Sepanjang perjalanan Axel dan pacarnya tak banyak bicara. Keheningan tercipta tanpa tahu sebabnya. Vira, gadis yang usianya di bawah Axel satu tahun hanya memandangi pemandangan luar yang sama sekali tak indah untuk dipandangi. Sementara Axel hanya diam dan terfokus pada teknik menyetirnya.
Lama-lama Axel tak betah akan keheningan ini dan mengawali percakapan. "Kamu lagi sakit ya?" tanyanya seperti pertanyaan kemarin malam.
Vira menoleh dan menggelengkan kepalanya pelan. "Nggak kok," jawabnya singkat. Kemudian kembali membisu.
"Kok diem aja?"
"Hm, bingung mau ngomong apa."
"Lagi ada masalah?"
"Gak kok, aku gapapa. Aku baik-baik aja."
"Syukur deh, kalo baik-baik aja. Kalo lagi ada masalah, bilang aja. Siapa tau, aku bisa bantu kamu. Oh iya, kamu udah makan?"
"Udah, tadi di rumah. Kamu sendiri udah makan?"
"Belom. Paling ntar pulang makan dulu."
Axel mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi karena ia ingin segera tiba di rumah. Entah kenapa, perasaannya tak enak mendadak.
"Lir, Abel udah dateng?"
"Belom," jawabku yang lagi duduk di ruang tengah sambil baca majalah. Ups, ada sesosok gadis yang tak kukenal di balik tubuh Axel yang tinggi. "Cewek lo, Xel?" tanyaku ceplas-ceplos.
"Iya, ini Vira. Say, ini adik aku. Namanya Lira."
"Hai," sapanya lembut. Sementara aku hanya mengangguk kepalaku pelan sebagai tanda perkenalan. Sepertinya aku pernah melihat sosok gadis ini, tapi di mana ya? Otakku berusaha mengingatnya, tapi sia-sia saja. Aku tak mengingatnya.
"Ada makanan gak? Gue laper berat nih."
"Tuh, di meja."
"Lo udah makan, Lir?"
"Udah dari tadi kali." Aku kembali membaca majalah. Saat kusadari, gadis yang menjadi pacar kakakku tengah berdiri seorang diri. "Eh, duduk aja dulu, Vir..."
"Iya, makasih..." Sepertinya ia terlihat malu-malu.
"Sejak kapan jadi pacar Axel?" tanyaku iseng. Habis aku juga ingin tahu sih, seluk-beluk hubungan mereka.
"Sekitar tujuh bulan yang lalu," jawabnya dengan anggun. Astaga, gadis ini feminin sekali, seperti layaknya seorang tuan puteri. Aku jadi iri.
Aku manggut-manggut mendengar jawabannya. "Ceritain dong, gimana kalian bisa jadian," mintaku dalam bisikan. Aku takut terdengar Axel.
Ia tersenyum tipis. "Waktu itu..."
Baru saja aku begitu antusias mendengar cerita dari Vira, Axel langsung memotong. "Hayo, lagi ngomongin apa nih? Pasti lagi ngomongin gue ya?"
"Hiiihh, ge-er banget sih, lo! Gue lagi curhat sama Vira dari hati ke hati tau! Sana lo, pergi. Jangan ganggu."
"Curhat? Gue 'kan juga pengen tau."
"Gak boleh! Ini rahasia perempuan tau!"
"Kenapa gak boleh? Vira 'kan cewek gue, sedangkan lo adik gue. Berarti gak boleh ada rahasia-rahasiaan dong."
"Gak ada hukum kayak gitu! Gimanapun, ini urusan cewek. Kaum cowok dilarang ikut campur!" tegasku.
"Halah, anggep aja gue bagian dari kalian, susah amat!?"
"Ya jelas susahlah. Lo 'kan cowok, Xel. Udah ah, sana!"
"Ogah, gue mau ikut nimbrung."
Baru hendak kuusir kakakku yang begitu menyebalkan, Abel muncul di hadapan kami sambil meransel tas hitamnya. Penampilannya keren sekali hari ini, membuatku terpesona. "Hai, gue telat ya?" tanyanya sambil melihat jam.
"Gak kok, ini baru jam setengah sembilan," ujarku sambil tersenyum. Pokoknya hari ini harus bisa ngobrol banyak, tekadku.
"Nah, karna semuanya udah pada ngumpul, jalan sekarang yuk!" Axel langsung meraih kunci mobil dan melangkah keluar diiringi oleh aku, Vira, dan Abel.
Ternyata memang hari ini ramai. Permainan yang bisa kami nikmati hanya sedikit. Tapi tak apa, aku takkan patah semangat karenanya. Dari pagi hingga sore, hanya lima jenis permainan yang kami ikuti. Kora-kora, niagara-gara, arung jeram, tornado, dan halilintar. Permainan ke-enam sekaligus permainan terakhir yang akan kami naiki adalah... bianglala. Sambil menikmati langit senja nan indah, aku akan mengajak Abel mengobrol.
"Hoaaa... pemandangannya indah banget. Keren lho, foto di sini. Bel, gue foto lo deh, buat kenang-kenangan. Scene-nya bagus banget nih." Sebenarnya di samping itu ada alasan yang lain, tapi hanya aku yang tahu maksud tersembunyi itu.
"Lo juga mau gue foto?" Abel mengeluarkan ponselnya dan mulai mengambil ancang-ancang untuk mengambil fotoku.
"Boleh juga." Kyaaaa, senang, aku menjerit dalam hati kegirangan. "Wah, perasaan banyak banget ya, pasangan yang naik bianglala."
Abel tertawa kecil. "Emang nih permainan cocok buat pasangan sih."
Tentu aku ikut tertawa mendengar komentarnya. "Oh ya? Kalo gitu, kapan-kapan kalo gue udah punya pasangan, gue ajak main beginian aja kali ya?" gurauku tak serius.
"Emang lo belom punya pacar, Lir?" Kurasa, ia juga tak serius.
"Belomlah. Lo sendiri?" Abel menggeleng. "Belom pernah pacaran juga?" Ke dua kalinya ia menggelengkan kepalanya. "Masa sih? Gue gak percaya, lo belom pernah pacaran."
"Emang belom kok. Lo sendiri udah pernah pacaran?"
Aku nyengir kuda. "Belom juga sih." Malunya!!!
"Kalo gitu kita pacaran aja." Hee!!??? Aku nyaris teriak saat berada di puncak sana. Apa ia serius atau tidak, aku tak tahu. "'Kan kita berdua sama-sama belom pernah pacaran. Gak ada salahnya dicoba, ya 'kan?" Jantungku berdebar kencang sekali. Inikah pertanda baik atau malah sebaliknya? "Mau gak, Lir?" tanyanya membuyarkan keheningan yang sudah hampir dua menit tercipta.
"...yaaa, gak ada salahnya dicoba toh?" Aku pura-pura kuat, padahal saat ini aku nyaris meleleh dan tumpah ke permukaan. Uh, semoga ini pertanda baik, harapku cemas.
Vira dan Axel duduk berhadapan. Mereka saling diam untuk beberapa waktu lamanya, tapi kemudian keheningan itu hancur saat Vira mulai angkat bicara. "Aku boleh ngomong sesuatu, Xel?" Air mukanya terlihat begitu serius.
"Boleh kok, ngomong aja, Say." Axel tersenyum lembut pada gadis yang begitu ia sayangi.
Gadis itu tampak ragu mengungkapkannya. Tubuhnya bergetar tiba-tiba.
"Sayang, kamu gapapa?" tanya sang pacar khawatir.
"Gapapa kok, aku baik-baik aja."
"Terus kamu mau ngomong apa, Say?"
Keraguan itu masih tak bisa diluputkannya, tapi mendadak ada suatu kekuatan yang memampukannya untuk mengucapkan satu patah kata. "...putus..."
Axel tersentak. "Hah? Apa?" Berharap apa yang ia dengar barusan salah.
"...kita putus..." Seperti ada petir yang menyambarnya sore ini, Axel segera naik pitam.
"Apa-apaan sih, kamu, tiba-tiba ngomong kayak gitu? Emang kenapa, aku buat salah apa sama kamu, Vir?" Emosinya meluap-luap, tapi gadis itu tak melanjutkan ucapannya. Bahkan, sampai Axel mengguncang-guncangkan tubuh si gadis itupun, Vira hanya bisa menitikkan air mata tanpa satu patah katapun yang terlontar. Permainan selesai dan mereka berdua berakhir dalam keheningan.
to be continued...
8/29/2009
Between Girl and Boy 5
Jam setengah delapan aku baru saja membuka mataku dan melangkah keluar dari kamarku. Sudah kesiangan, batinku sambil menguap. Tidurku semalam pulas sekali, sampai-sampai tidur seperti orang yang tak lagi bernyawa. Dengan piyama kuning yang melekat di tubuhku dan dengan penampilan yang serba berantakan aku menuruni anak tangga menuju ruang makan untuk mencari-cari makanan. Cacing-cacing dalam perutku sudah bernyanyi kelaparan. Saat kedua mataku menangkap roti isi yang ada di atas meja makan, langsung saja aku duduk di kursi makan dan melahapnya tanpa melihat situasi. Ternyata ada Abel yang baru datang. Ia melihatku yang serba berantakan ini tengah melahap sarapanku dengan semangat. Oh tidak, memalukan sekali, pekikku dalam hati. "Gini nih, pemalas bangunnya siang-siang. Udah gitu, bukannya langsung mandi dan beres-beres, malah makan dengan lahap kayak orang rakus." Ledekan ini tak asing lagi di telingaku. Ini pasti keluar dari bibir pedas Axel, kakak laki-lakiku yang tak tahu perasaan.
Tanpa suara aku meninggalkan ruang makan, lalu bergegas ke dalam kamarku kembali untuk merapikan diriku yang berantakan. Mandi, berpakaian, lalu melanjutkan menghabiskan sarapanku yang masih tersisa. Sepertinya Abel dan Axel sudah masuk ke dalam kamar untuk bermain. Aku amat sangat menyesal karena Abel harus melihat keadaanku yang amat buruk. Malunya aku.
Bosan kembali menghantui hari-hariku. Benar-benar membosankan, keluhku. Kulangkahkan kakiku menaiki anak tangga dan mendekati pintu kamar Axel. Tiga ketukan cukup membuat Axel membuka pintu kamarnya. "Kenapa lagi?" tanyanya ketus.
"Bosen nih. Temenin gue jalan-jalan yuk, Xel. Please..." Aku memohon sedemikian rupa karena tak tahan dengan rasa bosan yang melandaku selama hampir seminggu ini. Masa liburanku seperti begini-begini saja?! Tak terima aku.
"Jalan-jalan? Ogah ah! Gue mau maen sama Abel. Sana, lo pergi aja sendiri. Ajak siapa kek, temen lo gitu."
"Pada lagi asyik sendiri. Gue sendirian nih. Please, Xel..." Kembali aku memohon.
"Ck, dibilangin ogah... sana, sana, ganggu aja lo!" Ia mengusirku. Terpaksa, aku harus kembali merasa bosan di ruang tengah.
Terdengar telepon berdering. Gadis yang tampak pucat itu segera mengangkatnya. "Halo..."
"Yang, ini aku. Kamu lagi di mana?"
"Aku masih di rumah. Kenapa?"
"Hm, malem ini aku mau ngajak kamu pergi, kamu bisa?"
"Duh, kayaknya nggak bisa deh. Aku lagi gak enak badan nih, dari tadi mual terus. Sori ya, Say."
"Kamu baik-baik aja? Aku anterin kamu ke dokter ya."
"Gak usah, aku gapapa kok. Paling cuma masuk angin aja. Istirahat bentar juga ntar sembuh."
"Beneran kamu gapapa?"
"Iya, beneran kok."
"Ya udah, cepet sembuh ya, Sayang."
Percakapan di telepon berakhir dan gadis itu kembali masuk ke dalam kamar mandi dengan terbirit-birit. Perutnya mual, wajahnya pucat pasi. Penuh tanda tanya di benaknya serta hatinya dihantui rasa takut yang begitu meluap-luap. Tangannya menggapai suatu alat yang disimpannya di dalam lemari gantung yang ada di dalam kamar mandi. Ada suatu perasaan aneh yang mencekam saat alat tersebut membuahkan hasil. Positif... dan gadis itu segera tersungkur di lantai seakan tak ada setitikpun kekuatan untuknya menopang berat tubuhnya.
Kumatikan televisi dan mulai mencari kesibukan. Kira-kira apa yang harus aku lakukan untuk membunuh rasa bosanku, otakku mulai berputar mencari ide. Sayangnya, tak ada satupun ide untuk menghilangkan rasa jenuhku selama liburan ini. Seharian penuh aku hanya terduduk di ruang tengah tanpa melakukan satupun hal yang berguna. "Xel, besok ke Dufan yuk. Gue bosen nih, di rumah terus."
"Hah? Ke Dufan? Hari libur gini? Rame kali, Lir."
"Yah, ke mana aja deh, yang penting hepi."
"Bentar, gue tanya Abel dulu. Kalo dia setuju ke Dufan, ya besok kita ke Dufan."
"Beneran, Xel?" Aku langsung kegirangan seperti anak kecil yang akan mendapatkan hadiah besar dari sinterklas.
"Iya, sabar. Gue tanya dulu." Aku tak sabar mendengar jawabannya. Semoga saja Abel setuju, aku mulai berdoa pada Tuhan dalam hati. Sekali ini saja, aku juga ingin banyak ngobrol dengan Abel di samping itu. "Bel, besok lo ada acara?"
"Hm, kagak kok. Kenapa emangnya, Xel?"
"Adik gue mau pergi ke Dufan. Katanya, bosen di rumah melulu. Lo mau join?"
"Hmm, boleh juga sih. Gue juga udah lama gak ke Dufan."
"Oke deh, berarti setuju ya. Ngumpul di rumah gue aja ya, jam sembilan."
"Sip."
Aku langsung buru-buru mendekati Axel yang baru saja menutup telepon. "Gimana, gimana, Abel mau ikut, Xel?" tanyaku penuh harap.
"Iya, dia mau ikut, tapi satu syarat."
"Apa syaratnya?"
"Dia gak mau lo ikut."
"Hah, kenapa? Emang gue salah apa, Xel? Serius lo?"
Axel nyengir kuda. "Bo'ong kok." PAAK!! Kupukul ia sekencang mungkin kali ini. "Aduh!! Sakit tau!! Besok gak jadi pergi ah!"
"Aaaahhh...," rengekku. "Sori deh, sori... sini, sini, gue elus. Cup cup cup, udah gapapa 'kan? Masih sakit ya?"
"Halah, apaan sih? Kayak anak kecil aja. Gue mau nelepon cewek gue dulu ah! Siapa tau dia mau ikut." Axel meninggalkan ruang tengah dan melangkah masuk ke dalam kamarnya. "Sayang, lagi apa?" Ia segera mengawali percakapan di telepon setelah yakin kalau pacarnyalah yang mengangkat telepon.
"Eum, lagi di luar, Xel. Kenapa?" Nada bicaranya terdengar serak.
"Kamu lagi sakit ya? Kok suaranya beda?"
"Nggak kok, aku gapapa. Kenapa, Xel?"
"Aku mau ngajak kamu ke Dufan besok, kamu bisa?"
"Dufan? Hmm, mungkin bisa. Jam berapa?"
"Pada ngumpul di rumah aku jam sembilan sih. Aku jemput kamu jam delapanan ya, gimana?"
"Oh, boleh aja kok."
"Kalo gitu besok aku jemput ke rumah kamu jam delapan ya."
"Iya, aku tunggu."
"Kamu udah makan?"
"Udah, barusan aja. Eh, Xel, udahan dulu ya. Aku lagi sibuk banget, sori ya."
"Iya, gapapa. Sampe ketemu besok ya, Sayang." Axel menghela nafas. "Kayaknya sibuk amat," gumamnya sendiri.
to be continued...
Tanpa suara aku meninggalkan ruang makan, lalu bergegas ke dalam kamarku kembali untuk merapikan diriku yang berantakan. Mandi, berpakaian, lalu melanjutkan menghabiskan sarapanku yang masih tersisa. Sepertinya Abel dan Axel sudah masuk ke dalam kamar untuk bermain. Aku amat sangat menyesal karena Abel harus melihat keadaanku yang amat buruk. Malunya aku.
Bosan kembali menghantui hari-hariku. Benar-benar membosankan, keluhku. Kulangkahkan kakiku menaiki anak tangga dan mendekati pintu kamar Axel. Tiga ketukan cukup membuat Axel membuka pintu kamarnya. "Kenapa lagi?" tanyanya ketus.
"Bosen nih. Temenin gue jalan-jalan yuk, Xel. Please..." Aku memohon sedemikian rupa karena tak tahan dengan rasa bosan yang melandaku selama hampir seminggu ini. Masa liburanku seperti begini-begini saja?! Tak terima aku.
"Jalan-jalan? Ogah ah! Gue mau maen sama Abel. Sana, lo pergi aja sendiri. Ajak siapa kek, temen lo gitu."
"Pada lagi asyik sendiri. Gue sendirian nih. Please, Xel..." Kembali aku memohon.
"Ck, dibilangin ogah... sana, sana, ganggu aja lo!" Ia mengusirku. Terpaksa, aku harus kembali merasa bosan di ruang tengah.
Terdengar telepon berdering. Gadis yang tampak pucat itu segera mengangkatnya. "Halo..."
"Yang, ini aku. Kamu lagi di mana?"
"Aku masih di rumah. Kenapa?"
"Hm, malem ini aku mau ngajak kamu pergi, kamu bisa?"
"Duh, kayaknya nggak bisa deh. Aku lagi gak enak badan nih, dari tadi mual terus. Sori ya, Say."
"Kamu baik-baik aja? Aku anterin kamu ke dokter ya."
"Gak usah, aku gapapa kok. Paling cuma masuk angin aja. Istirahat bentar juga ntar sembuh."
"Beneran kamu gapapa?"
"Iya, beneran kok."
"Ya udah, cepet sembuh ya, Sayang."
Percakapan di telepon berakhir dan gadis itu kembali masuk ke dalam kamar mandi dengan terbirit-birit. Perutnya mual, wajahnya pucat pasi. Penuh tanda tanya di benaknya serta hatinya dihantui rasa takut yang begitu meluap-luap. Tangannya menggapai suatu alat yang disimpannya di dalam lemari gantung yang ada di dalam kamar mandi. Ada suatu perasaan aneh yang mencekam saat alat tersebut membuahkan hasil. Positif... dan gadis itu segera tersungkur di lantai seakan tak ada setitikpun kekuatan untuknya menopang berat tubuhnya.
Kumatikan televisi dan mulai mencari kesibukan. Kira-kira apa yang harus aku lakukan untuk membunuh rasa bosanku, otakku mulai berputar mencari ide. Sayangnya, tak ada satupun ide untuk menghilangkan rasa jenuhku selama liburan ini. Seharian penuh aku hanya terduduk di ruang tengah tanpa melakukan satupun hal yang berguna. "Xel, besok ke Dufan yuk. Gue bosen nih, di rumah terus."
"Hah? Ke Dufan? Hari libur gini? Rame kali, Lir."
"Yah, ke mana aja deh, yang penting hepi."
"Bentar, gue tanya Abel dulu. Kalo dia setuju ke Dufan, ya besok kita ke Dufan."
"Beneran, Xel?" Aku langsung kegirangan seperti anak kecil yang akan mendapatkan hadiah besar dari sinterklas.
"Iya, sabar. Gue tanya dulu." Aku tak sabar mendengar jawabannya. Semoga saja Abel setuju, aku mulai berdoa pada Tuhan dalam hati. Sekali ini saja, aku juga ingin banyak ngobrol dengan Abel di samping itu. "Bel, besok lo ada acara?"
"Hm, kagak kok. Kenapa emangnya, Xel?"
"Adik gue mau pergi ke Dufan. Katanya, bosen di rumah melulu. Lo mau join?"
"Hmm, boleh juga sih. Gue juga udah lama gak ke Dufan."
"Oke deh, berarti setuju ya. Ngumpul di rumah gue aja ya, jam sembilan."
"Sip."
Aku langsung buru-buru mendekati Axel yang baru saja menutup telepon. "Gimana, gimana, Abel mau ikut, Xel?" tanyaku penuh harap.
"Iya, dia mau ikut, tapi satu syarat."
"Apa syaratnya?"
"Dia gak mau lo ikut."
"Hah, kenapa? Emang gue salah apa, Xel? Serius lo?"
Axel nyengir kuda. "Bo'ong kok." PAAK!! Kupukul ia sekencang mungkin kali ini. "Aduh!! Sakit tau!! Besok gak jadi pergi ah!"
"Aaaahhh...," rengekku. "Sori deh, sori... sini, sini, gue elus. Cup cup cup, udah gapapa 'kan? Masih sakit ya?"
"Halah, apaan sih? Kayak anak kecil aja. Gue mau nelepon cewek gue dulu ah! Siapa tau dia mau ikut." Axel meninggalkan ruang tengah dan melangkah masuk ke dalam kamarnya. "Sayang, lagi apa?" Ia segera mengawali percakapan di telepon setelah yakin kalau pacarnyalah yang mengangkat telepon.
"Eum, lagi di luar, Xel. Kenapa?" Nada bicaranya terdengar serak.
"Kamu lagi sakit ya? Kok suaranya beda?"
"Nggak kok, aku gapapa. Kenapa, Xel?"
"Aku mau ngajak kamu ke Dufan besok, kamu bisa?"
"Dufan? Hmm, mungkin bisa. Jam berapa?"
"Pada ngumpul di rumah aku jam sembilan sih. Aku jemput kamu jam delapanan ya, gimana?"
"Oh, boleh aja kok."
"Kalo gitu besok aku jemput ke rumah kamu jam delapan ya."
"Iya, aku tunggu."
"Kamu udah makan?"
"Udah, barusan aja. Eh, Xel, udahan dulu ya. Aku lagi sibuk banget, sori ya."
"Iya, gapapa. Sampe ketemu besok ya, Sayang." Axel menghela nafas. "Kayaknya sibuk amat," gumamnya sendiri.
to be continued...
Between Girl and Boy 4
Kembali aku ditemani acara televisi yang begitu garing untuk disaksikan. Sambil bersandar pada sandaran sofa ruang tengah, kutonton film yang sama sekali tak masuk ke dalam otakku. Mendadak aku membetulkan posisi dudukku saat mendengar Axel dan temannya tengah menuruni anak tangga. "Game-nya seru banget, Bel. Besok lanjutin lagi yuk. Lo besok bisa dateng 'kan?" tanya Axel yang sepertinya ketagihan main.
"Iya, kalo gak ada halangan, gue pasti dateng kok. Ntar malem gue kabarin lagi deh. Hm, besok harus udah tamat tuh, game-nya," tuturnya dengan penuh semangat.
Aku tak mengerti, kenapa anak cowok begitu menyukai game. Yang ada di pikirannya hanyalah game, game, dan game. Dan parahnya, setiap kali bermain game, semua pasti dilupakan. Lupa makan, lupa mandi, bahkan orang terdekatnyapun dilupakan.
"Eum, gue pulang dulu ya, Xel. Udah sore banget nih. Thanks banget, udah ngizinin gue ke sini."
"Justru gue yang mestinya say thanks, lo udah mau dateng ke sini."
"Eh, tapi lo gak jalan sama cewek lo, Xel? Vira apa kabarnya?" Aku sedikit terkejut mendengar kabar itu, entah benar atau tidak.
"Astaga! Gue lupa kasih kabar ke dia." Axel menepuk dahinya. Tuh 'kan, pacar sendiri saja bisa dilupakan karena game. Dasar cowok, celaku dalam hati.
"Ya udah, gue pulang dulu deh. Lir, pulang dulu ya." Deg! Abel pamit padaku? Senangnya!!! Siapa yang menyangka kalau ia menganggapku. Jarang-jarang begini 'kan?! Kutanggapi dengan senyuman paling manis.
"Yah, ada yang kegirangan gara-gara gebetannya ngajak ngobrol. Plus ada yang sedih juga gara-gara yayangnya mau pulang." Lagi-lagi Axel meledekku.
"Sial lo!" makiku kesal. "Sana lo, jauh-jauh dari gue!" Aku mengusirnya, tapi tentu saja tidak sungguhan.
"Tuh 'kan, kalo lagi butuh aja deket-deket. Kalo keinginan terwujud, gue langsung diusir. Ah, habis manis sepah dibuang tuh!"
"Biarin. Emang orang kayak lo cocoknya digituin. Rese sih, lo!"
Axel menekan nomor satu agak lama, lalu membiarkan nada sambung pribadi pacarnya menggema di telinganya. "Halo, Sayang, kamu lagi di mana?" Axel langsung menanyakan keberadaan sang pacar yang saat ini sepertinya sedang berada di luar rumah.
"Aku lagi di... mal. Kenapa?"
"Oh, sori ya, aku baru nelepon kamu. Tadi habis main sama Abel. Kamu udah makan?"
"Ini, lagi makan."
"Sama siapa?"
"Sama temen-temen nih. Eum, ntar telepon lagi ya. Berisik banget di sini, jadi susah ngobrolnya. Ntar malem aku sms kamu deh, ya?"
"Ya udah, ntar malem aku telepon kamu lagi ya. Have fun, Hon." Axel memutus sambungannya dan berbaring di atas ranjang melepas lelah.
Tiga menit berlalu dan aku yang merasa bosan langsung berteriak memanggil kakakku yang menyebalkan. "Axel!" panggilku dari lantai bawah.
Pintu kamarnya langsung terbuka dan ia muncul di dekat tangga. "Gak usah pake teriak kali, gue gak tuli."
"Bosen nih."
"Terus, apa urusannya sama gue?"
"Jalan-jalan yuk."
"Males ah, gue capek. Lo aja jalan-jalan sendiri."
"Gak ada yang nemenin. Masa iya gue jalan-jalan sendirian kayak orang bego? Lo tega ih, Xel."
"Lah? Manja banget sih, nih anak. Mobil ada, supir ada, punya duit, kaki juga lengkap..."
"Ck... ya udah, gue jalan-jalan sendiri aja." Aku langsung berpaling dan menuju ke kamar tidurku sambil ngedumel.
Bingung juga mau apa di mal sendirian. Tapi sepertinya aku tertarik untuk melihat-lihat baju yang sedang nge-trend sekarang-sekarang ini. Satu per satu kios kuhampiri. Saat sedang menikmati pencarianku, aku diperhadapkan dengan satu pemandangan yang menggerahkan. Jelas saja aku jengkel karenanya.
"Ini 'kan tempat umum. Kalo mau mesra-mesraan, ya jangan di sini. Sana, di hotel." Aku memaki mereka dalam hati. Sayang, nyaliku tak seberapa untuk mengungkapkannya di depan pasangan tak tahu malu itu.
Ujung-ujungnya, aku pulang dengan tangan kosong. Tak ada satupun yang kubeli dari mal. Tak ada yang menarik sih. "Cepet amat pulangnya." Pulang-pulang, Axel langsung nyeletuk. Ia lagi duduk di depan televisi sambil mengunyah kerupuk mini yang tersimpan di dalam toples yang ada di atas meja ruang tengah.
"Ngapain lama-lama? Lagian ini 'kan udah malem. Kalo tiba-tiba gue diapa-apain, gimana?"
"Halah, gak mungkinlah ada yang mau ngapa-ngapain lo. Ge-er banget sih." PAK!! Kupukul lengan Axel sekeras mungkin. "Aduh, sakit tau! Maennya mukul ih!"
"Habis lo rese sih! Makanya jangan rese, jangan banyak omong." Aku kesal. "Eh, masa tadi pas gue lagi asyik-asyik cari baju, tiba-tiba ada pemandangan yang gak sedap dilihat."
"Oh ya? Pemandangan apaan?"
"Yah, yang begituan."
"Ck ck ck... anak di bawah umur dilarang ngeliat begituan tuh. Mestinya gue ada di situ ya, jadi bisa nutupin mata lo."
"Gue udah cukup gede kali, jadi gue udah boleh ngeliat begituan. Lagian gue juga udah cukup berpengetahuan soal begituan."
"Hah? Wah, jangan-jangan..." PAAK!! Lagi-lagi kugebuk lengannya. Merahlah lengan kanannya itu. "Aduh, mukul melulu nih!"
"Jangan mikir yang nggak-nggak deh. Otak lo tuh, mesti dicuci dulu, biar gak ngeres."
"Siapa yang otaknya ngeres? Lo aja tuh, yang pikirannya jorok melulu." Ingin sekali kugebuk lengannya untuk ke sekian kalinya, tapi kuurung niatku itu.
"By the way, lo udah punya cewek ya? Kok gak ngasih tau gue sih?" Kuganti topik pembicaraan kami berdua.
"Bah, ngapain gue ngasih tau lo? Emang pengumuman penting apa?"
"Ih, lo tuh ngeselin banget sih, Xel?! Jawab baik-baik nggak bisa ya?"
Axel menghela nafas. "Iya, gue udah punya cewek, kenapa? Lo cemburu?"
"Gue? Cemburu? Penting gak sih?!"
"Terus ngapain nanya-nanya?"
"Ya, gue 'kan cuma pengen tau. Sebagai adik perempuan lo yang paling imut, gue wajib tau dong."
"Emang sejak kapan ada undang-undang begituan?"
"Sejak dulu kali. Lo aja yang gak pernah tau. Makanya, rajin-rajin baca buku undang-undang. Tiap tahun beli buku undang-undang, ujung-ujung cuma buat nemenin tidur. Pelajar macam apa ini?!" cemoohku.
Gadis berambut cokelat yang mengenakan mini dress bermotif bunga berwarna biru muda tengah menggandeng lengan sesosok pria bertubuh tinggi tegap berkaos biru tua polos. "Dia ngeganggu kamu lagi, Say?" tanya pria berwajah tampan itu.
"Ck, biarin aja. Makhluk kayak gitu mah, gak usah dihirauin. Ntar juga lenyap sendiri."
"Tapi aku 'kan gak mau kamu diganggu cowok macam dia terus. Aku juga keki lah."
"Udah, cuekin aja. Lagian aku gak mau kamu terlibat masalah sama orang gak penting kayak dia. Udahlah, jangan ngebahas soal gituan lagi ya?"
Cowok itu tersenyum, membuat wajahnya masih memesona. "Iya deh, demi kamu." Ia mencium pipi gadis yang ada di sampingnya dengan lembut.
TO BE CONTINUED...
"Iya, kalo gak ada halangan, gue pasti dateng kok. Ntar malem gue kabarin lagi deh. Hm, besok harus udah tamat tuh, game-nya," tuturnya dengan penuh semangat.
Aku tak mengerti, kenapa anak cowok begitu menyukai game. Yang ada di pikirannya hanyalah game, game, dan game. Dan parahnya, setiap kali bermain game, semua pasti dilupakan. Lupa makan, lupa mandi, bahkan orang terdekatnyapun dilupakan.
"Eum, gue pulang dulu ya, Xel. Udah sore banget nih. Thanks banget, udah ngizinin gue ke sini."
"Justru gue yang mestinya say thanks, lo udah mau dateng ke sini."
"Eh, tapi lo gak jalan sama cewek lo, Xel? Vira apa kabarnya?" Aku sedikit terkejut mendengar kabar itu, entah benar atau tidak.
"Astaga! Gue lupa kasih kabar ke dia." Axel menepuk dahinya. Tuh 'kan, pacar sendiri saja bisa dilupakan karena game. Dasar cowok, celaku dalam hati.
"Ya udah, gue pulang dulu deh. Lir, pulang dulu ya." Deg! Abel pamit padaku? Senangnya!!! Siapa yang menyangka kalau ia menganggapku. Jarang-jarang begini 'kan?! Kutanggapi dengan senyuman paling manis.
"Yah, ada yang kegirangan gara-gara gebetannya ngajak ngobrol. Plus ada yang sedih juga gara-gara yayangnya mau pulang." Lagi-lagi Axel meledekku.
"Sial lo!" makiku kesal. "Sana lo, jauh-jauh dari gue!" Aku mengusirnya, tapi tentu saja tidak sungguhan.
"Tuh 'kan, kalo lagi butuh aja deket-deket. Kalo keinginan terwujud, gue langsung diusir. Ah, habis manis sepah dibuang tuh!"
"Biarin. Emang orang kayak lo cocoknya digituin. Rese sih, lo!"
Axel menekan nomor satu agak lama, lalu membiarkan nada sambung pribadi pacarnya menggema di telinganya. "Halo, Sayang, kamu lagi di mana?" Axel langsung menanyakan keberadaan sang pacar yang saat ini sepertinya sedang berada di luar rumah.
"Aku lagi di... mal. Kenapa?"
"Oh, sori ya, aku baru nelepon kamu. Tadi habis main sama Abel. Kamu udah makan?"
"Ini, lagi makan."
"Sama siapa?"
"Sama temen-temen nih. Eum, ntar telepon lagi ya. Berisik banget di sini, jadi susah ngobrolnya. Ntar malem aku sms kamu deh, ya?"
"Ya udah, ntar malem aku telepon kamu lagi ya. Have fun, Hon." Axel memutus sambungannya dan berbaring di atas ranjang melepas lelah.
Tiga menit berlalu dan aku yang merasa bosan langsung berteriak memanggil kakakku yang menyebalkan. "Axel!" panggilku dari lantai bawah.
Pintu kamarnya langsung terbuka dan ia muncul di dekat tangga. "Gak usah pake teriak kali, gue gak tuli."
"Bosen nih."
"Terus, apa urusannya sama gue?"
"Jalan-jalan yuk."
"Males ah, gue capek. Lo aja jalan-jalan sendiri."
"Gak ada yang nemenin. Masa iya gue jalan-jalan sendirian kayak orang bego? Lo tega ih, Xel."
"Lah? Manja banget sih, nih anak. Mobil ada, supir ada, punya duit, kaki juga lengkap..."
"Ck... ya udah, gue jalan-jalan sendiri aja." Aku langsung berpaling dan menuju ke kamar tidurku sambil ngedumel.
Bingung juga mau apa di mal sendirian. Tapi sepertinya aku tertarik untuk melihat-lihat baju yang sedang nge-trend sekarang-sekarang ini. Satu per satu kios kuhampiri. Saat sedang menikmati pencarianku, aku diperhadapkan dengan satu pemandangan yang menggerahkan. Jelas saja aku jengkel karenanya.
"Ini 'kan tempat umum. Kalo mau mesra-mesraan, ya jangan di sini. Sana, di hotel." Aku memaki mereka dalam hati. Sayang, nyaliku tak seberapa untuk mengungkapkannya di depan pasangan tak tahu malu itu.
Ujung-ujungnya, aku pulang dengan tangan kosong. Tak ada satupun yang kubeli dari mal. Tak ada yang menarik sih. "Cepet amat pulangnya." Pulang-pulang, Axel langsung nyeletuk. Ia lagi duduk di depan televisi sambil mengunyah kerupuk mini yang tersimpan di dalam toples yang ada di atas meja ruang tengah.
"Ngapain lama-lama? Lagian ini 'kan udah malem. Kalo tiba-tiba gue diapa-apain, gimana?"
"Halah, gak mungkinlah ada yang mau ngapa-ngapain lo. Ge-er banget sih." PAK!! Kupukul lengan Axel sekeras mungkin. "Aduh, sakit tau! Maennya mukul ih!"
"Habis lo rese sih! Makanya jangan rese, jangan banyak omong." Aku kesal. "Eh, masa tadi pas gue lagi asyik-asyik cari baju, tiba-tiba ada pemandangan yang gak sedap dilihat."
"Oh ya? Pemandangan apaan?"
"Yah, yang begituan."
"Ck ck ck... anak di bawah umur dilarang ngeliat begituan tuh. Mestinya gue ada di situ ya, jadi bisa nutupin mata lo."
"Gue udah cukup gede kali, jadi gue udah boleh ngeliat begituan. Lagian gue juga udah cukup berpengetahuan soal begituan."
"Hah? Wah, jangan-jangan..." PAAK!! Lagi-lagi kugebuk lengannya. Merahlah lengan kanannya itu. "Aduh, mukul melulu nih!"
"Jangan mikir yang nggak-nggak deh. Otak lo tuh, mesti dicuci dulu, biar gak ngeres."
"Siapa yang otaknya ngeres? Lo aja tuh, yang pikirannya jorok melulu." Ingin sekali kugebuk lengannya untuk ke sekian kalinya, tapi kuurung niatku itu.
"By the way, lo udah punya cewek ya? Kok gak ngasih tau gue sih?" Kuganti topik pembicaraan kami berdua.
"Bah, ngapain gue ngasih tau lo? Emang pengumuman penting apa?"
"Ih, lo tuh ngeselin banget sih, Xel?! Jawab baik-baik nggak bisa ya?"
Axel menghela nafas. "Iya, gue udah punya cewek, kenapa? Lo cemburu?"
"Gue? Cemburu? Penting gak sih?!"
"Terus ngapain nanya-nanya?"
"Ya, gue 'kan cuma pengen tau. Sebagai adik perempuan lo yang paling imut, gue wajib tau dong."
"Emang sejak kapan ada undang-undang begituan?"
"Sejak dulu kali. Lo aja yang gak pernah tau. Makanya, rajin-rajin baca buku undang-undang. Tiap tahun beli buku undang-undang, ujung-ujung cuma buat nemenin tidur. Pelajar macam apa ini?!" cemoohku.
Gadis berambut cokelat yang mengenakan mini dress bermotif bunga berwarna biru muda tengah menggandeng lengan sesosok pria bertubuh tinggi tegap berkaos biru tua polos. "Dia ngeganggu kamu lagi, Say?" tanya pria berwajah tampan itu.
"Ck, biarin aja. Makhluk kayak gitu mah, gak usah dihirauin. Ntar juga lenyap sendiri."
"Tapi aku 'kan gak mau kamu diganggu cowok macam dia terus. Aku juga keki lah."
"Udah, cuekin aja. Lagian aku gak mau kamu terlibat masalah sama orang gak penting kayak dia. Udahlah, jangan ngebahas soal gituan lagi ya?"
Cowok itu tersenyum, membuat wajahnya masih memesona. "Iya deh, demi kamu." Ia mencium pipi gadis yang ada di sampingnya dengan lembut.
TO BE CONTINUED...
8/15/2009
Between Girl and Boy 3
Kucoba menghubungi salah satu sahabatku yang entah sedang melakukan apa di hari libur seperti ini. Firasatku berkata bahwa ia sedang asyik dengan waktu-waktu berharganya. "Lagi apa, Des?" tanyaku tanpa pakai embel-embel apapun karena aku tahu pasti yang menjawab panggilan ini pasti si pemilik ponsel, Desti.
"Hei, Lir. Gue lagi di pantai nih. Lo sendiri lagi apa?" Terdengar desiran ombak yang begitu menyejukkan hati dari seberang sana. Juga terdengar tawa riang di sana. Uh, aku jadi ingin ke sana bersamanya.
"Ke pantai sama siapa? Kok kagak ngajak-ngajak?"
Desti tertawa geli. "Sama Yuda nih," jawabnya malu-malu. Kalau sudah begini, aku jadi merasa bersalah karena sudah menghubunginya sekaligus mengganggu momen indahnya dengan sang kekasih. Ah, senangnya punya pacar, batinku iri.
"Ya udah deh, gue gak ganggu lagi. Maaf ya, udah ngeganggu waktu kalian. Have fun, Des." Aku langsung membiarkan mereka berdua menikmati masa indahnya. Sendiri lagi deh, keluhku sebal.
Lima menit kemudian, telepon rumah berdering nyaring memanggilku untuk mengangkatnya. Biasanya sih, yang mengangkat Axel. Tapi berhubung ia sedang asyik di dunianya bersama sahabatnya, jadi terpaksa akulah yang harus mengangkatnya.
"Halo..." Nada bicaraku pelan sekali. Lemas.
"Lira?" Aku tahu persis suara ini. Suara ini tak asing lagi di telingaku.
"Mama? Kenapa?"
"Kamu lagi apa, sayang? Kok tadi Mama telepon ke handphone kamu, sibuk terus?"
"Oh, tadi habis nelepon temen, Ma."
"Kamu sehat 'kan? Baik-baik aja 'kan?"
"Iya, Mama, aku baik-baik aja."
"Axel mana?"
"Tuh, di kamarnya, lagi main game sama temennya."
"Oh, ya udah. Salam buat Axel ya, sayang. Kalo ada apa-apa, telepon Mama ya."
"Iya, Ma." Huff... liburan yang benar-benar membosankan. Orangtua di luar kota, teman-teman asyik sendiri dengan kesibukannya, pacar nggak punya, aku sendiri deh. Lagi-lagi aku hanya bisa mengeluh dan menghela nafas.
Abel dan Axel menuruni anak tangga dan langsung menuju ruang tengah. "Lir, Mbok Ati masak apa?" tanyanya tiba-tiba.
"Mana gue tau? Gue aja dari tadi di sini doang. Kalo mau nanya, nanya langsung sama Mbok Ati lah."
"Lho? Ditanya baik-baik, kok jawabnya malah gitu sih? Gak sopan deh. Gue laporin nyokap lho."
"Emang gue anak kecil lagi? Gue udah gede tau!" Aku langsung bangkit dari atas sofa dan masuk ke dalam kamarku. Bete!
"Ih, aneh banget sih, tuh anak. Kagak ada angin, kagak ada hujan, tiba-tiba ngamuk. Serem gue," celetuk Axel. "Eh, makan yuk, Bel." Axel mengajak sahabatnya ke ruang makan untuk menyantap makanan siang yang sudah tersedia di balik tudung saji di atas meja.
"Adik lo gak ikut makan, Xel?"
"Ah, biarin aja. Ntar kalo laper juga dia cari makan. Yuk ah!"
Entah kenapa, hari ini segalanya membuatku kesal. Padahal tadi pagi hatiku berbunga-bunga, tapi entah sejak jam berapa, menit ke berapa, dan detik ke berapa, hatiku jadi tercemari oleh asap hitam. Uh, sebal!!!!!
Rasa kesal di hati membuatku lelah dan akhirnya terlelap di dalam kamarku hingga sore menjelang. Saat kedua mataku terbuka, kulihat jarum pendek jam dinding kamarku sudah mendekati angka tiga. Sementara jarum panjang menunjuk ke angka sembilan. Sudah jam tiga kurang lima belas. Aku harus segera mandi, pikirku. Langsung saja kubuka lemari pakaianku dan kuambil pakaian santai yang kuanggap pantas untuk kukenakan. Begitu aku hendak melangkah untuk masuk ke dalam kamar mandi, tiba-tiba kudengar pintu kamar mandi terbuka dan muncul sesosok laki-laki di hadapanku. Terang saja aku terkejut. Astaga, ternyata Abel belum pulang. Ia masih di sini dan sekarang di hadapanku. Aduh, sungguh memalukan. Mana penampilanku berantakan karena baru bangun tidur pula. Uh, sial!!!
"Hai," sapanya pelan sambil tersenyum. Aku hanya membalasnya dengan senyuman. Malu sekali rasanya. Ingin sekali wajah ini kusembunyikan di dalam lemari pakaianku untuk sesaat.
Aku buru-buru masuk ke dalam kamar mandi untuk bersembunyi. Hufff... rambutku berantakan sekali. Wajahku juga kusam. Kulihat pantulan diriku di dalam cermin, buruk sekali. Sama sekali tak pantas untuk dilihat.
to be continued...
"Hei, Lir. Gue lagi di pantai nih. Lo sendiri lagi apa?" Terdengar desiran ombak yang begitu menyejukkan hati dari seberang sana. Juga terdengar tawa riang di sana. Uh, aku jadi ingin ke sana bersamanya.
"Ke pantai sama siapa? Kok kagak ngajak-ngajak?"
Desti tertawa geli. "Sama Yuda nih," jawabnya malu-malu. Kalau sudah begini, aku jadi merasa bersalah karena sudah menghubunginya sekaligus mengganggu momen indahnya dengan sang kekasih. Ah, senangnya punya pacar, batinku iri.
"Ya udah deh, gue gak ganggu lagi. Maaf ya, udah ngeganggu waktu kalian. Have fun, Des." Aku langsung membiarkan mereka berdua menikmati masa indahnya. Sendiri lagi deh, keluhku sebal.
Lima menit kemudian, telepon rumah berdering nyaring memanggilku untuk mengangkatnya. Biasanya sih, yang mengangkat Axel. Tapi berhubung ia sedang asyik di dunianya bersama sahabatnya, jadi terpaksa akulah yang harus mengangkatnya.
"Halo..." Nada bicaraku pelan sekali. Lemas.
"Lira?" Aku tahu persis suara ini. Suara ini tak asing lagi di telingaku.
"Mama? Kenapa?"
"Kamu lagi apa, sayang? Kok tadi Mama telepon ke handphone kamu, sibuk terus?"
"Oh, tadi habis nelepon temen, Ma."
"Kamu sehat 'kan? Baik-baik aja 'kan?"
"Iya, Mama, aku baik-baik aja."
"Axel mana?"
"Tuh, di kamarnya, lagi main game sama temennya."
"Oh, ya udah. Salam buat Axel ya, sayang. Kalo ada apa-apa, telepon Mama ya."
"Iya, Ma." Huff... liburan yang benar-benar membosankan. Orangtua di luar kota, teman-teman asyik sendiri dengan kesibukannya, pacar nggak punya, aku sendiri deh. Lagi-lagi aku hanya bisa mengeluh dan menghela nafas.
Abel dan Axel menuruni anak tangga dan langsung menuju ruang tengah. "Lir, Mbok Ati masak apa?" tanyanya tiba-tiba.
"Mana gue tau? Gue aja dari tadi di sini doang. Kalo mau nanya, nanya langsung sama Mbok Ati lah."
"Lho? Ditanya baik-baik, kok jawabnya malah gitu sih? Gak sopan deh. Gue laporin nyokap lho."
"Emang gue anak kecil lagi? Gue udah gede tau!" Aku langsung bangkit dari atas sofa dan masuk ke dalam kamarku. Bete!
"Ih, aneh banget sih, tuh anak. Kagak ada angin, kagak ada hujan, tiba-tiba ngamuk. Serem gue," celetuk Axel. "Eh, makan yuk, Bel." Axel mengajak sahabatnya ke ruang makan untuk menyantap makanan siang yang sudah tersedia di balik tudung saji di atas meja.
"Adik lo gak ikut makan, Xel?"
"Ah, biarin aja. Ntar kalo laper juga dia cari makan. Yuk ah!"
Entah kenapa, hari ini segalanya membuatku kesal. Padahal tadi pagi hatiku berbunga-bunga, tapi entah sejak jam berapa, menit ke berapa, dan detik ke berapa, hatiku jadi tercemari oleh asap hitam. Uh, sebal!!!!!
Rasa kesal di hati membuatku lelah dan akhirnya terlelap di dalam kamarku hingga sore menjelang. Saat kedua mataku terbuka, kulihat jarum pendek jam dinding kamarku sudah mendekati angka tiga. Sementara jarum panjang menunjuk ke angka sembilan. Sudah jam tiga kurang lima belas. Aku harus segera mandi, pikirku. Langsung saja kubuka lemari pakaianku dan kuambil pakaian santai yang kuanggap pantas untuk kukenakan. Begitu aku hendak melangkah untuk masuk ke dalam kamar mandi, tiba-tiba kudengar pintu kamar mandi terbuka dan muncul sesosok laki-laki di hadapanku. Terang saja aku terkejut. Astaga, ternyata Abel belum pulang. Ia masih di sini dan sekarang di hadapanku. Aduh, sungguh memalukan. Mana penampilanku berantakan karena baru bangun tidur pula. Uh, sial!!!
"Hai," sapanya pelan sambil tersenyum. Aku hanya membalasnya dengan senyuman. Malu sekali rasanya. Ingin sekali wajah ini kusembunyikan di dalam lemari pakaianku untuk sesaat.
Aku buru-buru masuk ke dalam kamar mandi untuk bersembunyi. Hufff... rambutku berantakan sekali. Wajahku juga kusam. Kulihat pantulan diriku di dalam cermin, buruk sekali. Sama sekali tak pantas untuk dilihat.
to be continued...
Between Girl and Boy 2
Jam delapan pagi wajahku sudah terlihat cerah. Aku sudah mandi jam setengah tujuh tadi. Memang, air pagi itu dingin dan benar-benar menyegarkan sampai-sampai mataku langsung melek begitu tetesan air bersih yang keluar dari shower menyentuh tubuhku. Brrrrrr... dingin!!!
Kukeluarkan telur, tepung terigu, tepung cokelat, mentega, gula, baking powder, dan semua alat bahan yang ingin digunakan untuk membuat kue. Kue cokelat istimewa, itulah yang ingin kubuat pagi ini. "Bikin apaan tuh?" Tiba-tiba makhluk menyebalkan yang baru saja bangun muncul di hadapanku dengan penampilannya yang super berantakan.
"Menurut lo?" Kujawab dengan nada jengkel. Pasti orang ini ingin meledekku lagi, makanya aku siap-siap mendirikan pertahanan.
"Ah, paling produk gagal," tuturnya, lalu pergi. Hiiihhh... kenapa ia begitu menjengkelkan sih, geramku dalam hati. Tapi aku tak terlalu menggubrisnya. Aku terus mengocok adonan yang hampir jadi dengan hati yang sudah tercemari dengan setetes rasa kesal.
Seperti hari kemarin, Abel -itu nama teman Axel- datang saat aku sedang sibuk menuang adonan ke atas loyang yang sudah dilumuri mentega dan sedikit tepung terigu. Lagi-lagi tak sempat menemuinya. Aku nyaris kembali bersungut-sungut, tapi tak lama kemudian aku kembali berjingkrak kegirangan karena sesuatu. Kulihat Abel tengah duduk di sofa ruang tengah, seperti orang yang sedang menantikan sesuatu. "Lho? Axel mana?" tanyaku saat ia melihatku yang baru keluar dari ruang dapur.
"Eum, katanya mau mandi dulu, jadi gue tunggu di sini," begitu jawabnya. Ini pertama kalinya aku mengobrol dengannya.
"Oh, mau gue buatin minuman? Mau minum apa?"
"Eh, nggak usah, gapapa. Gue gak haus kok." Senyumnya mengembang dan membuatku terpesona melihat wajahnya yang begitu indah untuk dipandang.
Aku ikut duduk di sofa ruang tengah menemaninya mengobrol. "Rumah lo di mana?" tanyaku basa-basi. Habis, aku juga bingung mau membicarakan apa.
"Hm, rumah gue gak jauh dari sini kok. Pas di belakang rumah lo." Sempat kaget, tapi juga senang mendengarnya. Berarti rumah kami tak terlalu jauh.
Baru saja aku ingin mengobrol lebih lanjut, si pengganggu datang untuk mengganggu. "Ngapain lo di sini?" tanyanya sambil menutup wajahku dengan handuknya yang basah.
Aku buru-buru menjauhkan handuk tersebut dari wajahku. "Iiihhh, jorok banget sih!! Itu handuk 'kan bekas pakai, masa lo tempelin ke muka gue sih? Ngeselin banget sih, lo!!" omelku kesal.
"Biarin, handuk 'kan milik bersama. Kenapa rewel amat sih?"
"Ihhh, kesel gue!" Kulempar wajahnya dengan bantal sofa yang kebetulan ada di pangkuanku, lalu kembali ke dapur untuk memeriksa kue buatanku. Sudah hampir jadi. Yang kulihat, kuenya sudah mulai mengembang. Wah, sepertinya kue buatanku kali ini benar-benar berhasil.
Tujuh menit berikutnya, kubuka pintu oven dan kukeluarkan loyang berisi kue buatanku yang begitu harum. Akhirnya jadi juga, gumamku girang. "Non, mau sarapan apa?" Mbok Ati baru turun dari lantai atas.
Tanpa menoleh, aku menjawab pertanyaannya. "Bikinin mie aja, Mbok. Kalo buat si Axel, gak usah bikinin makanan. Biar aja dia mati kelaperan," jawabku dengan nada setengah jengkel. Tapi ujung-ujungnya, Mbok Ati tetap membuatkan makanan untuk Axel dan Abel saat Axel menjerit kelaparan dari lantai atas. Untuk sementara, kue buatanku masih dalam tahap pengademan di dapur.
Jam sepuluh lewat satu menit Axel dan Abel turun ke bawah. Aku yang tengah menonton TV di ruang tengah sambil bersantai di atas sofa agak terkejut melihat Abel turun. "Lir, ada cemilan gak? Laper nih." Axel mencoba membuka pintu kulkas. "Eh, brownies buatan lo nih, Lir?" tanya Axel sambil mengeluarkan seloyang brownies yang tadi pagi kubuat sendirian.
"Iya," jawabku ketus sambil terus menonton TV.
"Bagi ya, Lir. Gue bawa ke atas semua ya."
"Hah? Emang bisa habis tuh?" tanyaku tak percaya. Di dalam loyang itu ada dua puluh empat potong brownies yang berbentuk persegi panjang. Masakan Axel akan menghabiskannya sekaligus? Gila!
"Tenang aja, lagi laper nih. Gue bawa ya." Axel dan Abel langsung ngacir kembali ke kamar Axel yang ada di lantai atas. Aku hanya geleng-geleng kepala, lalu kembali terfokus pada acara TV yang amat sangat membosankan.
to be continued...
Kukeluarkan telur, tepung terigu, tepung cokelat, mentega, gula, baking powder, dan semua alat bahan yang ingin digunakan untuk membuat kue. Kue cokelat istimewa, itulah yang ingin kubuat pagi ini. "Bikin apaan tuh?" Tiba-tiba makhluk menyebalkan yang baru saja bangun muncul di hadapanku dengan penampilannya yang super berantakan.
"Menurut lo?" Kujawab dengan nada jengkel. Pasti orang ini ingin meledekku lagi, makanya aku siap-siap mendirikan pertahanan.
"Ah, paling produk gagal," tuturnya, lalu pergi. Hiiihhh... kenapa ia begitu menjengkelkan sih, geramku dalam hati. Tapi aku tak terlalu menggubrisnya. Aku terus mengocok adonan yang hampir jadi dengan hati yang sudah tercemari dengan setetes rasa kesal.
Seperti hari kemarin, Abel -itu nama teman Axel- datang saat aku sedang sibuk menuang adonan ke atas loyang yang sudah dilumuri mentega dan sedikit tepung terigu. Lagi-lagi tak sempat menemuinya. Aku nyaris kembali bersungut-sungut, tapi tak lama kemudian aku kembali berjingkrak kegirangan karena sesuatu. Kulihat Abel tengah duduk di sofa ruang tengah, seperti orang yang sedang menantikan sesuatu. "Lho? Axel mana?" tanyaku saat ia melihatku yang baru keluar dari ruang dapur.
"Eum, katanya mau mandi dulu, jadi gue tunggu di sini," begitu jawabnya. Ini pertama kalinya aku mengobrol dengannya.
"Oh, mau gue buatin minuman? Mau minum apa?"
"Eh, nggak usah, gapapa. Gue gak haus kok." Senyumnya mengembang dan membuatku terpesona melihat wajahnya yang begitu indah untuk dipandang.
Aku ikut duduk di sofa ruang tengah menemaninya mengobrol. "Rumah lo di mana?" tanyaku basa-basi. Habis, aku juga bingung mau membicarakan apa.
"Hm, rumah gue gak jauh dari sini kok. Pas di belakang rumah lo." Sempat kaget, tapi juga senang mendengarnya. Berarti rumah kami tak terlalu jauh.
Baru saja aku ingin mengobrol lebih lanjut, si pengganggu datang untuk mengganggu. "Ngapain lo di sini?" tanyanya sambil menutup wajahku dengan handuknya yang basah.
Aku buru-buru menjauhkan handuk tersebut dari wajahku. "Iiihhh, jorok banget sih!! Itu handuk 'kan bekas pakai, masa lo tempelin ke muka gue sih? Ngeselin banget sih, lo!!" omelku kesal.
"Biarin, handuk 'kan milik bersama. Kenapa rewel amat sih?"
"Ihhh, kesel gue!" Kulempar wajahnya dengan bantal sofa yang kebetulan ada di pangkuanku, lalu kembali ke dapur untuk memeriksa kue buatanku. Sudah hampir jadi. Yang kulihat, kuenya sudah mulai mengembang. Wah, sepertinya kue buatanku kali ini benar-benar berhasil.
Tujuh menit berikutnya, kubuka pintu oven dan kukeluarkan loyang berisi kue buatanku yang begitu harum. Akhirnya jadi juga, gumamku girang. "Non, mau sarapan apa?" Mbok Ati baru turun dari lantai atas.
Tanpa menoleh, aku menjawab pertanyaannya. "Bikinin mie aja, Mbok. Kalo buat si Axel, gak usah bikinin makanan. Biar aja dia mati kelaperan," jawabku dengan nada setengah jengkel. Tapi ujung-ujungnya, Mbok Ati tetap membuatkan makanan untuk Axel dan Abel saat Axel menjerit kelaparan dari lantai atas. Untuk sementara, kue buatanku masih dalam tahap pengademan di dapur.
Jam sepuluh lewat satu menit Axel dan Abel turun ke bawah. Aku yang tengah menonton TV di ruang tengah sambil bersantai di atas sofa agak terkejut melihat Abel turun. "Lir, ada cemilan gak? Laper nih." Axel mencoba membuka pintu kulkas. "Eh, brownies buatan lo nih, Lir?" tanya Axel sambil mengeluarkan seloyang brownies yang tadi pagi kubuat sendirian.
"Iya," jawabku ketus sambil terus menonton TV.
"Bagi ya, Lir. Gue bawa ke atas semua ya."
"Hah? Emang bisa habis tuh?" tanyaku tak percaya. Di dalam loyang itu ada dua puluh empat potong brownies yang berbentuk persegi panjang. Masakan Axel akan menghabiskannya sekaligus? Gila!
"Tenang aja, lagi laper nih. Gue bawa ya." Axel dan Abel langsung ngacir kembali ke kamar Axel yang ada di lantai atas. Aku hanya geleng-geleng kepala, lalu kembali terfokus pada acara TV yang amat sangat membosankan.
to be continued...
8/11/2009
Between Girl and Boy 1
Liburan kali ini benar-benar membosankan. Tidak ada satupun teman yang mengajakku jalan-jalan dan tidak ada satu orangpun yang menemani hari-hari kosongku. Tiap hari kujalani waktuku di rumah hanya dengan kakak yang begitu menjengkelkan karena keisengannya. "Xel, ada gak sih temen lo yang keren gitu, tapi masih single? Kenalin dong," celetukku bosan. Libur tiga minggu, tapi yang kulakukan hanya berpangku tangan di ruang tengah sambil ditemani acara-acara TV yang membosankan.
Kakakku bernama Axel. Umurnya lebih tua dua tahun dariku, makanya aku tak mau memanggilnya dengan embel-embel apapun. Ditambah lagi ia begitu menyebalkan kalau lagi kumat isengnya. "Ha? Kenapa lo tiba-tiba minta dikenalin kayak gitu? Haus kasih sayang lo?" ledeknya seperti biasa. Langsung saja kujitak kepalanya. Kesal.
"Bosen tau, di rumah kayak gini terus sepanjang liburan. Yah, nambah kenalan baru 'kan asyik juga. Ada gak, Xel?" Aku kembali bertanya padanya yang tengah duduk di atas karpet sambil bersandar pada kaki sofa nan empuk.
Cowok itu terdiam sebentar, lalu menjawab, "Ada sih, tapi gue ogah ah, kenalin ke lo. Bisa-bisa gue menanggung aib besar lagi." Uh, lagi-lagi cowok ini menjengkelkan. Ingin sekali kujitak kepalanya sekali lagi, tapi aku malas meladeninya.
"Serius nih, Xel. Gue bener-bener bosen liburan kayak gini terus. Gue butuh something new nih."
"Something new? Kesannya lo kayak lagi butuh ganja aja." Hufff... benar-benar makan hati ngomong sama sosok cowok ini. Kupasang tampang sebete mungkin karena memang aku jadi kesal mendengar responnya sedari tadi. Tidak ada yang ditanggapinya secara serius. "Hari ini temen gue mau dateng, mau main game PS terbaru yang gue beli. Ntar lo bikinin apa gitu buat nemenin gue main, ya?" Mendengar kalimat lanjutannya, mood-ku langsung berubah seketika. Ternyata kakakku punya sosok yang baik juga.
"Makasih ya, kakakku sayang," tuturku sambil memeluknya.
"Ih, apaan sih? Gue ogah lo peluk-peluk. Sana, sana, jauh-jauh lo dari gue. Ntar bisa-bisa orang nyangka gue itu pacar lo lagi. Hiiii!!"
"Ini 'kan di rumah, gapapa lagi. Lo aja yang lebay." Aku langsung menuju dapur, mencari-cari bahan untuk membuatkan kakakku tercinta (hoeeekkkk) dan temannya camilan dan minuman. Saat tengah membuatkan makanan, tiba-tiba bel rumah berbunyi. Mbok Ati yang membukakan pintu rumah untuk sang tamu. Aku belum sempat melihat siapa yang datang dan seperti apa orangnya, tapi aku mendengar suara cowok dari dapur. Itu pasti teman Axel, batinku girang. Dengan penuh semangat kubuatkan minuman yang paling enak yang mampu kubuat. Tak kuizinkan Mbok Ati membantuku karena aku ingin membuatnya dengan sepenuh hati.
Kuketuk pintu kamar Axel tiga kali. Sepertinya mereka sedang asyik berunding di dalam. Habis, kedengarannya gaduh sekali di dalam. "Ah, lo lagi. Bosen gue ngeliat tampang lo." Axel bertampang malas. Aku langsung menendang kakinya pelan. Biarkan aku masuk, wajahku berkata demikian.
"Nih, buat lo sama temen lo. Gue bikinin yang paling enak." Kuletakkan nampan berisi makanan dan minuman di atas meja kecil yang terletak tak jauh dari pintu kamar Axel.
"Awas aja kalo gue sampe sakit perut," ancamnya. "Eh iya, Bel, ini pembantu baru gue, namanya Lira." PAK!! Langsung saja kupukul bahunya. Enak saja aku dibilang pembantunya. "Salah ding, ini adik gue. Dia bilang, dia mau dikenalin sama lo, makanya dia sengaja bikinin kita makanan sama minuman." PAK!! Lagi-lagi tanganku melayang dan mendarat di bahunya. Jujur amat sih, omelku tanpa kata.
Cowok yang tengah duduk di dekat mesin PS itu cuma tertawa melihat tingkahku seraya mengangguk sebagai tanda perkenalan. Senangnya, aku langsung girang.
"Udah, jangan kebanyakan ngeliatin dia. Sana lo, kembali ke habitat lo." Axel segera mengusirku. Huh, menyebalkan.
Aku hanya duduk terpaku di depan televisi di ruang tengah. Satu jam, dua jam, tiga jam sudah berlalu. Sudah waktunya makan siang. "Mbok, mau makan dong, laper," seruku dari ruang tengah. Terdengar sahutan dari arah dapur dan Mbok Ati langsung menyiapkan makan siang. Santapan untuk siang ini adalah semangkuk mie bakso buatan Mbok Ati. Karena lapar, aku tak banyak mengeluh. Baru saja aku siap memasukkan satu bakso ke dalam mulut, Axel dan temannya menuruni anak tangga. Sepertinya mereka lagi membincangkan soal game yang sedang mereka mainkan, sampai-sampai aku nggak mengerti apa yang mereka obrolkan. "Udahan mainnya?" tanyaku yang tak jadi memasukkan bakso ke dalam mulutku.
"Mau makan dulu. Laper tau," jawab Axel dingin. "Mbok, bikinin makanan buat aku sama temen aku ya." Setelah itu, Axel dan Abel duduk-duduk di ruang makan. "Eh, jadi liburan lo gak ke mana-mana, Bel?"
"Nggak, gue di rumah aja. Makanya gue bosen banget di rumah." Ternyata suaranya begini toh, gumamku yang baru pertama kali mendengar suaranya. "Lo sendiri gak ke mana-mana?"
"Yah, kagak bisa ke mana-mana gue. Mesti nemenin setan kecil itu." Axel menunjukku.
"Eh, siapa yang lo maksud? Sembarangan aja," omelku jengkel.
"Yah, yang nyadar aja lah," sahut Axel. Uh, aku paling kesal dipermalukan di depan orang seperti ini. Untung aku lagi baik, jadi aku takkan terlalu marah diperlakukan seperti ini. "Terus besok lo mau ke sini lagi, Bel? Kita main game yang satu lagi, gimana?"
"Boleh juga. Besok sekalian deh, gue bawain punya gue." Aku hampir melonjak kegirangan mendengarnya. Dia mau datang lagi, pekikku bahagia dalam hati. Yesss!!!!!
to be continued...
Kakakku bernama Axel. Umurnya lebih tua dua tahun dariku, makanya aku tak mau memanggilnya dengan embel-embel apapun. Ditambah lagi ia begitu menyebalkan kalau lagi kumat isengnya. "Ha? Kenapa lo tiba-tiba minta dikenalin kayak gitu? Haus kasih sayang lo?" ledeknya seperti biasa. Langsung saja kujitak kepalanya. Kesal.
"Bosen tau, di rumah kayak gini terus sepanjang liburan. Yah, nambah kenalan baru 'kan asyik juga. Ada gak, Xel?" Aku kembali bertanya padanya yang tengah duduk di atas karpet sambil bersandar pada kaki sofa nan empuk.
Cowok itu terdiam sebentar, lalu menjawab, "Ada sih, tapi gue ogah ah, kenalin ke lo. Bisa-bisa gue menanggung aib besar lagi." Uh, lagi-lagi cowok ini menjengkelkan. Ingin sekali kujitak kepalanya sekali lagi, tapi aku malas meladeninya.
"Serius nih, Xel. Gue bener-bener bosen liburan kayak gini terus. Gue butuh something new nih."
"Something new? Kesannya lo kayak lagi butuh ganja aja." Hufff... benar-benar makan hati ngomong sama sosok cowok ini. Kupasang tampang sebete mungkin karena memang aku jadi kesal mendengar responnya sedari tadi. Tidak ada yang ditanggapinya secara serius. "Hari ini temen gue mau dateng, mau main game PS terbaru yang gue beli. Ntar lo bikinin apa gitu buat nemenin gue main, ya?" Mendengar kalimat lanjutannya, mood-ku langsung berubah seketika. Ternyata kakakku punya sosok yang baik juga.
"Makasih ya, kakakku sayang," tuturku sambil memeluknya.
"Ih, apaan sih? Gue ogah lo peluk-peluk. Sana, sana, jauh-jauh lo dari gue. Ntar bisa-bisa orang nyangka gue itu pacar lo lagi. Hiiii!!"
"Ini 'kan di rumah, gapapa lagi. Lo aja yang lebay." Aku langsung menuju dapur, mencari-cari bahan untuk membuatkan kakakku tercinta (hoeeekkkk) dan temannya camilan dan minuman. Saat tengah membuatkan makanan, tiba-tiba bel rumah berbunyi. Mbok Ati yang membukakan pintu rumah untuk sang tamu. Aku belum sempat melihat siapa yang datang dan seperti apa orangnya, tapi aku mendengar suara cowok dari dapur. Itu pasti teman Axel, batinku girang. Dengan penuh semangat kubuatkan minuman yang paling enak yang mampu kubuat. Tak kuizinkan Mbok Ati membantuku karena aku ingin membuatnya dengan sepenuh hati.
Kuketuk pintu kamar Axel tiga kali. Sepertinya mereka sedang asyik berunding di dalam. Habis, kedengarannya gaduh sekali di dalam. "Ah, lo lagi. Bosen gue ngeliat tampang lo." Axel bertampang malas. Aku langsung menendang kakinya pelan. Biarkan aku masuk, wajahku berkata demikian.
"Nih, buat lo sama temen lo. Gue bikinin yang paling enak." Kuletakkan nampan berisi makanan dan minuman di atas meja kecil yang terletak tak jauh dari pintu kamar Axel.
"Awas aja kalo gue sampe sakit perut," ancamnya. "Eh iya, Bel, ini pembantu baru gue, namanya Lira." PAK!! Langsung saja kupukul bahunya. Enak saja aku dibilang pembantunya. "Salah ding, ini adik gue. Dia bilang, dia mau dikenalin sama lo, makanya dia sengaja bikinin kita makanan sama minuman." PAK!! Lagi-lagi tanganku melayang dan mendarat di bahunya. Jujur amat sih, omelku tanpa kata.
Cowok yang tengah duduk di dekat mesin PS itu cuma tertawa melihat tingkahku seraya mengangguk sebagai tanda perkenalan. Senangnya, aku langsung girang.
"Udah, jangan kebanyakan ngeliatin dia. Sana lo, kembali ke habitat lo." Axel segera mengusirku. Huh, menyebalkan.
Aku hanya duduk terpaku di depan televisi di ruang tengah. Satu jam, dua jam, tiga jam sudah berlalu. Sudah waktunya makan siang. "Mbok, mau makan dong, laper," seruku dari ruang tengah. Terdengar sahutan dari arah dapur dan Mbok Ati langsung menyiapkan makan siang. Santapan untuk siang ini adalah semangkuk mie bakso buatan Mbok Ati. Karena lapar, aku tak banyak mengeluh. Baru saja aku siap memasukkan satu bakso ke dalam mulut, Axel dan temannya menuruni anak tangga. Sepertinya mereka lagi membincangkan soal game yang sedang mereka mainkan, sampai-sampai aku nggak mengerti apa yang mereka obrolkan. "Udahan mainnya?" tanyaku yang tak jadi memasukkan bakso ke dalam mulutku.
"Mau makan dulu. Laper tau," jawab Axel dingin. "Mbok, bikinin makanan buat aku sama temen aku ya." Setelah itu, Axel dan Abel duduk-duduk di ruang makan. "Eh, jadi liburan lo gak ke mana-mana, Bel?"
"Nggak, gue di rumah aja. Makanya gue bosen banget di rumah." Ternyata suaranya begini toh, gumamku yang baru pertama kali mendengar suaranya. "Lo sendiri gak ke mana-mana?"
"Yah, kagak bisa ke mana-mana gue. Mesti nemenin setan kecil itu." Axel menunjukku.
"Eh, siapa yang lo maksud? Sembarangan aja," omelku jengkel.
"Yah, yang nyadar aja lah," sahut Axel. Uh, aku paling kesal dipermalukan di depan orang seperti ini. Untung aku lagi baik, jadi aku takkan terlalu marah diperlakukan seperti ini. "Terus besok lo mau ke sini lagi, Bel? Kita main game yang satu lagi, gimana?"
"Boleh juga. Besok sekalian deh, gue bawain punya gue." Aku hampir melonjak kegirangan mendengarnya. Dia mau datang lagi, pekikku bahagia dalam hati. Yesss!!!!!
to be continued...
Langganan:
Postingan (Atom)