
Lagi-lagi aku sendiri menjalani hari-hariku. Tidak ada sesuatu yang khusus pada waktu-waktuku di sekolah maupun di kafetaria. Selama aku berada di lingkungan sekolah, Davin diam dan tak bicara sepatah katapun. Demikian pula ketika aku berada di lingkungan kafetaria, tempatku bekerja, tak terlontarkan kalimat apapun dari bibirnya. Aku tak tahu apa salahku, tapi aku harus kuat menghadapinya.
Davin melangkahkan kakinya mendekatiku yang tengah berdiri di dalam dapur. Ia hanya menyodorkan secarik kertas yang berisikan pesanan-pesanan para pelanggan, lalu berlalu begitu saja. Aku yang tetap menjaga hatiku agar tidak rapuh dengan mudah menyiapkan pesanan tersebut sambil berbisik, "Aku harus kuat, aku harus kuat." Mungkin seperti orang bodoh kalau ada orang yang memerhatikanku dari jauh. Tapi aku yakin bahwa ucapan itu bisa menguatkanku.
Hari yang melelahkan, itu yang menjadi pikiranku selama aku bekerja di kafetaria ini. Rasanya lega sekali bisa melewati hari ini. Malam ini aku lebih memilih untuk pulang sendiri, tanpa diantar siapapun. Malangnya, David yang telah menjadi mantanku memaksa Davin untuk mengantarku pulang. Oh tidak, pekikku dalam hati. Aku tak mau ia mengantarku pulang. Kami sedang perang dingin, walau aku tak tahu apa alasannya.
"Aku bisa pulang sendiri. Lagipula aku ada keperluan di tempat lain," bohongku. Aku hanya ingin menghindari Davin dan David.
"Tidak boleh. Pokoknya Davin harus mengantarmu pulang." David angkat bicara dan herannya, Davin sama sekali tidak menunjukkan mimik tidak senang.
Alhasil, Davinlah yang mengantarku pulang dengan sepeda motornya. Sepanjang perjalanan, kami diam, tidak ada satupun yang bicara. Bahkan, sampai di muka rumahkupun sama sekali tak ada satu patah katapun yang terucap dari bibir mungilku. "Aku sudah dengar dari kakakku, kau putus dengannya. Benar begitu?" Akhirnya Davin bersuara juga, batinku. Aku hanya menanggapinya dengan sebuah anggukkan.
"Kau yang memutuskannya?"
"Tidak," jawabku mantap.
Davin menghela nafas. "Ia tahu apa yang kita lakukan kemarin."
"Apa?" Aku terlonjak kaget.
Ia menyeringai. "Aku juga sama terkejutnya sepertimu. Semalam tiba-tiba David muncul dan... ia marah padaku." Aku belum bisa berkomentar apapun karena aku sendiri bingung bagaimana aku harus meresponinya. "Maaf karena hari ini aku mengacuhkanmu. Bukan maksudku, tapi aku..."
"Sudahlah, tak perlu meminta maaf untuk hal yang sepele. Aku juga yang salah karena sejak awal aku tak jujur dengan perasaanku sendiri. Besok biar kujelaskan semuanya pada kakakmu, sekaligus aku ingin mengundurkan diri."
"Mengundurkan diri? Karena masalah ini?"
"Oh, bukan, jelas bukan. Aku hanya ingin lebih fokus pada sekolahku saja karena aku tak ingin mengecewakan ayahku dengan nilai-nilaiku yang menurun. Karena itu, aku memutuskan untuk mengundurkan diri mulai besok."
Davin tidak berkata apapun. Ya, itu juga yang kuharapkan, yaitu agar ia tak banyak berkomentar tentang keputusanku. "Kalau begitu, sampai ketemu besok di sekolah." Davin pamit padaku dan menstarter motornya, lalu pergi meninggalkanku yang masih berdiri mematung di depan rumahku. Aku belum kuat untuk melangkah masuk ke dalam.
"Renata," panggil Ayah yang tengah duduk di ruang tengah sambil membaca koran pagi.
"Ya, Yah?"
"Sudah makan, Nak?"
"Iya, sudah." Lagi-lagi aku berbohong. Sama sekali tidak ada nafsu makan malam ini. Entah mengapa, aku juga tak mengerti.
"Kau kelihatan lesu sekali hari ini, kenapa?"
"Hm... tidak ada apa-apa kok, Yah. Aku hanya merasa lelah hari ini."
"Ya sudah, kamu istirahatlah setelah mandi. Jangan sampai terlalu lelah ya." Itu pesan Ayah yang begitu menyentuh hatiku hari ini.
"Iya, Yah." Kakiku kulangkahkan menuju kamarku dan segera kubersihkan diriku dengan air dan sabun di kamar mandi. Setelah aku yakin bahwa diriku sudah bersih, kubaringkan tubuhku di atas ranjang empuk milikku yang tertata rapi di dalam kamar.
Saat aku sudah terlelap, telepon berdering. Seolah ia memanggilku untuk bangun, tapi kedua mataku rasanya tidak bisa kubuka lagi. Posisiku sudah nyaman di sini. Aku betul-betul terlelap malam itu tanpa tahu siapa yang menelepon dan untuk apa sang penelepon menelepon. Dan malam itu, Ayah bergegas meninggalkan rumah dalam keadaan terkunci entah ke mana. Raut wajahnya terlihat panik dan langkahnya terburu-buru. Ada apakah gerangan?
TO BE CONTINUED...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar