
Jujur, aku mendambakan sosok ibu yang bisa memberikan kasih sayangnya padaku. Tapi sayangnya, dalam kenyataan tidaklah seperti yang kuharapkan. Meski begitu, aku cukup bersyukur atas sosok ayah yang Tuhan anugerahkan padaku. Ayah adalah sosok yang paling kusayangi dalam hidupku ini.
Pagi ini Ayah tidak terlihat sesedih semalam. Namun, aku tahu bahwa ia menyembunyikan kepiluan hatinya. Jelas saja ia tak mau terlihat murung di depan anak gadis satu-satunya, yakni aku. "Hari ini jangan pulang terlalu malam ya, Nak." Begitu ia mengingatkanku pagi ini. Tidak seperti biasanya memang, tapi aku cukup menghargai perhatiannya yang begitu kuat padaku.
"Iya, Yah," jawabku pelan sambil melahap sarapanku bersamanya.
Walau aku memutuskan untuk tidak lagi memikirkan kejadian semalam, tapi ternyata otakku cukup kuat untuk memutar kembali rekaman itu. Saat aku termenung ketika guru menjelaskan pelajaran di depan, air mataku hampir tumpah mengingat kejadian itu. Untungnya, ia tak jadi mengalir dan membasahi kedua belah pipiku.
"Kamu lagi ada masalah ya?" tanya Davin yang melihatku terus termenung saat jam istirahat. Kami berdua duduk di meja kantin dan siap menyantap baso yang dibelinya.
Lamunanku segera buyar dan kutarik paksa senyumku. "Tidak kok, tidak ada apa-apa," jawabku berusaha meyakinkanku. Davin hanya menghela nafas mendengar jawabanku. Kurasa, ia tahu bahwa aku telah membohonginya, menutupi fakta darinya. "Teman-temanmu?"
"Mereka sedang sibuk sendiri. Biarlah," responnya dengan nada datar. "Sampai kapan kau akan terus-terusan menutupi semua masalahmu dariku, Ren?"
Deg! Rasanya seperti ada yang menusuk jantungku dari arah depan. "Maksudmu?" Aku pura-pura bodoh, tidak tahu apapun.
Davin menggeleng pelan. "Lupakanlah. Makan saja." Kedua tangannya sibuk mengambil sendok dan garpu, lalu mengaduk-aduk baso miliknya. Ada rasa bersalah yang begitu kuat di dalam hatiku, tapi aku tak mungkin membeberkan masalah keluargaku padanya. Aku tak mungkin mengumbarkan aib keluargaku di hadapannya, begitu pikirku. Salahkah aku?
Hari ini Davin mengajakku untuk melakukan satu hal yang sungguh gila. Dibisikkannya sesuatu di telingaku. "Memangnya diizinkan?" Respon bodohku muncul mendengar rencananya hari ini.
"Yah, takkan ada yang tahu. David takkan tahu kok," begitu jawabnya. "Lagipula pasti bosan kalau tiap hari harus menjalankan rutinitas yang melelahkan seperti itu."
Aku bak boneka yang tak bisa membantah ataupun menolak rencananya. Sepulang sekolah, aku dan Davin pergi ke suatu tempat dengan motornya. Pantai adalah tempat yang indah untuk dikunjungi sore ini. Aku suka pemandangan pantai. Apalagi pemandangan saat matahari terbenam membuatku merasa nyaman. Satu momen yang membuat jantungku semakin kencang berdebar adalah saat Davin menggandeng tanganku sambil berjalan menyusuri pasir pantai yang terus tersiram ombak. Deg deg, mungkin suara itu terdengar hingga ke telinga Davin, tapi ia tak menghiraukannya. Aku berusaha menenangkan debaran jantungku yang kian mengencang sambil terus membiarkan Davin menggenggam tanganku. Tanpa kusadari, aku sudah berbuat jahat pada David. Teganya diriku, kuhakimi diriku sendiri.
Kami berdua duduk di atas pasir pantai yang kering sambil memandangi pemandangan sore pantai nan indah. Kami takjub. "Mataharinya mulai terbenam," tutur Davin sambil terus memegang tanganku. Andai sejak awal seperti ini, mungkin bebanku berkurang sekarang. Hingga matahari benar-benar beristirahat, Davin baru mengajakku pulang. Takkan mampu kulupakan hari ini. Besok aku harus lebih bersemangat menjalani hari-hariku.
Dengan langkah penuh semangat aku melangkah masuk ke dalam ruang ganti untuk mengganti seragam sekolahku dengan seragam kafetaria. Aku siap bekerja, bisikku pada pantulan diriku di cermin dalam ruang ganti. Saat kubuka pintu ruangan tersebut, jantungku sempat terhenti karena melihat seseorang di hadapanku. Ia berdiri tepat di hadapanku. "Sudah siap untuk bekerja lagi?" tanyanya sambil memamerkan senyumnya. Entah mengapa, aku merasa tegang saat ia tersenyum seperti itu.
"I-iya," jawabku gugup.
"Baguslah kalau begitu. Bekerjalah dengan semangat."
"Eum... David, sejak kapan kau kembali ke sini?"
"Oh, aku lupa memberitahumu, kepulanganku dipercepat karena sudah ada orangtuaku yang mau mengurus kesibukan di sana. Jadi, aku lebih cepat kembali ke sini," jelasnya. "Kau tak senang aku kembali lebih cepat?"
"Bukan, bukan begitu..." Aku bingung harus bicara apa lagi. "Ah, aku harus bekerja." Tak mampu kutatap matanya lama-lama. Apakah ia tahu kejadian kemarin, hatiku bertanya-tanya.
Ada sesuatu yang aneh hari ini. David bersikap lebih lembut dari biasanya, tapi aku merasa ada kejanggalan dari sikapnya hari ini. Apa ia benar-benar tahu kejadian kemarin? Oh tidak, kalau sampai ia tahu, mungkin akan ada masalah besar menantiku.
David menghentikan mobilnya tepat di muka rumahku. Kulepaskan safety belt yang mengikatku selama perjalanan. Aku turun dari mobil David dan seperti biasa, David ikut turun. Ia bersandar pada mobilnya saat aku sudah turun dari mobilnya dan hendak masuk ke dalam rumahku. Ia menarik lenganku. "Kenapa?" tanyaku.
Saat aku menoleh dan bertanya kenapa, ia segera melepaskan lenganku. Tangan kanannya dimasukkan ke dalam saku celananya. "Eee... Ren, kita putus saja ya." Bagai tersambar petir di siang bolong malam ini aku mendengar pernyataannya. Aku benar-benar speechless saat ini. Walau dalam hatiku senang, tapi aku terkejut saat ia mengatakan hal ini. "Aku merasa kita sudah tidak bisa pacaran lagi."
"Ke...napa?" Suaraku terdengar lirih.
"Yah, entahlah. Aku sendiri juga tidak mengerti. Tapi mungkin lebih baik kita putus." Lagi-lagi aku tak mampu berkomentar. Karena memang inilah yang aku tunggu-tunggu. "Ya sudah, aku pulang dulu. Bye." Ia masuk ke dalam mobilnya dan langsung menghilang dari pandanganku dalam hitungan detik.
Kupikir, dengan putusnya aku dan David, aku bisa dengan bebas berhubungan dengan Davin. Aku sudah merdeka, itu pikiran pendekku. Tapi ternyata aku salah total. Dugaanku meleset jauh. Davin tak menggubrisku saat di sekolah sekalipun. Aku tak tahu apa yang salah, ia tak cerita padaku. Tiba-tiba ia mengabaikanku seolah aku ini angin baginya. Sakit, sakit sekali. Tapi tak mungkin aku mengejarnya dan bertanya kenapa padanya. Bisa-bisa aku dianggap mengemis cinta darinya. Aku lebih memilih untuk diam dan ikut membiarkannya, walau itu sungguh berat. Satu hal yang kuingat pasti di benakku, setiap kali aku dan Davin berpapasan di sekolah, ia pasti menatapku dengan tatapan penuh amarah dan kebencian. Aku sendiri tak mengerti kenapa.
TO BE CONTINUED...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar