6/06/2009

It's Complicated Part 10


Rasa-rasanya masalah datang bertubi-tubi membebani bahuku setiap hari. Dulu, masalah terbesarku adalah soal perasaanku yang tak terbalas. Dan belum selesai masalah itu, masalah lain sudah kembali menimpa. Aku tak tahu bagaimana harus menghadapi masalah seperti ini. Sudah bertahun-tahun ibuku pergi meninggalkanku dan Ayah, lalu kini ia kembali dan bertemu dengan Ayah. Apa maksud semua ini? Ke mana saja ia selama ini? Tidakkah ia peduli pada kami, tanyaku dalam hati. Semalaman otakku memikirkannya, tapi yang kutemukan adalah jalan buntu. Aku tidak tahu harus berbuat apa kalau seandainya ia kembali ke sini. Haruskah aku menerimanya kembali dengan lapang dada atau aku harus menolaknya mentah-mentah dan mengusirnya agar hidupku tetap dalam kedamaian seperti ini, entahlah.
Aku banyak melamun hari ini. Makanya, tak heran Davin kerap menanyaiku saat aku bekerja. "Kau sedang ada masalah?" Ia begitu perhatian padaku dan hatiku selalu luruh dengan sikapnya. Mungkin aku memang pantas disebut sebagai seorang pengkhianat. Jelas-jelas aku sudah mempunyai pacar, tapi aku malah mendua.
Kugelengkan kepalaku pelan. "Tidak kok, tidak ada. Aku baik-baik saja."
Berbeda dengan David yang biasanya langsung percaya, Davin dengan tatapan tajam terus memandangiku. "Kau berbohong padaku. Aku tahu persis, kau sedang memikirkan sesuatu." Deg! Aku hanya bisa terdiam. Ia tidak seperti David, batinku waspada. "Kenapa kau tidak mau jujur padaku?"
"Bukannya aku tak mau jujur padamu..." Aku buru-buru menepis sangkaannya. "Tapi..." Entah apa kalimat yang pantas kulanjuti setelah ini. Haruskah kubeberkan masalah keluargaku? Itu pribadi. "Ini masalah pribadi dan aku tidak mungkin bisa membeberkannya seenaknya." Kujelaskan dengan nada pelan.
Davin menarik nafas panjang. "Ya sudah, aku takkan memaksa kalau itu memang masalah pribadi. Tapi kalau kau memang butuh teman cerita, aku siap mendengarkannya." Senyumannya begitu mensejahterakan hatiku.
Tuhan, aku begitu menyayanginya, batinku menjerit. Rasanya, aku damai ketika ada di sampingnya. Tidak ada rasa damai yang begitu kuat selain ketika ia ada bersamaku. Tapi satu hal yang mengganjal di hatiku adalah bagaimana hubunganku dengan David. Haruskah ia kukhianati sedemikian rupa, padahal selama ini ia selalu baik padaku? Aku tak tega melukainya.

Seperti biasa, hari ini Davin mengantarku pulang. Bedanya dari yang lalu, ia lebih perhatian padaku sekarang. Sejak ia mengungkapkan perasaannya padaku, sikapnya padaku juga ikut berubah. Yang biasanya ia dingin dan tidak peduli, kini ia mulai menunjukkan rasa sayangnya padaku. Aku senang, tapi hatiku mengalami dilema. Bahkan, saat Davin mendadak mencium pipiku, hatiku meledak-ledak karena kegirangan. Namun, di lain sisi, memoriku kembali teringat akan sosok David yang ada di luar kota.
Jujur, statusku dengan Davin menggantung. Tidak ada kata 'jadian' dalam hubunganku dengannya. Davin sendiri juga belum menegaskannya, jadi aku tidak berani menegaskan sendiri. Ketika orang bertanya, aku hanya menjawab dengan senyuman paling lebar karena aku tak tahu jawaban apa yang pantas kulontarkan pada mereka. Dan untuk hubunganku dengan David... semuanya hanyalah status palsu, seperti lagu Vidi Aldiano dengan judul 'Status Palsu'. Entah sampai kapan semuanya ini berlangsung. Yang pasti, aku berharap semuanya cepat usai. Aku lelah memakai topeng seperti ini.

Kulangkahkan kakiku masuk ke dalam rumahku setelah kupastikan Davin sudah pergi meninggalkan muka rumahku. Ada sepasang sepatu hak tinggi berwarna merah hati di depan pintu rumah. Ada tamu, pikirku. Dan saat kubuka daun pintu rumah secara perlahan, aku tahu siapa orang yang bertamu di rumah ini malam-malam begini.
Orang itu segera berdiri dan menyambutku dengan penuh lembut. "Renata..." Ia mendekatiku dan hendak memelukku, tapi kutepis dengan penuh kebencian. "Renata, kenapa?" Wajahnya tampak sendu saat aku menepis pelukannya.
"Kenapa? Mestinya aku yang bertanya seperti itu! Ke mana saja selama ini, hah? Kenapa seenaknya meninggalkan aku dan Ayah sampai bertahun-tahun?" bentakku dengan penuh emosi. Kurasakan darah mengalir ke atas kepalaku. Aku marah.
Ayah ikut bangkit dari posisi duduknya dan menahan amarahku terhadapnya. "Renata, ia ini ibumu, Nak. Kenapa kau begitu kasar padanya? Sikapmu itu tidak pantas."
"Wanita ini tidak pantas disebut sebagai seorang ibu, Ayah. Ia sudah meninggalkan kita bertahun-tahun, apa Ayah mau ditinggalkan lagi seperti dulu? Sekarang ia datang ke sini pasti untuk suatu tujuan yang tidak baik dan ia pasti akan pergi lagi meninggalkan kita karena baginya, kita tidaklah penting. Toh, ia juga sudah mengkhianati Ayah."
Tidak bisa kulupakan bagaimana tangan besar Ayah menampar pipi kiriku setelah aku berkata demikian. Aku memang salah karena sudah berkata kasar, tapi ini pertama kalinya aku ditampar. Air mata segera menetes di pipiku dan kutinggalkan mereka. "Maafkan Renata." Ayah berkata dengan lembut.
"Tidak, akulah yang salah." Wanita itu ikut menitikkan air mata. Pedih.
"Ini bukan salahmu, Van. Mungkin dari awal, memang aku yang salah karena aku tidak bisa menjadi suami yang baik bagimu dan tidak bisa menjadi ayah yang baik bagi anak kita."
"Surya..." Demikian ibuku memanggil nama pria yang mungkin pernah dicintainya. Tidak tahu sekarang. "Aku sungguh minta maaf karena telah meninggalkan kalian." Ia berlutut di hadapan ayahku. Untuk apa ia melakukan ini, jeritku dalam hati di kamar. Padahal hidupku sudah damai tanpa kehadirannya. Kini, ia rusak seluruh ketenangan rumahku.
"Berdirilah. Untuk apa kau berlutut seperti itu?" Ayah menuntunnya untuk berdiri.
"Tidak, aku betul-betul memohon ampun darimu karena aku memang telah mengkhianati kalian. Maafkan aku."
Mungkin saat itu Ayahpun ingin menangis, tapi ia berusaha untuk kuat menghadapi kenyataan. Ternyata benar dugaanku selama ini, wanita itu sudah memiliki keluarga yang lain tanpa berpisah dengan Ayah secara resmi. Wanita sialan, makiku. "Jadi, apa yang selama ini Renata katakan benar, Van?" tanyanya memastikan dengan suara bergetar.
Wanita bernama Vania itu mengangguk sambil terus berlutut. Ayah berdiri di hadapannya. Tubuhnya begitu tinggi. "Kau sudah berkeluarga lagi dengan orang lain?" Lagi-lagi ia meyakinkan tentang hal ini.
"Ya... maafkan aku..." Semudah itu ia mengucapkan kata maaf. Brengsek! Tidak tahukah ia betapa sakit kenyataan ini? "Maafkan aku karena telah meninggalkan kalian seperti ini..."
Helaan nafas Ayah terdengar jelas. Ia sedemikian rupa menahan tangis kepedihan di hadapan wanita yang masih sah menjadi istrinya. "Kau tahu, kata maaf itu takkan cukup..."
"Ya, aku tahu... tapi aku juga tak tahu, apa lagi yang harus kuperbuat..."
"Pergilah... jangan lagi kembali kemari..."
"Tapi, Surya..."
"PERGI!!!" Kudengar teriakan Ayah yang terdengar begitu memilukan di telingaku. Tangisku semakin menjadi karenanya. Wanita itu memang pembawa petaka, kutukku. Suara lantang Ayah membuat wanita itu ketakutan dan segera pergi dengan deraian air mata. Aku terlalu yakin bahwa Ayah juga manusia dan ia lemah. Dan tanda dari kelemahannya adalah air mata. Ya, air mata. Walau aku tak menyaksikannya malam ini, aku yakin bahwa air matanyapun membasahi kedua pipinya, bahkan mungkin wajahnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar