Di kantin sekolah, di sanalah aku terduduk seorang diri sambil mengaduk-aduk teh manis hangat yang kupesan pagi ini. Aku sedang malas berada di dalam kelas. Alasannya sudah jelas karena tiap pagi aku harus melihat sahabatku dan pacarnya berduaan di sudut ruang kelas. Membuatku iri saja, gerutuku kesal. Aku tidak mengharapkan seseorang datang menghampiriku dan mengajakku berbincang sebentar, sama sekali tidak. Tapi yang terjadi malah sesosok pemuda yang sama sekali tak ingin kutemui mendekatiku dan duduk tepat di hadapanku dengan wajah seolah tidak ada masalah apapun. Dengan wajah polosnya itu, ia berceletuk, "Tumben ke kantin pagi-pagi." Rasa kesal memenuhi hatiku, sehingga tak kugubris celetukannya ini walau hanya dengan segaris senyum di bibirku. Aku betul-betul marah. "Kenapa sih, kok kayak bete gitu?"
Tak mampu menahan emosi, aku langsung menggertaknya. "Lo tuh emang pelupa atau emang sengaja lupa sih? Lo udah bikin gue keki, sekarang malah nanya kenapa? Perasaan lo tuh, di mana sih, Bel?" Tak peduli semua mata tertuju pada kami, aku cuma ingin meluapkan emosiku yang meledak-ledak dari semalam.
"Tunggu, tenang dulu dong, Lir. Lo kenapa tiba-tiba ngomel ke gue? Gue gak ngerti nih."
"Perlu gue jelasin? Oke, gue jelasin ya. Kemaren lo janji bakal pulang bareng gue sepulang sekolah. Lo bakal nganter gue pulang. Gue tungguin di koridor sekolah, tapi ternyata lo malah nganter cewek lain. Gue pikir, lo cuma nganter bentar. Tapi setelah berjam-jam gue nungguin lo, ternyata lo gak balik lagi ke sekolah. Dengan kata lain, lo lupa sama janji lo ke gue... lagi!!!" Ini sudah ke sekian kalinya ia melupakan janjinya. Entah pura-pura atau memang lupa, tapi yang jelas ini sudah kelewatan.
Abel nyaris mati gaya, tapi ia mencoba memberi penjelasan padaku. "Oke, gue salah. Tapi gue emang bener-bener lupa, Lir. Sumpah, gue..."
Aku tak memberinya kesempatan untuk melanjutkan penjelasannya. "Udahlah, Bel, gue udah capek. Mau berapa kali lo minta maaf sama gue sih? Gue aja udah bosen dengerinnya. Mendingan kita udahan aja, lagian kita pacaran juga cuma nyoba-nyoba." Aku langsung meninggalkannya tanpa menggubris panggilannya. Aku cuma bisa menangis di dalam hati, menyayangkan rusaknya hubunganku dengan Abel hanya karena masalah sepele yang sebenarnya bisa diperbaiki. Ah, tahu begitu lebih baik aku berteman saja dengannya, sesalku kemudian.
Axel sama sekali tidak tahu tentang keributan yang terjadi di kantin sekolah. Ia sedang asyik duduk di tempat duduknya sambil membaca buku catatannya. Sepertinya hari ini akan ada ulangan. Tiba-tiba kehadiran seseorang mengalihkan pandangan matanya dari buku. Sesosok yang berbeda di matanya muncul tepat di hadapannya. "Siapa ya?" Tanpa sadar, dari mulutnya keluar pertanyaan yang dianggapnya bodoh. Orang itu menoleh ke arah Axel dan barulah Axel mengenalnya. "Astaga, gue pikir siapa gitu. Ternyata lo, San."
"Lah? Emang lo pikir bakal ada anak baru yang masuk gitu?"
"Bukannya gitu sih. Eh, udah belajar buat ulangan?"
Gadis bernama Sandra itu meletakkan tas sekolahnya, lalu duduk di tempatnya dan menjawab, "Udah, sebagian. Lo?"
"Kurang lebih lah. Susah nih, ngafalinnya."
"Iya. Otak gue juga udah lumayan penat sama beginian. Pengen cepet-cepet ulangan, terus udah deh, lega." Sandra membuka lembaran catatannya dan mulai menghafal. Sementara mata Axel tidak bisa lepas dari sosok gadis yang tiba-tiba menjadi berbeda di pandangannya. "Eh, besok Alfa ulangtahun. Lo diundang juga 'kan?" tanyanya tiba-tiba, membuat Axel harus pura-pura mengalihkan pandangannya.
"Eum... iya, gue diundang kok. Lo ikut? Bareng yuk."
"Boleh aja sih, kalo gak ngerepotin lo."
"Gak, masa gitu aja ngerepotin? Gue gak merasa direpotin kok. Lo udah beli kado? Bingung mau kasih kado apa nih."
"Gue juga bingung. Habis gue juga gak pinter milih kado buat cowok."
"Pulang sekolah, milih kado bareng yuk."
"Boleh aja sih, tapi mungkin ntar bubar gue masih mau ke perpus dulu, mau balikin buku perpus."
"Sip, tenang aja. Ntar bareng ke perpus aja. Siapa tau dapet ide beli kado apa di perpus," kelakar Axel sehingga Sandra ikut tertawa kecil.
Abel duduk di antara kerumunan teman-temannya. Ia masih melamun, memikirkan kejadian di kantin tadi pagi. "Apa gue emang salah ya?" tanyanya pada dirinya sendiri, tapi ternyata teman-temannya mendengarnya.
"Salah apaan, Bel?"
"Euh... nggak kok, nggak papa."
"Duh, Bel, lo kalo ada masalah cerita-cerita dong. Lo lagi kenapa sih? Mikirin cewek?"
Abel tertawa kecil, tawa palsu. "Iya nih, baru diputusin cewek."
"Hah? Diputusin cewek? Emang kapan lo jadian, bro?"
"Kapan ya? Gue juga lupa."
"Ah, lo mah emang pelupa."
"Apa boleh buat, gue juga gak bisa apa-apa sama sifat pelupa gue."
"Tandain dong, di kalender."
"Masa iya gue bawa-bawa kalender ke sekolah?"
"By the way, terus kok bisa diputusin? Emang gimana ceritanya?"
"Yah, gitu... gara-gara sifat pelupa gue itu. Ah, gue jadi pusing sendiri mikirinnya."
"Ngomong-ngomong, mantan cewek lo emang siapa, Bel? Kok kita-kita gak pernah liat lo bareng ama dia?"
"Ada deh. Masa gue harus beberin semuanya ke lo pada? Ini 'kan termasuk privasi gue."
"Ah, gitu lo. Cerita-cerita dong, bro."
"Lo pada kayak cewek aja ya, demen banget ngegosip. Udah ah, gue pengen cari udara seger dulu." Abel pergi meninggalkan komunitasnya yang ramai sekali di dalam kelas.
to be continued...
11/17/2009
11/05/2009
Between Girl and Boy 16
Di dalam satu ruangan berlampu remang-remang, di sanalah aku dan Abel berada. Ini masih jam lima pagi dan Axel belum juga bangun dari mimpinya yang indah. Keadaan rumahku masih sepi dan waktunya kami berdua beraksi bersama. Kutancapkan beberapa benda kecil berbentuk silinder yang berwarna-warni. Setelah yakin bahwa benda itu takkan jatuh, barulah kubiarkan cucu dari si raja merah melahapnya perlahan-lahan.
Kami berdua, aku dan Abel, melangkah perlahan-lahan menaiki anak-anak tangga dan berhenti tepat di depan pintu kamar Axel yang masih tertidur pulas. Abel membuka pintu kamar itu pelan-pelan dan aku terus melangkah dengan mengendap-endap, seperti seorang pencuri. Setelah pas dengan posisi berdiriku, aku dan Abel baru membuat keributan di dalam kamar Axel yang sunyi sebelumnya.
"Happy birthday to you, happy birthday to you, happy birthday dear Axel... happy birthday to you..." Axel yang terganggu akan keberisikan yang kami ciptakan, mulai membuka matanya pelan-pelan dan melihat keberadaan kami di hadapannya. "Bangun, bangun, udah pagi," seruku sambil terus memegang kue ulangtahun Axel yang kubuat sendirian semalam.
"Hei, Xel, met pagi." Abel cuma tersenyum.
Axel baru benar-benar duduk di atas ranjangnya dengan tampang berantakan karena baru bangun. Matanya masih belum sepenuhnya terbuka. "Aduh," keluhnya dengan suara sedikit serak. "Ini baru jam lima kali. Gue masih ngantuk nih." Ia hampir saja memutuskan untuk tidur lagi, tapi kucegah dengan cipratan air dingin yang Abel bawa di tangannya.
"Bangun, bangun. Udah pagi tau. Atau lo mau gue guyur aja sekalian, Xel?"
"Iya, iya, iya... lo pada ganggu mimpi indah gue aja."
"Biarin. Lagian lo juga sering gitu ama gue 'kan, Xel? Bales dendam nih."
"Make a wish dulu, Xel." Abel menyuruh. Sementara Axel menutup matanya untuk make a wish, telunjukku sudah siap dengan setumpuk kecil krim kue yang ada di pinggir kue. Saat Axel selesai meniup lilin-lilin yang ada, kucolek mukanya dengan krim kue yang menempel di jari telunjukku. Kini, wajah Axel terlihat berantakan dan mau tak mau ia harus membersihkan diri dengan air, alias mandi.
"Eits, sebelum mandi, ada kado nih, dari gue." Kusodorkan sekotak kado yang sudah kusiapkan beberapa hari yang lalu. Ini spesial untuk kakakku tercinta yang hari ini berulangtahun.
"Apaan nih? Dikerjain lagi nih, gue?" tanya Axel berburuk sangka. Jahatnya, padahal aku benar-benar tulus memberikannya hadiah. "Bercanda, Lir. Thanks ya." Ia mengusap rambutku. "Terus kado dari lo apa, Bel?" candanya setengah tertawa.
"Nih." Aku tidak tahu kalau Abel juga sudah mempersiapkan kado untuk Axel.
"Thanks, Bel. Padahal gue cuma bercanda nanyainnya, ternyata beneran dapet kado dari Abel." Ia tertawa senang. Memang seharusnya hari ini Axel merasa senang karena hari ini spesial baginya. Hari ini umurnya tepat 18 tahun.
Rencana hari ini berhasil dan jelas saja aku senang. Untung Abel menepati janjinya hari ini. Kujalani waktu-waktuku di sekolah seperti biasa bersama teman-temanku. Dan aku merasa sedikit iri ketika melihat salah satu sahabatku tengah berdua bersama pacarnya di sudut kelas. Aku juga mau seperti itu, pekikku dalam hati. Tapi rasanya itu tak mungkin ya, aku malah jadi pesimis. Ah, masa bodo lah.
Di tengah teriknya matahari aku menunggu Abel di koridor bawah sekolah. Hari ini aku dan Abel akan pulang bersama. Senangnya, tapi kuharap ia tak lupa lagi dengan janjinya. Kedua mataku menemukan sosok Abel yang tengah duduk di atas motor. Ia men-starter motornya dan menggasnya pelan, lalu berhenti sejenak. Otomatis aku segera bangkit dan melangkah mendekatinya. Tapi baru saja aku melangkah dua-tiga langkah, Abel langsung buru-buru pergi meninggalkan sekolah dengan membonceng seorang gadis yang tak kukenal. Mungkin itu temannya, tapi bukannya ia janji untuk pulang denganku? Kucoba menekan setiap amarah yang ada di dada dan kubiarkan diriku terduduk di bangku koridor sambil menunggu kedatangan Abel kembali.
Kupikir Abel hanya mengantarnya sebentar, lalu kembali ke sekolah untuk menjemputku. Tapi sampai dua jam aku menunggu, bahkan sampai sekolah sepi, aku tak melihat sosoknya kembali ke lingkungan sekolah. Kucoba meneleponnya untuk menanyakan keberadaannya, tapi tidak aktif. Jelas emosiku meledak dan kuputuskan untuk pulang sendiri jalan kaki.
Axel masih ikut ekskul dan ia masih berada di sekolah sampai jam empat sore. Seusai ekskul, Axel masih berkumpul dengan teman-teman dekatnya di kantin sekolah untuk tertawa bersama. Dan tiba-tiba sesosok perempuan muncul di hadapan Axel dan teman-temannya. Semua langsung terdiam, termasuk Axel.
"Eumm... Xel, aku cuma mau kasih ini ke kamu..." Ia terlihat malu-malu.
Axel bangkit dan berdiri tepat di hadapannya. Ia tahu apa yang seharusnya ia lakukan. "Apa itu?" tanyanya dingin.
"Hadiah ulangtahun... hari ini 'kan kamu ulangtahun."
Senyuman dingin Axel menghiasi wajahnya. "Masih inget juga toh? Aku pikir, kamu lupa sama ulangtahun aku karna terlalu banyak cowok yang kamu gaet." Jelas, itu kata-kata yang tajam. "Denger ya, aku udah gak peduli lagi sama kamu dan aku harap kamu juga jangan peduli lagi sama aku." Gadis itu langsung menggunakan air matanya sebagai tameng. "Udahlah, gak usah nangis-nangis lagi. Simpen aja tuh air mata buat cowok-cowok bego yang kamu gaet. Aku udah muak ngeliat kamu nangis." Axel langsung menjauhinya dan kembali pada perkumpulannya. Dalam hatinya, ia benar-benar menyesal atas perkataannya yang tajam pada gadis yang benar-benar ia sayangi, tapi ia merasa benar dengan perlakuannya. Tidak mungkin ia terus hidup dalam kesedihan seperti ini. Toh, suatu saat akan ada gadis yang lebih baik yang akan bersamanya.
to be continued...
Kami berdua, aku dan Abel, melangkah perlahan-lahan menaiki anak-anak tangga dan berhenti tepat di depan pintu kamar Axel yang masih tertidur pulas. Abel membuka pintu kamar itu pelan-pelan dan aku terus melangkah dengan mengendap-endap, seperti seorang pencuri. Setelah pas dengan posisi berdiriku, aku dan Abel baru membuat keributan di dalam kamar Axel yang sunyi sebelumnya.
"Happy birthday to you, happy birthday to you, happy birthday dear Axel... happy birthday to you..." Axel yang terganggu akan keberisikan yang kami ciptakan, mulai membuka matanya pelan-pelan dan melihat keberadaan kami di hadapannya. "Bangun, bangun, udah pagi," seruku sambil terus memegang kue ulangtahun Axel yang kubuat sendirian semalam.
"Hei, Xel, met pagi." Abel cuma tersenyum.
Axel baru benar-benar duduk di atas ranjangnya dengan tampang berantakan karena baru bangun. Matanya masih belum sepenuhnya terbuka. "Aduh," keluhnya dengan suara sedikit serak. "Ini baru jam lima kali. Gue masih ngantuk nih." Ia hampir saja memutuskan untuk tidur lagi, tapi kucegah dengan cipratan air dingin yang Abel bawa di tangannya.
"Bangun, bangun. Udah pagi tau. Atau lo mau gue guyur aja sekalian, Xel?"
"Iya, iya, iya... lo pada ganggu mimpi indah gue aja."
"Biarin. Lagian lo juga sering gitu ama gue 'kan, Xel? Bales dendam nih."
"Make a wish dulu, Xel." Abel menyuruh. Sementara Axel menutup matanya untuk make a wish, telunjukku sudah siap dengan setumpuk kecil krim kue yang ada di pinggir kue. Saat Axel selesai meniup lilin-lilin yang ada, kucolek mukanya dengan krim kue yang menempel di jari telunjukku. Kini, wajah Axel terlihat berantakan dan mau tak mau ia harus membersihkan diri dengan air, alias mandi.
"Eits, sebelum mandi, ada kado nih, dari gue." Kusodorkan sekotak kado yang sudah kusiapkan beberapa hari yang lalu. Ini spesial untuk kakakku tercinta yang hari ini berulangtahun.
"Apaan nih? Dikerjain lagi nih, gue?" tanya Axel berburuk sangka. Jahatnya, padahal aku benar-benar tulus memberikannya hadiah. "Bercanda, Lir. Thanks ya." Ia mengusap rambutku. "Terus kado dari lo apa, Bel?" candanya setengah tertawa.
"Nih." Aku tidak tahu kalau Abel juga sudah mempersiapkan kado untuk Axel.
"Thanks, Bel. Padahal gue cuma bercanda nanyainnya, ternyata beneran dapet kado dari Abel." Ia tertawa senang. Memang seharusnya hari ini Axel merasa senang karena hari ini spesial baginya. Hari ini umurnya tepat 18 tahun.
Rencana hari ini berhasil dan jelas saja aku senang. Untung Abel menepati janjinya hari ini. Kujalani waktu-waktuku di sekolah seperti biasa bersama teman-temanku. Dan aku merasa sedikit iri ketika melihat salah satu sahabatku tengah berdua bersama pacarnya di sudut kelas. Aku juga mau seperti itu, pekikku dalam hati. Tapi rasanya itu tak mungkin ya, aku malah jadi pesimis. Ah, masa bodo lah.
Di tengah teriknya matahari aku menunggu Abel di koridor bawah sekolah. Hari ini aku dan Abel akan pulang bersama. Senangnya, tapi kuharap ia tak lupa lagi dengan janjinya. Kedua mataku menemukan sosok Abel yang tengah duduk di atas motor. Ia men-starter motornya dan menggasnya pelan, lalu berhenti sejenak. Otomatis aku segera bangkit dan melangkah mendekatinya. Tapi baru saja aku melangkah dua-tiga langkah, Abel langsung buru-buru pergi meninggalkan sekolah dengan membonceng seorang gadis yang tak kukenal. Mungkin itu temannya, tapi bukannya ia janji untuk pulang denganku? Kucoba menekan setiap amarah yang ada di dada dan kubiarkan diriku terduduk di bangku koridor sambil menunggu kedatangan Abel kembali.
Kupikir Abel hanya mengantarnya sebentar, lalu kembali ke sekolah untuk menjemputku. Tapi sampai dua jam aku menunggu, bahkan sampai sekolah sepi, aku tak melihat sosoknya kembali ke lingkungan sekolah. Kucoba meneleponnya untuk menanyakan keberadaannya, tapi tidak aktif. Jelas emosiku meledak dan kuputuskan untuk pulang sendiri jalan kaki.
Axel masih ikut ekskul dan ia masih berada di sekolah sampai jam empat sore. Seusai ekskul, Axel masih berkumpul dengan teman-teman dekatnya di kantin sekolah untuk tertawa bersama. Dan tiba-tiba sesosok perempuan muncul di hadapan Axel dan teman-temannya. Semua langsung terdiam, termasuk Axel.
"Eumm... Xel, aku cuma mau kasih ini ke kamu..." Ia terlihat malu-malu.
Axel bangkit dan berdiri tepat di hadapannya. Ia tahu apa yang seharusnya ia lakukan. "Apa itu?" tanyanya dingin.
"Hadiah ulangtahun... hari ini 'kan kamu ulangtahun."
Senyuman dingin Axel menghiasi wajahnya. "Masih inget juga toh? Aku pikir, kamu lupa sama ulangtahun aku karna terlalu banyak cowok yang kamu gaet." Jelas, itu kata-kata yang tajam. "Denger ya, aku udah gak peduli lagi sama kamu dan aku harap kamu juga jangan peduli lagi sama aku." Gadis itu langsung menggunakan air matanya sebagai tameng. "Udahlah, gak usah nangis-nangis lagi. Simpen aja tuh air mata buat cowok-cowok bego yang kamu gaet. Aku udah muak ngeliat kamu nangis." Axel langsung menjauhinya dan kembali pada perkumpulannya. Dalam hatinya, ia benar-benar menyesal atas perkataannya yang tajam pada gadis yang benar-benar ia sayangi, tapi ia merasa benar dengan perlakuannya. Tidak mungkin ia terus hidup dalam kesedihan seperti ini. Toh, suatu saat akan ada gadis yang lebih baik yang akan bersamanya.
to be continued...
Langganan:
Postingan (Atom)