6/18/2009

It's Complicated Part 13


Kuoles selai pada lembaran atas roti tawar yang terbaring di atas telapak tangan kiriku. Kubiarkan selai cokelat kesukaanku melekat di atasnya. Aku sempat tersentak saat mendengar pintu rumah dibuka, lalu ditutup kembali tak lama. Mataku segera melihat sesosok yang kukenal baik melangkah masuk dengan baju berantakan. "Dari mana, Yah?" tanyaku yang bertanya-tanya tentang keberadaan ayahku semalam.
"Euh... Ayah habis menjenguk orang di rumah sakit," jawabnya. Sepertinya ada yang disembunyikannya dariku. Tapi aku tak ingin membuat Ayah semakin lelah hari ini. Untung, hari ini adalah hari libur. Aku tak bersekolah dan Ayah juga tidak masuk kantor.
"Makan yuk, Yah. Aku sudah menyiapkan sarapan untuk Ayah."
Ayah melangkah mendekati meja makan dan duduk di hadapannya. Nafsu makannya tidak sebesar hari sebelumnya. Raut wajahnya juga menyiratkan ekspresi yang tak biasanya. Aku curiga, namun aku tak berdaya. "Hari ini Ayah tidak akan di rumah seharian. Jadi, kamu jaga rumah ya, Ren." Itu pesan Ayah sebelum ia pergi lagi ke rumah sakit. Tentunya ia sudah mandi dan berganti pakaian. Kini, ia terlihat tidak kusam seperti tadi. "Mungkin Ayah takkan makan malam di rumah malam ini."
"Oh, ya..." Tentu saja hatiku bertanya-tanya, tapi mulutku tidak mengeluarkan sebuah kalimat tanya untuk menyiratkan rasa penasaranku. "Hati-hati, Yah." Itu saja kalimat terakhirku hari ini padanya.
Sampai larut malam aku menunggu kepulangan Ayah, tapi ia belum juga pulang saat jarum pendek menunjuk ke angka dua belas. Aku yang merasa lelah hari ini segera terlelap di atas sofa ruang tamu. Pintu rumah sudah kukunci rapat-rapat sebelum aku benar-benar pulas menuju dunia mimpiku.
Kedua mataku kembali terbuka perlahan-lahan, melihat jam dinding rumahku yang menunjukkan bahwa saat ini sudah jam tiga pagi. Aku terbangun karena deringan ponselku yang kuletakkan di atas meja ruang tamu begitu saja. Tertera nama 'Ayah' di layar ponselku. Ia meneleponku. "Ya, Ayah, ada apa?" tanyaku yang masih setengah sadar.
"Renata..." Suaranya terdengar parau. "Kamu harus kemari sekarang."
"Ke mana, Yah?" tanyaku penasaran. Jelas saja aku tak mengerti untuk apa aku harus ke sana.
Jantungku mungkin sempat berhenti beberapa detik lamanya. Aku yang tak percaya dengan pendengaranku langsung mengenakan jaket, lalu bergegas ke tempat ayahku berada saat ini. Selama perjalanan ke sana, segala memoriku terputar kembali. Dan detik itu juga, aku merasa bahwa apa yang kuperbuat selama ini salah besar. Betapa berdosanya diriku ini, hinaku dalam hati. Air mataku bahkan tak bisa menetes saat itu.
Kuperbesar langkahku menuju kamar P 71, tempat Ayah menungguku. Perlahan-lahan kubuka pintu kamar tersebut dan kulihat ada Ayah yang berdiri di sisi ranjang. "Ayah...," ucapku lirih. Aku melihat dengan jelas bagaimana sosok wanita yang amat kukenal, bahkan kubenci terbaring di atas ranjang. "Ini... Ibu?" tanyaku tak percaya. Kepalanya penuh akan simbahan darah segar yang telah mengering di balik perban. Kedua matanya terpejam dan ekspresi wajahnya datar.
"Ya, ini ibumu, Renata."
Mulutku bergetar. Tubuhku terasa berat. Lututku lemas. "Bu..." Kucoba untuk memanggilnya dengan nada lembut. "...Bu, bangun, Bu..." Di hati kecilku berharap ia segera membuka matanya dan menyambutku dengan senyumannya.
"Renata, Ibu sudah meninggal, Nak..." Ayah mencoba untuk kuat di hadapanku. Ia berusaha menenangkanku yang histeris menerima kenyataan pahit ini. Berkali-kali kusalahkan diriku sendiri karena semua terjadi karena ulahku. Semuanya ini terjadi karena aku menolak kehadirannya di rumah. Oh Tuhan, andai Engkau memberikannya hidup satu kali lagi, aku berjanji untuk mengasihinya. Namun, terlambat. Bahkan, aku tak sempat membahagiakan ibuku sendiri, wanita yang telah melahirkanku. Hanya deraian air mata yang mengiringi kepergian ibu kandungku sendiri. Aku begitu jahat, itu nilaiku. Ayah memelukku dengan lembut dan mengelus-elus rambutku. "Yang tegar, Nak. Toh, suatu saat kita juga bisa berkumpul lagi." Tak ada satu katapun yang bisa melukiskan kesedihanku hari ini. Hanya ada penyesalan yang menumpuk di hatiku. Aku hanya bisa berandai-andai, berangan-angan, tanpa adanya kenyataan yang kuharapkan terjadi.

TO BE CONTINUED...

6/16/2009

It's Complicated Part 12


Lagi-lagi aku sendiri menjalani hari-hariku. Tidak ada sesuatu yang khusus pada waktu-waktuku di sekolah maupun di kafetaria. Selama aku berada di lingkungan sekolah, Davin diam dan tak bicara sepatah katapun. Demikian pula ketika aku berada di lingkungan kafetaria, tempatku bekerja, tak terlontarkan kalimat apapun dari bibirnya. Aku tak tahu apa salahku, tapi aku harus kuat menghadapinya.
Davin melangkahkan kakinya mendekatiku yang tengah berdiri di dalam dapur. Ia hanya menyodorkan secarik kertas yang berisikan pesanan-pesanan para pelanggan, lalu berlalu begitu saja. Aku yang tetap menjaga hatiku agar tidak rapuh dengan mudah menyiapkan pesanan tersebut sambil berbisik, "Aku harus kuat, aku harus kuat." Mungkin seperti orang bodoh kalau ada orang yang memerhatikanku dari jauh. Tapi aku yakin bahwa ucapan itu bisa menguatkanku.
Hari yang melelahkan, itu yang menjadi pikiranku selama aku bekerja di kafetaria ini. Rasanya lega sekali bisa melewati hari ini. Malam ini aku lebih memilih untuk pulang sendiri, tanpa diantar siapapun. Malangnya, David yang telah menjadi mantanku memaksa Davin untuk mengantarku pulang. Oh tidak, pekikku dalam hati. Aku tak mau ia mengantarku pulang. Kami sedang perang dingin, walau aku tak tahu apa alasannya.
"Aku bisa pulang sendiri. Lagipula aku ada keperluan di tempat lain," bohongku. Aku hanya ingin menghindari Davin dan David.
"Tidak boleh. Pokoknya Davin harus mengantarmu pulang." David angkat bicara dan herannya, Davin sama sekali tidak menunjukkan mimik tidak senang.
Alhasil, Davinlah yang mengantarku pulang dengan sepeda motornya. Sepanjang perjalanan, kami diam, tidak ada satupun yang bicara. Bahkan, sampai di muka rumahkupun sama sekali tak ada satu patah katapun yang terucap dari bibir mungilku. "Aku sudah dengar dari kakakku, kau putus dengannya. Benar begitu?" Akhirnya Davin bersuara juga, batinku. Aku hanya menanggapinya dengan sebuah anggukkan.
"Kau yang memutuskannya?"
"Tidak," jawabku mantap.
Davin menghela nafas. "Ia tahu apa yang kita lakukan kemarin."
"Apa?" Aku terlonjak kaget.
Ia menyeringai. "Aku juga sama terkejutnya sepertimu. Semalam tiba-tiba David muncul dan... ia marah padaku." Aku belum bisa berkomentar apapun karena aku sendiri bingung bagaimana aku harus meresponinya. "Maaf karena hari ini aku mengacuhkanmu. Bukan maksudku, tapi aku..."
"Sudahlah, tak perlu meminta maaf untuk hal yang sepele. Aku juga yang salah karena sejak awal aku tak jujur dengan perasaanku sendiri. Besok biar kujelaskan semuanya pada kakakmu, sekaligus aku ingin mengundurkan diri."
"Mengundurkan diri? Karena masalah ini?"
"Oh, bukan, jelas bukan. Aku hanya ingin lebih fokus pada sekolahku saja karena aku tak ingin mengecewakan ayahku dengan nilai-nilaiku yang menurun. Karena itu, aku memutuskan untuk mengundurkan diri mulai besok."
Davin tidak berkata apapun. Ya, itu juga yang kuharapkan, yaitu agar ia tak banyak berkomentar tentang keputusanku. "Kalau begitu, sampai ketemu besok di sekolah." Davin pamit padaku dan menstarter motornya, lalu pergi meninggalkanku yang masih berdiri mematung di depan rumahku. Aku belum kuat untuk melangkah masuk ke dalam.
"Renata," panggil Ayah yang tengah duduk di ruang tengah sambil membaca koran pagi.
"Ya, Yah?"
"Sudah makan, Nak?"
"Iya, sudah." Lagi-lagi aku berbohong. Sama sekali tidak ada nafsu makan malam ini. Entah mengapa, aku juga tak mengerti.
"Kau kelihatan lesu sekali hari ini, kenapa?"
"Hm... tidak ada apa-apa kok, Yah. Aku hanya merasa lelah hari ini."
"Ya sudah, kamu istirahatlah setelah mandi. Jangan sampai terlalu lelah ya." Itu pesan Ayah yang begitu menyentuh hatiku hari ini.
"Iya, Yah." Kakiku kulangkahkan menuju kamarku dan segera kubersihkan diriku dengan air dan sabun di kamar mandi. Setelah aku yakin bahwa diriku sudah bersih, kubaringkan tubuhku di atas ranjang empuk milikku yang tertata rapi di dalam kamar.
Saat aku sudah terlelap, telepon berdering. Seolah ia memanggilku untuk bangun, tapi kedua mataku rasanya tidak bisa kubuka lagi. Posisiku sudah nyaman di sini. Aku betul-betul terlelap malam itu tanpa tahu siapa yang menelepon dan untuk apa sang penelepon menelepon. Dan malam itu, Ayah bergegas meninggalkan rumah dalam keadaan terkunci entah ke mana. Raut wajahnya terlihat panik dan langkahnya terburu-buru. Ada apakah gerangan?


TO BE CONTINUED...

6/14/2009

It's Complicated Part 11


Jujur, aku mendambakan sosok ibu yang bisa memberikan kasih sayangnya padaku. Tapi sayangnya, dalam kenyataan tidaklah seperti yang kuharapkan. Meski begitu, aku cukup bersyukur atas sosok ayah yang Tuhan anugerahkan padaku. Ayah adalah sosok yang paling kusayangi dalam hidupku ini.
Pagi ini Ayah tidak terlihat sesedih semalam. Namun, aku tahu bahwa ia menyembunyikan kepiluan hatinya. Jelas saja ia tak mau terlihat murung di depan anak gadis satu-satunya, yakni aku. "Hari ini jangan pulang terlalu malam ya, Nak." Begitu ia mengingatkanku pagi ini. Tidak seperti biasanya memang, tapi aku cukup menghargai perhatiannya yang begitu kuat padaku.
"Iya, Yah," jawabku pelan sambil melahap sarapanku bersamanya.
Walau aku memutuskan untuk tidak lagi memikirkan kejadian semalam, tapi ternyata otakku cukup kuat untuk memutar kembali rekaman itu. Saat aku termenung ketika guru menjelaskan pelajaran di depan, air mataku hampir tumpah mengingat kejadian itu. Untungnya, ia tak jadi mengalir dan membasahi kedua belah pipiku.
"Kamu lagi ada masalah ya?" tanya Davin yang melihatku terus termenung saat jam istirahat. Kami berdua duduk di meja kantin dan siap menyantap baso yang dibelinya.
Lamunanku segera buyar dan kutarik paksa senyumku. "Tidak kok, tidak ada apa-apa," jawabku berusaha meyakinkanku. Davin hanya menghela nafas mendengar jawabanku. Kurasa, ia tahu bahwa aku telah membohonginya, menutupi fakta darinya. "Teman-temanmu?"
"Mereka sedang sibuk sendiri. Biarlah," responnya dengan nada datar. "Sampai kapan kau akan terus-terusan menutupi semua masalahmu dariku, Ren?"
Deg! Rasanya seperti ada yang menusuk jantungku dari arah depan. "Maksudmu?" Aku pura-pura bodoh, tidak tahu apapun.
Davin menggeleng pelan. "Lupakanlah. Makan saja." Kedua tangannya sibuk mengambil sendok dan garpu, lalu mengaduk-aduk baso miliknya. Ada rasa bersalah yang begitu kuat di dalam hatiku, tapi aku tak mungkin membeberkan masalah keluargaku padanya. Aku tak mungkin mengumbarkan aib keluargaku di hadapannya, begitu pikirku. Salahkah aku?
Hari ini Davin mengajakku untuk melakukan satu hal yang sungguh gila. Dibisikkannya sesuatu di telingaku. "Memangnya diizinkan?" Respon bodohku muncul mendengar rencananya hari ini.
"Yah, takkan ada yang tahu. David takkan tahu kok," begitu jawabnya. "Lagipula pasti bosan kalau tiap hari harus menjalankan rutinitas yang melelahkan seperti itu."
Aku bak boneka yang tak bisa membantah ataupun menolak rencananya. Sepulang sekolah, aku dan Davin pergi ke suatu tempat dengan motornya. Pantai adalah tempat yang indah untuk dikunjungi sore ini. Aku suka pemandangan pantai. Apalagi pemandangan saat matahari terbenam membuatku merasa nyaman. Satu momen yang membuat jantungku semakin kencang berdebar adalah saat Davin menggandeng tanganku sambil berjalan menyusuri pasir pantai yang terus tersiram ombak. Deg deg, mungkin suara itu terdengar hingga ke telinga Davin, tapi ia tak menghiraukannya. Aku berusaha menenangkan debaran jantungku yang kian mengencang sambil terus membiarkan Davin menggenggam tanganku. Tanpa kusadari, aku sudah berbuat jahat pada David. Teganya diriku, kuhakimi diriku sendiri.
Kami berdua duduk di atas pasir pantai yang kering sambil memandangi pemandangan sore pantai nan indah. Kami takjub. "Mataharinya mulai terbenam," tutur Davin sambil terus memegang tanganku. Andai sejak awal seperti ini, mungkin bebanku berkurang sekarang. Hingga matahari benar-benar beristirahat, Davin baru mengajakku pulang. Takkan mampu kulupakan hari ini. Besok aku harus lebih bersemangat menjalani hari-hariku.

Dengan langkah penuh semangat aku melangkah masuk ke dalam ruang ganti untuk mengganti seragam sekolahku dengan seragam kafetaria. Aku siap bekerja, bisikku pada pantulan diriku di cermin dalam ruang ganti. Saat kubuka pintu ruangan tersebut, jantungku sempat terhenti karena melihat seseorang di hadapanku. Ia berdiri tepat di hadapanku. "Sudah siap untuk bekerja lagi?" tanyanya sambil memamerkan senyumnya. Entah mengapa, aku merasa tegang saat ia tersenyum seperti itu.
"I-iya," jawabku gugup.
"Baguslah kalau begitu. Bekerjalah dengan semangat."
"Eum... David, sejak kapan kau kembali ke sini?"
"Oh, aku lupa memberitahumu, kepulanganku dipercepat karena sudah ada orangtuaku yang mau mengurus kesibukan di sana. Jadi, aku lebih cepat kembali ke sini," jelasnya. "Kau tak senang aku kembali lebih cepat?"
"Bukan, bukan begitu..." Aku bingung harus bicara apa lagi. "Ah, aku harus bekerja." Tak mampu kutatap matanya lama-lama. Apakah ia tahu kejadian kemarin, hatiku bertanya-tanya.
Ada sesuatu yang aneh hari ini. David bersikap lebih lembut dari biasanya, tapi aku merasa ada kejanggalan dari sikapnya hari ini. Apa ia benar-benar tahu kejadian kemarin? Oh tidak, kalau sampai ia tahu, mungkin akan ada masalah besar menantiku.
David menghentikan mobilnya tepat di muka rumahku. Kulepaskan safety belt yang mengikatku selama perjalanan. Aku turun dari mobil David dan seperti biasa, David ikut turun. Ia bersandar pada mobilnya saat aku sudah turun dari mobilnya dan hendak masuk ke dalam rumahku. Ia menarik lenganku. "Kenapa?" tanyaku.
Saat aku menoleh dan bertanya kenapa, ia segera melepaskan lenganku. Tangan kanannya dimasukkan ke dalam saku celananya. "Eee... Ren, kita putus saja ya." Bagai tersambar petir di siang bolong malam ini aku mendengar pernyataannya. Aku benar-benar speechless saat ini. Walau dalam hatiku senang, tapi aku terkejut saat ia mengatakan hal ini. "Aku merasa kita sudah tidak bisa pacaran lagi."
"Ke...napa?" Suaraku terdengar lirih.
"Yah, entahlah. Aku sendiri juga tidak mengerti. Tapi mungkin lebih baik kita putus." Lagi-lagi aku tak mampu berkomentar. Karena memang inilah yang aku tunggu-tunggu. "Ya sudah, aku pulang dulu. Bye." Ia masuk ke dalam mobilnya dan langsung menghilang dari pandanganku dalam hitungan detik.
Kupikir, dengan putusnya aku dan David, aku bisa dengan bebas berhubungan dengan Davin. Aku sudah merdeka, itu pikiran pendekku. Tapi ternyata aku salah total. Dugaanku meleset jauh. Davin tak menggubrisku saat di sekolah sekalipun. Aku tak tahu apa yang salah, ia tak cerita padaku. Tiba-tiba ia mengabaikanku seolah aku ini angin baginya. Sakit, sakit sekali. Tapi tak mungkin aku mengejarnya dan bertanya kenapa padanya. Bisa-bisa aku dianggap mengemis cinta darinya. Aku lebih memilih untuk diam dan ikut membiarkannya, walau itu sungguh berat. Satu hal yang kuingat pasti di benakku, setiap kali aku dan Davin berpapasan di sekolah, ia pasti menatapku dengan tatapan penuh amarah dan kebencian. Aku sendiri tak mengerti kenapa.

TO BE CONTINUED...

6/06/2009

It's Complicated Part 10


Rasa-rasanya masalah datang bertubi-tubi membebani bahuku setiap hari. Dulu, masalah terbesarku adalah soal perasaanku yang tak terbalas. Dan belum selesai masalah itu, masalah lain sudah kembali menimpa. Aku tak tahu bagaimana harus menghadapi masalah seperti ini. Sudah bertahun-tahun ibuku pergi meninggalkanku dan Ayah, lalu kini ia kembali dan bertemu dengan Ayah. Apa maksud semua ini? Ke mana saja ia selama ini? Tidakkah ia peduli pada kami, tanyaku dalam hati. Semalaman otakku memikirkannya, tapi yang kutemukan adalah jalan buntu. Aku tidak tahu harus berbuat apa kalau seandainya ia kembali ke sini. Haruskah aku menerimanya kembali dengan lapang dada atau aku harus menolaknya mentah-mentah dan mengusirnya agar hidupku tetap dalam kedamaian seperti ini, entahlah.
Aku banyak melamun hari ini. Makanya, tak heran Davin kerap menanyaiku saat aku bekerja. "Kau sedang ada masalah?" Ia begitu perhatian padaku dan hatiku selalu luruh dengan sikapnya. Mungkin aku memang pantas disebut sebagai seorang pengkhianat. Jelas-jelas aku sudah mempunyai pacar, tapi aku malah mendua.
Kugelengkan kepalaku pelan. "Tidak kok, tidak ada. Aku baik-baik saja."
Berbeda dengan David yang biasanya langsung percaya, Davin dengan tatapan tajam terus memandangiku. "Kau berbohong padaku. Aku tahu persis, kau sedang memikirkan sesuatu." Deg! Aku hanya bisa terdiam. Ia tidak seperti David, batinku waspada. "Kenapa kau tidak mau jujur padaku?"
"Bukannya aku tak mau jujur padamu..." Aku buru-buru menepis sangkaannya. "Tapi..." Entah apa kalimat yang pantas kulanjuti setelah ini. Haruskah kubeberkan masalah keluargaku? Itu pribadi. "Ini masalah pribadi dan aku tidak mungkin bisa membeberkannya seenaknya." Kujelaskan dengan nada pelan.
Davin menarik nafas panjang. "Ya sudah, aku takkan memaksa kalau itu memang masalah pribadi. Tapi kalau kau memang butuh teman cerita, aku siap mendengarkannya." Senyumannya begitu mensejahterakan hatiku.
Tuhan, aku begitu menyayanginya, batinku menjerit. Rasanya, aku damai ketika ada di sampingnya. Tidak ada rasa damai yang begitu kuat selain ketika ia ada bersamaku. Tapi satu hal yang mengganjal di hatiku adalah bagaimana hubunganku dengan David. Haruskah ia kukhianati sedemikian rupa, padahal selama ini ia selalu baik padaku? Aku tak tega melukainya.

Seperti biasa, hari ini Davin mengantarku pulang. Bedanya dari yang lalu, ia lebih perhatian padaku sekarang. Sejak ia mengungkapkan perasaannya padaku, sikapnya padaku juga ikut berubah. Yang biasanya ia dingin dan tidak peduli, kini ia mulai menunjukkan rasa sayangnya padaku. Aku senang, tapi hatiku mengalami dilema. Bahkan, saat Davin mendadak mencium pipiku, hatiku meledak-ledak karena kegirangan. Namun, di lain sisi, memoriku kembali teringat akan sosok David yang ada di luar kota.
Jujur, statusku dengan Davin menggantung. Tidak ada kata 'jadian' dalam hubunganku dengannya. Davin sendiri juga belum menegaskannya, jadi aku tidak berani menegaskan sendiri. Ketika orang bertanya, aku hanya menjawab dengan senyuman paling lebar karena aku tak tahu jawaban apa yang pantas kulontarkan pada mereka. Dan untuk hubunganku dengan David... semuanya hanyalah status palsu, seperti lagu Vidi Aldiano dengan judul 'Status Palsu'. Entah sampai kapan semuanya ini berlangsung. Yang pasti, aku berharap semuanya cepat usai. Aku lelah memakai topeng seperti ini.

Kulangkahkan kakiku masuk ke dalam rumahku setelah kupastikan Davin sudah pergi meninggalkan muka rumahku. Ada sepasang sepatu hak tinggi berwarna merah hati di depan pintu rumah. Ada tamu, pikirku. Dan saat kubuka daun pintu rumah secara perlahan, aku tahu siapa orang yang bertamu di rumah ini malam-malam begini.
Orang itu segera berdiri dan menyambutku dengan penuh lembut. "Renata..." Ia mendekatiku dan hendak memelukku, tapi kutepis dengan penuh kebencian. "Renata, kenapa?" Wajahnya tampak sendu saat aku menepis pelukannya.
"Kenapa? Mestinya aku yang bertanya seperti itu! Ke mana saja selama ini, hah? Kenapa seenaknya meninggalkan aku dan Ayah sampai bertahun-tahun?" bentakku dengan penuh emosi. Kurasakan darah mengalir ke atas kepalaku. Aku marah.
Ayah ikut bangkit dari posisi duduknya dan menahan amarahku terhadapnya. "Renata, ia ini ibumu, Nak. Kenapa kau begitu kasar padanya? Sikapmu itu tidak pantas."
"Wanita ini tidak pantas disebut sebagai seorang ibu, Ayah. Ia sudah meninggalkan kita bertahun-tahun, apa Ayah mau ditinggalkan lagi seperti dulu? Sekarang ia datang ke sini pasti untuk suatu tujuan yang tidak baik dan ia pasti akan pergi lagi meninggalkan kita karena baginya, kita tidaklah penting. Toh, ia juga sudah mengkhianati Ayah."
Tidak bisa kulupakan bagaimana tangan besar Ayah menampar pipi kiriku setelah aku berkata demikian. Aku memang salah karena sudah berkata kasar, tapi ini pertama kalinya aku ditampar. Air mata segera menetes di pipiku dan kutinggalkan mereka. "Maafkan Renata." Ayah berkata dengan lembut.
"Tidak, akulah yang salah." Wanita itu ikut menitikkan air mata. Pedih.
"Ini bukan salahmu, Van. Mungkin dari awal, memang aku yang salah karena aku tidak bisa menjadi suami yang baik bagimu dan tidak bisa menjadi ayah yang baik bagi anak kita."
"Surya..." Demikian ibuku memanggil nama pria yang mungkin pernah dicintainya. Tidak tahu sekarang. "Aku sungguh minta maaf karena telah meninggalkan kalian." Ia berlutut di hadapan ayahku. Untuk apa ia melakukan ini, jeritku dalam hati di kamar. Padahal hidupku sudah damai tanpa kehadirannya. Kini, ia rusak seluruh ketenangan rumahku.
"Berdirilah. Untuk apa kau berlutut seperti itu?" Ayah menuntunnya untuk berdiri.
"Tidak, aku betul-betul memohon ampun darimu karena aku memang telah mengkhianati kalian. Maafkan aku."
Mungkin saat itu Ayahpun ingin menangis, tapi ia berusaha untuk kuat menghadapi kenyataan. Ternyata benar dugaanku selama ini, wanita itu sudah memiliki keluarga yang lain tanpa berpisah dengan Ayah secara resmi. Wanita sialan, makiku. "Jadi, apa yang selama ini Renata katakan benar, Van?" tanyanya memastikan dengan suara bergetar.
Wanita bernama Vania itu mengangguk sambil terus berlutut. Ayah berdiri di hadapannya. Tubuhnya begitu tinggi. "Kau sudah berkeluarga lagi dengan orang lain?" Lagi-lagi ia meyakinkan tentang hal ini.
"Ya... maafkan aku..." Semudah itu ia mengucapkan kata maaf. Brengsek! Tidak tahukah ia betapa sakit kenyataan ini? "Maafkan aku karena telah meninggalkan kalian seperti ini..."
Helaan nafas Ayah terdengar jelas. Ia sedemikian rupa menahan tangis kepedihan di hadapan wanita yang masih sah menjadi istrinya. "Kau tahu, kata maaf itu takkan cukup..."
"Ya, aku tahu... tapi aku juga tak tahu, apa lagi yang harus kuperbuat..."
"Pergilah... jangan lagi kembali kemari..."
"Tapi, Surya..."
"PERGI!!!" Kudengar teriakan Ayah yang terdengar begitu memilukan di telingaku. Tangisku semakin menjadi karenanya. Wanita itu memang pembawa petaka, kutukku. Suara lantang Ayah membuat wanita itu ketakutan dan segera pergi dengan deraian air mata. Aku terlalu yakin bahwa Ayah juga manusia dan ia lemah. Dan tanda dari kelemahannya adalah air mata. Ya, air mata. Walau aku tak menyaksikannya malam ini, aku yakin bahwa air matanyapun membasahi kedua pipinya, bahkan mungkin wajahnya.

6/05/2009

It's Complicated Part 9


Hanya ada setitik rasa terkejut di sudut hatiku saat mendengar pengakuan yang terucap dari bibir David sore ini. "Besok pagi aku harus berangkat ke luar kota," tuturnya saat tengah membantuku mencuci piring kotor di dapur.
"Hm, besok? Untuk apa?" tanyaku dengan topeng wajah penasaranku.
"Akan segera dibuka cabang di Bandung. Jadi, aku harus ke sana untuk mengurus semuanya. Sekalian menemui orangtuaku di sana."
Bibirku membentuk huruf vokal o sambil manggut-manggut. Sama sekali tidak ada respon lain selain itu. Mungkin David menganggapku aneh. Ya, biarlah. Yang kukhawatirkan adalah kekhawatiranku akan menjadi kenyataan. Tidak, tegasku dalam hati. Aku tidak boleh mengkhawatirkan hal yang tak perlu dikhawatirkan atau semuanya akan terjadi.

Hari-hariku entah mengapa terasa lebih menyenangkan dan lebih bebas untuk kujalani saat David tidak berada di Jakarta. Apakah selama ini aku tertekan oleh karena keberadaannya di sisiku? Tidak ada ide untuk menjawabnya. Aku tak mengerti pastinya bagaimana.
"Kau mau pulang? Biar kuantar." Davin menawarkan diri mengantarku pulang ke rumahku. Wajahnya berseri-seri, tidak seperti biasanya.
"Aku bisa pulang sendiri." Tentu saja kutolak. Aku tak ingin perasaanku padanya semakin meluap-luap dan mengakibatkan diriku terjebak dalam istilah yang dinamakan cinta segitiga. Tidak!!!
"Ini sudah malam. Kau yakin mau pulang sendiri? Kalau kau kenapa-napa di tengah jalan, aku harus bilang apa pada kakakku?"
Aku terhenyak mendengar ucapannya. Benar juga apa yang dikatakannya. Aku sedikit paranoid pulang malam-malam. Lagipula kalau ayahku tahu, bisa-bisa ia memarahiku karena pulang seorang diri malam-malam begini. Ini sudah hampir jam sembilan malam. Apalagi tempat yang kulewati bisa dikategorikan sebagai tempat yang rawan. Jadi, mau tak mau, suka tak suka, aku harus pulang bersamanya. Davin akhirnya mengantarku pulang sampai aku tiba di rumah, tepat di muka rumahku. "Terimakasih," ucapku dengan kepala tertunduk. Kedua mataku tak berani menatap kedua matanya lama-lama. Bisa-bisa hatiku kembali meleleh dan akhirnya... oh, tidak! Aku tak berani membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Kau marah padaku?" Ia mulai mengungkapkan uneg-unegnya yang sepertinya telah lama ia sembunyikan dalam hati.
Kali ini, kalimat tanyanya membuatku terkejut dan akhirnya menatapnya. "Marah? Tidak," jawabku mantap. Aku tak mau ia salah paham. Aku tidak mungkin marah padanya karena... tidak dapat aku jelaskan.
"Jadi, kenapa kau sepertinya menjauhiku seakan-akan aku ini virus? Memangnya aku ini bakteri yang bisa mencelakaimu ya?" Nada bicaranya terdengar tersinggung akan perlakuanku padanya selama ini.
Ya, kuakui selama ini aku memang manghindarinya. Aku bukannya bermaksud demikian, tapi aku takut aku tak mampu menjaga sikapku di hadapannya. Aku ini sudah menjadi pacar kakaknya, jelas saja aku tak boleh dekat-dekat dan berharap lagi pada Davin yang jelas-jelas sudah menolakku. Padahal seharusnya ia tahu bahwa aku menyukainya. Tapi dari awal aku memang sudah salah. Kesalahan terletak pada diriku. Ya, diriku. Akulah yang bodoh, yang mau saja menerima David begitu saja, padahal sudah jelas hanya Davin yang ada di hatiku selama ini. Bodoh, bodoh, bodoh, makiku pada diriku sendiri. "Bukan begitu kok..." Suaraku pelan, terdengar ragu untuk melontarkannya.
"Lantas kenapa?"
Diam, aku membisu. Apa yang harus kututurkan padanya? "Ah, sudahlah, tak perlu dibahas lagi. Aku sedang tidak mood membicarakannya." Seketika itu juga, Davin menarik lenganku. "Apa lagi? Kelihatannya kau senang sekali membuatku sakit hati ya?" Emosiku mulai memuncak. Jantungku berdegup lebih kencang. Perutku terasa panas, seperti tersulut api besar. Aku seperti diputar-putar dengan kencang. Tidak lagi sadar apa yang kulontarkan malam ini. "Tidakkah kau mengerti bahwa aku juga tidak ingin ini semua terjadi. Kakakmu menyatakan perasaannya padaku tiba-tiba seperti itu dan memintaku untuk menjadi pacarnya. Dia tidak tahu bahwa yang ada di hatiku selama ini cuma kamu dan dengan bodohnya, aku mau saja menerimanya. Dan selama ini, hubungan ini kujalani dengan terpaksa, hanya karena aku merasa tidak enak dengan kakakmu. Kuanggap kau memang sudah menolakku dan sama sekali tidak ada perasaan apa-apa terhadapku. Tapi sekarang kau malah seakan memberiku harapan. Apa sih, maksud perlakuanmu ini? Kau mau mempermainkanku ya?" Aku berkata-kata tanpa lagi berpikir. Otakku sudah sekusut benang kusut, bahkan lebih parah dari itu.
Davin segera memelukku dan tess... air mataku menetes entah karena apa. "Maafkan aku. Aku tak bermaksud mempermainkanmu. Saat kau bilang kalau kau suka padaku, aku sebenarnya juga memiliki perasaan yang sama denganmu. Tapi aku ragu, apakah rasa itu sungguhan atau hanya sesaat belaka. Jadi, kuputuskan untuk menyembunyikannya dulu darimu. Tapi aku tak menyangka kalau semuanya akan jadi seperti ini. Maaf," katanya lirih di telingaku. Hatiku semakin sakit mendengar ungkapannya. Kenapa baru sekarang, sesalku dalam tangis.
Jadi, apa yang harus kulakukan sekarang? Aku menyukai Davin dan ia berkata hal yang sama. Tapi aku masih menjadi pacar David. Aku tak mungkin memutuskannya begitu saja dengan alasan yang tidak jelas, lalu seenaknya jalan dengan Davin. Bisa-bisa aku dianggap gadis rendah. Astaga, ujian apa lagi ini, keluhku semalaman.

Aku dan ayahku masih saling diam di meja makan saat makan bersama pagi ini. Hari ini hari Minggu. Jadi, kami mau tak mau harus sarapan bersama di ruang makan. Aku memasak omelet untuk sarapan pagi ini. Ayahku paling suka omelet buatanku. Lezat, begitu katanya. "Kamu masih marah sama Ayah, Nat?" tanyanya membuka percakapan di atas meja makan.
Sebentar kuhentikan kunyahanku, lalu kulanjutkan kembali. "Nggak kok, Yah," jawabku pelan.
Ayah tertawa kecil. "Kau bilang tidak, tapi dari raut wajahmu terlihat kau masih marah pada Ayah. Ayah minta maaf ya, soal dua hari yang lalu. Ayah bukannya..."
"Maaf, Yah, aku nggak mau mengungkit soal itu lagi. Lagipula aku memang tidak marah pada Ayah kok. Aku sayang Ayah, karena itu, aku takkan mungkin marah pada Ayah hanya karena hal sepele." Senyumku kukembangkan.
Lagi-lagi keadaan kembali hening. Diam. Sunyi. Aku tak mengucapkan lagi sepatah katapun. Demikian pula ayahku. Tapi beberapa menit kemudian, Ayah mulai angkat bicara. "Kemarin malam Ayah secara nggak langsung bertemu dengan ibumu." Deg! Siapa yang tidak kaget dengan pernyataan ayahku barusan.
"Ayah bertemu dengan wanita itu?" Kedua alis mataku saling bertautan. Terhenyak mendengarnya.


TO BE CONTINUED...