6/18/2009

It's Complicated Part 13


Kuoles selai pada lembaran atas roti tawar yang terbaring di atas telapak tangan kiriku. Kubiarkan selai cokelat kesukaanku melekat di atasnya. Aku sempat tersentak saat mendengar pintu rumah dibuka, lalu ditutup kembali tak lama. Mataku segera melihat sesosok yang kukenal baik melangkah masuk dengan baju berantakan. "Dari mana, Yah?" tanyaku yang bertanya-tanya tentang keberadaan ayahku semalam.
"Euh... Ayah habis menjenguk orang di rumah sakit," jawabnya. Sepertinya ada yang disembunyikannya dariku. Tapi aku tak ingin membuat Ayah semakin lelah hari ini. Untung, hari ini adalah hari libur. Aku tak bersekolah dan Ayah juga tidak masuk kantor.
"Makan yuk, Yah. Aku sudah menyiapkan sarapan untuk Ayah."
Ayah melangkah mendekati meja makan dan duduk di hadapannya. Nafsu makannya tidak sebesar hari sebelumnya. Raut wajahnya juga menyiratkan ekspresi yang tak biasanya. Aku curiga, namun aku tak berdaya. "Hari ini Ayah tidak akan di rumah seharian. Jadi, kamu jaga rumah ya, Ren." Itu pesan Ayah sebelum ia pergi lagi ke rumah sakit. Tentunya ia sudah mandi dan berganti pakaian. Kini, ia terlihat tidak kusam seperti tadi. "Mungkin Ayah takkan makan malam di rumah malam ini."
"Oh, ya..." Tentu saja hatiku bertanya-tanya, tapi mulutku tidak mengeluarkan sebuah kalimat tanya untuk menyiratkan rasa penasaranku. "Hati-hati, Yah." Itu saja kalimat terakhirku hari ini padanya.
Sampai larut malam aku menunggu kepulangan Ayah, tapi ia belum juga pulang saat jarum pendek menunjuk ke angka dua belas. Aku yang merasa lelah hari ini segera terlelap di atas sofa ruang tamu. Pintu rumah sudah kukunci rapat-rapat sebelum aku benar-benar pulas menuju dunia mimpiku.
Kedua mataku kembali terbuka perlahan-lahan, melihat jam dinding rumahku yang menunjukkan bahwa saat ini sudah jam tiga pagi. Aku terbangun karena deringan ponselku yang kuletakkan di atas meja ruang tamu begitu saja. Tertera nama 'Ayah' di layar ponselku. Ia meneleponku. "Ya, Ayah, ada apa?" tanyaku yang masih setengah sadar.
"Renata..." Suaranya terdengar parau. "Kamu harus kemari sekarang."
"Ke mana, Yah?" tanyaku penasaran. Jelas saja aku tak mengerti untuk apa aku harus ke sana.
Jantungku mungkin sempat berhenti beberapa detik lamanya. Aku yang tak percaya dengan pendengaranku langsung mengenakan jaket, lalu bergegas ke tempat ayahku berada saat ini. Selama perjalanan ke sana, segala memoriku terputar kembali. Dan detik itu juga, aku merasa bahwa apa yang kuperbuat selama ini salah besar. Betapa berdosanya diriku ini, hinaku dalam hati. Air mataku bahkan tak bisa menetes saat itu.
Kuperbesar langkahku menuju kamar P 71, tempat Ayah menungguku. Perlahan-lahan kubuka pintu kamar tersebut dan kulihat ada Ayah yang berdiri di sisi ranjang. "Ayah...," ucapku lirih. Aku melihat dengan jelas bagaimana sosok wanita yang amat kukenal, bahkan kubenci terbaring di atas ranjang. "Ini... Ibu?" tanyaku tak percaya. Kepalanya penuh akan simbahan darah segar yang telah mengering di balik perban. Kedua matanya terpejam dan ekspresi wajahnya datar.
"Ya, ini ibumu, Renata."
Mulutku bergetar. Tubuhku terasa berat. Lututku lemas. "Bu..." Kucoba untuk memanggilnya dengan nada lembut. "...Bu, bangun, Bu..." Di hati kecilku berharap ia segera membuka matanya dan menyambutku dengan senyumannya.
"Renata, Ibu sudah meninggal, Nak..." Ayah mencoba untuk kuat di hadapanku. Ia berusaha menenangkanku yang histeris menerima kenyataan pahit ini. Berkali-kali kusalahkan diriku sendiri karena semua terjadi karena ulahku. Semuanya ini terjadi karena aku menolak kehadirannya di rumah. Oh Tuhan, andai Engkau memberikannya hidup satu kali lagi, aku berjanji untuk mengasihinya. Namun, terlambat. Bahkan, aku tak sempat membahagiakan ibuku sendiri, wanita yang telah melahirkanku. Hanya deraian air mata yang mengiringi kepergian ibu kandungku sendiri. Aku begitu jahat, itu nilaiku. Ayah memelukku dengan lembut dan mengelus-elus rambutku. "Yang tegar, Nak. Toh, suatu saat kita juga bisa berkumpul lagi." Tak ada satu katapun yang bisa melukiskan kesedihanku hari ini. Hanya ada penyesalan yang menumpuk di hatiku. Aku hanya bisa berandai-andai, berangan-angan, tanpa adanya kenyataan yang kuharapkan terjadi.

TO BE CONTINUED...

2 komentar:

  1. berasa sedih bangeth ketika kita kehilangan seseorang dan kita merasa terlambat karena kita belum bisa membalas semua kebaikannya.. hixx..

    BalasHapus
  2. lebih menarik lagi.. bila blognya di isi dengan pengalaman sendiri aja ....
    :)
    pasti lebih mengasikkan bukan ... oc
    :p

    BalasHapus