atas ranjangnya dengan tampang berantakan karena baru bangun. Matanya masih belum sepenuhnya terbuka. "Aduh," keluhnya dengan suara sedikit serak. "Ini baru jam lima kali. Gue masih ngantuk nih." Ia hampir saja memutuskan untuk tidur lagi, tapi kucegah dengan cipratan air dingin yang Abel bawa di tangannya.
"Bangun, bangun. Udah pagi tau. Atau lo mau gue guyur aja sekalian, Xel?"
"Iya, iya, iya... lo pada ganggu mimpi indah gue aja."
"Biarin. Lagian lo juga sering gitu ama gue 'kan, Xel? Bales dendam nih."
"Make a wish dulu, Xel." Abel menyuruh. Sementara Axel menutup matanya untuk make a wish, telunjukku sudah siap dengan setumpuk kecil krim kue yang ada di pinggir kue. Saat Axel selesai meniup lilin-lilin yang ada, kucolek mukanya dengan krim kue yang menempel di jari telunjukku. Kini, wajah Axel terlihat berantakan dan mau tak mau ia harus membersihkan diri dengan air, alias mandi.
"Eits, sebelum mandi, ada kado nih, dari gue." Kusodorkan sekotak kado yang sudah kusiapkan beberapa hari yang lalu. Ini spesial untuk kakakku tercinta yang hari ini berulangtahun.
"Apaan nih? Dikerjain lagi nih, gue?" tanya Axel berburuk sangka. Jahatnya, padahal aku benar-benar tulus memberikannya hadiah. "Bercanda, Lir. Thanks ya." Ia mengusap rambutku. "Terus kado dari lo apa, Bel?" candanya setengah tertawa.
"Nih." Aku tidak tahu kalau Abel juga sudah mempersiapkan kado untuk Axel.
"Thanks, Bel. Padahal gue cuma bercanda nanyainnya, ternyata beneran dapet kado dari Abel." Ia tertawa senang. Memang seharusnya hari ini Axel merasa senang karena hari ini spesial baginya. Hari ini umurnya tepat 18 tahun.

Rencana hari ini berhasil dan jelas saja aku senang. Untung Abel menepati janjinya hari ini. Kujalani waktu-waktuku di sekolah seperti biasa bersama teman-temanku. Dan aku merasa sedikit iri ketika melihat salah satu sahabatku tengah berdua bersama pacarnya di sudut kelas. Aku juga mau seperti itu, pekikku dalam hati. Tapi rasanya itu tak mungkin ya, aku malah jadi pesimis. Ah, masa bodo lah.
Di tengah teriknya matahari aku menunggu Abel di koridor bawah sekolah. Hari ini aku dan Abel akan pulang bersama. Senangnya, tapi kuharap ia tak lupa lagi dengan janjinya. Kedua mataku menemukan sosok Abel yang tengah duduk di atas motor. Ia men-starter motornya dan menggasnya pelan, lalu berhenti sejenak. Otomatis aku segera bangkit dan melangkah mendekatinya. Tapi baru saja aku melangkah dua-tiga langkah, Abel langsung buru-buru pergi meninggalkan sekolah dengan membonceng seorang gadis yang tak kukenal. Mungkin itu temannya, tapi bukannya ia janji untuk pulang denganku? Kucoba menekan setiap amarah yang ada di dada dan kubiarkan diriku terduduk di bangku koridor sambil menunggu kedatangan Abel kembali.
Kupikir Abel hanya mengantarnya sebentar, lalu kembali ke sekolah untuk menjemputku. Tapi sampai dua jam aku menunggu, bahkan sampai sekolah sepi, aku tak melihat sosoknya kembali ke lingkungan sekolah. Kucoba meneleponnya untuk menanyakan keberadaannya, tapi tidak aktif. Jelas emosiku meledak dan kuputuskan untuk pulang sendiri jalan kaki.

Axel masih ikut ekskul dan ia masih berada di sekolah sampai jam empat sore. Seusai ekskul, Axel masih berkumpul dengan teman-teman dekatnya di kantin sekolah untuk tertawa bersama. Dan tiba-tiba sesosok perempuan muncul di hadapan Axel dan teman-temannya. Semua langsung terdiam, termasuk Axel.
"Eumm... Xel, aku cuma mau kasih ini ke kamu..." Ia terlihat malu-malu.
Axel bangkit dan berdiri tepat di hadapannya. Ia tahu apa yang seharusnya ia lakukan. "Apa itu?" tanyanya dingin.
"Hadiah ulangtahun... hari ini 'kan kamu ulangtahun."
Senyuman dingin Axel menghiasi wajahnya. "Masih inget juga toh? Aku pikir, kamu lupa sama ulangtahun aku karna terlalu banyak cowok yang kamu gaet." Jelas, itu kata-kata yang tajam. "Denger ya, aku udah gak peduli lagi sama kamu dan aku harap kamu juga jangan peduli lagi sama aku." Gadis itu langsung menggunakan air matanya sebagai tameng. "Udahlah, gak usah nangis-nangis lagi. Simpen aja tuh air mata buat cowok-cowok bego yang kamu gaet. Aku udah muak ngeliat kamu nangis." Axel langsung menjauhinya dan kembali pada perkumpulannya. Dalam hatinya, ia benar-benar menyesal atas perkataannya yang tajam pada gadis yang benar-benar ia sayangi, tapi ia merasa benar dengan perlakuannya. Tidak mungkin ia terus hidup dalam kesedihan seperti ini. Toh, suatu saat akan ada gadis yang lebih baik yang akan bersamanya.

to be continued...

10/10/2009

Between Girl and Boy 15

Dengan setengah mengantuk aku melangkah menuju ruang kelas yang sudah ramai. Hari ini aku telat sepuluh menit dari biasanya. Untung bel masuk belum terdengar, jadi aku aman dari guru piket hari ini. "Udah belajar lo, Lir?" tanya Desti begitu aku menduduki bangkuku.
"Yah, gitu deh," jawabku ogah-ogahan.
"Kenapa sih? Lagi berantem sama pacar lo ya?"
Aku langsung menatapnya heran. "Lo bisa baca pikiran orang ya?"
"Gak lah. Lo pikir gue peramal? Gue tau dari tampang lo yang kusut pagi-pagi gini."
Helaan nafasku terdengar berat. "Iya nih, Des. Kesel gue sama dia. Kemaren gue nungguin dia sampe berjam-jam. Padahal kita udah janji buat jalan-jalan sepulang sekolah. Terus kemaren-kemaren dia juga bikin gue nunggu berjam-jam di rumah. Bete gue, Des. Dan yang paling gue keselin adalah alasannya dia bikin gue nunggu."
"Emang alasannya apaan?"
"Lupa. Konyol 'kan? Gak logis tau. Jangan-jangan dia ada maen lagi di belakang."
"Hus! Prasangka lo berlebihan. Emang lo punya bukti dia mendua, Lir?"
"Ya, kagak sih. Siapa tau gitu."
"Kenapa gak lo omongin ama dia baik-baik? Gue yakin, semua masalah pasti bakal selesai dengan cara ngomong empat mata secara baik-baik."
"Gue juga pengennya gitu, Des. Tapi masalahnya adalah... gue udah gak bisa percaya lagi sama dia. Jelas-jelas dia udah bilang janji, masa iya gak ditepatin?"
"Coba ngomongin dulu, ntar baru kasih kesempatan dia sekali lagi. Syukur kalo berubah, kalo nggak ya good bye."
Aku merenung sejenak. "Jangan-jangan dia cuma maenin gue lagi, Des."
"Duh, prasangka lo lebay banget deh, Lir. Udah deh, stop berprasangka dan coba ngomongin baik-baik."
Senyumku mulai merekah mendengar saran dari sahabatku yang satu ini. Ia memang jago dalam hal percintaan. "Thanks ya, Des. Ntar gue coba ngomong sama dia baik-baik deh."
"Sip lah. Ntar kasih kabar selanjutnya ya." Cengirannya mengakhiri waktu luang kami sebelum masuk. Bel masuk sudah berbunyi untuk memanggil semua murid masuk ke dalam kelasnya masing-masing.

Aku dan Abel duduk berhadapan di salah satu meja kantin sekolah. Tatapan mataku serius dan tajam, sedangkan Abel terduduk lesu di hadapanku. "Gue betul-betul minta maaf soal kemaren, Lir. Gue tau kok, gue salah." Sengaja tak kuhiraukan dulu. "Gue emang kadang-kadang suka pelupa, apalagi soal janji. Eum... lo mau maafin gue, Lir?" Aku diam, tak menjawab apapun. "Jadi, gue mesti gimana supaya lo mau maafin gue? Gue ikutin mau lo deh."
Nah, kali ini aku mulai menyunggingkan senyuman kemenanganku. "Oke, gue maafin. Tapi syaratnya satu."
"Apa?"
"Sini, gue bisikin." Kubisikkan sesuatu di telinga Abel dan kulihat ia ikut tersenyum denganku. Ya, kami punya rencana. "Deal?"
"Oke. Tapi lo mau maafin gue 'kan?"
"Asal lo gak lupa lagi."
"Iya, kali ini gue gak bakal lupa lagi deh." Senang mendengarnya dan berharap ia takkan lagi melupakan rencana besar ini.

to be continued...

10/08/2009

Between Girl and Boy 14

Hari pertama mulai sekolah, aku bangun lebih pagi dari biasanya karena tak sabar untuk kembali bersekolah. Aku kangen pada sekolah dan teman-temanku. Hari ini pasti akan ramai dengan pertanyaan seperti ini. "Liburan ke mana aja?" Salah satunya adalah Desti.
"Gue di rumah aja. Paling jalan-jalan sama Axel terus sama..." Aku terhenti sampai situ.
"Sama siapa, Lir?"
"Cowok gue," jawabku dengan bangga.
"Cowok lo? Siapa? Kok lo gak cerita-cerita sih, udah punya cowok?"
"Habis lo sibuk sama Yuda terus sih. Gue jadi gak enak deh, cerita sama lo. Tiap kali gue telepon, pasti lagi sama Yuda lo tersayang."
"Ih, kok kesannya ngeledek gue gitu sih? Terus, terus, gimana ceritanya? Ceritain dong."
"Ntar aja ah, pas pulang. Lo juga bakal liat kok, siapa cowok gue. Dia oke banget deh, kalah kalo dibandingin sama Yuda lo."
"Eits... sampe kapanpun, buat gue Yuda is the best dong."
"Iya deh, iya."
"Ntar jangan lupa ya, kenalin ke gue."
"Sip. Tapi jangan ikut naksir dia ya. Repot gue ntar."
"Emang tampang gue tampang orang yang makan temen ya?"
"Kagak sih, kagak salah lagi," candaku.
"Ih, Lira jahat."
"Bercanda, Des. Tampang lo mah tampang pemakan segala makanan."
"Maksud lo, gue rakus gitu?"
"Kurang lebih gitu." Kadang aku ini iseng juga ya, pikirku geli.

Sampai jam tiga Abel belum juga muncul di depan pintu kelas. Padahal sudah hampir setengah jam aku dan Desti menunggu kedatangannya. Tak lama, seseorang muncul di ambang pintu. "Hon, kamu beloman?" Ternyata itu Yuda, pacar Desti yang sudah menunggunya sejak tadi.
"Eum... Lir, gue duluan ya. Soalnya Yuda mau ada urusan nih. Besok pagi deh, gimana?"
"Hm, ya udah. Hati-hati ya."
"Yo, salam juga buat cowok lo." Aku tak lagi menanggapinya. Ini ke dua kalinya aku dibuat menunggu. Uh, sebal sekali rasanya.
Satu jam berlalu dan ini sudah hampir jam empat. Semuanya sudah pulang dan semestinya Abel muncul di hadapanku sekarang. Tapi ia tak kunjung datang. Jadi, kuputuskan untuk meninggalkan kelas sekarang karena sudah waktunya setiap pintu ruang kelas dikunci. Terpaksa aku melangkah pulang ke rumah. Tapi di tengah jalan ada seseorang yang menghadangku. "Lira." Ia memanggilku dari balik helmetnya. Dan ketika ia membukanya, kulihat wajah Abel. "Yuk!" Disuruhnya aku naik tanpa basa-basi.
"Gue mau pulang."
"Lho, gak jadi jalan?"
"Lo telat."
"Sori, sori."
"Apa? Lo lupa lagi?"
"Hampir sih..."
Rasanya marahpun percuma. "Udahlah, batalin aja semuanya. Gue mau pulang."
"Lho, Lir, tunggu dong." Abel mengejarku dengan motornya. "Kita masih bisa jalan kok."
"Udah sore, gue males. Lagian lo lupa 'kan? Udahlah, gak usah janji-janji lagi. Gue paling males sama orang yang lupa sama janjinya sendiri."
"Terus gue mesti gimana supaya lo mau maafin gue? Gue akui, gue emang rada pelupa. Jadi..."
"Itu bukan alasan!" gertakku kesal, lalu kembali melangkah.
"Lira!" Abel terus mengikutiku. Bahkan, sampai aku tiba di rumahpun, ia masih memanggilku. "Lir..." Tapi karena aku terlalu kesal, aku mengacuhkannya dan membiarkannya sendirian di luar sana.
"Kenapa lo, berantem?" tanya Axel yang mendengar panggilan Abel dari luar.
"Tau ah! Males gue ngomongin begituan."
"Ck ck... anak muda zaman sekarang lucu ya."
"Maksud lo?"
"Yah, gapapa. Cuma gue kasian aja sama Abel. Gue suruh dia masuk ya."
"Terserah lo, tapi gue ogah ngomong sama dia lagi."
Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan, tapi yang pasti setelah Axel menggerak-gerakkan mulutnya, Abel langsung pamit dan pergi. "Ah, gue berasa jadi orang tua."
"Ngomong apa lo sama Abel?"
"Mau tau aja lo. Itu rahasia antar lelaki tau."
"Whatever lah. Capek gue."

Kalau dipikir-pikir, akankah hubunganku dengan Abel bertahan lama? Kira-kira akan seperti apa ya hubungan ini kalau terus dilanjutkan? Ah, aku jadi pusing kalau kebanyakan berpikir tentang itu. Lebih baik aku memikirkan pelajaranku sajalah. Besok banyak tugas dan ulangan. Uh, aku benci hari besok.

to be continued...

Between Girl and Boy 13

Jarum pendek pada jam dinding rumahku menunjuk ke angka 9. Sementara jarum panjangnya menunjuk ke antara angka satu dan dua. Sudah malam. Mungkin sebentar lagi sudah waktunya untuk menutup kedua mataku di kamar tidurku. Selagi aku menyandarkan diri di atas sofa ruang tengah seperti biasanya, ponselku berdering. Ada satu panggilan masuk dari... Abel. "Halo." Tanpa berpikir dua kali aku segera mengangkatnya dengan riang gembira.
"Hai, Lir. Lagi apa?" tanyanya berbasa-basi.
"Eum, lagi nonton aja nih. Lo sendiri?"
"Baru pulang dari latian."
"Malem banget. Jangan sampe kecapekan lho. Lo udah makan?"
"Udah kok. Lo udah?"
"Udah tadi."
"Emmm... oh ya, gue mau kasih kabar soal kepastian hari Sabtu nih. Hmm... Sabtu ini gue bisa sih, tapi mungkin agak siang, gapapa?"
"Gapapa kok. Jam berapa?"
"Mungkin sekitar jam satu gitu. Lo bisa?"
"Bisa kok. Sabtu ini gue free."
"Oh, baguslah. Gue jemput lo ya."
"Oke, gue tunggu."
"Ngomong-ngomong, mau ke mana nih?"
"Ke mana ya? Gue juga belom tau nih. Ada ide?"
"Hmmm... ke Ancol yuk. Mau gak?"
"Boleh aja sih."
"Oke deh, kalo gitu sampe ketemu hari Sabtu ya."
"Sip."
"Good night." Abel melantunkan salam.
"Night," balasku singkat.

Dari pagi aku sudah mempersiapkan segalanya. Mulai dari baju yang akan kukenakan, rambut akan kuapakan, tas yang akan kubawa, sepatu yang akan kupakai, semuanya sudah kuatur sedemikian rupa. Dan tanpa terasa, sudah hampir saatnya aku mulai berias. Sudah jam setengah dua belas lewat tujuh belas menit. Aku bergegas mengganti pakaianku, lalu mulai merias di depan cermin di dalam kamarku. Pertama, dimulai dari rambutku. Kuputuskan untuk mengikat semua rambutku ke belakang sehingga seluruh wajahku bisa terlihat. Dan terakhir adalah bibirku, kupoles dengan lip balm rasa cherry yang kusimpan di dalam laci meja riasku. Aku siap untuk berangkat dan kutunggu kedatangan Abel di ruang tengah.
"Buset, rapi amat. Mau kencan ya?" tanya Axel yang melihat penampilanku hari ini.
"Gak bisa dibilang gitu juga sih." Aku berusaha menghindar dari ledekannya.
"Halah, mau kencan bilang aja. Gak usah ditutup-tutupin. Lo kira, gue mau ngeganggu acara lo? Gak bakal deh. Gue udah punya acara sendiri hari ini."
"Oh ya? Mau ngapain lo emangnya?"
"Gue mau ke rumah temen gue, mau maen bareng di rumahnya."
"Oh, bagus deh."
"Jangan lupa oleh-oleh ya."
"Oleh-oleh? Gak ah, gak punya duit."
"Beuh... kencan bisa, tapi beliin oleh-oleh gak mau. Pelit."
"Biarin. Lo 'kan juga gitu."
"Eits, gue gak pelit ya. Buktinya kemaren-kemaren gue nraktir lo makan sepuasnya."
"Itu mah karena emang lo lagi baek. Coba kalo lagi pelit, pelitnya setengah hidup."
"Tuh 'kan, gak tau berterima kasih. Kebiasaan deh."
"Iya, iya, apa kata lo dah, Xel."
Sudah jam satu lewat lima menit dan Abel belum juga muncul. Apa ia masih sibuk ya? Kuputuskan untuk menunggunya. Mungkin sedang di jalan, begitu pikirku pada mulanya. Tapi setelah dibuat satu jam menunggu, aku mulai tak sabar dan kuputuskan untuk menghubungi telepon genggamnya. Sayangnya, tidak bisa dihubungi. Kesal? Pasti! Ini sudah lewat dari jam perjanjian. Masa aku harus terus menunggu di sini seperti orang bodoh? Aku nggak mau!! Abel tidak juga datang, padahal sudah sore. Sudah hampir jam empat. Huh, aku semakin pesimis dan semakin sebal menunggu. Takkan kulupakan ini, ujarku geram.
Sampai malam kutunggu pun, Abel tak kunjung menampakkan batang hidungnya di hadapanku. Aku betul-betul kecewa padanya. Masih mending kalau ia memberi kabar padaku, tapi ini sama sekali tidak. Apa-apaan ini, makiku dalam hati. Sepanjang malam ini aku memasang wajah cemberut di rumah. Tidak jadi pergi dan ini semua menjengkelkan.

Liburan sekolah hampir usai. Dan kesimpulan yang kuambil adalah bahwa liburan kali ini hanya sedikit berkesan. Aku amat sangat bersyukur karena akhirnya bisa kembali melakukan aktivitas di sekolah bersama teman-teman. Aku bosan di rumah terus sepanjang liburan. Hari terakhir libur Abel datang ke rumah untuk bermain dengan Axel karena memang sudah lama tidak bermain bersama. Aku yang masih jengkel karena menunggu beberapa hari yang lalu memutuskan untuk mendiamkannya. Aku takkan bersuara di hadapannya, itu janjiku pada diriku sendiri, sampai ia menyadari kesalahannya dan meminta maaf. Terdengar egois memang, tapi apa ia tidak berpikir bahwa menunggu itu mengesalkan?! Huh!
"Eh, bentar, Bel. Gue mau ke WC dulu. Kebelet gue."
"Sip." Abel menghampiriku yang sedang berada di ruang tengah seorang diri sambil menonton televisi dengan wajah cemberut. "Gak jalan-jalan, Lir?" tanyanya seolah tidak terjadi apa-apa. Jelas saja aku takkan menjawab pertanyaan ini. Aku sudah janji untuk tidak bicara sepatah katapun padanya. "Lira?" Pura-puranya aku ini tuli dan bisu. Abel menghela nafas. "Kenapa sih, kok tiba-tiba ngediemin aku kayak gini?" Astaga, orang ini nggak sadar juga? "Emang aku bikin salah apa?"
Terang saja pertanyaan ini membuatku meledak-ledak. "Lo nggak nyadar ya, lo bikin salah apa sama gue, Bel?"
"Lah? Lo gak ngomong, mana gue tau, Lir?"
"Ih, parah ya lo! Kemaren lo ke mana, Bel?"
"Gue latian sama temen-temen gue."
"Oh, latian. Sampe jam berapa?" tanyaku sinis.
"Sampe jam setengah dua."
"Terus habis latian, lo ke mana?"
"Pergi makan-makan sama temen-temen gue. Kenapa sih? Kok kayak polisi gitu sih, diinterogasi."
"Lo masih nanya kenapa? Ck ck ck... lo punya penyakit pikun ya?"
"Maksud lo?"
"Woi, lo inget gak sih, kemaren kita janjian mau pergi jalan-jalan ke Ancol?" Aku mulai naik pitam.
Abel melotot sambil menepuk dahinya. "Astaga, gue lupa! Sori, sori banget, Lir. Gue bener-bener lupa soal itu."
"Enak banget ya, lo bilang sori. Lo kata enak disuruh nunggu berjam-jam? Untung gue nunggunya di rumah. Coba kalo gue nunggu di Ancol sendirian, bisa disangka orang bego gue."
"Beneran, Lir, gue minta maaf soal kemaren. Asli, gue lupa. Serius." Aku tak meresponinya. "Gini deh, besok 'kan kita udah sekolah. Hmmm... pulangnya kita jalan-jalan deh, gimana? Yah, sebagai ganti kemaren."
Aku membisu sebentar, lalu mencoba meresponinya. "Tapi gak pake telat ya?"
"Tenang aja. Kalo kita jalannya habis pulang sekolah, pasti gak bakal lupa. Besok gue yang ke kelas lo deh."
"Janji?"
"Iya." Kali ini, aku benar-benar plong mendengarnya. Semoga ia tidak mengingkarinya lagi, harapku dalam hati. Seiring selesainya permasalahanku dengan Abel, Axel keluar dari kamar mandi dengan wajah lega.

to be continued...

Between Girl and Boy 12

Kubiarkan Axel berdiam diri di dalam kamarnya beberapa hari ke depan karena aku paham bagaimana perasaannya. Hancur tanpa sisa. Hati siapa yang tidak hancur melihat pacarnya sendiri berselingkuh di belakangnya? Ini pengalaman tergila yang pernah kutemukan. Dan kuanggap bahwa cewek itu memang bukan cewek benar.
Hari ini Abel tidak datang ke rumah karena ada urusan yang perlu ditanganinya. Jadi, aku juga takkan memaksakannya datang kemari. Aku kembali terduduk di ruang tengah, di atas sofa sambil menonton televisi seperti biasa. Liburanku sedikit berkesan, tapi tidak terlalu mengesankan. Kucoba untuk menghubungi sahabatku, tapi telepon genggamnya tidak aktif. Semakin membosankan, keluhku sambil mencoba menikmati acara televisi yang itu-itu saja setiap harinya.
Aku tak sadar kalau Axel tengah melangkah menuruni anak-anak tangga. Rambutnya berantakan, wajahnya pun demikian. Dan dengan penampilannya yang paling kacau, ia menghampiriku. "Lir, jalan yuk!" ajaknya tiba-tiba. Aku kaget dan menoleh. Tidak salah dengar nih, sentakku dalam hati. "Gue traktir lo deh, pake gaji pertama gue. Mau gak? Kalo gak mau, ya udah. Gue ajak yang laen aja." Axel hendak berlalu meninggalkanku.
"Eh, eh, Xel." Aku mencegahnya sambil nyengir kuda. "Gak mungkin gue nolak ajakan lo dong. Apalagi kalo gue ditraktir. 'Kan jarang-jarang tuh, gue ditraktir sama lo, Xel."
"Dasar lo, mau ngatain gue pelit gitu?"
"Ya, bukan gitu juga sih, Xel." Kembali aku menunjukkan gigi-gigi putihku nan lucu. "Terus mau ke mana nih?" tanyaku mengembalikan topik pembicaraan semula.
"Yang pasti cari makan. Gue laper berat. Mandi dulu ah. Bau gue."
"Baru nyadar, Pak?" ledekku iseng.
"Oh gitu ya. Ya udah, gak jadi gue traktir."
"Eh, iya, iya, iya. Ampun, Xel. Gak bermaksud." Senang juga karena setidaknya Axel bisa diajak bercanda lagi. Semoga ini pertanda baik, harapku dalam hati.

Axel mengajakku makan di Pizza Hut. Yummy, pekikku kegirangan dalam hati. "Nah, lo boleh pesen apa yang lo mau. Tapi inget budget ya."
"Siap, Bos." Kuberi hormat padanya dengan gaya selucu mungkin. Kuharap, dengan begini ia bisa lebih terhibur. "Xel, gue mau sop, salad, pizza, garlic bread, spaghetti..."
"Woi, woi, lo gila ya? Emang lo bisa habisin semuanya?"
Aku cuma nyengir, lalu menjawab, "Ya, nggak sih."
"Pesen secukupnya. Ntar kalo mau nambah, tinggal pesen lagi. Mubazir tau, kalo sampe gak habis."
"Iya deh." Aku segera memutuskan apa yang mau kupesan. "Lo mau yang mana, Xel?" tanyaku saat bingung memutuskan.
"Apa aja. Gue mah pemakan segala jenis makanan halal." Geli juga mendengarnya.
Selagi menunggu, aku lebih memilih untuk diam dan membungkamkan mulutku. Kusingkirkan segala jenis pertanyaan yang menumpuk di benakku. Lebih baik aku tak bertanya apa-apa daripada harus merusak suasana yang mulai kembali ceria.
"Lir, Abel mana?" tanyanya mendadak.
Aku segera menjawabnya. "Eum... katanya, hari ini gak bisa dateng. Soalnya mau ngurusin sesuatu gitu, entah apa. Kenapa? Kangen lo sama dia?" godaku lagi.
"Bukannya kebalik tuh?" Sial, godaanku malah berbalik arah padaku. Senjata makan tuan. "Ngomong-ngomong, lo berdua pacaran?" Deg! Kenapa tiba-tiba ia menanyakan hal ini ya, batinku ragu.
"Dibilang pacaran nggak, dibilang nggak pacaran juga nggak. Kenapa, lo cemburu?"
"Gue? Cemburu? Lo kata gue homo?"
"Yaa, siapa tau gitu. Di balik kegagahan seorang Axel, ternyata dia..."
"Gak jadi gue traktir ah."
"Bercanda, Xel. Lo mah maenannya ngancem mulu."
"Bercanda, Lir. Lo mah maenannya ngambek mulu."
"Huh!" Sebal aku, gerutuku.
"Yah, ngambek beneran. Masa iya gue mesti minta mbak yang itu bikinin balon buat lo, Lir?"
"Gue mau balon."
"Woi, sadar umur."
"Gak peduli. Pokoknya gue mau balon."
Axel menghela nafas. "Adik gue yang satu ini kalo lagi manja, manjaaaa banget. Capek gue jadinya."
"Biarin. 'Kan lo yang bikin gue ngambek, tanggung jawab dong."
"Iya, iya." Axel bangkit dari tempat duduknya dan dengan menahan segala rasa malunya, ia memintanya. Sementara aku mengeluarkan segala rasa kegelian di perutku melihat tingkahnya. Puas rasanya mengerjainya.
Begitu Axel kembali, aku berhenti tertawa. "Mana balonnya?"
"Sabar. Mbaknya ntar ke sini buat bikinin lo balon. Childish banget sih."
"Biarin. Gini-gini juga adik lo. Lo mesti tanggung jawab dong, udah bikin gue kesel."
"Terserah lo deh." Mbak yang tadi dimintai Axel untuk membuatkan balon mendekati meja kami.
"Permisi, Kak. Tadi Kakak yang minta balon ya?" tanyanya sopan sambil tersenyum ramah.
"Eum, bukan saya, Mbak. Tapi anak satu ini."
"Oh iya. Saya buatkan ya." Dengan lincah ia membuat balon unik untukku. Hebat. "Buat pacarnya ya, Kak?" goda mbak itu.
"Eh, bukan, Mbak. Dia adik saya." Buru-buru Axel mengelak.
"Oh..." Ia tersenyum. "Nah, sudah selesai. Ada lagi?"
"Nggak, gak ada lagi." Axel menjawab buru-buru sebelum aku membuatnya lebih malu lagi.
"Kalau gitu, saya permisi." Lagi-lagi ia menunjukkan senyuman ramahnya.
Aku nyengir. "Makasih ya, Xel."
"Iya, makasih juga udah bikin gue malu."
"Aduh, jangan gitu dong. 'Kan adikmu ini hanya ingin bersenang-senang sedikit."
"Puas lo sekarang?"
"Belom sih, tapi gue kasian sama lo. Ntar kalo gue bikin lo lebih malu lagi, gue juga yang kena batunya."
Pesanan datang dan kami menyantapnya bersama. Enak sekali, apalagi kalau perut sedang lapar. Semakin nikmat saja hidangan ini. "Wah, gue masih laper nih. Pesen lagi dong, Lir." Axel tengah mengunyah pinggiran pizza yang ada di piringnya. Kupesankan beberapa pizza lagi untukku dan untuk Axel. Dan tak lama, pesanan ke dua kami tiba. Langsung saja kami menyerbunya sebelum perut terlanjur kenyang.

Kuceritakan semuanya lewat telepon pada Abel mengenai hari ini. Dan Abel merespon positif. "Syukur deh, Lir. Salam ya, buat Axel. Mungkin besok gue bisa maen ke rumah lo, tapi gue belom bisa janji sih. Takutnya besok gue mesti ngurusin ini-itu lagi."
"Oh, emang urusan apa sih?"
"Eum... jadi tuh, gue mau bikin band gitu sama temen-temen gue. Dan supaya band ini diakui, kita mesti bikin proposal ini-itu, terus harus jelas kegiatannya, jadwal latiannya juga harus jelas. Pokoknya sibuk banget deh."
"Oh, good luck ya, Bel."
"Iya, thanks banget, Lir."
"Emmm... Sabtu lo juga sibuk ya?"
"Mungkin. Emang kenapa?"
"Pengen jalan sama lo. Tapi kalo lo gak bisa juga gapapa."
"Gue usahain deh. Atau lusa gue kasih kabar kepastiannya, gimana?"
"Oke. Gue tunggu ya."
"Sip."

to be continued...

9/16/2009

Between Girl and Boy 11

Hampir dua minggu aku benar-benar mendiamkan Axel, demikian juga Axel. Ia memintaku untuk tidak mencampuri urusannya, jadi aku memilih untuk diam. Abel juga ikut diam karena merasa tak berhak tahu persoalan sahabatnya itu. Kami berdua bingung, tapi tak mampu melakukan apapun untuk memecahkan batu kebingungan itu. Uh, sebal!!
Tak seperti biasanya, hari ini Axel tetap di rumah walau jarum pendek pada jam di dinding rumahku menunjuk ke angka delapan. Tumben, kataku dalam hati. Aku ingin bertanya, tapi kukurungkan niatku itu. Jam setengah sepuluh lewat dua belas menit Axel mengeluarkan mobil dan pergi entah ke mana. Sementara aku hanya terduduk di ruang tengah seorang diri. Abel tidak lagi main kemari sejak kuceritakan puncak kemarahan Axel tempo hari. Sisa liburanku jadi kembali membosankan. Rasanya aku malas menjalani hari liburku yang seperti ini. Ini sungguh menyedihkan.

Mobil Axel terparkir rapi di depan rumah Vira yang tampak sepi. Hanya ada sebuah mobil sedan yang terparkir di dalam garasi rumahnya. Axel menekan bel rumah Vira dan tampak sesosok perempuan berbando ungu di depan daun pintu rumah. "Axel?" Ia tampak kaget melihat kehadiran pemuda tampan bernama Axel ini.
"Vira..." Senyumnya mengembang melihat Vira di depan matanya. "Kamu baik-baik aja 'kan?" tanyanya.
"I-iya kok. Kamu ngapain ke sini?"
"Mau jenguk kamu. Aku boleh masuk, Vir?" Vira membuka pagar rumah dan Axel segera memeluknya saat tak ada lagi penghalang antara dirinya dengan Vira, perempuan yang begitu disayanginya. "Aku seneng banget bisa ketemu kamu," begitu katanya. "Oh iya, sekarang aku udah kerja dan ini gaji pertama aku. Kamu pake aja ya." Axel melanjutkan.
"Eum... makasih, Xel, tapi..." Baru saja Vira ingin melanjutkan kalimatnya, seseorang muncul di belakang Axel. "Sayang, sori banget aku bikin kamu nunggu lama. Eh... ada temen kamu ya, Yang?" tanyanya sambil berjalan mendekati Vira. Kembali Vira melanjutkan kalimatnya yang sempat terpotong tadi. "Xel, maafin aku karena aku gak bisa terima ini." Vira mengembalikan sebuah amplop cokelat yang tadi Axel berikan padanya. "Ini calon suami aku... bentar lagi aku akan nikah dan..." Air mata mengalir di wajah Vira. Sementara Axel hanya terbengong mendengar pengakuan yang begitu mengejutkannya. Apa lagi ini?!

Jujur, aku prihatin melihat kondisi Axel yang kian memburuk. Ia jadi lebih suka mengurung diri di dalam kamar dan tidak mau keluar sedetikpun. Aku jadi kebingungan dan aku tak tahu apa yang harus kulakukan untuk menghiburnya. Apa lebih baik kalau kutelepon... "Bel..." Aku terisak begitu memanggilnya di telepon. Dan malam itu berakhir begitu saja.

Kedua mataku terlihat sembap dan bengkak. Semalaman aku menangis di dalam kamar. Dan hari ini aku berharap segalanya bisa terselesaikan. "Yang penting, jangan emosi." Abel mengingatkanku saat kami berada di dalam mobilnya.
"Semoga nggak emosi...," desisku pelan. Mobil Abel melaju kencang menuju suatu tempat yang menjadi tujuan utama kami.
Abel menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah yang tak pernah kukunjungi sebelumnya. Aku langsung turun dan menekan bel rumah tersebut. Sebelum aku benar-benar bertemu dengna pemilik rumah, aku menarik nafas panjang lalu menghembuskannya kembali. Semoga semuanya lancar. "Vira, ini Lira." Kuucapkan salam pembuka sebelum Vira membukakan pagar rumahnya.
"Eh, hai, Lir. Kenapa nih?" tanyanya sambil membukakan pagar.
"Boleh ngobrol?" Nada bicaraku masih terdengar ramah, walau sebenarnya hatiku mendidih.
"Silakan." Ia mengajakku dan Abel untuk masuk ke dalam rumahnya. Rumahnya cukup besar dan mewah. Banyak sekali piala yang terpajang di lemari kaca yang berada di ruang tamu. "Mau minum apa?"
"Gak usah repot-repot. Gue ke sini juga gak lama-lama kok." Kusunggingkan senyumku. Aku masih bisa bersabar nih.
"Eum... kalo gitu, mau ngobrolin apa nih? Kok keliatannya serius banget."
"Tentang Axel, kakak gue. Lo tau sesuatu tentang dia?" Aku bisa membacanya, air muka Vira seketika itu juga berubah drastis. "Vir, lo tau, kenapa belakangan ini dia jadi berubah?"
"Eh, sori banget, Lir, gue lagi gak mau ngomongin soal... Axel."
"Kenapa? Lo berdua berantem?"
"Bukan... eum..."
Aku mulai tak sabar dan akhirnya nada bicaraku mulai tegas. "Dia berubah karena lo?" Vira tak menjawabnya. "Lo tau selama ini dia pergi pagi pulang malem?" Sepertinya ia tak tahu tentang itu. "Lo tau apa yang dia lakuin?" Perempuan yang sejak tadi membisu itu hanya menggeleng. "Dia kerja sambilan. Dan lo tau kenapa dia kerja sambilan?"
"Gue gak tau apa-apa, Lir." Setelah lama membisu, akhirnya ia mulai angkat bicara.
"Jadi lo juga gak tau apa yang bikin Axel sampe gak mau keluar dari kamarnya?"
"Gue bilang, gue gak tau apa-apa."
"Kalo gitu, biar gue kasih tau ya. Dia kayak gitu karena lo!"
"Apa salah gue? Gue gak berbuat apa-apa kok."
"Brengsek lo, Vir!" makiku yang tak bisa lagi menguasai kemarahanku. "Gara-gara lo putusin Axel, dia jadi berubah. Habis lo bilang putus, lo dateng ke rumah gue dan nangis-nangis di depan Axel buat minta balik, tapi apa yang lo lakuin? Lo jalan sama cowok lain 'kan? Lo tuh bener-bener cewek paling brengsek yang pernah gue temuin, tau gak?" PLAK!!! Vira menampar pipiku.
"Jaga ucapan lo!"
"Lho? Gue gak merasa salah dengan ucapan gue. Emang kenyataannya begitu 'kan? Gue nyesel bisa kenal sama lo. Lo bener-bener memalukan kaum cewek!" Mulutku tak bisa kukuasai lagi. Rasanya kekesalan ini membuatku semakin sembarangan berkata-kata. Vira tak membalas lagi. Yang dilakukannya hanyalah menangis dan menangis. Cih!

to be continued...

9/15/2009

Between Girl and Boy 10

Kutunggu kepulangan kakakku yang sejak pagi tak terlihat batang hidungnya hingga larut malam. Dan memang, ia pulang kembali ke rumah. Tapi penampilannya membuatku semakin bertanya-tanya. "Habis dari mana?" tanyaku ingin tahu dengan nada dingin sambil terduduk di ruang tengah.
Axel menoleh ke arahku dan dengan wajah tanpa senyum sedikitpun mulutnya melontarkan jawaban. "Dari luar," jawabnya dengan singkat. Jelas saja itu bukanlah jawaban yang membuatku puas.
"Dari luar mana? Lo pergi dari pagi, terus pulang malem dalam keadaan dekil kayak gini. Jawab yang jujur, lo dari mana, Xel?" Aku mulai emosi menghadapinya malam ini.
Dan aku juga tidak tahu kalau Axel akan semarah ini. "Jangan ikut campur urusan gue. Soal gue habis dari mana dan habis ngapain, itu bukan urusan lo, Lir," gertaknya lantang. Gertakkannya membuatku tersentak dan seketika hatiku seakan tersayat mendengarnya. Axel langsung meninggalkanku yang berdiri mematung di ruang tengah seorang diri. Apakah aku salah memerhatikan kakak laki-lakiku satu-satunya? Seolah Axel tak menganggapku adiknya, hatiku menciut.

Axel membersihkan dirinya yang penuh daki di dalam kamar mandi dengan sabun hingga ia terlihat bersih kembali. Rambutnya yang basah dibasuhnya dengan handuk kering miliknya yang berwarna oranye. Setelah yakin bahwa dirinya sudah tak lagi dekil seperti tadi, ia keluar dari kamar mandi dan mengurung diri di dalam kamar tidurnya. Aku tak tahu, apakah ia sudah makan atau belum. Aku juga tak tahu, ke mana ia hari ini. Dan mungkin aku memang tak boleh tahu tentang hal itu. Hufff... aku seperti orang asing di matanya.

"Jadi, lagi-lagi Axel gak keliatan lagi sejak tadi pagi?" Hari ini Abel main lagi ke rumahku. Tujuan utamanya sih, bertemu Axel. Tapi berhubung Axel tak ada, tujuannya beralih menjadi menemaniku di rumah. Kuanggukkan kepalaku, menjawab pertanyaan Abel tadi. Mulutku malas untuk bicara. Sementara otakku terus berputar dan bertanya, kenapa. "Apa perlu dimata-matain?"
Ide bagus, batinku menjerit. Tapi aku takut Axel marah lagi seperti kemarin malam. "Dia bilang, dia gak mau gue ikut campur urusannya. Kalo dia marah, gimana?"
"Ya, jangan sampe ketahuan kalo kita buntutin dia. Seenggaknya, tujuan kita buntutin dia 'kan cuma pengen tau aja, dia ngapain seharian." Ya, aku setuju dengan idenya. Aku benar-benar ingin tahu rahasia yang tengah Axel sembunyikan dariku, adiknya sendiri.

Pagi-pagi benar mataku sudah terbuka. Jantungku berdebar kencang sekali, deg-degan. Akan seperti apakah pencarian hari ini? Akankah berhasil? Ah, berserah sajalah. "Udah siap, Lir?" tanya Abel di telepon. Jam enam ia meneleponku.
"Yap, lo sendiri?"
"Udah. Gue udah mau sampe di rumah lo sih. Tapi, mending gue ngumpet dulu ya. Ntar kalo gue udah liat Axel, gue telepon lo lagi deh. Lo stand by aja ya."
"Sip." Kutunggu telepon dari Abel di dalam kamar. Sambil aku menunggu, aku sempat mendengar suara pintu kamar Axel terbuka dan langkah kakinya menuju kamar mandi, mungkin. Pasti ia mau siap-siap untuk pergi lagi. Hampir setengah jam ke depan, akhirnya Abel meneleponku kembali. "Dia udah nongol?" tanyaku gugup.
"Iya. Ayo, cepetan." Aku segera berlari menuruni anak tangga dan kutemui Abel tengah berdiri di depan pagar rumahku. Kali ini kami mengejarnya dengan motor Abel yang baru pertama kali kulihat. Kami benar-benar melakukannya, membuntuti kakakku sendiri diam-diam. Perasaanku jadi tak enak ketika Axel membelokkan motornya dan memarkirnya di depan gedung yang sedang dibangun. Ia melepas helmetnya dan masuk ke dalam gedung tersebut setelah mengunci motornya dengan benar.
"Pagi amat datengnya, Xel?" Salah seorang rekannya menyapanya pagi ini begitu ia melangkah masuk ke dalam.
"Iya, pagi-pagi 'kan harus semangat, ya gak?" tuturnya sambil tertawa kecil.

"Ih, Axel ngapain sih, di dalem?" Aku mulai jengkel.
"Satu-satunya jawaban yang terlintas di pikiran gue sih, dia kerja sambilan."
"Ha, kerja sambilan? Buat apaan?" Abel mengangkat kedua bahunya, tidak tahu. "Ck, samperin ke dalem aja, Bel."
"Eh, eh, eh... 'kan tujuan kita buntutin dia cuma sekedar pengen tau dia ke mana, Lir. Kalo lo samperin, ntar dia malah marah sama lo lagi. Ntar malah makin kacau."
"Tapi..." Aku sejujur-jujurnya tidak bisa terima Abel mencegahku, tapi memang ada benarnya juga sih. Aku nggak mau semua jadi kacau hanya gara-gara tindakanku yang gegabah. Harus segera kutemukan bagaimana cara mengorek kebenaran ini lebih dalam.

Malam ini kukumpulkan seluruh keberanianku untuk bicara baik-baik pada kakakku. "Xel, boleh ngobrol?" tanyaku perlahan.
"Ngobrolin apaan?" Seperti biasa, ketus. Tapi tak apalah.
"Hm... apa ajalah. Habis gue ngerasa, kayaknya udah lama banget gak ngobrol sama lo."
"Ah, lebay lo."
"Bukannya lebay. 'Kan dari pagi lo pergi melulu sampe malem. Jadi, wajar dong, kalo gue ngerasa kayak gitu." Axel kali ini tidak bersuara. "Lo ke mana aja sih, sampe-sampe ngebiarin gue sendiri di rumah?" Ia belum juga angkat bicara. "Xel, kalo lo lagi ada masalah atau lagi ada sesuatu, apa nggak sebaiknya lo berbagi sama gue? Gue 'kan adik lo, Xel. Lagian siapa tau gue bisa bantuin lo, walau kadang gue rada gak guna juga sih."
"Ah, siapa bilang gue lagi ada masalah? Gak kok." Masih saja mengelak, batinku kesal.
"Tapi gue ngerasa lho, makin lama lo jadi makin berubah. Lo jadi... pemurung."
"Sotoy lo," ledeknya lagi.
"Bukannya sok tau, tapi emang gue ngerasa gitu. Hmm... lo lagi perlu sesuatu ya, sampe kerja sambilan... ups!" Duh, keceplosan.
Sorot mata Axel langsung berubah. "Lo tau dari mana gue kerja sambilan?" tanyanya tegas.
"Eum... gak, gue cuma nebak aja..." Uh, aku tak mampu meyakinkannya.
"Jawab yang jujur, lo tau dari mana?"
"Itu... gak, gue..."
"Denger ya, Lir, mulai sekarang, berhenti ikut campur urusan gue. Bukannya gue udah pernah bilang sama lo ya, jangan ikut campur urusan gue!?"
"Bukannya mau ikut campur, Xel, tapi..."
"Diem!! Pokoknya mulai sekarang urus aja diri lo sendiri, ngerti?" Baru pertama kali aku melihat Axel sedemikian mengerikan, seperti kerasukan sesuatu. Hiii... ngeri.

to be continued...

9/14/2009

Between Girl and Boy 9

"Axel mana, Lir?" tanya Abel saat datang bermain ke rumahku. Ia sedang duduk tepat di sebelahku di sofa ruang tengah.
"Gak tau, dari pagi gak keliatan. Emang dia gak bilang apa-apa ke lo, Bel?" Sedikit sedih menerima kenyataan ini, aku dan Abel pacaran tapi tak seperti orang pacaran. Tidak pernah ada satu kata manis yang keluar dari bibir Abel, begitu pula aku. Tak mungkin aku yang memulai 'kan? Tengsin!
"Nggak sih. Dia juga gak bilang apa-apa ke lo?" Abel balik bertanya dan kujawab dengan sebuah gelengan pelan. Sebenarnya sih, aku tak begitu peduli soal kakak laki-lakiku yang satu itu. Kupikir, ia sudah cukup besar untuk menjaga dirinya baik-baik, jadi buat apa dikhawatirkan lagi? "Eum, mau jalan-jalan?" tawarnya mengganti topik pembicaraan.
"Eh, ke mana?" Tumben sekali, gumamku senang.
"Ya, ke mana aja yang lo mau. Lo maunya ke mana?"
"Ke mal, cari baju." Aku nyengir kuda.
"Ya udah, gue temenin." Aku buru-buru ke kamarku dan mengganti pakaianku. Ini kencan ke duaku, tuturku di depan cermin. "Udah?" tanyanya saat kedua matanya menangkap sosokku yang sedang menuruni anak tangga dengan lincah.
"Yap," jawabku mantap. Aku memakai kaos bergaris dan celana jins hitam panjang bermerk T2000.
Dengan mobil jazz biru milik Abel, kami berdua pergi menuju tempat tujuan. Jalanan sepi sekali karena sedang libur panjang. Jadi, pasti banyak yang berlibur ke luar negeri atau ke luar kota.
"Nelepon siapa sih? Kayaknya dari tadi sibuk amat." Aku jadi penasaran melihatnya dari tadi sibuk dengan telepon genggam pribadinya.
"Gue lagi nyoba nelepon Axel."
"Buat?"
"Lah, emang lo gak khawatir sama kakak lo sendiri, Lir?"
"Ya ampun, dia bukan anak kecil lagi kali. Ngapain dikhawatirin sih?" Aku mulai kesal karena... cemburu? Oh bukan, nggak mungkin aku cemburu cuma gara-gara begituan. Childish sekali.
"Emang sih, tapi..."
"Ya udahlah. Gak usah ngebahas begituan lagi." Kupotong kalimat Abel dengan nada ketus. Dan kami berdua sama-sama terbungkam.
Aku memutuskan untuk berpura-pura, seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya. Aku ingin menikmati kencan ke duaku ini dengan Abel. Banyak pasangan yang kutemukan di dalam mal ini. Dan salahkah aku kalau aku iri melihat kebanyakan dari mereka terlihat dekat sekali dengan pasangannya masing-masing? Kubandingkan dengan diriku, aku dan Abel malah lebih terlihat sebagai teman biasa. Kami berjalan berjauh-jauhan, seperti sedang saling menghindar. Uh, lama-lama kesal juga menghadapi kenyataan pahit ini.
"Eh, liat deh, Bel. Bajunya bagus gak?" tanyaku mencairkan suasana hening yang tercipta sejak dalam perjalanan menuju kemari.
Abel terlihat dingin dan menjawabnya hanya dengan sebuah senyuman kering.
"Cocok gak?" Kembali aku bertanya padanya, tapi ia hanya menganggukkan kepalanya satu kali dengan perlahan. Awalnya, kuacuhkan sikap dinginnya itu. Tapi lama-lama aku jadi tak tahan sendiri. Geram melihatnya. "Kenapa sih? Masih marah soal tadi ya?"
"Marah soal apaan sih?" Nada bicaranya meninggi, seolah benar-benar masih marah padaku.
"Lo masih mikirin soal Axel?"
"Gak, biasa aja."
"Bohong. Kalo biasa aja, kenapa dari tadi cemberut gitu sih?"
"Siapa juga yang cemberut? Lo kenapa sih, sentimen banget."
"Lo tuh, yang sentimen. Dari tadi keliatan lesu gitu, tapi kalo gue tanya, lo jawab gapapa. Terus nada bicaranya ngeselin banget lagi."
"Jadi, gue mesti gimana?"
"Yaaa... eh, itu 'kan..." Aku langsung tersentak saat melihat sosok seseorang yang kukenal. "Vira?" desisku kaget.
"Mana?" Abel jadi ikutan ingin melihat. "Eh, iya, itu ceweknya Axel. Dia bareng Axel?"
"Bukan, itu bukan Axel. Gue yakin banget, itu bukan Axel. Samperin aja, Bel." Aku sudah melangkah maju tiga langkah, tapi Abel langsung menghambat langkah kakiku.
"Dari jauh aja, Lir. Jangan sampe dia tau kita di sini." Kali ini, kuturuti apa katanya. Mungkin memang harus dari jauh saja. Setidaknya untuk memastikan siapa lelaki yang ada di sisinya saat ini.
"Iya, bener, itu bukan Axel. Wah, ini sih, kacau." Aku geleng-geleng kepala melihat kenyataan ini. Gila!
"Udahlah, Lir. Jangan dibuntutin terus. Udah selesai jadi mata-matanya." Abel mencegahku untuk bertindak lebih jauh. Sebal sih, tapi ya sudahlah. Aku tahu, Axel dan Vira sudah putus. Tapi firasatku mengatakan bahwa tujuan Vira datang ke rumahku semalam adalah untuk berbaikkan. Kalau memang benar untuk berbaikkan, kok sekarang pergi dengan cowok lain? Itu yang menjadi sebuah tanda tanya besar di kepalaku. Ah, pusing.

to be continued...

9/09/2009

Between Girl and Boy 8

Axel terduduk lemas di sofa ruang tengah dengan pandangan kosong ke depan. Aku baru saja selesai mandi sore ini dan kembali menuju ruang tengah yang sepi. "Xel, kenapa lo?" tanyaku sambil menyikut bahunya. Tak biasanya ia diam seperti ini. Biasanya aku pasti jadi bahan cemoohannya tiap menit, sampai-sampai aku tak tahan berada di dekatnya.
"Hm... nggak papa kok. Emang gue kenapa?" tanyanya balik dengan ekspresi yang tengah menyembunyikan sesuatu dariku, adik kandungnya sendiri.
"Alah, gak usah pura-pura deh. Lo lagi punya masalah 'kan?"
"Kagak kok. Sotoy lo," makinya lagi.
"...gue ini bukan anak kecil yang bisa lo bego-begoin. Dari tampang lo keliatan kok, lo lagi ada masalah. Ceritalah, Xel. Gue 'kan adik lo, masa gue ga boleh sih, jadi tempat penampungan curhat lo? Padahal selama ini kalo ada apa-apa, gue suka cerita ke lo 'kan?"
Cowok bertampang lusuh itu menoleh ke arahku. "Ya itu 'kan salah lo sendiri, Lir. Siapa suruh cerita-cerita ke gue? Gue gak minta lo cerita 'kan?"
Jujur, aku sedikit merasa tersinggung saat kakakku yang sebenarnya aku sayangi bilang begitu, tapi yah, mungkin dalam hal ini aku tak boleh ikut campur. Ya sudahlah, aku akan diam dan membiarkannya untuk sesaat. Aku mulai mencari kesibukan di ruang tengah selain menonton televisi. Kubongkar majalah-majalah yang menumpuk di dalam rak dan mencoba mencari-cari resep makanan yang unik untuk dicoba.
"Gue sama Vira putus, Lir." Satu kalimat yang tiba-tiba terlontar dari bibir Axel cukup membuatku syok seketika.
"Putus? Kapan?"
"Dua hari yang lalu."
"Dia mutusin lo atau..."
Axel tersenyum pahit. "Gak mungkin gue mutusin dia, Lir. Gue sayang banget sama dia."
"Jadi dia yang mutusin lo?" Ia menganggukkan kepalanya, membenarkan dugaanku. "Alasannya?"
"No reason." Gokil, seruku dalam hati. "Sampe sekarang gue juga belom tau kenapa dia mutusin gue. Waktu itu gue udah sempet nanya ke dia, tapi dia bilang kalo dia gak bisa kasih tau alasannya ke gue. Tapi gue rasa, dia mutusin gue karena dia udah punya yang laen. Yah, intinya sih, dia ada maen di belakang gue."
"Gila juga tuh cewek. Eum... tapi, Xel, boleh gue jujur?"
"Apa?" Nada bicaranya melemah dan ini untuk pertama kalinya ia seperti ini.
"Lo inget 'kan, gue pernah cerita ke lo soal kisah pasangan yang hot banget di mal waktu itu?" Dua kali Axel menganggukkan kepalanya. "Tampang ceweknya mirip dia...," desisku pelan.
Axel menghela nafas dengan berat. "Mungkin dugaan gue emang bener ya." Aku tak menyangka kalau ternyata cinta itu bisa melemahkan seorang seperti kakakku. Hebat juga.
"Udahlah, Xel, cewek gak cuma dia doang. Masih banyak cewek yang lebih baik dari Vira. Lagian sekarang lo udah tau 'kan, belangnya dia kayak apa. Mendingan cari yang lain aja, Xel."
"Ngomong sih, gampang, Lir. Ngelakuinnya yang susah." Iya sih, aku ikut membenarkan dalam hati.

"Hai, say, ada apa nih, tiba-tiba manggil aku ke sini?" Cowok berkemeja biru itu mengecup pipi cewek yang sudah lama duduk di meja nomor 12 yang ada di sudut kafe, setelah itu baru ikut duduk di hadapan si cewek.
Jantung cewek berambut panjang itu berdegup begitu kencang. Gugup. "Eh, Nik, aku perlu ngomong sama kamu. Maksudku, ada yang mau aku ngomongin ke kamu."
"Oh ya, mau ngomong apa? Ngomong aja, aku dengerin kok."
Ia membetulkan posisi duduknya untuk melepas ketegangannya sedikit. "Pertama... aku mau kasih tau kalo akhirnya cowok itu udah nggak akan ngeganggu aku lagi..."
"Oh, itu bagus. Karena aku gak suka kalo dia deketin kamu. Terus?"
"Yang ke dua..." Cewek itu semakin gugup. Kedua tangannya saling meremas. Keringat dingin membasahi kedua telapak tangannya.
"Apa?" Sepertinya cowok ini tak sabar untuk mendengar kabar yang akan pacarnya sampaikan.
"Niko... aku hamil..." Suaranya terdengar berat, ia hampir menangis saat mengucapkan kalimat terakhir ini.
"Bohong." Dengan enteng, cowok bernama Niko ini mengelak. "Kamu jangan suka bercanda kayak gini, Vir. Aku nggak suka lho."
Cewek itu menggeleng mantap sambil berujar, "Aku nggak bohong, Nik. Aku nggak lagi bercanda." Air matanya mulai membasahi kedua pipinya.
"Vira, jangan main-main kamu. Kamu tau 'kan, aku lagi punya banyak masalah dan aku gak mungkin nikahin kamu karena kamu hamil kayak gini." Niko mulai cemas dan sesaat ia terdiam untuk berpikir. Sementara pacarnya, Vira, hanya terisak menantikan pertanggungjawaban dari sosok Niko. "Oke, aku putuskan untuk gugurin kandungan itu." Vira terhenyak mendengar keputusan gila yang dibuat pacarnya.
"Kamu gila ya!? Ini anak kamu juga, Nik."
"Eits, belom tentu 'kan? Aku gak yakin kalo itu murni anak aku. Bisa aja 'kan, itu anak cowok lain yang pernah tidur sama kamu."
PLAAAKKK!!! Spontan, tangan Vira melayang dan sebuah tamparan kencang mendarat di pipi Niko, ayah dari janin yang tengah dikandungnya. Setelah itu, ia pergi meninggalkan kafe sambil menutupi wajahnya yang basah akan air mata.

Bel rumahku berbunyi berkali-kali. Saat pintu sudah dibukakan, tiba-tiba Vira muncul di ruang tengah dengan wajah berantakan di hadapan kami, aku dan Axel. Terang saja itu membuat Axel terkejut sekaligus marah. "Ngapain kamu ke sini lagi?" tanyanya ketus.
Vira langsung berlari dan memeluk kakakku sambil terus terisak. Tak ada satu katapun yang terucap saat itu. Axel yang tadinya mencoba untuk bersikap dingin, segera luruh saat Vira memeluknya. Ia menenangkan mantan pacarnya setelah menyuruhku meninggalkan mereka berdua. Aku tak setuju, tapi semoga saja tidak terjadi sesuatu yang mengacaukan.
"Vira, tenang... kamu kenapa?" Nada bicara Axel melembut. Sedapat mungkin ia menenangkan mantan kekasihnya yang sesungguhnya ingin dilupakannya.
"Axel... maafin aku... aku bener-bener minta maaf karena aku udah ninggalin kamu...," katanya sambil terisak. "Aku nyesel banget..." Axel sepertinya tak tahan dengan permintaan maaf Vira ini.
"Iya, aku udah maafin kok... kamu jangan nangis lagi ya."
Vira mulai mencoba untuk tenang dan mereka berbincang di ruang tengah berdua.
"Sebenernya ada apa sih? Kok kamu nangis?" Axel mulai bertanya baik-baik saat Vira mulai tenang.
"Xel, sebenernya ada yang aku sembunyiin dari kamu..."
Deg! "Soal apa?" tanyanya ingin segera tahu.
"Banyak... dan aku yakin, kalo aku cerita, kamu pasti gak akan maafin aku."
Axel menahan nafas sejenak, berpikir, lalu mulai angkat bicara. "Aku mau denger."
"Tapi aku mohon, jangan marah..."
"Bilang aja."
"Waktu kita masih jadian, aku... aku emang selingkuh." Axel tidak begitu terkejut soal ini karena memang dirinya sudah menduga-duga sebelumnya. Dan ternyata dugaannya 100% tepat. "Terus... sekarang aku... aku hamil..." Tidak ada yang bisa menggambarkan bagaimana perasaan Axel saat mendengar kabar itu. Hancur berkeping-keping, bahkan tak berbentuk lagi.

to be continued...

9/05/2009

Between Girl and Boy 7

Hari ini berakhir dengan penuh kebahagiaan dalam hatiku. Siapa yang menyangka kalau Abel akan memintaku untuk menjadi pacarnya dengan cara seperti itu. Setiap kali mengenangnya, aku jadi merasa geli sendiri.
Uh, aku kesal karena waktu begitu cepat berlalu. Pada akhirnya, kami semua harus segera pulang karena tempat ini akan segera ditutup. Padahal aku masih ingin menikmati kebersamaanku dengan Abel di sini. "Eh, mau mampir ke toko cinderamata dulu gak?" tawar Abel semangat. Tangan kirinya menggandeng tangan kananku tiba-tiba. Deg! Kalau keadaan sedang sepi dan hening, suara debaran jantung ini pasti kedengaran.
"Gue ke mobil dulu aja ya, Bel." Tumben, gumamku dalam hati. Tapi aku takkan peduli. Axel dan Vira, pacarnya, melangkah bersamaan menuju mobil. Sementara aku dan Abel, kami berdua masih mampir ke kios yang berisikan oleh-oleh dari tempat bermain ini.
Begitu banyak boneka nan lucu dan imut yang terpajang di atas kaca. "Lo mau, Lir?" tanyanya yang seakan tahu kalau aku menginginkannya.
Sebelum menjawab, aku nyengir dulu. "Gak lah, gue udah punya banyak boneka di rumah."
Abel mengambil salah satu boneka yang kuinginkan sejujurnya dan membawanya ke tempat kasir yang ada di tengah ruangan, lalu membayarnya dengan uang cash. Setelah boneka itu dimasukkan ke dalam kantong plastik yang berlogokan boneka Dufan, cowok cool itu langsung menyodorkannya padaku. "Nih, buat lo." Senyumnya mengembang. "Kenang-kenangan...," begitu lanjutnya.
"Serius?" Aku jadi grogi sendiri menerima hadiah darinya.
"Iya, beneran," jawabnya sambil menganggukkan kepala dan tersenyum padaku. Senangnyaaaa!!!!

Axel duduk di balik stir kemudi, sedangkan Vira duduk di sebelahnya. Pertamanya, mereka hanya diam dalam keheningan selama beberapa menit. Hingga pada menit ke empat, akhirnya Axel memutuskan untuk memecah keheningan yang tercipta dalam mobil. "Boleh aku tau, kenapa kamu mutusin aku?" tanyanya baik-baik. Sayangnya, Vira tidak berkata apa-apa. Seolah jawaban itu tidak ada. "Vira, aku sayang sama kamu..." Ia mendesis.
"Sori, Xel, aku gak bisa jawab pertanyaan kamu."
"Kenapa?" Axel mulai naik pitam. "Seenaknya aja kamu mutusin aku, tapi kamu gak punya alasan untuk itu? Gak logis banget."
"Aku... aku bukannya gak punya alasan, tapi..."
"Tapi apa, Vir?"
"...tapi aku gak bisa kasih tau alasannya ke kamu sekarang...," jawabnya dengan suara yang hampir tak terdengar.
Axel kembali mengatupkan bibirnya selama dua menit, lebih dari itu ia mulai angkat bicara dengan suara bergetar. "Apa jangan-jangan... kamu main di belakang aku?" Sorot matanya menajam ke arah Vira yang terus tertunduk sejak tadi. Dan ia tak menjawabnya lagi. "Vira, kamu bener-bener selingkuh?" Entah apa yang membuat Axel begitu yakin akan prasangkanya. Naluri pria, mungkin.
"Aku... aku gak bermaksud buat selingkuh, Xel, tapi..."
"Tapi apa lagi?" Kali ini Axel sudah benar-benar merasa yakin dengan prasangkanya dan ia marah betul mendengar Vira terus mengelak seperti ini. Yang ia inginkan adalah kejujuran dari Vira yang telah menjadi bagian dari masa lalunya, mantan pacarnya. "Kenapa kamu selalu bilang 'tapi', terus diem dan gak dilanjutin? Jawab, Vir, kamu bener-bener selingkuh?" Tatapan matanya semakit tajam dan membuat Vira semakin tertunduk. "Aku tanya, apa kamu bener-bener selingkuh, Vira? Jawab yang jujur!" Suaranya lantang membuat Vira tersentak.
Yang ada hanyalah deraian air mata yang sama sekali bukan jawaban bagi Axel. "Aku gak nyangka, ternyata kamu itu rendah banget... aku salah nilai kamu, Vir." Percakapan berakhir tanpa adanya penjelasan dari pihak Vira.

Sepanjang perjalanan, Vira dan Axel terus terkurung dalam keheningan. Vira menutupi wajahnya yang kusam karena air mata. Sementara Axel menyembunyikan emosinya yang meluap-luap dalam hati. Aku dan Abel sama sekali tak tahu apa-apa, jadi kami terus mengobrol berdua di jok belakang.

Aku keheranan dengan Axel yang hari ini sama sekali tidak meledekku ataupun memakiku seperti hari-hari sebelumnya. Sakitkah ia? Sejak tadi pagi ia tak keluar kamar. Bahkan, ia tak ingin menemui Abel yang sudah datang sejak tadi. Padahal biasanya, ia langsung semangat dan mengajaknya ke kamarnya untuk main game. "Lo gak tau soal Axel?" tanya Abel yang sama bingungnya.
"Have no idea," jawabku. "Lo sama sekali gak tau, Bel? Lo 'kan sohibnya."
"Gak, sama kayak lo."
Hening. Sunyi. Aku dan Abel sama-sama sedang memikirkan tentang hal yang membuat Axel jadi bersikap aneh sepanjang hari ini. "Apa jangan-jangan lagi ada masalah sama Vira?" celetukku asal.
"Eh, mungkin juga. Soalnya dari kemaren kayaknya mereka diem-dieman, semenjak habis naik bianglala tuh."
"Oh ya? Kok gue gak nyadar ya?" Aku menggaruk-garuk kepalaku yang tak gatal sama sekali. "Apa kita tanyain dia aja, Bel?"
"Mendingan sih, jangan. Itu 'kan urusan pribadi dia. Yah, tunggu sampe dia tenang dulu ajalah. Ntar kalo dia mau cerita, dia pasti cerita 'kan?" Memang sih, tapi aku lebih suka langsung mendapatkan jawabannya sekarang. Aku ingin tahu sekali soal ini.

to be continued...

8/29/2009

Between Girl and Boy 6

Sepanjang perjalanan Axel dan pacarnya tak banyak bicara. Keheningan tercipta tanpa tahu sebabnya. Vira, gadis yang usianya di bawah Axel satu tahun hanya memandangi pemandangan luar yang sama sekali tak indah untuk dipandangi. Sementara Axel hanya diam dan terfokus pada teknik menyetirnya.
Lama-lama Axel tak betah akan keheningan ini dan mengawali percakapan. "Kamu lagi sakit ya?" tanyanya seperti pertanyaan kemarin malam.
Vira menoleh dan menggelengkan kepalanya pelan. "Nggak kok," jawabnya singkat. Kemudian kembali membisu.
"Kok diem aja?"
"Hm, bingung mau ngomong apa."
"Lagi ada masalah?"
"Gak kok, aku gapapa. Aku baik-baik aja."
"Syukur deh, kalo baik-baik aja. Kalo lagi ada masalah, bilang aja. Siapa tau, aku bisa bantu kamu. Oh iya, kamu udah makan?"
"Udah, tadi di rumah. Kamu sendiri udah makan?"
"Belom. Paling ntar pulang makan dulu."
Axel mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi karena ia ingin segera tiba di rumah. Entah kenapa, perasaannya tak enak mendadak.
"Lir, Abel udah dateng?"
"Belom," jawabku yang lagi duduk di ruang tengah sambil baca majalah. Ups, ada sesosok gadis yang tak kukenal di balik tubuh Axel yang tinggi. "Cewek lo, Xel?" tanyaku ceplas-ceplos.
"Iya, ini Vira. Say, ini adik aku. Namanya Lira."
"Hai," sapanya lembut. Sementara aku hanya mengangguk kepalaku pelan sebagai tanda perkenalan. Sepertinya aku pernah melihat sosok gadis ini, tapi di mana ya? Otakku berusaha mengingatnya, tapi sia-sia saja. Aku tak mengingatnya.
"Ada makanan gak? Gue laper berat nih."
"Tuh, di meja."
"Lo udah makan, Lir?"
"Udah dari tadi kali." Aku kembali membaca majalah. Saat kusadari, gadis yang menjadi pacar kakakku tengah berdiri seorang diri. "Eh, duduk aja dulu, Vir..."
"Iya, makasih..." Sepertinya ia terlihat malu-malu.
"Sejak kapan jadi pacar Axel?" tanyaku iseng. Habis aku juga ingin tahu sih, seluk-beluk hubungan mereka.
"Sekitar tujuh bulan yang lalu," jawabnya dengan anggun. Astaga, gadis ini feminin sekali, seperti layaknya seorang tuan puteri. Aku jadi iri.
Aku manggut-manggut mendengar jawabannya. "Ceritain dong, gimana kalian bisa jadian," mintaku dalam bisikan. Aku takut terdengar Axel.
Ia tersenyum tipis. "Waktu itu..."
Baru saja aku begitu antusias mendengar cerita dari Vira, Axel langsung memotong. "Hayo, lagi ngomongin apa nih? Pasti lagi ngomongin gue ya?"
"Hiiihh, ge-er banget sih, lo! Gue lagi curhat sama Vira dari hati ke hati tau! Sana lo, pergi. Jangan ganggu."
"Curhat? Gue 'kan juga pengen tau."
"Gak boleh! Ini rahasia perempuan tau!"
"Kenapa gak boleh? Vira 'kan cewek gue, sedangkan lo adik gue. Berarti gak boleh ada rahasia-rahasiaan dong."
"Gak ada hukum kayak gitu! Gimanapun, ini urusan cewek. Kaum cowok dilarang ikut campur!" tegasku.
"Halah, anggep aja gue bagian dari kalian, susah amat!?"
"Ya jelas susahlah. Lo 'kan cowok, Xel. Udah ah, sana!"
"Ogah, gue mau ikut nimbrung."
Baru hendak kuusir kakakku yang begitu menyebalkan, Abel muncul di hadapan kami sambil meransel tas hitamnya. Penampilannya keren sekali hari ini, membuatku terpesona. "Hai, gue telat ya?" tanyanya sambil melihat jam.
"Gak kok, ini baru jam setengah sembilan," ujarku sambil tersenyum. Pokoknya hari ini harus bisa ngobrol banyak, tekadku.
"Nah, karna semuanya udah pada ngumpul, jalan sekarang yuk!" Axel langsung meraih kunci mobil dan melangkah keluar diiringi oleh aku, Vira, dan Abel.

Ternyata memang hari ini ramai. Permainan yang bisa kami nikmati hanya sedikit. Tapi tak apa, aku takkan patah semangat karenanya. Dari pagi hingga sore, hanya lima jenis permainan yang kami ikuti. Kora-kora, niagara-gara, arung jeram, tornado, dan halilintar. Permainan ke-enam sekaligus permainan terakhir yang akan kami naiki adalah... bianglala. Sambil menikmati langit senja nan indah, aku akan mengajak Abel mengobrol.
"Hoaaa... pemandangannya indah banget. Keren lho, foto di sini. Bel, gue foto lo deh, buat kenang-kenangan. Scene-nya bagus banget nih." Sebenarnya di samping itu ada alasan yang lain, tapi hanya aku yang tahu maksud tersembunyi itu.
"Lo juga mau gue foto?" Abel mengeluarkan ponselnya dan mulai mengambil ancang-ancang untuk mengambil fotoku.
"Boleh juga." Kyaaaa, senang, aku menjerit dalam hati kegirangan. "Wah, perasaan banyak banget ya, pasangan yang naik bianglala."
Abel tertawa kecil. "Emang nih permainan cocok buat pasangan sih."
Tentu aku ikut tertawa mendengar komentarnya. "Oh ya? Kalo gitu, kapan-kapan kalo gue udah punya pasangan, gue ajak main beginian aja kali ya?" gurauku tak serius.
"Emang lo belom punya pacar, Lir?" Kurasa, ia juga tak serius.
"Belomlah. Lo sendiri?" Abel menggeleng. "Belom pernah pacaran juga?" Ke dua kalinya ia menggelengkan kepalanya. "Masa sih? Gue gak percaya, lo belom pernah pacaran."
"Emang belom kok. Lo sendiri udah pernah pacaran?"
Aku nyengir kuda. "Belom juga sih." Malunya!!!
"Kalo gitu kita pacaran aja." Hee!!??? Aku nyaris teriak saat berada di puncak sana. Apa ia serius atau tidak, aku tak tahu. "'Kan kita berdua sama-sama belom pernah pacaran. Gak ada salahnya dicoba, ya 'kan?" Jantungku berdebar kencang sekali. Inikah pertanda baik atau malah sebaliknya? "Mau gak, Lir?" tanyanya membuyarkan keheningan yang sudah hampir dua menit tercipta.
"...yaaa, gak ada salahnya dicoba toh?" Aku pura-pura kuat, padahal saat ini aku nyaris meleleh dan tumpah ke permukaan. Uh, semoga ini pertanda baik, harapku cemas.

Vira dan Axel duduk berhadapan. Mereka saling diam untuk beberapa waktu lamanya, tapi kemudian keheningan itu hancur saat Vira mulai angkat bicara. "Aku boleh ngomong sesuatu, Xel?" Air mukanya terlihat begitu serius.
"Boleh kok, ngomong aja, Say." Axel tersenyum lembut pada gadis yang begitu ia sayangi.
Gadis itu tampak ragu mengungkapkannya. Tubuhnya bergetar tiba-tiba.
"Sayang, kamu gapapa?" tanya sang pacar khawatir.
"Gapapa kok, aku baik-baik aja."
"Terus kamu mau ngomong apa, Say?"
Keraguan itu masih tak bisa diluputkannya, tapi mendadak ada suatu kekuatan yang memampukannya untuk mengucapkan satu patah kata. "...putus..."
Axel tersentak. "Hah? Apa?" Berharap apa yang ia dengar barusan salah.
"...kita putus..." Seperti ada petir yang menyambarnya sore ini, Axel segera naik pitam.
"Apa-apaan sih, kamu, tiba-tiba ngomong kayak gitu? Emang kenapa, aku buat salah apa sama kamu, Vir?" Emosinya meluap-luap, tapi gadis itu tak melanjutkan ucapannya. Bahkan, sampai Axel mengguncang-guncangkan tubuh si gadis itupun, Vira hanya bisa menitikkan air mata tanpa satu patah katapun yang terlontar. Permainan selesai dan mereka berdua berakhir dalam keheningan.

to be continued...

Between Girl and Boy 5

Jam setengah delapan aku baru saja membuka mataku dan melangkah keluar dari kamarku. Sudah kesiangan, batinku sambil menguap. Tidurku semalam pulas sekali, sampai-sampai tidur seperti orang yang tak lagi bernyawa. Dengan piyama kuning yang melekat di tubuhku dan dengan penampilan yang serba berantakan aku menuruni anak tangga menuju ruang makan untuk mencari-cari makanan. Cacing-cacing dalam perutku sudah bernyanyi kelaparan. Saat kedua mataku menangkap roti isi yang ada di atas meja makan, langsung saja aku duduk di kursi makan dan melahapnya tanpa melihat situasi. Ternyata ada Abel yang baru datang. Ia melihatku yang serba berantakan ini tengah melahap sarapanku dengan semangat. Oh tidak, memalukan sekali, pekikku dalam hati. "Gini nih, pemalas bangunnya siang-siang. Udah gitu, bukannya langsung mandi dan beres-beres, malah makan dengan lahap kayak orang rakus." Ledekan ini tak asing lagi di telingaku. Ini pasti keluar dari bibir pedas Axel, kakak laki-lakiku yang tak tahu perasaan.
Tanpa suara aku meninggalkan ruang makan, lalu bergegas ke dalam kamarku kembali untuk merapikan diriku yang berantakan. Mandi, berpakaian, lalu melanjutkan menghabiskan sarapanku yang masih tersisa. Sepertinya Abel dan Axel sudah masuk ke dalam kamar untuk bermain. Aku amat sangat menyesal karena Abel harus melihat keadaanku yang amat buruk. Malunya aku.
Bosan kembali menghantui hari-hariku. Benar-benar membosankan, keluhku. Kulangkahkan kakiku menaiki anak tangga dan mendekati pintu kamar Axel. Tiga ketukan cukup membuat Axel membuka pintu kamarnya. "Kenapa lagi?" tanyanya ketus.
"Bosen nih. Temenin gue jalan-jalan yuk, Xel. Please..." Aku memohon sedemikian rupa karena tak tahan dengan rasa bosan yang melandaku selama hampir seminggu ini. Masa liburanku seperti begini-begini saja?! Tak terima aku.
"Jalan-jalan? Ogah ah! Gue mau maen sama Abel. Sana, lo pergi aja sendiri. Ajak siapa kek, temen lo gitu."
"Pada lagi asyik sendiri. Gue sendirian nih. Please, Xel..." Kembali aku memohon.
"Ck, dibilangin ogah... sana, sana, ganggu aja lo!" Ia mengusirku. Terpaksa, aku harus kembali merasa bosan di ruang tengah.

Terdengar telepon berdering. Gadis yang tampak pucat itu segera mengangkatnya. "Halo..."
"Yang, ini aku. Kamu lagi di mana?"
"Aku masih di rumah. Kenapa?"
"Hm, malem ini aku mau ngajak kamu pergi, kamu bisa?"
"Duh, kayaknya nggak bisa deh. Aku lagi gak enak badan nih, dari tadi mual terus. Sori ya, Say."
"Kamu baik-baik aja? Aku anterin kamu ke dokter ya."
"Gak usah, aku gapapa kok. Paling cuma masuk angin aja. Istirahat bentar juga ntar sembuh."
"Beneran kamu gapapa?"
"Iya, beneran kok."
"Ya udah, cepet sembuh ya, Sayang."
Percakapan di telepon berakhir dan gadis itu kembali masuk ke dalam kamar mandi dengan terbirit-birit. Perutnya mual, wajahnya pucat pasi. Penuh tanda tanya di benaknya serta hatinya dihantui rasa takut yang begitu meluap-luap. Tangannya menggapai suatu alat yang disimpannya di dalam lemari gantung yang ada di dalam kamar mandi. Ada suatu perasaan aneh yang mencekam saat alat tersebut membuahkan hasil. Positif... dan gadis itu segera tersungkur di lantai seakan tak ada setitikpun kekuatan untuknya menopang berat tubuhnya.

Kumatikan televisi dan mulai mencari kesibukan. Kira-kira apa yang harus aku lakukan untuk membunuh rasa bosanku, otakku mulai berputar mencari ide. Sayangnya, tak ada satupun ide untuk menghilangkan rasa jenuhku selama liburan ini. Seharian penuh aku hanya terduduk di ruang tengah tanpa melakukan satupun hal yang berguna. "Xel, besok ke Dufan yuk. Gue bosen nih, di rumah terus."
"Hah? Ke Dufan? Hari libur gini? Rame kali, Lir."
"Yah, ke mana aja deh, yang penting hepi."
"Bentar, gue tanya Abel dulu. Kalo dia setuju ke Dufan, ya besok kita ke Dufan."
"Beneran, Xel?" Aku langsung kegirangan seperti anak kecil yang akan mendapatkan hadiah besar dari sinterklas.
"Iya, sabar. Gue tanya dulu." Aku tak sabar mendengar jawabannya. Semoga saja Abel setuju, aku mulai berdoa pada Tuhan dalam hati. Sekali ini saja, aku juga ingin banyak ngobrol dengan Abel di samping itu. "Bel, besok lo ada acara?"
"Hm, kagak kok. Kenapa emangnya, Xel?"
"Adik gue mau pergi ke Dufan. Katanya, bosen di rumah melulu. Lo mau join?"
"Hmm, boleh juga sih. Gue juga udah lama gak ke Dufan."
"Oke deh, berarti setuju ya. Ngumpul di rumah gue aja ya, jam sembilan."
"Sip."
Aku langsung buru-buru mendekati Axel yang baru saja menutup telepon. "Gimana, gimana, Abel mau ikut, Xel?" tanyaku penuh harap.
"Iya, dia mau ikut, tapi satu syarat."
"Apa syaratnya?"
"Dia gak mau lo ikut."
"Hah, kenapa? Emang gue salah apa, Xel? Serius lo?"
Axel nyengir kuda. "Bo'ong kok." PAAK!! Kupukul ia sekencang mungkin kali ini. "Aduh!! Sakit tau!! Besok gak jadi pergi ah!"
"Aaaahhh...," rengekku. "Sori deh, sori... sini, sini, gue elus. Cup cup cup, udah gapapa 'kan? Masih sakit ya?"
"Halah, apaan sih? Kayak anak kecil aja. Gue mau nelepon cewek gue dulu ah! Siapa tau dia mau ikut." Axel meninggalkan ruang tengah dan melangkah masuk ke dalam kamarnya. "Sayang, lagi apa?" Ia segera mengawali percakapan di telepon setelah yakin kalau pacarnyalah yang mengangkat telepon.
"Eum, lagi di luar, Xel. Kenapa?" Nada bicaranya terdengar serak.
"Kamu lagi sakit ya? Kok suaranya beda?"
"Nggak kok, aku gapapa. Kenapa, Xel?"
"Aku mau ngajak kamu ke Dufan besok, kamu bisa?"
"Dufan? Hmm, mungkin bisa. Jam berapa?"
"Pada ngumpul di rumah aku jam sembilan sih. Aku jemput kamu jam delapanan ya, gimana?"
"Oh, boleh aja kok."
"Kalo gitu besok aku jemput ke rumah kamu jam delapan ya."
"Iya, aku tunggu."
"Kamu udah makan?"
"Udah, barusan aja. Eh, Xel, udahan dulu ya. Aku lagi sibuk banget, sori ya."
"Iya, gapapa. Sampe ketemu besok ya, Sayang." Axel menghela nafas. "Kayaknya sibuk amat," gumamnya sendiri.

to be continued...

Between Girl and Boy 4

Kembali aku ditemani acara televisi yang begitu garing untuk disaksikan. Sambil bersandar pada sandaran sofa ruang tengah, kutonton film yang sama sekali tak masuk ke dalam otakku. Mendadak aku membetulkan posisi dudukku saat mendengar Axel dan temannya tengah menuruni anak tangga. "Game-nya seru banget, Bel. Besok lanjutin lagi yuk. Lo besok bisa dateng 'kan?" tanya Axel yang sepertinya ketagihan main.
"Iya, kalo gak ada halangan, gue pasti dateng kok. Ntar malem gue kabarin lagi deh. Hm, besok harus udah tamat tuh, game-nya," tuturnya dengan penuh semangat.
Aku tak mengerti, kenapa anak cowok begitu menyukai game. Yang ada di pikirannya hanyalah game, game, dan game. Dan parahnya, setiap kali bermain game, semua pasti dilupakan. Lupa makan, lupa mandi, bahkan orang terdekatnyapun dilupakan.
"Eum, gue pulang dulu ya, Xel. Udah sore banget nih. Thanks banget, udah ngizinin gue ke sini."
"Justru gue yang mestinya say thanks, lo udah mau dateng ke sini."
"Eh, tapi lo gak jalan sama cewek lo, Xel? Vira apa kabarnya?" Aku sedikit terkejut mendengar kabar itu, entah benar atau tidak.
"Astaga! Gue lupa kasih kabar ke dia." Axel menepuk dahinya. Tuh 'kan, pacar sendiri saja bisa dilupakan karena game. Dasar cowok, celaku dalam hati.
"Ya udah, gue pulang dulu deh. Lir, pulang dulu ya." Deg! Abel pamit padaku? Senangnya!!! Siapa yang menyangka kalau ia menganggapku. Jarang-jarang begini 'kan?! Kutanggapi dengan senyuman paling manis.
"Yah, ada yang kegirangan gara-gara gebetannya ngajak ngobrol. Plus ada yang sedih juga gara-gara yayangnya mau pulang." Lagi-lagi Axel meledekku.
"Sial lo!" makiku kesal. "Sana lo, jauh-jauh dari gue!" Aku mengusirnya, tapi tentu saja tidak sungguhan.
"Tuh 'kan, kalo lagi butuh aja deket-deket. Kalo keinginan terwujud, gue langsung diusir. Ah, habis manis sepah dibuang tuh!"
"Biarin. Emang orang kayak lo cocoknya digituin. Rese sih, lo!"

Axel menekan nomor satu agak lama, lalu membiarkan nada sambung pribadi pacarnya menggema di telinganya. "Halo, Sayang, kamu lagi di mana?" Axel langsung menanyakan keberadaan sang pacar yang saat ini sepertinya sedang berada di luar rumah.
"Aku lagi di... mal. Kenapa?"
"Oh, sori ya, aku baru nelepon kamu. Tadi habis main sama Abel. Kamu udah makan?"
"Ini, lagi makan."
"Sama siapa?"
"Sama temen-temen nih. Eum, ntar telepon lagi ya. Berisik banget di sini, jadi susah ngobrolnya. Ntar malem aku sms kamu deh, ya?"
"Ya udah, ntar malem aku telepon kamu lagi ya. Have fun, Hon." Axel memutus sambungannya dan berbaring di atas ranjang melepas lelah.
Tiga menit berlalu dan aku yang merasa bosan langsung berteriak memanggil kakakku yang menyebalkan. "Axel!" panggilku dari lantai bawah.
Pintu kamarnya langsung terbuka dan ia muncul di dekat tangga. "Gak usah pake teriak kali, gue gak tuli."
"Bosen nih."
"Terus, apa urusannya sama gue?"
"Jalan-jalan yuk."
"Males ah, gue capek. Lo aja jalan-jalan sendiri."
"Gak ada yang nemenin. Masa iya gue jalan-jalan sendirian kayak orang bego? Lo tega ih, Xel."
"Lah? Manja banget sih, nih anak. Mobil ada, supir ada, punya duit, kaki juga lengkap..."
"Ck... ya udah, gue jalan-jalan sendiri aja." Aku langsung berpaling dan menuju ke kamar tidurku sambil ngedumel.
Bingung juga mau apa di mal sendirian. Tapi sepertinya aku tertarik untuk melihat-lihat baju yang sedang nge-trend sekarang-sekarang ini. Satu per satu kios kuhampiri. Saat sedang menikmati pencarianku, aku diperhadapkan dengan satu pemandangan yang menggerahkan. Jelas saja aku jengkel karenanya.
"Ini 'kan tempat umum. Kalo mau mesra-mesraan, ya jangan di sini. Sana, di hotel." Aku memaki mereka dalam hati. Sayang, nyaliku tak seberapa untuk mengungkapkannya di depan pasangan tak tahu malu itu.
Ujung-ujungnya, aku pulang dengan tangan kosong. Tak ada satupun yang kubeli dari mal. Tak ada yang menarik sih. "Cepet amat pulangnya." Pulang-pulang, Axel langsung nyeletuk. Ia lagi duduk di depan televisi sambil mengunyah kerupuk mini yang tersimpan di dalam toples yang ada di atas meja ruang tengah.
"Ngapain lama-lama? Lagian ini 'kan udah malem. Kalo tiba-tiba gue diapa-apain, gimana?"
"Halah, gak mungkinlah ada yang mau ngapa-ngapain lo. Ge-er banget sih." PAK!! Kupukul lengan Axel sekeras mungkin. "Aduh, sakit tau! Maennya mukul ih!"
"Habis lo rese sih! Makanya jangan rese, jangan banyak omong." Aku kesal. "Eh, masa tadi pas gue lagi asyik-asyik cari baju, tiba-tiba ada pemandangan yang gak sedap dilihat."
"Oh ya? Pemandangan apaan?"
"Yah, yang begituan."
"Ck ck ck... anak di bawah umur dilarang ngeliat begituan tuh. Mestinya gue ada di situ ya, jadi bisa nutupin mata lo."
"Gue udah cukup gede kali, jadi gue udah boleh ngeliat begituan. Lagian gue juga udah cukup berpengetahuan soal begituan."
"Hah? Wah, jangan-jangan..." PAAK!! Lagi-lagi kugebuk lengannya. Merahlah lengan kanannya itu. "Aduh, mukul melulu nih!"
"Jangan mikir yang nggak-nggak deh. Otak lo tuh, mesti dicuci dulu, biar gak ngeres."
"Siapa yang otaknya ngeres? Lo aja tuh, yang pikirannya jorok melulu." Ingin sekali kugebuk lengannya untuk ke sekian kalinya, tapi kuurung niatku itu.
"By the way, lo udah punya cewek ya? Kok gak ngasih tau gue sih?" Kuganti topik pembicaraan kami berdua.
"Bah, ngapain gue ngasih tau lo? Emang pengumuman penting apa?"
"Ih, lo tuh ngeselin banget sih, Xel?! Jawab baik-baik nggak bisa ya?"
Axel menghela nafas. "Iya, gue udah punya cewek, kenapa? Lo cemburu?"
"Gue? Cemburu? Penting gak sih?!"
"Terus ngapain nanya-nanya?"
"Ya, gue 'kan cuma pengen tau. Sebagai adik perempuan lo yang paling imut, gue wajib tau dong."
"Emang sejak kapan ada undang-undang begituan?"
"Sejak dulu kali. Lo aja yang gak pernah tau. Makanya, rajin-rajin baca buku undang-undang. Tiap tahun beli buku undang-undang, ujung-ujung cuma buat nemenin tidur. Pelajar macam apa ini?!" cemoohku.

Gadis berambut cokelat yang mengenakan mini dress bermotif bunga berwarna biru muda tengah menggandeng lengan sesosok pria bertubuh tinggi tegap berkaos biru tua polos. "Dia ngeganggu kamu lagi, Say?" tanya pria berwajah tampan itu.
"Ck, biarin aja. Makhluk kayak gitu mah, gak usah dihirauin. Ntar juga lenyap sendiri."
"Tapi aku 'kan gak mau kamu diganggu cowok macam dia terus. Aku juga keki lah."
"Udah, cuekin aja. Lagian aku gak mau kamu terlibat masalah sama orang gak penting kayak dia. Udahlah, jangan ngebahas soal gituan lagi ya?"
Cowok itu tersenyum, membuat wajahnya masih memesona. "Iya deh, demi kamu." Ia mencium pipi gadis yang ada di sampingnya dengan lembut.

TO BE CONTINUED...

8/15/2009

Between Girl and Boy 3

Kucoba menghubungi salah satu sahabatku yang entah sedang melakukan apa di hari libur seperti ini. Firasatku berkata bahwa ia sedang asyik dengan waktu-waktu berharganya. "Lagi apa, Des?" tanyaku tanpa pakai embel-embel apapun karena aku tahu pasti yang menjawab panggilan ini pasti si pemilik ponsel, Desti.
"Hei, Lir. Gue lagi di pantai nih. Lo sendiri lagi apa?" Terdengar desiran ombak yang begitu menyejukkan hati dari seberang sana. Juga terdengar tawa riang di sana. Uh, aku jadi ingin ke sana bersamanya.
"Ke pantai sama siapa? Kok kagak ngajak-ngajak?"
Desti tertawa geli. "Sama Yuda nih," jawabnya malu-malu. Kalau sudah begini, aku jadi merasa bersalah karena sudah menghubunginya sekaligus mengganggu momen indahnya dengan sang kekasih. Ah, senangnya punya pacar, batinku iri.
"Ya udah deh, gue gak ganggu lagi. Maaf ya, udah ngeganggu waktu kalian. Have fun, Des." Aku langsung membiarkan mereka berdua menikmati masa indahnya. Sendiri lagi deh, keluhku sebal.
Lima menit kemudian, telepon rumah berdering nyaring memanggilku untuk mengangkatnya. Biasanya sih, yang mengangkat Axel. Tapi berhubung ia sedang asyik di dunianya bersama sahabatnya, jadi terpaksa akulah yang harus mengangkatnya.
"Halo..." Nada bicaraku pelan sekali. Lemas.
"Lira?" Aku tahu persis suara ini. Suara ini tak asing lagi di telingaku.
"Mama? Kenapa?"
"Kamu lagi apa, sayang? Kok tadi Mama telepon ke handphone kamu, sibuk terus?"
"Oh, tadi habis nelepon temen, Ma."
"Kamu sehat 'kan? Baik-baik aja 'kan?"
"Iya, Mama, aku baik-baik aja."
"Axel mana?"
"Tuh, di kamarnya, lagi main game sama temennya."
"Oh, ya udah. Salam buat Axel ya, sayang. Kalo ada apa-apa, telepon Mama ya."
"Iya, Ma." Huff... liburan yang benar-benar membosankan. Orangtua di luar kota, teman-teman asyik sendiri dengan kesibukannya, pacar nggak punya, aku sendiri deh. Lagi-lagi aku hanya bisa mengeluh dan menghela nafas.
Abel dan Axel menuruni anak tangga dan langsung menuju ruang tengah. "Lir, Mbok Ati masak apa?" tanyanya tiba-tiba.
"Mana gue tau? Gue aja dari tadi di sini doang. Kalo mau nanya, nanya langsung sama Mbok Ati lah."
"Lho? Ditanya baik-baik, kok jawabnya malah gitu sih? Gak sopan deh. Gue laporin nyokap lho."
"Emang gue anak kecil lagi? Gue udah gede tau!" Aku langsung bangkit dari atas sofa dan masuk ke dalam kamarku. Bete!
"Ih, aneh banget sih, tuh anak. Kagak ada angin, kagak ada hujan, tiba-tiba ngamuk. Serem gue," celetuk Axel. "Eh, makan yuk, Bel." Axel mengajak sahabatnya ke ruang makan untuk menyantap makanan siang yang sudah tersedia di balik tudung saji di atas meja.
"Adik lo gak ikut makan, Xel?"
"Ah, biarin aja. Ntar kalo laper juga dia cari makan. Yuk ah!"
Entah kenapa, hari ini segalanya membuatku kesal. Padahal tadi pagi hatiku berbunga-bunga, tapi entah sejak jam berapa, menit ke berapa, dan detik ke berapa, hatiku jadi tercemari oleh asap hitam. Uh, sebal!!!!!
Rasa kesal di hati membuatku lelah dan akhirnya terlelap di dalam kamarku hingga sore menjelang. Saat kedua mataku terbuka, kulihat jarum pendek jam dinding kamarku sudah mendekati angka tiga. Sementara jarum panjang menunjuk ke angka sembilan. Sudah jam tiga kurang lima belas. Aku harus segera mandi, pikirku. Langsung saja kubuka lemari pakaianku dan kuambil pakaian santai yang kuanggap pantas untuk kukenakan. Begitu aku hendak melangkah untuk masuk ke dalam kamar mandi, tiba-tiba kudengar pintu kamar mandi terbuka dan muncul sesosok laki-laki di hadapanku. Terang saja aku terkejut. Astaga, ternyata Abel belum pulang. Ia masih di sini dan sekarang di hadapanku. Aduh, sungguh memalukan. Mana penampilanku berantakan karena baru bangun tidur pula. Uh, sial!!!
"Hai," sapanya pelan sambil tersenyum. Aku hanya membalasnya dengan senyuman. Malu sekali rasanya. Ingin sekali wajah ini kusembunyikan di dalam lemari pakaianku untuk sesaat.
Aku buru-buru masuk ke dalam kamar mandi untuk bersembunyi. Hufff... rambutku berantakan sekali. Wajahku juga kusam. Kulihat pantulan diriku di dalam cermin, buruk sekali. Sama sekali tak pantas untuk dilihat.

to be continued...

Between Girl and Boy 2

Jam delapan pagi wajahku sudah terlihat cerah. Aku sudah mandi jam setengah tujuh tadi. Memang, air pagi itu dingin dan benar-benar menyegarkan sampai-sampai mataku langsung melek begitu tetesan air bersih yang keluar dari shower menyentuh tubuhku. Brrrrrr... dingin!!!
Kukeluarkan telur, tepung terigu, tepung cokelat, mentega, gula, baking powder, dan semua alat bahan yang ingin digunakan untuk membuat kue. Kue cokelat istimewa, itulah yang ingin kubuat pagi ini. "Bikin apaan tuh?" Tiba-tiba makhluk menyebalkan yang baru saja bangun muncul di hadapanku dengan penampilannya yang super berantakan.
"Menurut lo?" Kujawab dengan nada jengkel. Pasti orang ini ingin meledekku lagi, makanya aku siap-siap mendirikan pertahanan.
"Ah, paling produk gagal," tuturnya, lalu pergi. Hiiihhh... kenapa ia begitu menjengkelkan sih, geramku dalam hati. Tapi aku tak terlalu menggubrisnya. Aku terus mengocok adonan yang hampir jadi dengan hati yang sudah tercemari dengan setetes rasa kesal.
Seperti hari kemarin, Abel -itu nama teman Axel- datang saat aku sedang sibuk menuang adonan ke atas loyang yang sudah dilumuri mentega dan sedikit tepung terigu. Lagi-lagi tak sempat menemuinya. Aku nyaris kembali bersungut-sungut, tapi tak lama kemudian aku kembali berjingkrak kegirangan karena sesuatu. Kulihat Abel tengah duduk di sofa ruang tengah, seperti orang yang sedang menantikan sesuatu. "Lho? Axel mana?" tanyaku saat ia melihatku yang baru keluar dari ruang dapur.
"Eum, katanya mau mandi dulu, jadi gue tunggu di sini," begitu jawabnya. Ini pertama kalinya aku mengobrol dengannya.
"Oh, mau gue buatin minuman? Mau minum apa?"
"Eh, nggak usah, gapapa. Gue gak haus kok." Senyumnya mengembang dan membuatku terpesona melihat wajahnya yang begitu indah untuk dipandang.
Aku ikut duduk di sofa ruang tengah menemaninya mengobrol. "Rumah lo di mana?" tanyaku basa-basi. Habis, aku juga bingung mau membicarakan apa.
"Hm, rumah gue gak jauh dari sini kok. Pas di belakang rumah lo." Sempat kaget, tapi juga senang mendengarnya. Berarti rumah kami tak terlalu jauh.
Baru saja aku ingin mengobrol lebih lanjut, si pengganggu datang untuk mengganggu. "Ngapain lo di sini?" tanyanya sambil menutup wajahku dengan handuknya yang basah.
Aku buru-buru menjauhkan handuk tersebut dari wajahku. "Iiihhh, jorok banget sih!! Itu handuk 'kan bekas pakai, masa lo tempelin ke muka gue sih? Ngeselin banget sih, lo!!" omelku kesal.
"Biarin, handuk 'kan milik bersama. Kenapa rewel amat sih?"
"Ihhh, kesel gue!" Kulempar wajahnya dengan bantal sofa yang kebetulan ada di pangkuanku, lalu kembali ke dapur untuk memeriksa kue buatanku. Sudah hampir jadi. Yang kulihat, kuenya sudah mulai mengembang. Wah, sepertinya kue buatanku kali ini benar-benar berhasil.
Tujuh menit berikutnya, kubuka pintu oven dan kukeluarkan loyang berisi kue buatanku yang begitu harum. Akhirnya jadi juga, gumamku girang. "Non, mau sarapan apa?" Mbok Ati baru turun dari lantai atas.
Tanpa menoleh, aku menjawab pertanyaannya. "Bikinin mie aja, Mbok. Kalo buat si Axel, gak usah bikinin makanan. Biar aja dia mati kelaperan," jawabku dengan nada setengah jengkel. Tapi ujung-ujungnya, Mbok Ati tetap membuatkan makanan untuk Axel dan Abel saat Axel menjerit kelaparan dari lantai atas. Untuk sementara, kue buatanku masih dalam tahap pengademan di dapur.
Jam sepuluh lewat satu menit Axel dan Abel turun ke bawah. Aku yang tengah menonton TV di ruang tengah sambil bersantai di atas sofa agak terkejut melihat Abel turun. "Lir, ada cemilan gak? Laper nih." Axel mencoba membuka pintu kulkas. "Eh, brownies buatan lo nih, Lir?" tanya Axel sambil mengeluarkan seloyang brownies yang tadi pagi kubuat sendirian.
"Iya," jawabku ketus sambil terus menonton TV.
"Bagi ya, Lir. Gue bawa ke atas semua ya."
"Hah? Emang bisa habis tuh?" tanyaku tak percaya. Di dalam loyang itu ada dua puluh empat potong brownies yang berbentuk persegi panjang. Masakan Axel akan menghabiskannya sekaligus? Gila!
"Tenang aja, lagi laper nih. Gue bawa ya." Axel dan Abel langsung ngacir kembali ke kamar Axel yang ada di lantai atas. Aku hanya geleng-geleng kepala, lalu kembali terfokus pada acara TV yang amat sangat membosankan.

to be continued...

8/11/2009

Between Girl and Boy 1

Liburan kali ini benar-benar membosankan. Tidak ada satupun teman yang mengajakku jalan-jalan dan tidak ada satu orangpun yang menemani hari-hari kosongku. Tiap hari kujalani waktuku di rumah hanya dengan kakak yang begitu menjengkelkan karena keisengannya. "Xel, ada gak sih temen lo yang keren gitu, tapi masih single? Kenalin dong," celetukku bosan. Libur tiga minggu, tapi yang kulakukan hanya berpangku tangan di ruang tengah sambil ditemani acara-acara TV yang membosankan.
Kakakku bernama Axel. Umurnya lebih tua dua tahun dariku, makanya aku tak mau memanggilnya dengan embel-embel apapun. Ditambah lagi ia begitu menyebalkan kalau lagi kumat isengnya. "Ha? Kenapa lo tiba-tiba minta dikenalin kayak gitu? Haus kasih sayang lo?" ledeknya seperti biasa. Langsung saja kujitak kepalanya. Kesal.
"Bosen tau, di rumah kayak gini terus sepanjang liburan. Yah, nambah kenalan baru 'kan asyik juga. Ada gak, Xel?" Aku kembali bertanya padanya yang tengah duduk di atas karpet sambil bersandar pada kaki sofa nan empuk.
Cowok itu terdiam sebentar, lalu menjawab, "Ada sih, tapi gue ogah ah, kenalin ke lo. Bisa-bisa gue menanggung aib besar lagi." Uh, lagi-lagi cowok ini menjengkelkan. Ingin sekali kujitak kepalanya sekali lagi, tapi aku malas meladeninya.
"Serius nih, Xel. Gue bener-bener bosen liburan kayak gini terus. Gue butuh something new nih."
"Something new? Kesannya lo kayak lagi butuh ganja aja." Hufff... benar-benar makan hati ngomong sama sosok cowok ini. Kupasang tampang sebete mungkin karena memang aku jadi kesal mendengar responnya sedari tadi. Tidak ada yang ditanggapinya secara serius. "Hari ini temen gue mau dateng, mau main game PS terbaru yang gue beli. Ntar lo bikinin apa gitu buat nemenin gue main, ya?" Mendengar kalimat lanjutannya, mood-ku langsung berubah seketika. Ternyata kakakku punya sosok yang baik juga.
"Makasih ya, kakakku sayang," tuturku sambil memeluknya.
"Ih, apaan sih? Gue ogah lo peluk-peluk. Sana, sana, jauh-jauh lo dari gue. Ntar bisa-bisa orang nyangka gue itu pacar lo lagi. Hiiii!!"
"Ini 'kan di rumah, gapapa lagi. Lo aja yang lebay." Aku langsung menuju dapur, mencari-cari bahan untuk membuatkan kakakku tercinta (hoeeekkkk) dan temannya camilan dan minuman. Saat tengah membuatkan makanan, tiba-tiba bel rumah berbunyi. Mbok Ati yang membukakan pintu rumah untuk sang tamu. Aku belum sempat melihat siapa yang datang dan seperti apa orangnya, tapi aku mendengar suara cowok dari dapur. Itu pasti teman Axel, batinku girang. Dengan penuh semangat kubuatkan minuman yang paling enak yang mampu kubuat. Tak kuizinkan Mbok Ati membantuku karena aku ingin membuatnya dengan sepenuh hati.
Kuketuk pintu kamar Axel tiga kali. Sepertinya mereka sedang asyik berunding di dalam. Habis, kedengarannya gaduh sekali di dalam. "Ah, lo lagi. Bosen gue ngeliat tampang lo." Axel bertampang malas. Aku langsung menendang kakinya pelan. Biarkan aku masuk, wajahku berkata demikian.
"Nih, buat lo sama temen lo. Gue bikinin yang paling enak." Kuletakkan nampan berisi makanan dan minuman di atas meja kecil yang terletak tak jauh dari pintu kamar Axel.
"Awas aja kalo gue sampe sakit perut," ancamnya. "Eh iya, Bel, ini pembantu baru gue, namanya Lira." PAK!! Langsung saja kupukul bahunya. Enak saja aku dibilang pembantunya. "Salah ding, ini adik gue. Dia bilang, dia mau dikenalin sama lo, makanya dia sengaja bikinin kita makanan sama minuman." PAK!! Lagi-lagi tanganku melayang dan mendarat di bahunya. Jujur amat sih, omelku tanpa kata.
Cowok yang tengah duduk di dekat mesin PS itu cuma tertawa melihat tingkahku seraya mengangguk sebagai tanda perkenalan. Senangnya, aku langsung girang.
"Udah, jangan kebanyakan ngeliatin dia. Sana lo, kembali ke habitat lo." Axel segera mengusirku. Huh, menyebalkan.
Aku hanya duduk terpaku di depan televisi di ruang tengah. Satu jam, dua jam, tiga jam sudah berlalu. Sudah waktunya makan siang. "Mbok, mau makan dong, laper," seruku dari ruang tengah. Terdengar sahutan dari arah dapur dan Mbok Ati langsung menyiapkan makan siang. Santapan untuk siang ini adalah semangkuk mie bakso buatan Mbok Ati. Karena lapar, aku tak banyak mengeluh. Baru saja aku siap memasukkan satu bakso ke dalam mulut, Axel dan temannya menuruni anak tangga. Sepertinya mereka lagi membincangkan soal game yang sedang mereka mainkan, sampai-sampai aku nggak mengerti apa yang mereka obrolkan. "Udahan mainnya?" tanyaku yang tak jadi memasukkan bakso ke dalam mulutku.
"Mau makan dulu. Laper tau," jawab Axel dingin. "Mbok, bikinin makanan buat aku sama temen aku ya." Setelah itu, Axel dan Abel duduk-duduk di ruang makan. "Eh, jadi liburan lo gak ke mana-mana, Bel?"
"Nggak, gue di rumah aja. Makanya gue bosen banget di rumah." Ternyata suaranya begini toh, gumamku yang baru pertama kali mendengar suaranya. "Lo sendiri gak ke mana-mana?"
"Yah, kagak bisa ke mana-mana gue. Mesti nemenin setan kecil itu." Axel menunjukku.
"Eh, siapa yang lo maksud? Sembarangan aja," omelku jengkel.
"Yah, yang nyadar aja lah," sahut Axel. Uh, aku paling kesal dipermalukan di depan orang seperti ini. Untung aku lagi baik, jadi aku takkan terlalu marah diperlakukan seperti ini. "Terus besok lo mau ke sini lagi, Bel? Kita main game yang satu lagi, gimana?"
"Boleh juga. Besok sekalian deh, gue bawain punya gue." Aku hampir melonjak kegirangan mendengarnya. Dia mau datang lagi, pekikku bahagia dalam hati. Yesss!!!!!

to be continued...