8/11/2009

Between Girl and Boy 1

Liburan kali ini benar-benar membosankan. Tidak ada satupun teman yang mengajakku jalan-jalan dan tidak ada satu orangpun yang menemani hari-hari kosongku. Tiap hari kujalani waktuku di rumah hanya dengan kakak yang begitu menjengkelkan karena keisengannya. "Xel, ada gak sih temen lo yang keren gitu, tapi masih single? Kenalin dong," celetukku bosan. Libur tiga minggu, tapi yang kulakukan hanya berpangku tangan di ruang tengah sambil ditemani acara-acara TV yang membosankan.
Kakakku bernama Axel. Umurnya lebih tua dua tahun dariku, makanya aku tak mau memanggilnya dengan embel-embel apapun. Ditambah lagi ia begitu menyebalkan kalau lagi kumat isengnya. "Ha? Kenapa lo tiba-tiba minta dikenalin kayak gitu? Haus kasih sayang lo?" ledeknya seperti biasa. Langsung saja kujitak kepalanya. Kesal.
"Bosen tau, di rumah kayak gini terus sepanjang liburan. Yah, nambah kenalan baru 'kan asyik juga. Ada gak, Xel?" Aku kembali bertanya padanya yang tengah duduk di atas karpet sambil bersandar pada kaki sofa nan empuk.
Cowok itu terdiam sebentar, lalu menjawab, "Ada sih, tapi gue ogah ah, kenalin ke lo. Bisa-bisa gue menanggung aib besar lagi." Uh, lagi-lagi cowok ini menjengkelkan. Ingin sekali kujitak kepalanya sekali lagi, tapi aku malas meladeninya.
"Serius nih, Xel. Gue bener-bener bosen liburan kayak gini terus. Gue butuh something new nih."
"Something new? Kesannya lo kayak lagi butuh ganja aja." Hufff... benar-benar makan hati ngomong sama sosok cowok ini. Kupasang tampang sebete mungkin karena memang aku jadi kesal mendengar responnya sedari tadi. Tidak ada yang ditanggapinya secara serius. "Hari ini temen gue mau dateng, mau main game PS terbaru yang gue beli. Ntar lo bikinin apa gitu buat nemenin gue main, ya?" Mendengar kalimat lanjutannya, mood-ku langsung berubah seketika. Ternyata kakakku punya sosok yang baik juga.
"Makasih ya, kakakku sayang," tuturku sambil memeluknya.
"Ih, apaan sih? Gue ogah lo peluk-peluk. Sana, sana, jauh-jauh lo dari gue. Ntar bisa-bisa orang nyangka gue itu pacar lo lagi. Hiiii!!"
"Ini 'kan di rumah, gapapa lagi. Lo aja yang lebay." Aku langsung menuju dapur, mencari-cari bahan untuk membuatkan kakakku tercinta (hoeeekkkk) dan temannya camilan dan minuman. Saat tengah membuatkan makanan, tiba-tiba bel rumah berbunyi. Mbok Ati yang membukakan pintu rumah untuk sang tamu. Aku belum sempat melihat siapa yang datang dan seperti apa orangnya, tapi aku mendengar suara cowok dari dapur. Itu pasti teman Axel, batinku girang. Dengan penuh semangat kubuatkan minuman yang paling enak yang mampu kubuat. Tak kuizinkan Mbok Ati membantuku karena aku ingin membuatnya dengan sepenuh hati.
Kuketuk pintu kamar Axel tiga kali. Sepertinya mereka sedang asyik berunding di dalam. Habis, kedengarannya gaduh sekali di dalam. "Ah, lo lagi. Bosen gue ngeliat tampang lo." Axel bertampang malas. Aku langsung menendang kakinya pelan. Biarkan aku masuk, wajahku berkata demikian.
"Nih, buat lo sama temen lo. Gue bikinin yang paling enak." Kuletakkan nampan berisi makanan dan minuman di atas meja kecil yang terletak tak jauh dari pintu kamar Axel.
"Awas aja kalo gue sampe sakit perut," ancamnya. "Eh iya, Bel, ini pembantu baru gue, namanya Lira." PAK!! Langsung saja kupukul bahunya. Enak saja aku dibilang pembantunya. "Salah ding, ini adik gue. Dia bilang, dia mau dikenalin sama lo, makanya dia sengaja bikinin kita makanan sama minuman." PAK!! Lagi-lagi tanganku melayang dan mendarat di bahunya. Jujur amat sih, omelku tanpa kata.
Cowok yang tengah duduk di dekat mesin PS itu cuma tertawa melihat tingkahku seraya mengangguk sebagai tanda perkenalan. Senangnya, aku langsung girang.
"Udah, jangan kebanyakan ngeliatin dia. Sana lo, kembali ke habitat lo." Axel segera mengusirku. Huh, menyebalkan.
Aku hanya duduk terpaku di depan televisi di ruang tengah. Satu jam, dua jam, tiga jam sudah berlalu. Sudah waktunya makan siang. "Mbok, mau makan dong, laper," seruku dari ruang tengah. Terdengar sahutan dari arah dapur dan Mbok Ati langsung menyiapkan makan siang. Santapan untuk siang ini adalah semangkuk mie bakso buatan Mbok Ati. Karena lapar, aku tak banyak mengeluh. Baru saja aku siap memasukkan satu bakso ke dalam mulut, Axel dan temannya menuruni anak tangga. Sepertinya mereka lagi membincangkan soal game yang sedang mereka mainkan, sampai-sampai aku nggak mengerti apa yang mereka obrolkan. "Udahan mainnya?" tanyaku yang tak jadi memasukkan bakso ke dalam mulutku.
"Mau makan dulu. Laper tau," jawab Axel dingin. "Mbok, bikinin makanan buat aku sama temen aku ya." Setelah itu, Axel dan Abel duduk-duduk di ruang makan. "Eh, jadi liburan lo gak ke mana-mana, Bel?"
"Nggak, gue di rumah aja. Makanya gue bosen banget di rumah." Ternyata suaranya begini toh, gumamku yang baru pertama kali mendengar suaranya. "Lo sendiri gak ke mana-mana?"
"Yah, kagak bisa ke mana-mana gue. Mesti nemenin setan kecil itu." Axel menunjukku.
"Eh, siapa yang lo maksud? Sembarangan aja," omelku jengkel.
"Yah, yang nyadar aja lah," sahut Axel. Uh, aku paling kesal dipermalukan di depan orang seperti ini. Untung aku lagi baik, jadi aku takkan terlalu marah diperlakukan seperti ini. "Terus besok lo mau ke sini lagi, Bel? Kita main game yang satu lagi, gimana?"
"Boleh juga. Besok sekalian deh, gue bawain punya gue." Aku hampir melonjak kegirangan mendengarnya. Dia mau datang lagi, pekikku bahagia dalam hati. Yesss!!!!!

to be continued...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar