Hampir dua minggu aku benar-benar mendiamkan Axel, demikian juga Axel. Ia memintaku untuk tidak mencampuri urusannya, jadi aku memilih untuk diam. Abel juga ikut diam karena merasa tak berhak tahu persoalan sahabatnya itu. Kami berdua bingung, tapi tak mampu melakukan apapun untuk memecahkan batu kebingungan itu. Uh, sebal!!
Tak seperti biasanya, hari ini Axel tetap di rumah walau jarum pendek pada jam di dinding rumahku menunjuk ke angka delapan. Tumben, kataku dalam hati. Aku ingin bertanya, tapi kukurungkan niatku itu. Jam setengah sepuluh lewat dua belas menit Axel mengeluarkan mobil dan pergi entah ke mana. Sementara aku hanya terduduk di ruang tengah seorang diri. Abel tidak lagi main kemari sejak kuceritakan puncak kemarahan Axel tempo hari. Sisa liburanku jadi kembali membosankan. Rasanya aku malas menjalani hari liburku yang seperti ini. Ini sungguh menyedihkan.
Mobil Axel terparkir rapi di depan rumah Vira yang tampak sepi. Hanya ada sebuah mobil sedan yang terparkir di dalam garasi rumahnya. Axel menekan bel rumah Vira dan tampak sesosok perempuan berbando ungu di depan daun pintu rumah. "Axel?" Ia tampak kaget melihat kehadiran pemuda tampan bernama Axel ini.
"Vira..." Senyumnya mengembang melihat Vira di depan matanya. "Kamu baik-baik aja 'kan?" tanyanya.
"I-iya kok. Kamu ngapain ke sini?"
"Mau jenguk kamu. Aku boleh masuk, Vir?" Vira membuka pagar rumah dan Axel segera memeluknya saat tak ada lagi penghalang antara dirinya dengan Vira, perempuan yang begitu disayanginya. "Aku seneng banget bisa ketemu kamu," begitu katanya. "Oh iya, sekarang aku udah kerja dan ini gaji pertama aku. Kamu pake aja ya." Axel melanjutkan.
"Eum... makasih, Xel, tapi..." Baru saja Vira ingin melanjutkan kalimatnya, seseorang muncul di belakang Axel. "Sayang, sori banget aku bikin kamu nunggu lama. Eh... ada temen kamu ya, Yang?" tanyanya sambil berjalan mendekati Vira. Kembali Vira melanjutkan kalimatnya yang sempat terpotong tadi. "Xel, maafin aku karena aku gak bisa terima ini." Vira mengembalikan sebuah amplop cokelat yang tadi Axel berikan padanya. "Ini calon suami aku... bentar lagi aku akan nikah dan..." Air mata mengalir di wajah Vira. Sementara Axel hanya terbengong mendengar pengakuan yang begitu mengejutkannya. Apa lagi ini?!
Jujur, aku prihatin melihat kondisi Axel yang kian memburuk. Ia jadi lebih suka mengurung diri di dalam kamar dan tidak mau keluar sedetikpun. Aku jadi kebingungan dan aku tak tahu apa yang harus kulakukan untuk menghiburnya. Apa lebih baik kalau kutelepon... "Bel..." Aku terisak begitu memanggilnya di telepon. Dan malam itu berakhir begitu saja.
Kedua mataku terlihat sembap dan bengkak. Semalaman aku menangis di dalam kamar. Dan hari ini aku berharap segalanya bisa terselesaikan. "Yang penting, jangan emosi." Abel mengingatkanku saat kami berada di dalam mobilnya.
"Semoga nggak emosi...," desisku pelan. Mobil Abel melaju kencang menuju suatu tempat yang menjadi tujuan utama kami.
Abel menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah yang tak pernah kukunjungi sebelumnya. Aku langsung turun dan menekan bel rumah tersebut. Sebelum aku benar-benar bertemu dengna pemilik rumah, aku menarik nafas panjang lalu menghembuskannya kembali. Semoga semuanya lancar. "Vira, ini Lira." Kuucapkan salam pembuka sebelum Vira membukakan pagar rumahnya.
"Eh, hai, Lir. Kenapa nih?" tanyanya sambil membukakan pagar.
"Boleh ngobrol?" Nada bicaraku masih terdengar ramah, walau sebenarnya hatiku mendidih.
"Silakan." Ia mengajakku dan Abel untuk masuk ke dalam rumahnya. Rumahnya cukup besar dan mewah. Banyak sekali piala yang terpajang di lemari kaca yang berada di ruang tamu. "Mau minum apa?"
"Gak usah repot-repot. Gue ke sini juga gak lama-lama kok." Kusunggingkan senyumku. Aku masih bisa bersabar nih.
"Eum... kalo gitu, mau ngobrolin apa nih? Kok keliatannya serius banget."
"Tentang Axel, kakak gue. Lo tau sesuatu tentang dia?" Aku bisa membacanya, air muka Vira seketika itu juga berubah drastis. "Vir, lo tau, kenapa belakangan ini dia jadi berubah?"
"Eh, sori banget, Lir, gue lagi gak mau ngomongin soal... Axel."
"Kenapa? Lo berdua berantem?"
"Bukan... eum..."
Aku mulai tak sabar dan akhirnya nada bicaraku mulai tegas. "Dia berubah karena lo?" Vira tak menjawabnya. "Lo tau selama ini dia pergi pagi pulang malem?" Sepertinya ia tak tahu tentang itu. "Lo tau apa yang dia lakuin?" Perempuan yang sejak tadi membisu itu hanya menggeleng. "Dia kerja sambilan. Dan lo tau kenapa dia kerja sambilan?"
"Gue gak tau apa-apa, Lir." Setelah lama membisu, akhirnya ia mulai angkat bicara.
"Jadi lo juga gak tau apa yang bikin Axel sampe gak mau keluar dari kamarnya?"
"Gue bilang, gue gak tau apa-apa."
"Kalo gitu, biar gue kasih tau ya. Dia kayak gitu karena lo!"
"Apa salah gue? Gue gak berbuat apa-apa kok."
"Brengsek lo, Vir!" makiku yang tak bisa lagi menguasai kemarahanku. "Gara-gara lo putusin Axel, dia jadi berubah. Habis lo bilang putus, lo dateng ke rumah gue dan nangis-nangis di depan Axel buat minta balik, tapi apa yang lo lakuin? Lo jalan sama cowok lain 'kan? Lo tuh bener-bener cewek paling brengsek yang pernah gue temuin, tau gak?" PLAK!!! Vira menampar pipiku.
"Jaga ucapan lo!"
"Lho? Gue gak merasa salah dengan ucapan gue. Emang kenyataannya begitu 'kan? Gue nyesel bisa kenal sama lo. Lo bener-bener memalukan kaum cewek!" Mulutku tak bisa kukuasai lagi. Rasanya kekesalan ini membuatku semakin sembarangan berkata-kata. Vira tak membalas lagi. Yang dilakukannya hanyalah menangis dan menangis. Cih!
to be continued...
9/16/2009
9/15/2009
Between Girl and Boy 10
Kutunggu kepulangan kakakku yang sejak pagi tak terlihat batang hidungnya hingga larut malam. Dan memang, ia pulang kembali ke rumah. Tapi penampilannya membuatku semakin bertanya-tanya. "Habis dari mana?" tanyaku ingin tahu dengan nada dingin sambil terduduk di ruang tengah.
Axel menoleh ke arahku dan dengan wajah tanpa senyum sedikitpun mulutnya melontarkan jawaban. "Dari luar," jawabnya dengan singkat. Jelas saja itu bukanlah jawaban yang membuatku puas.
"Dari luar mana? Lo pergi dari pagi, terus pulang malem dalam keadaan dekil kayak gini. Jawab yang jujur, lo dari mana, Xel?" Aku mulai emosi menghadapinya malam ini.
Dan aku juga tidak tahu kalau Axel akan semarah ini. "Jangan ikut campur urusan gue. Soal gue habis dari mana dan habis ngapain, itu bukan urusan lo, Lir," gertaknya lantang. Gertakkannya membuatku tersentak dan seketika hatiku seakan tersayat mendengarnya. Axel langsung meninggalkanku yang berdiri mematung di ruang tengah seorang diri. Apakah aku salah memerhatikan kakak laki-lakiku satu-satunya? Seolah Axel tak menganggapku adiknya, hatiku menciut.
Axel membersihkan dirinya yang penuh daki di dalam kamar mandi dengan sabun hingga ia terlihat bersih kembali. Rambutnya yang basah dibasuhnya dengan handuk kering miliknya yang berwarna oranye. Setelah yakin bahwa dirinya sudah tak lagi dekil seperti tadi, ia keluar dari kamar mandi dan mengurung diri di dalam kamar tidurnya. Aku tak tahu, apakah ia sudah makan atau belum. Aku juga tak tahu, ke mana ia hari ini. Dan mungkin aku memang tak boleh tahu tentang hal itu. Hufff... aku seperti orang asing di matanya.
"Jadi, lagi-lagi Axel gak keliatan lagi sejak tadi pagi?" Hari ini Abel main lagi ke rumahku. Tujuan utamanya sih, bertemu Axel. Tapi berhubung Axel tak ada, tujuannya beralih menjadi menemaniku di rumah. Kuanggukkan kepalaku, menjawab pertanyaan Abel tadi. Mulutku malas untuk bicara. Sementara otakku terus berputar dan bertanya, kenapa. "Apa perlu dimata-matain?"
Ide bagus, batinku menjerit. Tapi aku takut Axel marah lagi seperti kemarin malam. "Dia bilang, dia gak mau gue ikut campur urusannya. Kalo dia marah, gimana?"
"Ya, jangan sampe ketahuan kalo kita buntutin dia. Seenggaknya, tujuan kita buntutin dia 'kan cuma pengen tau aja, dia ngapain seharian." Ya, aku setuju dengan idenya. Aku benar-benar ingin tahu rahasia yang tengah Axel sembunyikan dariku, adiknya sendiri.
Pagi-pagi benar mataku sudah terbuka. Jantungku berdebar kencang sekali, deg-degan. Akan seperti apakah pencarian hari ini? Akankah berhasil? Ah, berserah sajalah. "Udah siap, Lir?" tanya Abel di telepon. Jam enam ia meneleponku.
"Yap, lo sendiri?"
"Udah. Gue udah mau sampe di rumah lo sih. Tapi, mending gue ngumpet dulu ya. Ntar kalo gue udah liat Axel, gue telepon lo lagi deh. Lo stand by aja ya."
"Sip." Kutunggu telepon dari Abel di dalam kamar. Sambil aku menunggu, aku sempat mendengar suara pintu kamar Axel terbuka dan langkah kakinya menuju kamar mandi, mungkin. Pasti ia mau siap-siap untuk pergi lagi. Hampir setengah jam ke depan, akhirnya Abel meneleponku kembali. "Dia udah nongol?" tanyaku gugup.
"Iya. Ayo, cepetan." Aku segera berlari menuruni anak tangga dan kutemui Abel tengah berdiri di depan pagar rumahku. Kali ini kami mengejarnya dengan motor Abel yang baru pertama kali kulihat. Kami benar-benar melakukannya, membuntuti kakakku sendiri diam-diam. Perasaanku jadi tak enak ketika Axel membelokkan motornya dan memarkirnya di depan gedung yang sedang dibangun. Ia melepas helmetnya dan masuk ke dalam gedung tersebut setelah mengunci motornya dengan benar.
"Pagi amat datengnya, Xel?" Salah seorang rekannya menyapanya pagi ini begitu ia melangkah masuk ke dalam.
"Iya, pagi-pagi 'kan harus semangat, ya gak?" tuturnya sambil tertawa kecil.
"Ih, Axel ngapain sih, di dalem?" Aku mulai jengkel.
"Satu-satunya jawaban yang terlintas di pikiran gue sih, dia kerja sambilan."
"Ha, kerja sambilan? Buat apaan?" Abel mengangkat kedua bahunya, tidak tahu. "Ck, samperin ke dalem aja, Bel."
"Eh, eh, eh... 'kan tujuan kita buntutin dia cuma sekedar pengen tau dia ke mana, Lir. Kalo lo samperin, ntar dia malah marah sama lo lagi. Ntar malah makin kacau."
"Tapi..." Aku sejujur-jujurnya tidak bisa terima Abel mencegahku, tapi memang ada benarnya juga sih. Aku nggak mau semua jadi kacau hanya gara-gara tindakanku yang gegabah. Harus segera kutemukan bagaimana cara mengorek kebenaran ini lebih dalam.
Malam ini kukumpulkan seluruh keberanianku untuk bicara baik-baik pada kakakku. "Xel, boleh ngobrol?" tanyaku perlahan.
"Ngobrolin apaan?" Seperti biasa, ketus. Tapi tak apalah.
"Hm... apa ajalah. Habis gue ngerasa, kayaknya udah lama banget gak ngobrol sama lo."
"Ah, lebay lo."
"Bukannya lebay. 'Kan dari pagi lo pergi melulu sampe malem. Jadi, wajar dong, kalo gue ngerasa kayak gitu." Axel kali ini tidak bersuara. "Lo ke mana aja sih, sampe-sampe ngebiarin gue sendiri di rumah?" Ia belum juga angkat bicara. "Xel, kalo lo lagi ada masalah atau lagi ada sesuatu, apa nggak sebaiknya lo berbagi sama gue? Gue 'kan adik lo, Xel. Lagian siapa tau gue bisa bantuin lo, walau kadang gue rada gak guna juga sih."
"Ah, siapa bilang gue lagi ada masalah? Gak kok." Masih saja mengelak, batinku kesal.
"Tapi gue ngerasa lho, makin lama lo jadi makin berubah. Lo jadi... pemurung."
"Sotoy lo," ledeknya lagi.
"Bukannya sok tau, tapi emang gue ngerasa gitu. Hmm... lo lagi perlu sesuatu ya, sampe kerja sambilan... ups!" Duh, keceplosan.
Sorot mata Axel langsung berubah. "Lo tau dari mana gue kerja sambilan?" tanyanya tegas.
"Eum... gak, gue cuma nebak aja..." Uh, aku tak mampu meyakinkannya.
"Jawab yang jujur, lo tau dari mana?"
"Itu... gak, gue..."
"Denger ya, Lir, mulai sekarang, berhenti ikut campur urusan gue. Bukannya gue udah pernah bilang sama lo ya, jangan ikut campur urusan gue!?"
"Bukannya mau ikut campur, Xel, tapi..."
"Diem!! Pokoknya mulai sekarang urus aja diri lo sendiri, ngerti?" Baru pertama kali aku melihat Axel sedemikian mengerikan, seperti kerasukan sesuatu. Hiii... ngeri.
to be continued...
Axel menoleh ke arahku dan dengan wajah tanpa senyum sedikitpun mulutnya melontarkan jawaban. "Dari luar," jawabnya dengan singkat. Jelas saja itu bukanlah jawaban yang membuatku puas.
"Dari luar mana? Lo pergi dari pagi, terus pulang malem dalam keadaan dekil kayak gini. Jawab yang jujur, lo dari mana, Xel?" Aku mulai emosi menghadapinya malam ini.
Dan aku juga tidak tahu kalau Axel akan semarah ini. "Jangan ikut campur urusan gue. Soal gue habis dari mana dan habis ngapain, itu bukan urusan lo, Lir," gertaknya lantang. Gertakkannya membuatku tersentak dan seketika hatiku seakan tersayat mendengarnya. Axel langsung meninggalkanku yang berdiri mematung di ruang tengah seorang diri. Apakah aku salah memerhatikan kakak laki-lakiku satu-satunya? Seolah Axel tak menganggapku adiknya, hatiku menciut.
Axel membersihkan dirinya yang penuh daki di dalam kamar mandi dengan sabun hingga ia terlihat bersih kembali. Rambutnya yang basah dibasuhnya dengan handuk kering miliknya yang berwarna oranye. Setelah yakin bahwa dirinya sudah tak lagi dekil seperti tadi, ia keluar dari kamar mandi dan mengurung diri di dalam kamar tidurnya. Aku tak tahu, apakah ia sudah makan atau belum. Aku juga tak tahu, ke mana ia hari ini. Dan mungkin aku memang tak boleh tahu tentang hal itu. Hufff... aku seperti orang asing di matanya.
"Jadi, lagi-lagi Axel gak keliatan lagi sejak tadi pagi?" Hari ini Abel main lagi ke rumahku. Tujuan utamanya sih, bertemu Axel. Tapi berhubung Axel tak ada, tujuannya beralih menjadi menemaniku di rumah. Kuanggukkan kepalaku, menjawab pertanyaan Abel tadi. Mulutku malas untuk bicara. Sementara otakku terus berputar dan bertanya, kenapa. "Apa perlu dimata-matain?"
Ide bagus, batinku menjerit. Tapi aku takut Axel marah lagi seperti kemarin malam. "Dia bilang, dia gak mau gue ikut campur urusannya. Kalo dia marah, gimana?"
"Ya, jangan sampe ketahuan kalo kita buntutin dia. Seenggaknya, tujuan kita buntutin dia 'kan cuma pengen tau aja, dia ngapain seharian." Ya, aku setuju dengan idenya. Aku benar-benar ingin tahu rahasia yang tengah Axel sembunyikan dariku, adiknya sendiri.
Pagi-pagi benar mataku sudah terbuka. Jantungku berdebar kencang sekali, deg-degan. Akan seperti apakah pencarian hari ini? Akankah berhasil? Ah, berserah sajalah. "Udah siap, Lir?" tanya Abel di telepon. Jam enam ia meneleponku.
"Yap, lo sendiri?"
"Udah. Gue udah mau sampe di rumah lo sih. Tapi, mending gue ngumpet dulu ya. Ntar kalo gue udah liat Axel, gue telepon lo lagi deh. Lo stand by aja ya."
"Sip." Kutunggu telepon dari Abel di dalam kamar. Sambil aku menunggu, aku sempat mendengar suara pintu kamar Axel terbuka dan langkah kakinya menuju kamar mandi, mungkin. Pasti ia mau siap-siap untuk pergi lagi. Hampir setengah jam ke depan, akhirnya Abel meneleponku kembali. "Dia udah nongol?" tanyaku gugup.
"Iya. Ayo, cepetan." Aku segera berlari menuruni anak tangga dan kutemui Abel tengah berdiri di depan pagar rumahku. Kali ini kami mengejarnya dengan motor Abel yang baru pertama kali kulihat. Kami benar-benar melakukannya, membuntuti kakakku sendiri diam-diam. Perasaanku jadi tak enak ketika Axel membelokkan motornya dan memarkirnya di depan gedung yang sedang dibangun. Ia melepas helmetnya dan masuk ke dalam gedung tersebut setelah mengunci motornya dengan benar.
"Pagi amat datengnya, Xel?" Salah seorang rekannya menyapanya pagi ini begitu ia melangkah masuk ke dalam.
"Iya, pagi-pagi 'kan harus semangat, ya gak?" tuturnya sambil tertawa kecil.
"Ih, Axel ngapain sih, di dalem?" Aku mulai jengkel.
"Satu-satunya jawaban yang terlintas di pikiran gue sih, dia kerja sambilan."
"Ha, kerja sambilan? Buat apaan?" Abel mengangkat kedua bahunya, tidak tahu. "Ck, samperin ke dalem aja, Bel."
"Eh, eh, eh... 'kan tujuan kita buntutin dia cuma sekedar pengen tau dia ke mana, Lir. Kalo lo samperin, ntar dia malah marah sama lo lagi. Ntar malah makin kacau."
"Tapi..." Aku sejujur-jujurnya tidak bisa terima Abel mencegahku, tapi memang ada benarnya juga sih. Aku nggak mau semua jadi kacau hanya gara-gara tindakanku yang gegabah. Harus segera kutemukan bagaimana cara mengorek kebenaran ini lebih dalam.
Malam ini kukumpulkan seluruh keberanianku untuk bicara baik-baik pada kakakku. "Xel, boleh ngobrol?" tanyaku perlahan.
"Ngobrolin apaan?" Seperti biasa, ketus. Tapi tak apalah.
"Hm... apa ajalah. Habis gue ngerasa, kayaknya udah lama banget gak ngobrol sama lo."
"Ah, lebay lo."
"Bukannya lebay. 'Kan dari pagi lo pergi melulu sampe malem. Jadi, wajar dong, kalo gue ngerasa kayak gitu." Axel kali ini tidak bersuara. "Lo ke mana aja sih, sampe-sampe ngebiarin gue sendiri di rumah?" Ia belum juga angkat bicara. "Xel, kalo lo lagi ada masalah atau lagi ada sesuatu, apa nggak sebaiknya lo berbagi sama gue? Gue 'kan adik lo, Xel. Lagian siapa tau gue bisa bantuin lo, walau kadang gue rada gak guna juga sih."
"Ah, siapa bilang gue lagi ada masalah? Gak kok." Masih saja mengelak, batinku kesal.
"Tapi gue ngerasa lho, makin lama lo jadi makin berubah. Lo jadi... pemurung."
"Sotoy lo," ledeknya lagi.
"Bukannya sok tau, tapi emang gue ngerasa gitu. Hmm... lo lagi perlu sesuatu ya, sampe kerja sambilan... ups!" Duh, keceplosan.
Sorot mata Axel langsung berubah. "Lo tau dari mana gue kerja sambilan?" tanyanya tegas.
"Eum... gak, gue cuma nebak aja..." Uh, aku tak mampu meyakinkannya.
"Jawab yang jujur, lo tau dari mana?"
"Itu... gak, gue..."
"Denger ya, Lir, mulai sekarang, berhenti ikut campur urusan gue. Bukannya gue udah pernah bilang sama lo ya, jangan ikut campur urusan gue!?"
"Bukannya mau ikut campur, Xel, tapi..."
"Diem!! Pokoknya mulai sekarang urus aja diri lo sendiri, ngerti?" Baru pertama kali aku melihat Axel sedemikian mengerikan, seperti kerasukan sesuatu. Hiii... ngeri.
to be continued...
9/14/2009
Between Girl and Boy 9
"Axel mana, Lir?" tanya Abel saat datang bermain ke rumahku. Ia sedang duduk tepat di sebelahku di sofa ruang tengah.
"Gak tau, dari pagi gak keliatan. Emang dia gak bilang apa-apa ke lo, Bel?" Sedikit sedih menerima kenyataan ini, aku dan Abel pacaran tapi tak seperti orang pacaran. Tidak pernah ada satu kata manis yang keluar dari bibir Abel, begitu pula aku. Tak mungkin aku yang memulai 'kan? Tengsin!
"Nggak sih. Dia juga gak bilang apa-apa ke lo?" Abel balik bertanya dan kujawab dengan sebuah gelengan pelan. Sebenarnya sih, aku tak begitu peduli soal kakak laki-lakiku yang satu itu. Kupikir, ia sudah cukup besar untuk menjaga dirinya baik-baik, jadi buat apa dikhawatirkan lagi? "Eum, mau jalan-jalan?" tawarnya mengganti topik pembicaraan.
"Eh, ke mana?" Tumben sekali, gumamku senang.
"Ya, ke mana aja yang lo mau. Lo maunya ke mana?"
"Ke mal, cari baju." Aku nyengir kuda.
"Ya udah, gue temenin." Aku buru-buru ke kamarku dan mengganti pakaianku. Ini kencan ke duaku, tuturku di depan cermin. "Udah?" tanyanya saat kedua matanya menangkap sosokku yang sedang menuruni anak tangga dengan lincah.
"Yap," jawabku mantap. Aku memakai kaos bergaris dan celana jins hitam panjang bermerk T2000.
Dengan mobil jazz biru milik Abel, kami berdua pergi menuju tempat tujuan. Jalanan sepi sekali karena sedang libur panjang. Jadi, pasti banyak yang berlibur ke luar negeri atau ke luar kota.
"Nelepon siapa sih? Kayaknya dari tadi sibuk amat." Aku jadi penasaran melihatnya dari tadi sibuk dengan telepon genggam pribadinya.
"Gue lagi nyoba nelepon Axel."
"Buat?"
"Lah, emang lo gak khawatir sama kakak lo sendiri, Lir?"
"Ya ampun, dia bukan anak kecil lagi kali. Ngapain dikhawatirin sih?" Aku mulai kesal karena... cemburu? Oh bukan, nggak mungkin aku cemburu cuma gara-gara begituan. Childish sekali.
"Emang sih, tapi..."
"Ya udahlah. Gak usah ngebahas begituan lagi." Kupotong kalimat Abel dengan nada ketus. Dan kami berdua sama-sama terbungkam.
Aku memutuskan untuk berpura-pura, seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya. Aku ingin menikmati kencan ke duaku ini dengan Abel. Banyak pasangan yang kutemukan di dalam mal ini. Dan salahkah aku kalau aku iri melihat kebanyakan dari mereka terlihat dekat sekali dengan pasangannya masing-masing? Kubandingkan dengan diriku, aku dan Abel malah lebih terlihat sebagai teman biasa. Kami berjalan berjauh-jauhan, seperti sedang saling menghindar. Uh, lama-lama kesal juga menghadapi kenyataan pahit ini.
"Eh, liat deh, Bel. Bajunya bagus gak?" tanyaku mencairkan suasana hening yang tercipta sejak dalam perjalanan menuju kemari.
Abel terlihat dingin dan menjawabnya hanya dengan sebuah senyuman kering.
"Cocok gak?" Kembali aku bertanya padanya, tapi ia hanya menganggukkan kepalanya satu kali dengan perlahan. Awalnya, kuacuhkan sikap dinginnya itu. Tapi lama-lama aku jadi tak tahan sendiri. Geram melihatnya. "Kenapa sih? Masih marah soal tadi ya?"
"Marah soal apaan sih?" Nada bicaranya meninggi, seolah benar-benar masih marah padaku.
"Lo masih mikirin soal Axel?"
"Gak, biasa aja."
"Bohong. Kalo biasa aja, kenapa dari tadi cemberut gitu sih?"
"Siapa juga yang cemberut? Lo kenapa sih, sentimen banget."
"Lo tuh, yang sentimen. Dari tadi keliatan lesu gitu, tapi kalo gue tanya, lo jawab gapapa. Terus nada bicaranya ngeselin banget lagi."
"Jadi, gue mesti gimana?"
"Yaaa... eh, itu 'kan..." Aku langsung tersentak saat melihat sosok seseorang yang kukenal. "Vira?" desisku kaget.
"Mana?" Abel jadi ikutan ingin melihat. "Eh, iya, itu ceweknya Axel. Dia bareng Axel?"
"Bukan, itu bukan Axel. Gue yakin banget, itu bukan Axel. Samperin aja, Bel." Aku sudah melangkah maju tiga langkah, tapi Abel langsung menghambat langkah kakiku.
"Dari jauh aja, Lir. Jangan sampe dia tau kita di sini." Kali ini, kuturuti apa katanya. Mungkin memang harus dari jauh saja. Setidaknya untuk memastikan siapa lelaki yang ada di sisinya saat ini.
"Iya, bener, itu bukan Axel. Wah, ini sih, kacau." Aku geleng-geleng kepala melihat kenyataan ini. Gila!
"Udahlah, Lir. Jangan dibuntutin terus. Udah selesai jadi mata-matanya." Abel mencegahku untuk bertindak lebih jauh. Sebal sih, tapi ya sudahlah. Aku tahu, Axel dan Vira sudah putus. Tapi firasatku mengatakan bahwa tujuan Vira datang ke rumahku semalam adalah untuk berbaikkan. Kalau memang benar untuk berbaikkan, kok sekarang pergi dengan cowok lain? Itu yang menjadi sebuah tanda tanya besar di kepalaku. Ah, pusing.
to be continued...
"Gak tau, dari pagi gak keliatan. Emang dia gak bilang apa-apa ke lo, Bel?" Sedikit sedih menerima kenyataan ini, aku dan Abel pacaran tapi tak seperti orang pacaran. Tidak pernah ada satu kata manis yang keluar dari bibir Abel, begitu pula aku. Tak mungkin aku yang memulai 'kan? Tengsin!
"Nggak sih. Dia juga gak bilang apa-apa ke lo?" Abel balik bertanya dan kujawab dengan sebuah gelengan pelan. Sebenarnya sih, aku tak begitu peduli soal kakak laki-lakiku yang satu itu. Kupikir, ia sudah cukup besar untuk menjaga dirinya baik-baik, jadi buat apa dikhawatirkan lagi? "Eum, mau jalan-jalan?" tawarnya mengganti topik pembicaraan.
"Eh, ke mana?" Tumben sekali, gumamku senang.
"Ya, ke mana aja yang lo mau. Lo maunya ke mana?"
"Ke mal, cari baju." Aku nyengir kuda.
"Ya udah, gue temenin." Aku buru-buru ke kamarku dan mengganti pakaianku. Ini kencan ke duaku, tuturku di depan cermin. "Udah?" tanyanya saat kedua matanya menangkap sosokku yang sedang menuruni anak tangga dengan lincah.
"Yap," jawabku mantap. Aku memakai kaos bergaris dan celana jins hitam panjang bermerk T2000.
Dengan mobil jazz biru milik Abel, kami berdua pergi menuju tempat tujuan. Jalanan sepi sekali karena sedang libur panjang. Jadi, pasti banyak yang berlibur ke luar negeri atau ke luar kota.
"Nelepon siapa sih? Kayaknya dari tadi sibuk amat." Aku jadi penasaran melihatnya dari tadi sibuk dengan telepon genggam pribadinya.
"Gue lagi nyoba nelepon Axel."
"Buat?"
"Lah, emang lo gak khawatir sama kakak lo sendiri, Lir?"
"Ya ampun, dia bukan anak kecil lagi kali. Ngapain dikhawatirin sih?" Aku mulai kesal karena... cemburu? Oh bukan, nggak mungkin aku cemburu cuma gara-gara begituan. Childish sekali.
"Emang sih, tapi..."
"Ya udahlah. Gak usah ngebahas begituan lagi." Kupotong kalimat Abel dengan nada ketus. Dan kami berdua sama-sama terbungkam.
Aku memutuskan untuk berpura-pura, seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya. Aku ingin menikmati kencan ke duaku ini dengan Abel. Banyak pasangan yang kutemukan di dalam mal ini. Dan salahkah aku kalau aku iri melihat kebanyakan dari mereka terlihat dekat sekali dengan pasangannya masing-masing? Kubandingkan dengan diriku, aku dan Abel malah lebih terlihat sebagai teman biasa. Kami berjalan berjauh-jauhan, seperti sedang saling menghindar. Uh, lama-lama kesal juga menghadapi kenyataan pahit ini.
"Eh, liat deh, Bel. Bajunya bagus gak?" tanyaku mencairkan suasana hening yang tercipta sejak dalam perjalanan menuju kemari.
Abel terlihat dingin dan menjawabnya hanya dengan sebuah senyuman kering.
"Cocok gak?" Kembali aku bertanya padanya, tapi ia hanya menganggukkan kepalanya satu kali dengan perlahan. Awalnya, kuacuhkan sikap dinginnya itu. Tapi lama-lama aku jadi tak tahan sendiri. Geram melihatnya. "Kenapa sih? Masih marah soal tadi ya?"
"Marah soal apaan sih?" Nada bicaranya meninggi, seolah benar-benar masih marah padaku.
"Lo masih mikirin soal Axel?"
"Gak, biasa aja."
"Bohong. Kalo biasa aja, kenapa dari tadi cemberut gitu sih?"
"Siapa juga yang cemberut? Lo kenapa sih, sentimen banget."
"Lo tuh, yang sentimen. Dari tadi keliatan lesu gitu, tapi kalo gue tanya, lo jawab gapapa. Terus nada bicaranya ngeselin banget lagi."
"Jadi, gue mesti gimana?"
"Yaaa... eh, itu 'kan..." Aku langsung tersentak saat melihat sosok seseorang yang kukenal. "Vira?" desisku kaget.
"Mana?" Abel jadi ikutan ingin melihat. "Eh, iya, itu ceweknya Axel. Dia bareng Axel?"
"Bukan, itu bukan Axel. Gue yakin banget, itu bukan Axel. Samperin aja, Bel." Aku sudah melangkah maju tiga langkah, tapi Abel langsung menghambat langkah kakiku.
"Dari jauh aja, Lir. Jangan sampe dia tau kita di sini." Kali ini, kuturuti apa katanya. Mungkin memang harus dari jauh saja. Setidaknya untuk memastikan siapa lelaki yang ada di sisinya saat ini.
"Iya, bener, itu bukan Axel. Wah, ini sih, kacau." Aku geleng-geleng kepala melihat kenyataan ini. Gila!
"Udahlah, Lir. Jangan dibuntutin terus. Udah selesai jadi mata-matanya." Abel mencegahku untuk bertindak lebih jauh. Sebal sih, tapi ya sudahlah. Aku tahu, Axel dan Vira sudah putus. Tapi firasatku mengatakan bahwa tujuan Vira datang ke rumahku semalam adalah untuk berbaikkan. Kalau memang benar untuk berbaikkan, kok sekarang pergi dengan cowok lain? Itu yang menjadi sebuah tanda tanya besar di kepalaku. Ah, pusing.
to be continued...
9/09/2009
Between Girl and Boy 8
Axel terduduk lemas di sofa ruang tengah dengan pandangan kosong ke depan. Aku baru saja selesai mandi sore ini dan kembali menuju ruang tengah yang sepi. "Xel, kenapa lo?" tanyaku sambil menyikut bahunya. Tak biasanya ia diam seperti ini. Biasanya aku pasti jadi bahan cemoohannya tiap menit, sampai-sampai aku tak tahan berada di dekatnya.
"Hm... nggak papa kok. Emang gue kenapa?" tanyanya balik dengan ekspresi yang tengah menyembunyikan sesuatu dariku, adik kandungnya sendiri.
"Alah, gak usah pura-pura deh. Lo lagi punya masalah 'kan?"
"Kagak kok. Sotoy lo," makinya lagi.
"...gue ini bukan anak kecil yang bisa lo bego-begoin. Dari tampang lo keliatan kok, lo lagi ada masalah. Ceritalah, Xel. Gue 'kan adik lo, masa gue ga boleh sih, jadi tempat penampungan curhat lo? Padahal selama ini kalo ada apa-apa, gue suka cerita ke lo 'kan?"
Cowok bertampang lusuh itu menoleh ke arahku. "Ya itu 'kan salah lo sendiri, Lir. Siapa suruh cerita-cerita ke gue? Gue gak minta lo cerita 'kan?"
Jujur, aku sedikit merasa tersinggung saat kakakku yang sebenarnya aku sayangi bilang begitu, tapi yah, mungkin dalam hal ini aku tak boleh ikut campur. Ya sudahlah, aku akan diam dan membiarkannya untuk sesaat. Aku mulai mencari kesibukan di ruang tengah selain menonton televisi. Kubongkar majalah-majalah yang menumpuk di dalam rak dan mencoba mencari-cari resep makanan yang unik untuk dicoba.
"Gue sama Vira putus, Lir." Satu kalimat yang tiba-tiba terlontar dari bibir Axel cukup membuatku syok seketika.
"Putus? Kapan?"
"Dua hari yang lalu."
"Dia mutusin lo atau..."
Axel tersenyum pahit. "Gak mungkin gue mutusin dia, Lir. Gue sayang banget sama dia."
"Jadi dia yang mutusin lo?" Ia menganggukkan kepalanya, membenarkan dugaanku. "Alasannya?"
"No reason." Gokil, seruku dalam hati. "Sampe sekarang gue juga belom tau kenapa dia mutusin gue. Waktu itu gue udah sempet nanya ke dia, tapi dia bilang kalo dia gak bisa kasih tau alasannya ke gue. Tapi gue rasa, dia mutusin gue karena dia udah punya yang laen. Yah, intinya sih, dia ada maen di belakang gue."
"Gila juga tuh cewek. Eum... tapi, Xel, boleh gue jujur?"
"Apa?" Nada bicaranya melemah dan ini untuk pertama kalinya ia seperti ini.
"Lo inget 'kan, gue pernah cerita ke lo soal kisah pasangan yang hot banget di mal waktu itu?" Dua kali Axel menganggukkan kepalanya. "Tampang ceweknya mirip dia...," desisku pelan.
Axel menghela nafas dengan berat. "Mungkin dugaan gue emang bener ya." Aku tak menyangka kalau ternyata cinta itu bisa melemahkan seorang seperti kakakku. Hebat juga.
"Udahlah, Xel, cewek gak cuma dia doang. Masih banyak cewek yang lebih baik dari Vira. Lagian sekarang lo udah tau 'kan, belangnya dia kayak apa. Mendingan cari yang lain aja, Xel."
"Ngomong sih, gampang, Lir. Ngelakuinnya yang susah." Iya sih, aku ikut membenarkan dalam hati.
"Hai, say, ada apa nih, tiba-tiba manggil aku ke sini?" Cowok berkemeja biru itu mengecup pipi cewek yang sudah lama duduk di meja nomor 12 yang ada di sudut kafe, setelah itu baru ikut duduk di hadapan si cewek.
Jantung cewek berambut panjang itu berdegup begitu kencang. Gugup. "Eh, Nik, aku perlu ngomong sama kamu. Maksudku, ada yang mau aku ngomongin ke kamu."
"Oh ya, mau ngomong apa? Ngomong aja, aku dengerin kok."
Ia membetulkan posisi duduknya untuk melepas ketegangannya sedikit. "Pertama... aku mau kasih tau kalo akhirnya cowok itu udah nggak akan ngeganggu aku lagi..."
"Oh, itu bagus. Karena aku gak suka kalo dia deketin kamu. Terus?"
"Yang ke dua..." Cewek itu semakin gugup. Kedua tangannya saling meremas. Keringat dingin membasahi kedua telapak tangannya.
"Apa?" Sepertinya cowok ini tak sabar untuk mendengar kabar yang akan pacarnya sampaikan.
"Niko... aku hamil..." Suaranya terdengar berat, ia hampir menangis saat mengucapkan kalimat terakhir ini.
"Bohong." Dengan enteng, cowok bernama Niko ini mengelak. "Kamu jangan suka bercanda kayak gini, Vir. Aku nggak suka lho."
Cewek itu menggeleng mantap sambil berujar, "Aku nggak bohong, Nik. Aku nggak lagi bercanda." Air matanya mulai membasahi kedua pipinya.
"Vira, jangan main-main kamu. Kamu tau 'kan, aku lagi punya banyak masalah dan aku gak mungkin nikahin kamu karena kamu hamil kayak gini." Niko mulai cemas dan sesaat ia terdiam untuk berpikir. Sementara pacarnya, Vira, hanya terisak menantikan pertanggungjawaban dari sosok Niko. "Oke, aku putuskan untuk gugurin kandungan itu." Vira terhenyak mendengar keputusan gila yang dibuat pacarnya.
"Kamu gila ya!? Ini anak kamu juga, Nik."
"Eits, belom tentu 'kan? Aku gak yakin kalo itu murni anak aku. Bisa aja 'kan, itu anak cowok lain yang pernah tidur sama kamu."
PLAAAKKK!!! Spontan, tangan Vira melayang dan sebuah tamparan kencang mendarat di pipi Niko, ayah dari janin yang tengah dikandungnya. Setelah itu, ia pergi meninggalkan kafe sambil menutupi wajahnya yang basah akan air mata.
Bel rumahku berbunyi berkali-kali. Saat pintu sudah dibukakan, tiba-tiba Vira muncul di ruang tengah dengan wajah berantakan di hadapan kami, aku dan Axel. Terang saja itu membuat Axel terkejut sekaligus marah. "Ngapain kamu ke sini lagi?" tanyanya ketus.
Vira langsung berlari dan memeluk kakakku sambil terus terisak. Tak ada satu katapun yang terucap saat itu. Axel yang tadinya mencoba untuk bersikap dingin, segera luruh saat Vira memeluknya. Ia menenangkan mantan pacarnya setelah menyuruhku meninggalkan mereka berdua. Aku tak setuju, tapi semoga saja tidak terjadi sesuatu yang mengacaukan.
"Vira, tenang... kamu kenapa?" Nada bicara Axel melembut. Sedapat mungkin ia menenangkan mantan kekasihnya yang sesungguhnya ingin dilupakannya.
"Axel... maafin aku... aku bener-bener minta maaf karena aku udah ninggalin kamu...," katanya sambil terisak. "Aku nyesel banget..." Axel sepertinya tak tahan dengan permintaan maaf Vira ini.
"Iya, aku udah maafin kok... kamu jangan nangis lagi ya."
Vira mulai mencoba untuk tenang dan mereka berbincang di ruang tengah berdua.
"Sebenernya ada apa sih? Kok kamu nangis?" Axel mulai bertanya baik-baik saat Vira mulai tenang.
"Xel, sebenernya ada yang aku sembunyiin dari kamu..."
Deg! "Soal apa?" tanyanya ingin segera tahu.
"Banyak... dan aku yakin, kalo aku cerita, kamu pasti gak akan maafin aku."
Axel menahan nafas sejenak, berpikir, lalu mulai angkat bicara. "Aku mau denger."
"Tapi aku mohon, jangan marah..."
"Bilang aja."
"Waktu kita masih jadian, aku... aku emang selingkuh." Axel tidak begitu terkejut soal ini karena memang dirinya sudah menduga-duga sebelumnya. Dan ternyata dugaannya 100% tepat. "Terus... sekarang aku... aku hamil..." Tidak ada yang bisa menggambarkan bagaimana perasaan Axel saat mendengar kabar itu. Hancur berkeping-keping, bahkan tak berbentuk lagi.
to be continued...
"Hm... nggak papa kok. Emang gue kenapa?" tanyanya balik dengan ekspresi yang tengah menyembunyikan sesuatu dariku, adik kandungnya sendiri.
"Alah, gak usah pura-pura deh. Lo lagi punya masalah 'kan?"
"Kagak kok. Sotoy lo," makinya lagi.
"...gue ini bukan anak kecil yang bisa lo bego-begoin. Dari tampang lo keliatan kok, lo lagi ada masalah. Ceritalah, Xel. Gue 'kan adik lo, masa gue ga boleh sih, jadi tempat penampungan curhat lo? Padahal selama ini kalo ada apa-apa, gue suka cerita ke lo 'kan?"
Cowok bertampang lusuh itu menoleh ke arahku. "Ya itu 'kan salah lo sendiri, Lir. Siapa suruh cerita-cerita ke gue? Gue gak minta lo cerita 'kan?"
Jujur, aku sedikit merasa tersinggung saat kakakku yang sebenarnya aku sayangi bilang begitu, tapi yah, mungkin dalam hal ini aku tak boleh ikut campur. Ya sudahlah, aku akan diam dan membiarkannya untuk sesaat. Aku mulai mencari kesibukan di ruang tengah selain menonton televisi. Kubongkar majalah-majalah yang menumpuk di dalam rak dan mencoba mencari-cari resep makanan yang unik untuk dicoba.
"Gue sama Vira putus, Lir." Satu kalimat yang tiba-tiba terlontar dari bibir Axel cukup membuatku syok seketika.
"Putus? Kapan?"
"Dua hari yang lalu."
"Dia mutusin lo atau..."
Axel tersenyum pahit. "Gak mungkin gue mutusin dia, Lir. Gue sayang banget sama dia."
"Jadi dia yang mutusin lo?" Ia menganggukkan kepalanya, membenarkan dugaanku. "Alasannya?"
"No reason." Gokil, seruku dalam hati. "Sampe sekarang gue juga belom tau kenapa dia mutusin gue. Waktu itu gue udah sempet nanya ke dia, tapi dia bilang kalo dia gak bisa kasih tau alasannya ke gue. Tapi gue rasa, dia mutusin gue karena dia udah punya yang laen. Yah, intinya sih, dia ada maen di belakang gue."
"Gila juga tuh cewek. Eum... tapi, Xel, boleh gue jujur?"
"Apa?" Nada bicaranya melemah dan ini untuk pertama kalinya ia seperti ini.
"Lo inget 'kan, gue pernah cerita ke lo soal kisah pasangan yang hot banget di mal waktu itu?" Dua kali Axel menganggukkan kepalanya. "Tampang ceweknya mirip dia...," desisku pelan.
Axel menghela nafas dengan berat. "Mungkin dugaan gue emang bener ya." Aku tak menyangka kalau ternyata cinta itu bisa melemahkan seorang seperti kakakku. Hebat juga.
"Udahlah, Xel, cewek gak cuma dia doang. Masih banyak cewek yang lebih baik dari Vira. Lagian sekarang lo udah tau 'kan, belangnya dia kayak apa. Mendingan cari yang lain aja, Xel."
"Ngomong sih, gampang, Lir. Ngelakuinnya yang susah." Iya sih, aku ikut membenarkan dalam hati.
"Hai, say, ada apa nih, tiba-tiba manggil aku ke sini?" Cowok berkemeja biru itu mengecup pipi cewek yang sudah lama duduk di meja nomor 12 yang ada di sudut kafe, setelah itu baru ikut duduk di hadapan si cewek.
Jantung cewek berambut panjang itu berdegup begitu kencang. Gugup. "Eh, Nik, aku perlu ngomong sama kamu. Maksudku, ada yang mau aku ngomongin ke kamu."
"Oh ya, mau ngomong apa? Ngomong aja, aku dengerin kok."
Ia membetulkan posisi duduknya untuk melepas ketegangannya sedikit. "Pertama... aku mau kasih tau kalo akhirnya cowok itu udah nggak akan ngeganggu aku lagi..."
"Oh, itu bagus. Karena aku gak suka kalo dia deketin kamu. Terus?"
"Yang ke dua..." Cewek itu semakin gugup. Kedua tangannya saling meremas. Keringat dingin membasahi kedua telapak tangannya.
"Apa?" Sepertinya cowok ini tak sabar untuk mendengar kabar yang akan pacarnya sampaikan.
"Niko... aku hamil..." Suaranya terdengar berat, ia hampir menangis saat mengucapkan kalimat terakhir ini.
"Bohong." Dengan enteng, cowok bernama Niko ini mengelak. "Kamu jangan suka bercanda kayak gini, Vir. Aku nggak suka lho."
Cewek itu menggeleng mantap sambil berujar, "Aku nggak bohong, Nik. Aku nggak lagi bercanda." Air matanya mulai membasahi kedua pipinya.
"Vira, jangan main-main kamu. Kamu tau 'kan, aku lagi punya banyak masalah dan aku gak mungkin nikahin kamu karena kamu hamil kayak gini." Niko mulai cemas dan sesaat ia terdiam untuk berpikir. Sementara pacarnya, Vira, hanya terisak menantikan pertanggungjawaban dari sosok Niko. "Oke, aku putuskan untuk gugurin kandungan itu." Vira terhenyak mendengar keputusan gila yang dibuat pacarnya.
"Kamu gila ya!? Ini anak kamu juga, Nik."
"Eits, belom tentu 'kan? Aku gak yakin kalo itu murni anak aku. Bisa aja 'kan, itu anak cowok lain yang pernah tidur sama kamu."
PLAAAKKK!!! Spontan, tangan Vira melayang dan sebuah tamparan kencang mendarat di pipi Niko, ayah dari janin yang tengah dikandungnya. Setelah itu, ia pergi meninggalkan kafe sambil menutupi wajahnya yang basah akan air mata.
Bel rumahku berbunyi berkali-kali. Saat pintu sudah dibukakan, tiba-tiba Vira muncul di ruang tengah dengan wajah berantakan di hadapan kami, aku dan Axel. Terang saja itu membuat Axel terkejut sekaligus marah. "Ngapain kamu ke sini lagi?" tanyanya ketus.
Vira langsung berlari dan memeluk kakakku sambil terus terisak. Tak ada satu katapun yang terucap saat itu. Axel yang tadinya mencoba untuk bersikap dingin, segera luruh saat Vira memeluknya. Ia menenangkan mantan pacarnya setelah menyuruhku meninggalkan mereka berdua. Aku tak setuju, tapi semoga saja tidak terjadi sesuatu yang mengacaukan.
"Vira, tenang... kamu kenapa?" Nada bicara Axel melembut. Sedapat mungkin ia menenangkan mantan kekasihnya yang sesungguhnya ingin dilupakannya.
"Axel... maafin aku... aku bener-bener minta maaf karena aku udah ninggalin kamu...," katanya sambil terisak. "Aku nyesel banget..." Axel sepertinya tak tahan dengan permintaan maaf Vira ini.
"Iya, aku udah maafin kok... kamu jangan nangis lagi ya."
Vira mulai mencoba untuk tenang dan mereka berbincang di ruang tengah berdua.
"Sebenernya ada apa sih? Kok kamu nangis?" Axel mulai bertanya baik-baik saat Vira mulai tenang.
"Xel, sebenernya ada yang aku sembunyiin dari kamu..."
Deg! "Soal apa?" tanyanya ingin segera tahu.
"Banyak... dan aku yakin, kalo aku cerita, kamu pasti gak akan maafin aku."
Axel menahan nafas sejenak, berpikir, lalu mulai angkat bicara. "Aku mau denger."
"Tapi aku mohon, jangan marah..."
"Bilang aja."
"Waktu kita masih jadian, aku... aku emang selingkuh." Axel tidak begitu terkejut soal ini karena memang dirinya sudah menduga-duga sebelumnya. Dan ternyata dugaannya 100% tepat. "Terus... sekarang aku... aku hamil..." Tidak ada yang bisa menggambarkan bagaimana perasaan Axel saat mendengar kabar itu. Hancur berkeping-keping, bahkan tak berbentuk lagi.
to be continued...
9/05/2009
Between Girl and Boy 7
Hari ini berakhir dengan penuh kebahagiaan dalam hatiku. Siapa yang menyangka kalau Abel akan memintaku untuk menjadi pacarnya dengan cara seperti itu. Setiap kali mengenangnya, aku jadi merasa geli sendiri.
Uh, aku kesal karena waktu begitu cepat berlalu. Pada akhirnya, kami semua harus segera pulang karena tempat ini akan segera ditutup. Padahal aku masih ingin menikmati kebersamaanku dengan Abel di sini. "Eh, mau mampir ke toko cinderamata dulu gak?" tawar Abel semangat. Tangan kirinya menggandeng tangan kananku tiba-tiba. Deg! Kalau keadaan sedang sepi dan hening, suara debaran jantung ini pasti kedengaran.
"Gue ke mobil dulu aja ya, Bel." Tumben, gumamku dalam hati. Tapi aku takkan peduli. Axel dan Vira, pacarnya, melangkah bersamaan menuju mobil. Sementara aku dan Abel, kami berdua masih mampir ke kios yang berisikan oleh-oleh dari tempat bermain ini.
Begitu banyak boneka nan lucu dan imut yang terpajang di atas kaca. "Lo mau, Lir?" tanyanya yang seakan tahu kalau aku menginginkannya.
Sebelum menjawab, aku nyengir dulu. "Gak lah, gue udah punya banyak boneka di rumah."
Abel mengambil salah satu boneka yang kuinginkan sejujurnya dan membawanya ke tempat kasir yang ada di tengah ruangan, lalu membayarnya dengan uang cash. Setelah boneka itu dimasukkan ke dalam kantong plastik yang berlogokan boneka Dufan, cowok cool itu langsung menyodorkannya padaku. "Nih, buat lo." Senyumnya mengembang. "Kenang-kenangan...," begitu lanjutnya.
"Serius?" Aku jadi grogi sendiri menerima hadiah darinya.
"Iya, beneran," jawabnya sambil menganggukkan kepala dan tersenyum padaku. Senangnyaaaa!!!!
Axel duduk di balik stir kemudi, sedangkan Vira duduk di sebelahnya. Pertamanya, mereka hanya diam dalam keheningan selama beberapa menit. Hingga pada menit ke empat, akhirnya Axel memutuskan untuk memecah keheningan yang tercipta dalam mobil. "Boleh aku tau, kenapa kamu mutusin aku?" tanyanya baik-baik. Sayangnya, Vira tidak berkata apa-apa. Seolah jawaban itu tidak ada. "Vira, aku sayang sama kamu..." Ia mendesis.
"Sori, Xel, aku gak bisa jawab pertanyaan kamu."
"Kenapa?" Axel mulai naik pitam. "Seenaknya aja kamu mutusin aku, tapi kamu gak punya alasan untuk itu? Gak logis banget."
"Aku... aku bukannya gak punya alasan, tapi..."
"Tapi apa, Vir?"
"...tapi aku gak bisa kasih tau alasannya ke kamu sekarang...," jawabnya dengan suara yang hampir tak terdengar.
Axel kembali mengatupkan bibirnya selama dua menit, lebih dari itu ia mulai angkat bicara dengan suara bergetar. "Apa jangan-jangan... kamu main di belakang aku?" Sorot matanya menajam ke arah Vira yang terus tertunduk sejak tadi. Dan ia tak menjawabnya lagi. "Vira, kamu bener-bener selingkuh?" Entah apa yang membuat Axel begitu yakin akan prasangkanya. Naluri pria, mungkin.
"Aku... aku gak bermaksud buat selingkuh, Xel, tapi..."
"Tapi apa lagi?" Kali ini Axel sudah benar-benar merasa yakin dengan prasangkanya dan ia marah betul mendengar Vira terus mengelak seperti ini. Yang ia inginkan adalah kejujuran dari Vira yang telah menjadi bagian dari masa lalunya, mantan pacarnya. "Kenapa kamu selalu bilang 'tapi', terus diem dan gak dilanjutin? Jawab, Vir, kamu bener-bener selingkuh?" Tatapan matanya semakit tajam dan membuat Vira semakin tertunduk. "Aku tanya, apa kamu bener-bener selingkuh, Vira? Jawab yang jujur!" Suaranya lantang membuat Vira tersentak.
Yang ada hanyalah deraian air mata yang sama sekali bukan jawaban bagi Axel. "Aku gak nyangka, ternyata kamu itu rendah banget... aku salah nilai kamu, Vir." Percakapan berakhir tanpa adanya penjelasan dari pihak Vira.
Sepanjang perjalanan, Vira dan Axel terus terkurung dalam keheningan. Vira menutupi wajahnya yang kusam karena air mata. Sementara Axel menyembunyikan emosinya yang meluap-luap dalam hati. Aku dan Abel sama sekali tak tahu apa-apa, jadi kami terus mengobrol berdua di jok belakang.
Aku keheranan dengan Axel yang hari ini sama sekali tidak meledekku ataupun memakiku seperti hari-hari sebelumnya. Sakitkah ia? Sejak tadi pagi ia tak keluar kamar. Bahkan, ia tak ingin menemui Abel yang sudah datang sejak tadi. Padahal biasanya, ia langsung semangat dan mengajaknya ke kamarnya untuk main game. "Lo gak tau soal Axel?" tanya Abel yang sama bingungnya.
"Have no idea," jawabku. "Lo sama sekali gak tau, Bel? Lo 'kan sohibnya."
"Gak, sama kayak lo."
Hening. Sunyi. Aku dan Abel sama-sama sedang memikirkan tentang hal yang membuat Axel jadi bersikap aneh sepanjang hari ini. "Apa jangan-jangan lagi ada masalah sama Vira?" celetukku asal.
"Eh, mungkin juga. Soalnya dari kemaren kayaknya mereka diem-dieman, semenjak habis naik bianglala tuh."
"Oh ya? Kok gue gak nyadar ya?" Aku menggaruk-garuk kepalaku yang tak gatal sama sekali. "Apa kita tanyain dia aja, Bel?"
"Mendingan sih, jangan. Itu 'kan urusan pribadi dia. Yah, tunggu sampe dia tenang dulu ajalah. Ntar kalo dia mau cerita, dia pasti cerita 'kan?" Memang sih, tapi aku lebih suka langsung mendapatkan jawabannya sekarang. Aku ingin tahu sekali soal ini.
to be continued...
Uh, aku kesal karena waktu begitu cepat berlalu. Pada akhirnya, kami semua harus segera pulang karena tempat ini akan segera ditutup. Padahal aku masih ingin menikmati kebersamaanku dengan Abel di sini. "Eh, mau mampir ke toko cinderamata dulu gak?" tawar Abel semangat. Tangan kirinya menggandeng tangan kananku tiba-tiba. Deg! Kalau keadaan sedang sepi dan hening, suara debaran jantung ini pasti kedengaran.
"Gue ke mobil dulu aja ya, Bel." Tumben, gumamku dalam hati. Tapi aku takkan peduli. Axel dan Vira, pacarnya, melangkah bersamaan menuju mobil. Sementara aku dan Abel, kami berdua masih mampir ke kios yang berisikan oleh-oleh dari tempat bermain ini.
Begitu banyak boneka nan lucu dan imut yang terpajang di atas kaca. "Lo mau, Lir?" tanyanya yang seakan tahu kalau aku menginginkannya.
Sebelum menjawab, aku nyengir dulu. "Gak lah, gue udah punya banyak boneka di rumah."
Abel mengambil salah satu boneka yang kuinginkan sejujurnya dan membawanya ke tempat kasir yang ada di tengah ruangan, lalu membayarnya dengan uang cash. Setelah boneka itu dimasukkan ke dalam kantong plastik yang berlogokan boneka Dufan, cowok cool itu langsung menyodorkannya padaku. "Nih, buat lo." Senyumnya mengembang. "Kenang-kenangan...," begitu lanjutnya.
"Serius?" Aku jadi grogi sendiri menerima hadiah darinya.
"Iya, beneran," jawabnya sambil menganggukkan kepala dan tersenyum padaku. Senangnyaaaa!!!!
Axel duduk di balik stir kemudi, sedangkan Vira duduk di sebelahnya. Pertamanya, mereka hanya diam dalam keheningan selama beberapa menit. Hingga pada menit ke empat, akhirnya Axel memutuskan untuk memecah keheningan yang tercipta dalam mobil. "Boleh aku tau, kenapa kamu mutusin aku?" tanyanya baik-baik. Sayangnya, Vira tidak berkata apa-apa. Seolah jawaban itu tidak ada. "Vira, aku sayang sama kamu..." Ia mendesis.
"Sori, Xel, aku gak bisa jawab pertanyaan kamu."
"Kenapa?" Axel mulai naik pitam. "Seenaknya aja kamu mutusin aku, tapi kamu gak punya alasan untuk itu? Gak logis banget."
"Aku... aku bukannya gak punya alasan, tapi..."
"Tapi apa, Vir?"
"...tapi aku gak bisa kasih tau alasannya ke kamu sekarang...," jawabnya dengan suara yang hampir tak terdengar.
Axel kembali mengatupkan bibirnya selama dua menit, lebih dari itu ia mulai angkat bicara dengan suara bergetar. "Apa jangan-jangan... kamu main di belakang aku?" Sorot matanya menajam ke arah Vira yang terus tertunduk sejak tadi. Dan ia tak menjawabnya lagi. "Vira, kamu bener-bener selingkuh?" Entah apa yang membuat Axel begitu yakin akan prasangkanya. Naluri pria, mungkin.
"Aku... aku gak bermaksud buat selingkuh, Xel, tapi..."
"Tapi apa lagi?" Kali ini Axel sudah benar-benar merasa yakin dengan prasangkanya dan ia marah betul mendengar Vira terus mengelak seperti ini. Yang ia inginkan adalah kejujuran dari Vira yang telah menjadi bagian dari masa lalunya, mantan pacarnya. "Kenapa kamu selalu bilang 'tapi', terus diem dan gak dilanjutin? Jawab, Vir, kamu bener-bener selingkuh?" Tatapan matanya semakit tajam dan membuat Vira semakin tertunduk. "Aku tanya, apa kamu bener-bener selingkuh, Vira? Jawab yang jujur!" Suaranya lantang membuat Vira tersentak.
Yang ada hanyalah deraian air mata yang sama sekali bukan jawaban bagi Axel. "Aku gak nyangka, ternyata kamu itu rendah banget... aku salah nilai kamu, Vir." Percakapan berakhir tanpa adanya penjelasan dari pihak Vira.
Sepanjang perjalanan, Vira dan Axel terus terkurung dalam keheningan. Vira menutupi wajahnya yang kusam karena air mata. Sementara Axel menyembunyikan emosinya yang meluap-luap dalam hati. Aku dan Abel sama sekali tak tahu apa-apa, jadi kami terus mengobrol berdua di jok belakang.
Aku keheranan dengan Axel yang hari ini sama sekali tidak meledekku ataupun memakiku seperti hari-hari sebelumnya. Sakitkah ia? Sejak tadi pagi ia tak keluar kamar. Bahkan, ia tak ingin menemui Abel yang sudah datang sejak tadi. Padahal biasanya, ia langsung semangat dan mengajaknya ke kamarnya untuk main game. "Lo gak tau soal Axel?" tanya Abel yang sama bingungnya.
"Have no idea," jawabku. "Lo sama sekali gak tau, Bel? Lo 'kan sohibnya."
"Gak, sama kayak lo."
Hening. Sunyi. Aku dan Abel sama-sama sedang memikirkan tentang hal yang membuat Axel jadi bersikap aneh sepanjang hari ini. "Apa jangan-jangan lagi ada masalah sama Vira?" celetukku asal.
"Eh, mungkin juga. Soalnya dari kemaren kayaknya mereka diem-dieman, semenjak habis naik bianglala tuh."
"Oh ya? Kok gue gak nyadar ya?" Aku menggaruk-garuk kepalaku yang tak gatal sama sekali. "Apa kita tanyain dia aja, Bel?"
"Mendingan sih, jangan. Itu 'kan urusan pribadi dia. Yah, tunggu sampe dia tenang dulu ajalah. Ntar kalo dia mau cerita, dia pasti cerita 'kan?" Memang sih, tapi aku lebih suka langsung mendapatkan jawabannya sekarang. Aku ingin tahu sekali soal ini.
to be continued...
Langganan:
Postingan (Atom)