12/05/2009

Between Girl and Boy 18

Sama sekali tak ada semangat untuk menjalani hari ini. Segalanya terasa berat, padahal tak ada hal lain yang membebani hatiku selain masalahku dengan Abel. Ah, memang ini yang terbaik mungkin. Kuputuskan untuk tidak lagi memikirkannya, tapi sepertinya kepalaku masih dipenuhi oleh bayangan dirinya. Ups, aku harus cepat-cepat melupakannya supaya bisa kembali bersemangat seperti biasanya. Kalau tidak, aku akan menjadi orang paling bodoh karena cuma aku yang memikirkannya seperti ini. Aku yakin, ia takkan peduli lagi padaku. Hufff... aku menghela nafas.
"Kenapa, Lir? Lesu amat lo." Desti nyeletuk.
Kuangkat kepalaku yang tadinya tergeletak di atas meja. "Hei, Des." Sapaanku pun terdengar lemas. Apa aku sesedih ini ya, pikirku membatin.
"Ya ampun, Lira. Lo lagi kenapa sih? Kayak gak ada semangat hidup aja. Lagi ada problem?"
"Kurang lebih gitulah, Des."
"Kenapa? Cerita-cerita dong. Siapa tau aja gue bisa ngebantuin lo, Lir."
Aku tertawa pahit. "Gak bakal ada yang bisa bantuin, Des."
"Lho, emang kenapa?" Entah angin apa yang membuat kedua mataku basah dan berair mendadak. Aku menangis? Oh, aku tak percaya ini. Untuk apa aku menangis, tanyaku bodoh dalam hati. "Lira..." Desti memelukku. Mungkin ialah sahabatku yang paling bisa mengertiku di antara semua sahabat yang kupunya. "Kalo lo lagi ada masalah, cerita-cerita aja. Seenggaknya kalo lo cerita, beban lo berkurang, Lir. Tapi kalo emang lo gak mau cerita, gue gak akan maksa. Gue akan tunggu lo sampe tenang."
Aku jadi sesenggukkan. Uh, memalukan. "Gue...pu-tus..." Desti terlihat agak syok mendengarnya, tapi ia berusaha menyembunyikan rasa kagetnya itu dan membiarkanku melanjutkan kalimatku yang terputus-putus karena terisak. "Apa gue salah karna udah mutusin dia, Des?" tanyaku masih sambil terisak.
"Gue yakin, lo punya alasan yang kuat buat putus, Lir."
Sadar bahwa aku telah melakukan hal paling memalukan, yakni menangis di depan umum seperti ini, aku langsung melepaskan diri dari pelukan Desti dan menyeka air mata yang membasahi wajahku dan membuatku berantakan. "Thanks ya, Des. Gue udah lega sekarang."
"Jangan sedih lagi ya, Lir. Kalo lo sedih, gue jadi ikut sedih nih."
Kucoba untuk menarik senyumku lebar-lebar. "Iya, tenang aja. Gue rasa, gue cukup tegar untuk ngadepin masalah kayak gini." Menghibur diri sendiri, mungkin itulah usaha pertama yang harus kulakukan.

Axel memarkir motornya di lapangan parkir motor yang telah disediakan. Setelah memastikan tidak ada barang yang tertinggal di motornya, ia berjalan beriringan dengan salah seorang temannya. "Udah dapet ide mau beli apa, San?" tanya Axel berbasa-basi.
"Hm, belom sih, tapi coba cari-cari mungkin bakal ketemu ntar."
"Eh, sebelumnya, makan dulu yuk. Lo laper 'kan?"
"Yah, bolehlah. Gue emang agak laper sih."
Satu hal yang membuat Axel kagum pada gadis satu ini adalah sifat apa adanya Sandra. Selama ia mengenal Sandra, penilaian itu tak pernah berubah. Tapi kelebihan itu baru membuat Axel tergugah sekarang. Ada sedikit penyesalan karena sebelumnya ia sama sekali tak tergugah pada kelebihan Sandra itu.

to be continued...