8/29/2009

Between Girl and Boy 5

Jam setengah delapan aku baru saja membuka mataku dan melangkah keluar dari kamarku. Sudah kesiangan, batinku sambil menguap. Tidurku semalam pulas sekali, sampai-sampai tidur seperti orang yang tak lagi bernyawa. Dengan piyama kuning yang melekat di tubuhku dan dengan penampilan yang serba berantakan aku menuruni anak tangga menuju ruang makan untuk mencari-cari makanan. Cacing-cacing dalam perutku sudah bernyanyi kelaparan. Saat kedua mataku menangkap roti isi yang ada di atas meja makan, langsung saja aku duduk di kursi makan dan melahapnya tanpa melihat situasi. Ternyata ada Abel yang baru datang. Ia melihatku yang serba berantakan ini tengah melahap sarapanku dengan semangat. Oh tidak, memalukan sekali, pekikku dalam hati. "Gini nih, pemalas bangunnya siang-siang. Udah gitu, bukannya langsung mandi dan beres-beres, malah makan dengan lahap kayak orang rakus." Ledekan ini tak asing lagi di telingaku. Ini pasti keluar dari bibir pedas Axel, kakak laki-lakiku yang tak tahu perasaan.
Tanpa suara aku meninggalkan ruang makan, lalu bergegas ke dalam kamarku kembali untuk merapikan diriku yang berantakan. Mandi, berpakaian, lalu melanjutkan menghabiskan sarapanku yang masih tersisa. Sepertinya Abel dan Axel sudah masuk ke dalam kamar untuk bermain. Aku amat sangat menyesal karena Abel harus melihat keadaanku yang amat buruk. Malunya aku.
Bosan kembali menghantui hari-hariku. Benar-benar membosankan, keluhku. Kulangkahkan kakiku menaiki anak tangga dan mendekati pintu kamar Axel. Tiga ketukan cukup membuat Axel membuka pintu kamarnya. "Kenapa lagi?" tanyanya ketus.
"Bosen nih. Temenin gue jalan-jalan yuk, Xel. Please..." Aku memohon sedemikian rupa karena tak tahan dengan rasa bosan yang melandaku selama hampir seminggu ini. Masa liburanku seperti begini-begini saja?! Tak terima aku.
"Jalan-jalan? Ogah ah! Gue mau maen sama Abel. Sana, lo pergi aja sendiri. Ajak siapa kek, temen lo gitu."
"Pada lagi asyik sendiri. Gue sendirian nih. Please, Xel..." Kembali aku memohon.
"Ck, dibilangin ogah... sana, sana, ganggu aja lo!" Ia mengusirku. Terpaksa, aku harus kembali merasa bosan di ruang tengah.

Terdengar telepon berdering. Gadis yang tampak pucat itu segera mengangkatnya. "Halo..."
"Yang, ini aku. Kamu lagi di mana?"
"Aku masih di rumah. Kenapa?"
"Hm, malem ini aku mau ngajak kamu pergi, kamu bisa?"
"Duh, kayaknya nggak bisa deh. Aku lagi gak enak badan nih, dari tadi mual terus. Sori ya, Say."
"Kamu baik-baik aja? Aku anterin kamu ke dokter ya."
"Gak usah, aku gapapa kok. Paling cuma masuk angin aja. Istirahat bentar juga ntar sembuh."
"Beneran kamu gapapa?"
"Iya, beneran kok."
"Ya udah, cepet sembuh ya, Sayang."
Percakapan di telepon berakhir dan gadis itu kembali masuk ke dalam kamar mandi dengan terbirit-birit. Perutnya mual, wajahnya pucat pasi. Penuh tanda tanya di benaknya serta hatinya dihantui rasa takut yang begitu meluap-luap. Tangannya menggapai suatu alat yang disimpannya di dalam lemari gantung yang ada di dalam kamar mandi. Ada suatu perasaan aneh yang mencekam saat alat tersebut membuahkan hasil. Positif... dan gadis itu segera tersungkur di lantai seakan tak ada setitikpun kekuatan untuknya menopang berat tubuhnya.

Kumatikan televisi dan mulai mencari kesibukan. Kira-kira apa yang harus aku lakukan untuk membunuh rasa bosanku, otakku mulai berputar mencari ide. Sayangnya, tak ada satupun ide untuk menghilangkan rasa jenuhku selama liburan ini. Seharian penuh aku hanya terduduk di ruang tengah tanpa melakukan satupun hal yang berguna. "Xel, besok ke Dufan yuk. Gue bosen nih, di rumah terus."
"Hah? Ke Dufan? Hari libur gini? Rame kali, Lir."
"Yah, ke mana aja deh, yang penting hepi."
"Bentar, gue tanya Abel dulu. Kalo dia setuju ke Dufan, ya besok kita ke Dufan."
"Beneran, Xel?" Aku langsung kegirangan seperti anak kecil yang akan mendapatkan hadiah besar dari sinterklas.
"Iya, sabar. Gue tanya dulu." Aku tak sabar mendengar jawabannya. Semoga saja Abel setuju, aku mulai berdoa pada Tuhan dalam hati. Sekali ini saja, aku juga ingin banyak ngobrol dengan Abel di samping itu. "Bel, besok lo ada acara?"
"Hm, kagak kok. Kenapa emangnya, Xel?"
"Adik gue mau pergi ke Dufan. Katanya, bosen di rumah melulu. Lo mau join?"
"Hmm, boleh juga sih. Gue juga udah lama gak ke Dufan."
"Oke deh, berarti setuju ya. Ngumpul di rumah gue aja ya, jam sembilan."
"Sip."
Aku langsung buru-buru mendekati Axel yang baru saja menutup telepon. "Gimana, gimana, Abel mau ikut, Xel?" tanyaku penuh harap.
"Iya, dia mau ikut, tapi satu syarat."
"Apa syaratnya?"
"Dia gak mau lo ikut."
"Hah, kenapa? Emang gue salah apa, Xel? Serius lo?"
Axel nyengir kuda. "Bo'ong kok." PAAK!! Kupukul ia sekencang mungkin kali ini. "Aduh!! Sakit tau!! Besok gak jadi pergi ah!"
"Aaaahhh...," rengekku. "Sori deh, sori... sini, sini, gue elus. Cup cup cup, udah gapapa 'kan? Masih sakit ya?"
"Halah, apaan sih? Kayak anak kecil aja. Gue mau nelepon cewek gue dulu ah! Siapa tau dia mau ikut." Axel meninggalkan ruang tengah dan melangkah masuk ke dalam kamarnya. "Sayang, lagi apa?" Ia segera mengawali percakapan di telepon setelah yakin kalau pacarnyalah yang mengangkat telepon.
"Eum, lagi di luar, Xel. Kenapa?" Nada bicaranya terdengar serak.
"Kamu lagi sakit ya? Kok suaranya beda?"
"Nggak kok, aku gapapa. Kenapa, Xel?"
"Aku mau ngajak kamu ke Dufan besok, kamu bisa?"
"Dufan? Hmm, mungkin bisa. Jam berapa?"
"Pada ngumpul di rumah aku jam sembilan sih. Aku jemput kamu jam delapanan ya, gimana?"
"Oh, boleh aja kok."
"Kalo gitu besok aku jemput ke rumah kamu jam delapan ya."
"Iya, aku tunggu."
"Kamu udah makan?"
"Udah, barusan aja. Eh, Xel, udahan dulu ya. Aku lagi sibuk banget, sori ya."
"Iya, gapapa. Sampe ketemu besok ya, Sayang." Axel menghela nafas. "Kayaknya sibuk amat," gumamnya sendiri.

to be continued...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar