10/08/2009

Between Girl and Boy 14

Hari pertama mulai sekolah, aku bangun lebih pagi dari biasanya karena tak sabar untuk kembali bersekolah. Aku kangen pada sekolah dan teman-temanku. Hari ini pasti akan ramai dengan pertanyaan seperti ini. "Liburan ke mana aja?" Salah satunya adalah Desti.
"Gue di rumah aja. Paling jalan-jalan sama Axel terus sama..." Aku terhenti sampai situ.
"Sama siapa, Lir?"
"Cowok gue," jawabku dengan bangga.
"Cowok lo? Siapa? Kok lo gak cerita-cerita sih, udah punya cowok?"
"Habis lo sibuk sama Yuda terus sih. Gue jadi gak enak deh, cerita sama lo. Tiap kali gue telepon, pasti lagi sama Yuda lo tersayang."
"Ih, kok kesannya ngeledek gue gitu sih? Terus, terus, gimana ceritanya? Ceritain dong."
"Ntar aja ah, pas pulang. Lo juga bakal liat kok, siapa cowok gue. Dia oke banget deh, kalah kalo dibandingin sama Yuda lo."
"Eits... sampe kapanpun, buat gue Yuda is the best dong."
"Iya deh, iya."
"Ntar jangan lupa ya, kenalin ke gue."
"Sip. Tapi jangan ikut naksir dia ya. Repot gue ntar."
"Emang tampang gue tampang orang yang makan temen ya?"
"Kagak sih, kagak salah lagi," candaku.
"Ih, Lira jahat."
"Bercanda, Des. Tampang lo mah tampang pemakan segala makanan."
"Maksud lo, gue rakus gitu?"
"Kurang lebih gitu." Kadang aku ini iseng juga ya, pikirku geli.

Sampai jam tiga Abel belum juga muncul di depan pintu kelas. Padahal sudah hampir setengah jam aku dan Desti menunggu kedatangannya. Tak lama, seseorang muncul di ambang pintu. "Hon, kamu beloman?" Ternyata itu Yuda, pacar Desti yang sudah menunggunya sejak tadi.
"Eum... Lir, gue duluan ya. Soalnya Yuda mau ada urusan nih. Besok pagi deh, gimana?"
"Hm, ya udah. Hati-hati ya."
"Yo, salam juga buat cowok lo." Aku tak lagi menanggapinya. Ini ke dua kalinya aku dibuat menunggu. Uh, sebal sekali rasanya.
Satu jam berlalu dan ini sudah hampir jam empat. Semuanya sudah pulang dan semestinya Abel muncul di hadapanku sekarang. Tapi ia tak kunjung datang. Jadi, kuputuskan untuk meninggalkan kelas sekarang karena sudah waktunya setiap pintu ruang kelas dikunci. Terpaksa aku melangkah pulang ke rumah. Tapi di tengah jalan ada seseorang yang menghadangku. "Lira." Ia memanggilku dari balik helmetnya. Dan ketika ia membukanya, kulihat wajah Abel. "Yuk!" Disuruhnya aku naik tanpa basa-basi.
"Gue mau pulang."
"Lho, gak jadi jalan?"
"Lo telat."
"Sori, sori."
"Apa? Lo lupa lagi?"
"Hampir sih..."
Rasanya marahpun percuma. "Udahlah, batalin aja semuanya. Gue mau pulang."
"Lho, Lir, tunggu dong." Abel mengejarku dengan motornya. "Kita masih bisa jalan kok."
"Udah sore, gue males. Lagian lo lupa 'kan? Udahlah, gak usah janji-janji lagi. Gue paling males sama orang yang lupa sama janjinya sendiri."
"Terus gue mesti gimana supaya lo mau maafin gue? Gue akui, gue emang rada pelupa. Jadi..."
"Itu bukan alasan!" gertakku kesal, lalu kembali melangkah.
"Lira!" Abel terus mengikutiku. Bahkan, sampai aku tiba di rumahpun, ia masih memanggilku. "Lir..." Tapi karena aku terlalu kesal, aku mengacuhkannya dan membiarkannya sendirian di luar sana.
"Kenapa lo, berantem?" tanya Axel yang mendengar panggilan Abel dari luar.
"Tau ah! Males gue ngomongin begituan."
"Ck ck... anak muda zaman sekarang lucu ya."
"Maksud lo?"
"Yah, gapapa. Cuma gue kasian aja sama Abel. Gue suruh dia masuk ya."
"Terserah lo, tapi gue ogah ngomong sama dia lagi."
Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan, tapi yang pasti setelah Axel menggerak-gerakkan mulutnya, Abel langsung pamit dan pergi. "Ah, gue berasa jadi orang tua."
"Ngomong apa lo sama Abel?"
"Mau tau aja lo. Itu rahasia antar lelaki tau."
"Whatever lah. Capek gue."

Kalau dipikir-pikir, akankah hubunganku dengan Abel bertahan lama? Kira-kira akan seperti apa ya hubungan ini kalau terus dilanjutkan? Ah, aku jadi pusing kalau kebanyakan berpikir tentang itu. Lebih baik aku memikirkan pelajaranku sajalah. Besok banyak tugas dan ulangan. Uh, aku benci hari besok.

to be continued...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar