10/10/2009

Between Girl and Boy 15

Dengan setengah mengantuk aku melangkah menuju ruang kelas yang sudah ramai. Hari ini aku telat sepuluh menit dari biasanya. Untung bel masuk belum terdengar, jadi aku aman dari guru piket hari ini. "Udah belajar lo, Lir?" tanya Desti begitu aku menduduki bangkuku.
"Yah, gitu deh," jawabku ogah-ogahan.
"Kenapa sih? Lagi berantem sama pacar lo ya?"
Aku langsung menatapnya heran. "Lo bisa baca pikiran orang ya?"
"Gak lah. Lo pikir gue peramal? Gue tau dari tampang lo yang kusut pagi-pagi gini."
Helaan nafasku terdengar berat. "Iya nih, Des. Kesel gue sama dia. Kemaren gue nungguin dia sampe berjam-jam. Padahal kita udah janji buat jalan-jalan sepulang sekolah. Terus kemaren-kemaren dia juga bikin gue nunggu berjam-jam di rumah. Bete gue, Des. Dan yang paling gue keselin adalah alasannya dia bikin gue nunggu."
"Emang alasannya apaan?"
"Lupa. Konyol 'kan? Gak logis tau. Jangan-jangan dia ada maen lagi di belakang."
"Hus! Prasangka lo berlebihan. Emang lo punya bukti dia mendua, Lir?"
"Ya, kagak sih. Siapa tau gitu."
"Kenapa gak lo omongin ama dia baik-baik? Gue yakin, semua masalah pasti bakal selesai dengan cara ngomong empat mata secara baik-baik."
"Gue juga pengennya gitu, Des. Tapi masalahnya adalah... gue udah gak bisa percaya lagi sama dia. Jelas-jelas dia udah bilang janji, masa iya gak ditepatin?"
"Coba ngomongin dulu, ntar baru kasih kesempatan dia sekali lagi. Syukur kalo berubah, kalo nggak ya good bye."
Aku merenung sejenak. "Jangan-jangan dia cuma maenin gue lagi, Des."
"Duh, prasangka lo lebay banget deh, Lir. Udah deh, stop berprasangka dan coba ngomongin baik-baik."
Senyumku mulai merekah mendengar saran dari sahabatku yang satu ini. Ia memang jago dalam hal percintaan. "Thanks ya, Des. Ntar gue coba ngomong sama dia baik-baik deh."
"Sip lah. Ntar kasih kabar selanjutnya ya." Cengirannya mengakhiri waktu luang kami sebelum masuk. Bel masuk sudah berbunyi untuk memanggil semua murid masuk ke dalam kelasnya masing-masing.

Aku dan Abel duduk berhadapan di salah satu meja kantin sekolah. Tatapan mataku serius dan tajam, sedangkan Abel terduduk lesu di hadapanku. "Gue betul-betul minta maaf soal kemaren, Lir. Gue tau kok, gue salah." Sengaja tak kuhiraukan dulu. "Gue emang kadang-kadang suka pelupa, apalagi soal janji. Eum... lo mau maafin gue, Lir?" Aku diam, tak menjawab apapun. "Jadi, gue mesti gimana supaya lo mau maafin gue? Gue ikutin mau lo deh."
Nah, kali ini aku mulai menyunggingkan senyuman kemenanganku. "Oke, gue maafin. Tapi syaratnya satu."
"Apa?"
"Sini, gue bisikin." Kubisikkan sesuatu di telinga Abel dan kulihat ia ikut tersenyum denganku. Ya, kami punya rencana. "Deal?"
"Oke. Tapi lo mau maafin gue 'kan?"
"Asal lo gak lupa lagi."
"Iya, kali ini gue gak bakal lupa lagi deh." Senang mendengarnya dan berharap ia takkan lagi melupakan rencana besar ini.

to be continued...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar