Dengan setengah mengantuk aku melangkah menuju ruang kelas yang sudah ramai. Hari ini aku telat sepuluh menit dari biasanya. Untung bel masuk belum terdengar, jadi aku aman dari guru piket hari ini. "Udah belajar lo, Lir?" tanya Desti begitu aku menduduki bangkuku.
"Yah, gitu deh," jawabku ogah-ogahan.
"Kenapa sih? Lagi berantem sama pacar lo ya?"
Aku langsung menatapnya heran. "Lo bisa baca pikiran orang ya?"
"Gak lah. Lo pikir gue peramal? Gue tau dari tampang lo yang kusut pagi-pagi gini."
Helaan nafasku terdengar berat. "Iya nih, Des. Kesel gue sama dia. Kemaren gue nungguin dia sampe berjam-jam. Padahal kita udah janji buat jalan-jalan sepulang sekolah. Terus kemaren-kemaren dia juga bikin gue nunggu berjam-jam di rumah. Bete gue, Des. Dan yang paling gue keselin adalah alasannya dia bikin gue nunggu."
"Emang alasannya apaan?"
"Lupa. Konyol 'kan? Gak logis tau. Jangan-jangan dia ada maen lagi di belakang."
"Hus! Prasangka lo berlebihan. Emang lo punya bukti dia mendua, Lir?"
"Ya, kagak sih. Siapa tau gitu."
"Kenapa gak lo omongin ama dia baik-baik? Gue yakin, semua masalah pasti bakal selesai dengan cara ngomong empat mata secara baik-baik."
"Gue juga pengennya gitu, Des. Tapi masalahnya adalah... gue udah gak bisa percaya lagi sama dia. Jelas-jelas dia udah bilang janji, masa iya gak ditepatin?"
"Coba ngomongin dulu, ntar baru kasih kesempatan dia sekali lagi. Syukur kalo berubah, kalo nggak ya good bye."
Aku merenung sejenak. "Jangan-jangan dia cuma maenin gue lagi, Des."
"Duh, prasangka lo lebay banget deh, Lir. Udah deh, stop berprasangka dan coba ngomongin baik-baik."
Senyumku mulai merekah mendengar saran dari sahabatku yang satu ini. Ia memang jago dalam hal percintaan. "Thanks ya, Des. Ntar gue coba ngomong sama dia baik-baik deh."
"Sip lah. Ntar kasih kabar selanjutnya ya." Cengirannya mengakhiri waktu luang kami sebelum masuk. Bel masuk sudah berbunyi untuk memanggil semua murid masuk ke dalam kelasnya masing-masing.
Aku dan Abel duduk berhadapan di salah satu meja kantin sekolah. Tatapan mataku serius dan tajam, sedangkan Abel terduduk lesu di hadapanku. "Gue betul-betul minta maaf soal kemaren, Lir. Gue tau kok, gue salah." Sengaja tak kuhiraukan dulu. "Gue emang kadang-kadang suka pelupa, apalagi soal janji. Eum... lo mau maafin gue, Lir?" Aku diam, tak menjawab apapun. "Jadi, gue mesti gimana supaya lo mau maafin gue? Gue ikutin mau lo deh."
Nah, kali ini aku mulai menyunggingkan senyuman kemenanganku. "Oke, gue maafin. Tapi syaratnya satu."
"Apa?"
"Sini, gue bisikin." Kubisikkan sesuatu di telinga Abel dan kulihat ia ikut tersenyum denganku. Ya, kami punya rencana. "Deal?"
"Oke. Tapi lo mau maafin gue 'kan?"
"Asal lo gak lupa lagi."
"Iya, kali ini gue gak bakal lupa lagi deh." Senang mendengarnya dan berharap ia takkan lagi melupakan rencana besar ini.
to be continued...
10/10/2009
10/08/2009
Between Girl and Boy 14
Hari pertama mulai sekolah, aku bangun lebih pagi dari biasanya karena tak sabar untuk kembali bersekolah. Aku kangen pada sekolah dan teman-temanku. Hari ini pasti akan ramai dengan pertanyaan seperti ini. "Liburan ke mana aja?" Salah satunya adalah Desti.
"Gue di rumah aja. Paling jalan-jalan sama Axel terus sama..." Aku terhenti sampai situ.
"Sama siapa, Lir?"
"Cowok gue," jawabku dengan bangga.
"Cowok lo? Siapa? Kok lo gak cerita-cerita sih, udah punya cowok?"
"Habis lo sibuk sama Yuda terus sih. Gue jadi gak enak deh, cerita sama lo. Tiap kali gue telepon, pasti lagi sama Yuda lo tersayang."
"Ih, kok kesannya ngeledek gue gitu sih? Terus, terus, gimana ceritanya? Ceritain dong."
"Ntar aja ah, pas pulang. Lo juga bakal liat kok, siapa cowok gue. Dia oke banget deh, kalah kalo dibandingin sama Yuda lo."
"Eits... sampe kapanpun, buat gue Yuda is the best dong."
"Iya deh, iya."
"Ntar jangan lupa ya, kenalin ke gue."
"Sip. Tapi jangan ikut naksir dia ya. Repot gue ntar."
"Emang tampang gue tampang orang yang makan temen ya?"
"Kagak sih, kagak salah lagi," candaku.
"Ih, Lira jahat."
"Bercanda, Des. Tampang lo mah tampang pemakan segala makanan."
"Maksud lo, gue rakus gitu?"
"Kurang lebih gitu." Kadang aku ini iseng juga ya, pikirku geli.
Sampai jam tiga Abel belum juga muncul di depan pintu kelas. Padahal sudah hampir setengah jam aku dan Desti menunggu kedatangannya. Tak lama, seseorang muncul di ambang pintu. "Hon, kamu beloman?" Ternyata itu Yuda, pacar Desti yang sudah menunggunya sejak tadi.
"Eum... Lir, gue duluan ya. Soalnya Yuda mau ada urusan nih. Besok pagi deh, gimana?"
"Hm, ya udah. Hati-hati ya."
"Yo, salam juga buat cowok lo." Aku tak lagi menanggapinya. Ini ke dua kalinya aku dibuat menunggu. Uh, sebal sekali rasanya.
Satu jam berlalu dan ini sudah hampir jam empat. Semuanya sudah pulang dan semestinya Abel muncul di hadapanku sekarang. Tapi ia tak kunjung datang. Jadi, kuputuskan untuk meninggalkan kelas sekarang karena sudah waktunya setiap pintu ruang kelas dikunci. Terpaksa aku melangkah pulang ke rumah. Tapi di tengah jalan ada seseorang yang menghadangku. "Lira." Ia memanggilku dari balik helmetnya. Dan ketika ia membukanya, kulihat wajah Abel. "Yuk!" Disuruhnya aku naik tanpa basa-basi.
"Gue mau pulang."
"Lho, gak jadi jalan?"
"Lo telat."
"Sori, sori."
"Apa? Lo lupa lagi?"
"Hampir sih..."
Rasanya marahpun percuma. "Udahlah, batalin aja semuanya. Gue mau pulang."
"Lho, Lir, tunggu dong." Abel mengejarku dengan motornya. "Kita masih bisa jalan kok."
"Udah sore, gue males. Lagian lo lupa 'kan? Udahlah, gak usah janji-janji lagi. Gue paling males sama orang yang lupa sama janjinya sendiri."
"Terus gue mesti gimana supaya lo mau maafin gue? Gue akui, gue emang rada pelupa. Jadi..."
"Itu bukan alasan!" gertakku kesal, lalu kembali melangkah.
"Lira!" Abel terus mengikutiku. Bahkan, sampai aku tiba di rumahpun, ia masih memanggilku. "Lir..." Tapi karena aku terlalu kesal, aku mengacuhkannya dan membiarkannya sendirian di luar sana.
"Kenapa lo, berantem?" tanya Axel yang mendengar panggilan Abel dari luar.
"Tau ah! Males gue ngomongin begituan."
"Ck ck... anak muda zaman sekarang lucu ya."
"Maksud lo?"
"Yah, gapapa. Cuma gue kasian aja sama Abel. Gue suruh dia masuk ya."
"Terserah lo, tapi gue ogah ngomong sama dia lagi."
Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan, tapi yang pasti setelah Axel menggerak-gerakkan mulutnya, Abel langsung pamit dan pergi. "Ah, gue berasa jadi orang tua."
"Ngomong apa lo sama Abel?"
"Mau tau aja lo. Itu rahasia antar lelaki tau."
"Whatever lah. Capek gue."
Kalau dipikir-pikir, akankah hubunganku dengan Abel bertahan lama? Kira-kira akan seperti apa ya hubungan ini kalau terus dilanjutkan? Ah, aku jadi pusing kalau kebanyakan berpikir tentang itu. Lebih baik aku memikirkan pelajaranku sajalah. Besok banyak tugas dan ulangan. Uh, aku benci hari besok.
to be continued...
"Gue di rumah aja. Paling jalan-jalan sama Axel terus sama..." Aku terhenti sampai situ.
"Sama siapa, Lir?"
"Cowok gue," jawabku dengan bangga.
"Cowok lo? Siapa? Kok lo gak cerita-cerita sih, udah punya cowok?"
"Habis lo sibuk sama Yuda terus sih. Gue jadi gak enak deh, cerita sama lo. Tiap kali gue telepon, pasti lagi sama Yuda lo tersayang."
"Ih, kok kesannya ngeledek gue gitu sih? Terus, terus, gimana ceritanya? Ceritain dong."
"Ntar aja ah, pas pulang. Lo juga bakal liat kok, siapa cowok gue. Dia oke banget deh, kalah kalo dibandingin sama Yuda lo."
"Eits... sampe kapanpun, buat gue Yuda is the best dong."
"Iya deh, iya."
"Ntar jangan lupa ya, kenalin ke gue."
"Sip. Tapi jangan ikut naksir dia ya. Repot gue ntar."
"Emang tampang gue tampang orang yang makan temen ya?"
"Kagak sih, kagak salah lagi," candaku.
"Ih, Lira jahat."
"Bercanda, Des. Tampang lo mah tampang pemakan segala makanan."
"Maksud lo, gue rakus gitu?"
"Kurang lebih gitu." Kadang aku ini iseng juga ya, pikirku geli.
Sampai jam tiga Abel belum juga muncul di depan pintu kelas. Padahal sudah hampir setengah jam aku dan Desti menunggu kedatangannya. Tak lama, seseorang muncul di ambang pintu. "Hon, kamu beloman?" Ternyata itu Yuda, pacar Desti yang sudah menunggunya sejak tadi.
"Eum... Lir, gue duluan ya. Soalnya Yuda mau ada urusan nih. Besok pagi deh, gimana?"
"Hm, ya udah. Hati-hati ya."
"Yo, salam juga buat cowok lo." Aku tak lagi menanggapinya. Ini ke dua kalinya aku dibuat menunggu. Uh, sebal sekali rasanya.
Satu jam berlalu dan ini sudah hampir jam empat. Semuanya sudah pulang dan semestinya Abel muncul di hadapanku sekarang. Tapi ia tak kunjung datang. Jadi, kuputuskan untuk meninggalkan kelas sekarang karena sudah waktunya setiap pintu ruang kelas dikunci. Terpaksa aku melangkah pulang ke rumah. Tapi di tengah jalan ada seseorang yang menghadangku. "Lira." Ia memanggilku dari balik helmetnya. Dan ketika ia membukanya, kulihat wajah Abel. "Yuk!" Disuruhnya aku naik tanpa basa-basi.
"Gue mau pulang."
"Lho, gak jadi jalan?"
"Lo telat."
"Sori, sori."
"Apa? Lo lupa lagi?"
"Hampir sih..."
Rasanya marahpun percuma. "Udahlah, batalin aja semuanya. Gue mau pulang."
"Lho, Lir, tunggu dong." Abel mengejarku dengan motornya. "Kita masih bisa jalan kok."
"Udah sore, gue males. Lagian lo lupa 'kan? Udahlah, gak usah janji-janji lagi. Gue paling males sama orang yang lupa sama janjinya sendiri."
"Terus gue mesti gimana supaya lo mau maafin gue? Gue akui, gue emang rada pelupa. Jadi..."
"Itu bukan alasan!" gertakku kesal, lalu kembali melangkah.
"Lira!" Abel terus mengikutiku. Bahkan, sampai aku tiba di rumahpun, ia masih memanggilku. "Lir..." Tapi karena aku terlalu kesal, aku mengacuhkannya dan membiarkannya sendirian di luar sana.
"Kenapa lo, berantem?" tanya Axel yang mendengar panggilan Abel dari luar.
"Tau ah! Males gue ngomongin begituan."
"Ck ck... anak muda zaman sekarang lucu ya."
"Maksud lo?"
"Yah, gapapa. Cuma gue kasian aja sama Abel. Gue suruh dia masuk ya."
"Terserah lo, tapi gue ogah ngomong sama dia lagi."
Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan, tapi yang pasti setelah Axel menggerak-gerakkan mulutnya, Abel langsung pamit dan pergi. "Ah, gue berasa jadi orang tua."
"Ngomong apa lo sama Abel?"
"Mau tau aja lo. Itu rahasia antar lelaki tau."
"Whatever lah. Capek gue."
Kalau dipikir-pikir, akankah hubunganku dengan Abel bertahan lama? Kira-kira akan seperti apa ya hubungan ini kalau terus dilanjutkan? Ah, aku jadi pusing kalau kebanyakan berpikir tentang itu. Lebih baik aku memikirkan pelajaranku sajalah. Besok banyak tugas dan ulangan. Uh, aku benci hari besok.
to be continued...
Between Girl and Boy 13
Jarum pendek pada jam dinding rumahku menunjuk ke angka 9. Sementara jarum panjangnya menunjuk ke antara angka satu dan dua. Sudah malam. Mungkin sebentar lagi sudah waktunya untuk menutup kedua mataku di kamar tidurku. Selagi aku menyandarkan diri di atas sofa ruang tengah seperti biasanya, ponselku berdering. Ada satu panggilan masuk dari... Abel. "Halo." Tanpa berpikir dua kali aku segera mengangkatnya dengan riang gembira.
"Hai, Lir. Lagi apa?" tanyanya berbasa-basi.
"Eum, lagi nonton aja nih. Lo sendiri?"
"Baru pulang dari latian."
"Malem banget. Jangan sampe kecapekan lho. Lo udah makan?"
"Udah kok. Lo udah?"
"Udah tadi."
"Emmm... oh ya, gue mau kasih kabar soal kepastian hari Sabtu nih. Hmm... Sabtu ini gue bisa sih, tapi mungkin agak siang, gapapa?"
"Gapapa kok. Jam berapa?"
"Mungkin sekitar jam satu gitu. Lo bisa?"
"Bisa kok. Sabtu ini gue free."
"Oh, baguslah. Gue jemput lo ya."
"Oke, gue tunggu."
"Ngomong-ngomong, mau ke mana nih?"
"Ke mana ya? Gue juga belom tau nih. Ada ide?"
"Hmmm... ke Ancol yuk. Mau gak?"
"Boleh aja sih."
"Oke deh, kalo gitu sampe ketemu hari Sabtu ya."
"Sip."
"Good night." Abel melantunkan salam.
"Night," balasku singkat.
Dari pagi aku sudah mempersiapkan segalanya. Mulai dari baju yang akan kukenakan, rambut akan kuapakan, tas yang akan kubawa, sepatu yang akan kupakai, semuanya sudah kuatur sedemikian rupa. Dan tanpa terasa, sudah hampir saatnya aku mulai berias. Sudah jam setengah dua belas lewat tujuh belas menit. Aku bergegas mengganti pakaianku, lalu mulai merias di depan cermin di dalam kamarku. Pertama, dimulai dari rambutku. Kuputuskan untuk mengikat semua rambutku ke belakang sehingga seluruh wajahku bisa terlihat. Dan terakhir adalah bibirku, kupoles dengan lip balm rasa cherry yang kusimpan di dalam laci meja riasku. Aku siap untuk berangkat dan kutunggu kedatangan Abel di ruang tengah.
"Buset, rapi amat. Mau kencan ya?" tanya Axel yang melihat penampilanku hari ini.
"Gak bisa dibilang gitu juga sih." Aku berusaha menghindar dari ledekannya.
"Halah, mau kencan bilang aja. Gak usah ditutup-tutupin. Lo kira, gue mau ngeganggu acara lo? Gak bakal deh. Gue udah punya acara sendiri hari ini."
"Oh ya? Mau ngapain lo emangnya?"
"Gue mau ke rumah temen gue, mau maen bareng di rumahnya."
"Oh, bagus deh."
"Jangan lupa oleh-oleh ya."
"Oleh-oleh? Gak ah, gak punya duit."
"Beuh... kencan bisa, tapi beliin oleh-oleh gak mau. Pelit."
"Biarin. Lo 'kan juga gitu."
"Eits, gue gak pelit ya. Buktinya kemaren-kemaren gue nraktir lo makan sepuasnya."
"Itu mah karena emang lo lagi baek. Coba kalo lagi pelit, pelitnya setengah hidup."
"Tuh 'kan, gak tau berterima kasih. Kebiasaan deh."
"Iya, iya, apa kata lo dah, Xel."
Sudah jam satu lewat lima menit dan Abel belum juga muncul. Apa ia masih sibuk ya? Kuputuskan untuk menunggunya. Mungkin sedang di jalan, begitu pikirku pada mulanya. Tapi setelah dibuat satu jam menunggu, aku mulai tak sabar dan kuputuskan untuk menghubungi telepon genggamnya. Sayangnya, tidak bisa dihubungi. Kesal? Pasti! Ini sudah lewat dari jam perjanjian. Masa aku harus terus menunggu di sini seperti orang bodoh? Aku nggak mau!! Abel tidak juga datang, padahal sudah sore. Sudah hampir jam empat. Huh, aku semakin pesimis dan semakin sebal menunggu. Takkan kulupakan ini, ujarku geram.
Sampai malam kutunggu pun, Abel tak kunjung menampakkan batang hidungnya di hadapanku. Aku betul-betul kecewa padanya. Masih mending kalau ia memberi kabar padaku, tapi ini sama sekali tidak. Apa-apaan ini, makiku dalam hati. Sepanjang malam ini aku memasang wajah cemberut di rumah. Tidak jadi pergi dan ini semua menjengkelkan.
Liburan sekolah hampir usai. Dan kesimpulan yang kuambil adalah bahwa liburan kali ini hanya sedikit berkesan. Aku amat sangat bersyukur karena akhirnya bisa kembali melakukan aktivitas di sekolah bersama teman-teman. Aku bosan di rumah terus sepanjang liburan. Hari terakhir libur Abel datang ke rumah untuk bermain dengan Axel karena memang sudah lama tidak bermain bersama. Aku yang masih jengkel karena menunggu beberapa hari yang lalu memutuskan untuk mendiamkannya. Aku takkan bersuara di hadapannya, itu janjiku pada diriku sendiri, sampai ia menyadari kesalahannya dan meminta maaf. Terdengar egois memang, tapi apa ia tidak berpikir bahwa menunggu itu mengesalkan?! Huh!
"Eh, bentar, Bel. Gue mau ke WC dulu. Kebelet gue."
"Sip." Abel menghampiriku yang sedang berada di ruang tengah seorang diri sambil menonton televisi dengan wajah cemberut. "Gak jalan-jalan, Lir?" tanyanya seolah tidak terjadi apa-apa. Jelas saja aku takkan menjawab pertanyaan ini. Aku sudah janji untuk tidak bicara sepatah katapun padanya. "Lira?" Pura-puranya aku ini tuli dan bisu. Abel menghela nafas. "Kenapa sih, kok tiba-tiba ngediemin aku kayak gini?" Astaga, orang ini nggak sadar juga? "Emang aku bikin salah apa?"
Terang saja pertanyaan ini membuatku meledak-ledak. "Lo nggak nyadar ya, lo bikin salah apa sama gue, Bel?"
"Lah? Lo gak ngomong, mana gue tau, Lir?"
"Ih, parah ya lo! Kemaren lo ke mana, Bel?"
"Gue latian sama temen-temen gue."
"Oh, latian. Sampe jam berapa?" tanyaku sinis.
"Sampe jam setengah dua."
"Terus habis latian, lo ke mana?"
"Pergi makan-makan sama temen-temen gue. Kenapa sih? Kok kayak polisi gitu sih, diinterogasi."
"Lo masih nanya kenapa? Ck ck ck... lo punya penyakit pikun ya?"
"Maksud lo?"
"Woi, lo inget gak sih, kemaren kita janjian mau pergi jalan-jalan ke Ancol?" Aku mulai naik pitam.
Abel melotot sambil menepuk dahinya. "Astaga, gue lupa! Sori, sori banget, Lir. Gue bener-bener lupa soal itu."
"Enak banget ya, lo bilang sori. Lo kata enak disuruh nunggu berjam-jam? Untung gue nunggunya di rumah. Coba kalo gue nunggu di Ancol sendirian, bisa disangka orang bego gue."
"Beneran, Lir, gue minta maaf soal kemaren. Asli, gue lupa. Serius." Aku tak meresponinya. "Gini deh, besok 'kan kita udah sekolah. Hmmm... pulangnya kita jalan-jalan deh, gimana? Yah, sebagai ganti kemaren."
Aku membisu sebentar, lalu mencoba meresponinya. "Tapi gak pake telat ya?"
"Tenang aja. Kalo kita jalannya habis pulang sekolah, pasti gak bakal lupa. Besok gue yang ke kelas lo deh."
"Janji?"
"Iya." Kali ini, aku benar-benar plong mendengarnya. Semoga ia tidak mengingkarinya lagi, harapku dalam hati. Seiring selesainya permasalahanku dengan Abel, Axel keluar dari kamar mandi dengan wajah lega.
to be continued...
"Hai, Lir. Lagi apa?" tanyanya berbasa-basi.
"Eum, lagi nonton aja nih. Lo sendiri?"
"Baru pulang dari latian."
"Malem banget. Jangan sampe kecapekan lho. Lo udah makan?"
"Udah kok. Lo udah?"
"Udah tadi."
"Emmm... oh ya, gue mau kasih kabar soal kepastian hari Sabtu nih. Hmm... Sabtu ini gue bisa sih, tapi mungkin agak siang, gapapa?"
"Gapapa kok. Jam berapa?"
"Mungkin sekitar jam satu gitu. Lo bisa?"
"Bisa kok. Sabtu ini gue free."
"Oh, baguslah. Gue jemput lo ya."
"Oke, gue tunggu."
"Ngomong-ngomong, mau ke mana nih?"
"Ke mana ya? Gue juga belom tau nih. Ada ide?"
"Hmmm... ke Ancol yuk. Mau gak?"
"Boleh aja sih."
"Oke deh, kalo gitu sampe ketemu hari Sabtu ya."
"Sip."
"Good night." Abel melantunkan salam.
"Night," balasku singkat.
Dari pagi aku sudah mempersiapkan segalanya. Mulai dari baju yang akan kukenakan, rambut akan kuapakan, tas yang akan kubawa, sepatu yang akan kupakai, semuanya sudah kuatur sedemikian rupa. Dan tanpa terasa, sudah hampir saatnya aku mulai berias. Sudah jam setengah dua belas lewat tujuh belas menit. Aku bergegas mengganti pakaianku, lalu mulai merias di depan cermin di dalam kamarku. Pertama, dimulai dari rambutku. Kuputuskan untuk mengikat semua rambutku ke belakang sehingga seluruh wajahku bisa terlihat. Dan terakhir adalah bibirku, kupoles dengan lip balm rasa cherry yang kusimpan di dalam laci meja riasku. Aku siap untuk berangkat dan kutunggu kedatangan Abel di ruang tengah.
"Buset, rapi amat. Mau kencan ya?" tanya Axel yang melihat penampilanku hari ini.
"Gak bisa dibilang gitu juga sih." Aku berusaha menghindar dari ledekannya.
"Halah, mau kencan bilang aja. Gak usah ditutup-tutupin. Lo kira, gue mau ngeganggu acara lo? Gak bakal deh. Gue udah punya acara sendiri hari ini."
"Oh ya? Mau ngapain lo emangnya?"
"Gue mau ke rumah temen gue, mau maen bareng di rumahnya."
"Oh, bagus deh."
"Jangan lupa oleh-oleh ya."
"Oleh-oleh? Gak ah, gak punya duit."
"Beuh... kencan bisa, tapi beliin oleh-oleh gak mau. Pelit."
"Biarin. Lo 'kan juga gitu."
"Eits, gue gak pelit ya. Buktinya kemaren-kemaren gue nraktir lo makan sepuasnya."
"Itu mah karena emang lo lagi baek. Coba kalo lagi pelit, pelitnya setengah hidup."
"Tuh 'kan, gak tau berterima kasih. Kebiasaan deh."
"Iya, iya, apa kata lo dah, Xel."
Sudah jam satu lewat lima menit dan Abel belum juga muncul. Apa ia masih sibuk ya? Kuputuskan untuk menunggunya. Mungkin sedang di jalan, begitu pikirku pada mulanya. Tapi setelah dibuat satu jam menunggu, aku mulai tak sabar dan kuputuskan untuk menghubungi telepon genggamnya. Sayangnya, tidak bisa dihubungi. Kesal? Pasti! Ini sudah lewat dari jam perjanjian. Masa aku harus terus menunggu di sini seperti orang bodoh? Aku nggak mau!! Abel tidak juga datang, padahal sudah sore. Sudah hampir jam empat. Huh, aku semakin pesimis dan semakin sebal menunggu. Takkan kulupakan ini, ujarku geram.
Sampai malam kutunggu pun, Abel tak kunjung menampakkan batang hidungnya di hadapanku. Aku betul-betul kecewa padanya. Masih mending kalau ia memberi kabar padaku, tapi ini sama sekali tidak. Apa-apaan ini, makiku dalam hati. Sepanjang malam ini aku memasang wajah cemberut di rumah. Tidak jadi pergi dan ini semua menjengkelkan.
Liburan sekolah hampir usai. Dan kesimpulan yang kuambil adalah bahwa liburan kali ini hanya sedikit berkesan. Aku amat sangat bersyukur karena akhirnya bisa kembali melakukan aktivitas di sekolah bersama teman-teman. Aku bosan di rumah terus sepanjang liburan. Hari terakhir libur Abel datang ke rumah untuk bermain dengan Axel karena memang sudah lama tidak bermain bersama. Aku yang masih jengkel karena menunggu beberapa hari yang lalu memutuskan untuk mendiamkannya. Aku takkan bersuara di hadapannya, itu janjiku pada diriku sendiri, sampai ia menyadari kesalahannya dan meminta maaf. Terdengar egois memang, tapi apa ia tidak berpikir bahwa menunggu itu mengesalkan?! Huh!
"Eh, bentar, Bel. Gue mau ke WC dulu. Kebelet gue."
"Sip." Abel menghampiriku yang sedang berada di ruang tengah seorang diri sambil menonton televisi dengan wajah cemberut. "Gak jalan-jalan, Lir?" tanyanya seolah tidak terjadi apa-apa. Jelas saja aku takkan menjawab pertanyaan ini. Aku sudah janji untuk tidak bicara sepatah katapun padanya. "Lira?" Pura-puranya aku ini tuli dan bisu. Abel menghela nafas. "Kenapa sih, kok tiba-tiba ngediemin aku kayak gini?" Astaga, orang ini nggak sadar juga? "Emang aku bikin salah apa?"
Terang saja pertanyaan ini membuatku meledak-ledak. "Lo nggak nyadar ya, lo bikin salah apa sama gue, Bel?"
"Lah? Lo gak ngomong, mana gue tau, Lir?"
"Ih, parah ya lo! Kemaren lo ke mana, Bel?"
"Gue latian sama temen-temen gue."
"Oh, latian. Sampe jam berapa?" tanyaku sinis.
"Sampe jam setengah dua."
"Terus habis latian, lo ke mana?"
"Pergi makan-makan sama temen-temen gue. Kenapa sih? Kok kayak polisi gitu sih, diinterogasi."
"Lo masih nanya kenapa? Ck ck ck... lo punya penyakit pikun ya?"
"Maksud lo?"
"Woi, lo inget gak sih, kemaren kita janjian mau pergi jalan-jalan ke Ancol?" Aku mulai naik pitam.
Abel melotot sambil menepuk dahinya. "Astaga, gue lupa! Sori, sori banget, Lir. Gue bener-bener lupa soal itu."
"Enak banget ya, lo bilang sori. Lo kata enak disuruh nunggu berjam-jam? Untung gue nunggunya di rumah. Coba kalo gue nunggu di Ancol sendirian, bisa disangka orang bego gue."
"Beneran, Lir, gue minta maaf soal kemaren. Asli, gue lupa. Serius." Aku tak meresponinya. "Gini deh, besok 'kan kita udah sekolah. Hmmm... pulangnya kita jalan-jalan deh, gimana? Yah, sebagai ganti kemaren."
Aku membisu sebentar, lalu mencoba meresponinya. "Tapi gak pake telat ya?"
"Tenang aja. Kalo kita jalannya habis pulang sekolah, pasti gak bakal lupa. Besok gue yang ke kelas lo deh."
"Janji?"
"Iya." Kali ini, aku benar-benar plong mendengarnya. Semoga ia tidak mengingkarinya lagi, harapku dalam hati. Seiring selesainya permasalahanku dengan Abel, Axel keluar dari kamar mandi dengan wajah lega.
to be continued...
Between Girl and Boy 12
Kubiarkan Axel berdiam diri di dalam kamarnya beberapa hari ke depan karena aku paham bagaimana perasaannya. Hancur tanpa sisa. Hati siapa yang tidak hancur melihat pacarnya sendiri berselingkuh di belakangnya? Ini pengalaman tergila yang pernah kutemukan. Dan kuanggap bahwa cewek itu memang bukan cewek benar.
Hari ini Abel tidak datang ke rumah karena ada urusan yang perlu ditanganinya. Jadi, aku juga takkan memaksakannya datang kemari. Aku kembali terduduk di ruang tengah, di atas sofa sambil menonton televisi seperti biasa. Liburanku sedikit berkesan, tapi tidak terlalu mengesankan. Kucoba untuk menghubungi sahabatku, tapi telepon genggamnya tidak aktif. Semakin membosankan, keluhku sambil mencoba menikmati acara televisi yang itu-itu saja setiap harinya.
Aku tak sadar kalau Axel tengah melangkah menuruni anak-anak tangga. Rambutnya berantakan, wajahnya pun demikian. Dan dengan penampilannya yang paling kacau, ia menghampiriku. "Lir, jalan yuk!" ajaknya tiba-tiba. Aku kaget dan menoleh. Tidak salah dengar nih, sentakku dalam hati. "Gue traktir lo deh, pake gaji pertama gue. Mau gak? Kalo gak mau, ya udah. Gue ajak yang laen aja." Axel hendak berlalu meninggalkanku.
"Eh, eh, Xel." Aku mencegahnya sambil nyengir kuda. "Gak mungkin gue nolak ajakan lo dong. Apalagi kalo gue ditraktir. 'Kan jarang-jarang tuh, gue ditraktir sama lo, Xel."
"Dasar lo, mau ngatain gue pelit gitu?"
"Ya, bukan gitu juga sih, Xel." Kembali aku menunjukkan gigi-gigi putihku nan lucu. "Terus mau ke mana nih?" tanyaku mengembalikan topik pembicaraan semula.
"Yang pasti cari makan. Gue laper berat. Mandi dulu ah. Bau gue."
"Baru nyadar, Pak?" ledekku iseng.
"Oh gitu ya. Ya udah, gak jadi gue traktir."
"Eh, iya, iya, iya. Ampun, Xel. Gak bermaksud." Senang juga karena setidaknya Axel bisa diajak bercanda lagi. Semoga ini pertanda baik, harapku dalam hati.
Axel mengajakku makan di Pizza Hut. Yummy, pekikku kegirangan dalam hati. "Nah, lo boleh pesen apa yang lo mau. Tapi inget budget ya."
"Siap, Bos." Kuberi hormat padanya dengan gaya selucu mungkin. Kuharap, dengan begini ia bisa lebih terhibur. "Xel, gue mau sop, salad, pizza, garlic bread, spaghetti..."
"Woi, woi, lo gila ya? Emang lo bisa habisin semuanya?"
Aku cuma nyengir, lalu menjawab, "Ya, nggak sih."
"Pesen secukupnya. Ntar kalo mau nambah, tinggal pesen lagi. Mubazir tau, kalo sampe gak habis."
"Iya deh." Aku segera memutuskan apa yang mau kupesan. "Lo mau yang mana, Xel?" tanyaku saat bingung memutuskan.
"Apa aja. Gue mah pemakan segala jenis makanan halal." Geli juga mendengarnya.
Selagi menunggu, aku lebih memilih untuk diam dan membungkamkan mulutku. Kusingkirkan segala jenis pertanyaan yang menumpuk di benakku. Lebih baik aku tak bertanya apa-apa daripada harus merusak suasana yang mulai kembali ceria.
"Lir, Abel mana?" tanyanya mendadak.
Aku segera menjawabnya. "Eum... katanya, hari ini gak bisa dateng. Soalnya mau ngurusin sesuatu gitu, entah apa. Kenapa? Kangen lo sama dia?" godaku lagi.
"Bukannya kebalik tuh?" Sial, godaanku malah berbalik arah padaku. Senjata makan tuan. "Ngomong-ngomong, lo berdua pacaran?" Deg! Kenapa tiba-tiba ia menanyakan hal ini ya, batinku ragu.
"Dibilang pacaran nggak, dibilang nggak pacaran juga nggak. Kenapa, lo cemburu?"
"Gue? Cemburu? Lo kata gue homo?"
"Yaa, siapa tau gitu. Di balik kegagahan seorang Axel, ternyata dia..."
"Gak jadi gue traktir ah."
"Bercanda, Xel. Lo mah maenannya ngancem mulu."
"Bercanda, Lir. Lo mah maenannya ngambek mulu."
"Huh!" Sebal aku, gerutuku.
"Yah, ngambek beneran. Masa iya gue mesti minta mbak yang itu bikinin balon buat lo, Lir?"
"Gue mau balon."
"Woi, sadar umur."
"Gak peduli. Pokoknya gue mau balon."
Axel menghela nafas. "Adik gue yang satu ini kalo lagi manja, manjaaaa banget. Capek gue jadinya."
"Biarin. 'Kan lo yang bikin gue ngambek, tanggung jawab dong."
"Iya, iya." Axel bangkit dari tempat duduknya dan dengan menahan segala rasa malunya, ia memintanya. Sementara aku mengeluarkan segala rasa kegelian di perutku melihat tingkahnya. Puas rasanya mengerjainya.
Begitu Axel kembali, aku berhenti tertawa. "Mana balonnya?"
"Sabar. Mbaknya ntar ke sini buat bikinin lo balon. Childish banget sih."
"Biarin. Gini-gini juga adik lo. Lo mesti tanggung jawab dong, udah bikin gue kesel."
"Terserah lo deh." Mbak yang tadi dimintai Axel untuk membuatkan balon mendekati meja kami.
"Permisi, Kak. Tadi Kakak yang minta balon ya?" tanyanya sopan sambil tersenyum ramah.
"Eum, bukan saya, Mbak. Tapi anak satu ini."
"Oh iya. Saya buatkan ya." Dengan lincah ia membuat balon unik untukku. Hebat. "Buat pacarnya ya, Kak?" goda mbak itu.
"Eh, bukan, Mbak. Dia adik saya." Buru-buru Axel mengelak.
"Oh..." Ia tersenyum. "Nah, sudah selesai. Ada lagi?"
"Nggak, gak ada lagi." Axel menjawab buru-buru sebelum aku membuatnya lebih malu lagi.
"Kalau gitu, saya permisi." Lagi-lagi ia menunjukkan senyuman ramahnya.
Aku nyengir. "Makasih ya, Xel."
"Iya, makasih juga udah bikin gue malu."
"Aduh, jangan gitu dong. 'Kan adikmu ini hanya ingin bersenang-senang sedikit."
"Puas lo sekarang?"
"Belom sih, tapi gue kasian sama lo. Ntar kalo gue bikin lo lebih malu lagi, gue juga yang kena batunya."
Pesanan datang dan kami menyantapnya bersama. Enak sekali, apalagi kalau perut sedang lapar. Semakin nikmat saja hidangan ini. "Wah, gue masih laper nih. Pesen lagi dong, Lir." Axel tengah mengunyah pinggiran pizza yang ada di piringnya. Kupesankan beberapa pizza lagi untukku dan untuk Axel. Dan tak lama, pesanan ke dua kami tiba. Langsung saja kami menyerbunya sebelum perut terlanjur kenyang.
Kuceritakan semuanya lewat telepon pada Abel mengenai hari ini. Dan Abel merespon positif. "Syukur deh, Lir. Salam ya, buat Axel. Mungkin besok gue bisa maen ke rumah lo, tapi gue belom bisa janji sih. Takutnya besok gue mesti ngurusin ini-itu lagi."
"Oh, emang urusan apa sih?"
"Eum... jadi tuh, gue mau bikin band gitu sama temen-temen gue. Dan supaya band ini diakui, kita mesti bikin proposal ini-itu, terus harus jelas kegiatannya, jadwal latiannya juga harus jelas. Pokoknya sibuk banget deh."
"Oh, good luck ya, Bel."
"Iya, thanks banget, Lir."
"Emmm... Sabtu lo juga sibuk ya?"
"Mungkin. Emang kenapa?"
"Pengen jalan sama lo. Tapi kalo lo gak bisa juga gapapa."
"Gue usahain deh. Atau lusa gue kasih kabar kepastiannya, gimana?"
"Oke. Gue tunggu ya."
"Sip."
to be continued...
Hari ini Abel tidak datang ke rumah karena ada urusan yang perlu ditanganinya. Jadi, aku juga takkan memaksakannya datang kemari. Aku kembali terduduk di ruang tengah, di atas sofa sambil menonton televisi seperti biasa. Liburanku sedikit berkesan, tapi tidak terlalu mengesankan. Kucoba untuk menghubungi sahabatku, tapi telepon genggamnya tidak aktif. Semakin membosankan, keluhku sambil mencoba menikmati acara televisi yang itu-itu saja setiap harinya.
Aku tak sadar kalau Axel tengah melangkah menuruni anak-anak tangga. Rambutnya berantakan, wajahnya pun demikian. Dan dengan penampilannya yang paling kacau, ia menghampiriku. "Lir, jalan yuk!" ajaknya tiba-tiba. Aku kaget dan menoleh. Tidak salah dengar nih, sentakku dalam hati. "Gue traktir lo deh, pake gaji pertama gue. Mau gak? Kalo gak mau, ya udah. Gue ajak yang laen aja." Axel hendak berlalu meninggalkanku.
"Eh, eh, Xel." Aku mencegahnya sambil nyengir kuda. "Gak mungkin gue nolak ajakan lo dong. Apalagi kalo gue ditraktir. 'Kan jarang-jarang tuh, gue ditraktir sama lo, Xel."
"Dasar lo, mau ngatain gue pelit gitu?"
"Ya, bukan gitu juga sih, Xel." Kembali aku menunjukkan gigi-gigi putihku nan lucu. "Terus mau ke mana nih?" tanyaku mengembalikan topik pembicaraan semula.
"Yang pasti cari makan. Gue laper berat. Mandi dulu ah. Bau gue."
"Baru nyadar, Pak?" ledekku iseng.
"Oh gitu ya. Ya udah, gak jadi gue traktir."
"Eh, iya, iya, iya. Ampun, Xel. Gak bermaksud." Senang juga karena setidaknya Axel bisa diajak bercanda lagi. Semoga ini pertanda baik, harapku dalam hati.
Axel mengajakku makan di Pizza Hut. Yummy, pekikku kegirangan dalam hati. "Nah, lo boleh pesen apa yang lo mau. Tapi inget budget ya."
"Siap, Bos." Kuberi hormat padanya dengan gaya selucu mungkin. Kuharap, dengan begini ia bisa lebih terhibur. "Xel, gue mau sop, salad, pizza, garlic bread, spaghetti..."
"Woi, woi, lo gila ya? Emang lo bisa habisin semuanya?"
Aku cuma nyengir, lalu menjawab, "Ya, nggak sih."
"Pesen secukupnya. Ntar kalo mau nambah, tinggal pesen lagi. Mubazir tau, kalo sampe gak habis."
"Iya deh." Aku segera memutuskan apa yang mau kupesan. "Lo mau yang mana, Xel?" tanyaku saat bingung memutuskan.
"Apa aja. Gue mah pemakan segala jenis makanan halal." Geli juga mendengarnya.
Selagi menunggu, aku lebih memilih untuk diam dan membungkamkan mulutku. Kusingkirkan segala jenis pertanyaan yang menumpuk di benakku. Lebih baik aku tak bertanya apa-apa daripada harus merusak suasana yang mulai kembali ceria.
"Lir, Abel mana?" tanyanya mendadak.
Aku segera menjawabnya. "Eum... katanya, hari ini gak bisa dateng. Soalnya mau ngurusin sesuatu gitu, entah apa. Kenapa? Kangen lo sama dia?" godaku lagi.
"Bukannya kebalik tuh?" Sial, godaanku malah berbalik arah padaku. Senjata makan tuan. "Ngomong-ngomong, lo berdua pacaran?" Deg! Kenapa tiba-tiba ia menanyakan hal ini ya, batinku ragu.
"Dibilang pacaran nggak, dibilang nggak pacaran juga nggak. Kenapa, lo cemburu?"
"Gue? Cemburu? Lo kata gue homo?"
"Yaa, siapa tau gitu. Di balik kegagahan seorang Axel, ternyata dia..."
"Gak jadi gue traktir ah."
"Bercanda, Xel. Lo mah maenannya ngancem mulu."
"Bercanda, Lir. Lo mah maenannya ngambek mulu."
"Huh!" Sebal aku, gerutuku.
"Yah, ngambek beneran. Masa iya gue mesti minta mbak yang itu bikinin balon buat lo, Lir?"
"Gue mau balon."
"Woi, sadar umur."
"Gak peduli. Pokoknya gue mau balon."
Axel menghela nafas. "Adik gue yang satu ini kalo lagi manja, manjaaaa banget. Capek gue jadinya."
"Biarin. 'Kan lo yang bikin gue ngambek, tanggung jawab dong."
"Iya, iya." Axel bangkit dari tempat duduknya dan dengan menahan segala rasa malunya, ia memintanya. Sementara aku mengeluarkan segala rasa kegelian di perutku melihat tingkahnya. Puas rasanya mengerjainya.
Begitu Axel kembali, aku berhenti tertawa. "Mana balonnya?"
"Sabar. Mbaknya ntar ke sini buat bikinin lo balon. Childish banget sih."
"Biarin. Gini-gini juga adik lo. Lo mesti tanggung jawab dong, udah bikin gue kesel."
"Terserah lo deh." Mbak yang tadi dimintai Axel untuk membuatkan balon mendekati meja kami.
"Permisi, Kak. Tadi Kakak yang minta balon ya?" tanyanya sopan sambil tersenyum ramah.
"Eum, bukan saya, Mbak. Tapi anak satu ini."
"Oh iya. Saya buatkan ya." Dengan lincah ia membuat balon unik untukku. Hebat. "Buat pacarnya ya, Kak?" goda mbak itu.
"Eh, bukan, Mbak. Dia adik saya." Buru-buru Axel mengelak.
"Oh..." Ia tersenyum. "Nah, sudah selesai. Ada lagi?"
"Nggak, gak ada lagi." Axel menjawab buru-buru sebelum aku membuatnya lebih malu lagi.
"Kalau gitu, saya permisi." Lagi-lagi ia menunjukkan senyuman ramahnya.
Aku nyengir. "Makasih ya, Xel."
"Iya, makasih juga udah bikin gue malu."
"Aduh, jangan gitu dong. 'Kan adikmu ini hanya ingin bersenang-senang sedikit."
"Puas lo sekarang?"
"Belom sih, tapi gue kasian sama lo. Ntar kalo gue bikin lo lebih malu lagi, gue juga yang kena batunya."
Pesanan datang dan kami menyantapnya bersama. Enak sekali, apalagi kalau perut sedang lapar. Semakin nikmat saja hidangan ini. "Wah, gue masih laper nih. Pesen lagi dong, Lir." Axel tengah mengunyah pinggiran pizza yang ada di piringnya. Kupesankan beberapa pizza lagi untukku dan untuk Axel. Dan tak lama, pesanan ke dua kami tiba. Langsung saja kami menyerbunya sebelum perut terlanjur kenyang.
Kuceritakan semuanya lewat telepon pada Abel mengenai hari ini. Dan Abel merespon positif. "Syukur deh, Lir. Salam ya, buat Axel. Mungkin besok gue bisa maen ke rumah lo, tapi gue belom bisa janji sih. Takutnya besok gue mesti ngurusin ini-itu lagi."
"Oh, emang urusan apa sih?"
"Eum... jadi tuh, gue mau bikin band gitu sama temen-temen gue. Dan supaya band ini diakui, kita mesti bikin proposal ini-itu, terus harus jelas kegiatannya, jadwal latiannya juga harus jelas. Pokoknya sibuk banget deh."
"Oh, good luck ya, Bel."
"Iya, thanks banget, Lir."
"Emmm... Sabtu lo juga sibuk ya?"
"Mungkin. Emang kenapa?"
"Pengen jalan sama lo. Tapi kalo lo gak bisa juga gapapa."
"Gue usahain deh. Atau lusa gue kasih kabar kepastiannya, gimana?"
"Oke. Gue tunggu ya."
"Sip."
to be continued...
Langganan:
Postingan (Atom)