skip to main |
skip to sidebar
Dari sekian banyak pakaian, kupilih satu pakaian yang paling pantas untuk kukenakan malam ini. Sebelum benar-benar kupakai, kusetrika pakaian tersebut hingga licin dan wangi. Lalu aku mandi sebersih-bersihnya, lebih bersih dari biasanya. Setelah aku yakin bahwa tubuhku benar-benar bersih dan wangi, aku baru keluar dari kamar mandi. Kukeringkan rambutku yang basah karena air dan kurias sedemikian rupa. Malam ini spesial bagiku, begitu menurut pemikiranku. Kuoleskan lipbalm cherry milikku pada bibir mungilku dan selesailah sudah aku menyiapkan diriku. Tinggal hatiku yang perlu kubenahi saat ini. Masih ada satu jam tersisa untuk mempersiapkan degupan jantungku yang semakin lama semakin cepat berdetak. Akan seperti apakah malam ini? Akankah kulalui malam yang bahagia atau malah sebaliknya, hatiku terus bertanya-tanya.
Ayah belum juga pulang sampai Dave benar-benar menjemputku. Ia keluar dari mobilnya dan menekan bel rumahku. Dengan gugup aku membukakan pintu baginya. Kedua matanya terus memperhatikanku. Ia tercengang, begitu nilaiku saat melihat reaksi wajahnya. "Kau cantik sekali hari ini," lontarnya secara tak sadar. Debaran jantungku semakin kencang dan mungkin terdengar olehnya. Malu sekali. "Siap untuk berangkat?" tanyanya. Kali ini ia sudah sadar kembali. Kuanggukkan kepalaku pelan. Dave segera berlari mendekati pintu mobil dan membukakannya bagiku. Oh Tuhan, malam ini aku selayaknya seperti tuan puteri yang dijemput oleh sang pangeran. Semoga ini nyata, bukan mimpi.
Sebuah kafetaria yang dihias begitu manis berada tepat di hadapanku. Kafetaria tersebut dihiasi oleh lampu kelap-kelip yang indah. Ternyata Dave sudah memesan tempat di sini, di meja nomor 17. "Silakan." Salah seorang pramuniaga kafetaria tersebut mengantarkan kami ke tempat yang sudah Dave pesan sebelumnya. Dave melangkah mendahuluiku, awalnya. Tapi tiba-tiba ia menghentikan langkahnya dan menungguku yang masih jauh di belakangnya. Ia menggandeng tanganku, baru kami melangkah bersama. Aku sungguh terkesiap melihat perlakuannya ini. Apakah ini waktunya mimpi berubah menjadi kenyataan?
"Kau mau pesan apa?" tanyanya setelah kami duduk berhadapan di meja tersebut. Kedua matanya memperhatikanku terus, tak kunjung lepas dari sosokku.
Jelas saja aku masih membisu. Kedua mataku terus memerhatikan daftar nama makanan yang ada pada buku menu, tapi pikiran dan hatiku terus tertuju pada Dave. "Aku... tak tahu apa yang ingin kupesan." Sesaat aku tertawa kecil di hadapannya. Seperti makhluk bodoh saja, pikirku.
"Hmm..." Dave mulai mengalihkan perhatiannya pada buku menu dan ini membuatku lega, sungguh. "Aku pesan Mixed Omelette. Kau, Nat?" Sepertinya ia ingin aku tak bingung lagi.
Mataku kembali mencari-cari nama makanan yang bagiku menarik. "Lasagna saja," jawabku pelan.
Pramuniaga tersebut segera menulis pesanan kami. "Minumnya?" tanyanya sopan.
"Aku Fruit Punch." Lagi-lagi Dave yang menjawab terlebih dulu.
"Fruit Soda," jawabku setelah ia menjawab.
Menunggu itu memang tidak menyenangkan, tapi tidak mungkin pesanan kami segera datang begitu kami selesai memesan. Sambil menunggu, kami berdua mengobrol. Agak canggung bagiku karena jantungku terus berdebar kencang malam ini. Dave terlihat begitu tampan malam ini dengan kemeja putih dan celana jeans hitam yang ia kenakan. "Boleh aku jujur padamu?" Tiba-tiba Dave mengawali percakapan kami di kafetaria ini.
Aku yang selalu mengharapkan kejujuran dari siapapun langsung mengangguk. Sementara kedua mataku terus terpesona melihat ketampanannya malam ini.
"Hari ini kau terlihat begitu... berbeda," katanya lalu tersenyum malu-malu. Oh tidak, ia membuatku meleleh di tempat. "Kau benar-benar cantik di mataku..."
Tak ada respon lain selain tersenyum dan mengucapkan, "Terima kasih."
Dave membenarkan posisi duduknya, menghirup nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Terlihat tangan kanannya sibuk sekali di bawah sana, aku tak tahu. "Eum... sebenarnya tujuanku mengajakku kemari untuk..." Perlahan, tangan kanannya mulai terangkat dan jelaslah apa yang ia lakukan di bawah sana. Sekuntum bunga yang tak asing bagiku muncul di hadapanku. "Ini untukmu... kuharap kau suka bunga ini."
"Ini bunga... untukku?"
"Ya. Jujur, aku pernah memberikan bunga ini padamu dulu. Mungkin kau tak menyukainya dan membuangnya waktu itu, tapi kali ini kumohon kau mau menerimanya."
Astaga, aku benar-benar terkejut. Bagaimana tidak, ternyata Dave-lah yang mengirimiku bunga waktu itu. Bunga-bunga itu masih menghiasi kamarku sekarang, masih terpajang sedemikian rapi di dalam kamarku. Bagiamana mungkin aku membuangnya, apalagi setelah tahu bahwa pengirim sebenarnya adalah Dave, sosok yang dari dulu kusukai. Sempat aku berpikir untuk membuangnya karena kupikir bunga-bunga itu dari David, tapi aku merasa sayang untuk melakukannya karena bunga-bunga tersebut terlihat begitu manis dan indah. "Aku tidak membuangnya," lontarku dengan nada bergetar. Sejuta haru menghiasi ruang hatiku yang kosong saat ini.
Dave sempat tercengang sejenak, beberapa detik lamanya. "Kau serius?"
Aku mengangguk pelan. "Tak mungkin aku membuang bunga-bunga itu..."
Ia berdehem, memecahkan keheningan yang sempat tercipta sebelumnya. Kembali ia membetulkan posisi duduknya. Kedua tangannya menangkap tangan kiriku yang senggang. "Sebelumnya, aku minta maaf karena aku sudah sering menyakitimu... tapi aku tak bisa memungkiri perasaanku bahwa..." Dave sempat ragu melanjutkan ucapannya, tapi entah kekuatan apa yang mendorongnya untuk melanjutkannya. Telingaku tak mungkin salah mendengar apa yang ia lontarkan. "Aku menyayangimu." Seperti kembang api yang meluncur dengan indah ke angkasa, demikian hatiku bergirang saat ini. Mimpikah ini, tanyaku pada diriku sendiri seperti orang bodoh.
Tanpa kusadari, air mataku menetes dan membasahi pipi kananku. Ia meluncur dengan lancarnya.
"Kenapa kau menangis? Kau masih kesal padaku ya?" Dave langsung salah tingkah melihatku menitikkan air mata. Ia tak tahu kalau ini air mata bahagia.
Kugelengkan kepalaku segera agar ia tak berburuk sangka lagi tentang air mata ini. "Maafkan aku karena aku sempat membohongi perasaanku waktu itu... bahkan, aku sempat berpacaran dengan..." Dave langsung menghentikan ucapanku.
"Aku tak mau membahas yang sudah terjadi. Waktu itu aku juga sempat marah karena aku merasa kau mempermainkanku, tapi entah apa yang membuatku begitu yakin bahwa kau sedang berbohong pada dirimu sendiri." Aku masih tak bisa berkata apapun. "Jujur, aku memang dari dulu sudah menyukaimu, tapi aku ragu apakah perasaanku itu hanya sesaat saja. Karena itu, aku menolakmu waktu itu. Tapi setelah semakin lama kuuji, aku semakin tak bisa menghilangkanmu dari hatiku... juga pikiranku." Ingin sekali aku menjerit kegirangan di tempat ini. Tapi akal sehatku masih mengingatkanku bahwa ini tempat umum. "Jadi, apa kamu mau menjadi pacarku?" Mana mungkin kubiarkan hatiku berbohong lagi? Kali ini, aku memutuskan untuk lebih jujur pada kata hatiku, pada apa yang kuinginkan, pada perasaanku. Aku memang menyukainya, menyayanginya. Memang sempat aku bertindak bodoh, tapi kali ini aku takkan mengulanginya untuk ke dua kalinya. Sebuah anggukkan kepala dariku membuat senyuman Dave tersenyum lebar sambil memandangku. Takkan ada yang bisa menggambarkan kegembiraan hatiku malam ini. Momen penting yang begitu berharga dan tak ternilai oleh apapun. Hari Jum'at tanggal 2 Mei jam 19.53 di Ribbon Cafe, akan kuingat di dalam memoriku sampai kapanpun dan kusimpan menjadi kenangan terindah yang takkan terlupakan olehku.
Yah, kujalani hari-hariku seperti biasa kembali. Aku kembali menjadi anak sekolah pada umumnya tanpa bekerja sambilan. Setiap hari kegiatanku kembali seperti semula. Pagi-pagi bangun untuk beberes rumah, kemudian mandi dan siap-siap untuk bersekolah, menyiapkan sarapan pagi untuk keluarga, berangkat ke sekolah, pulang kembali, dan fokus pada tugas serta pekerjaan yang diberikan. Mungkin terasa sedikit membosankan, tapi aku tak peduli. Lebih baik begini, fokus pada satu hal dan menjadikan hal tersebut berhasil sehingga segala sesuatu terlihat memuaskan.
Aku tak lagi memikirkan apapun. Soal David, Davin, Ibu... semuanya telah berlalu begitu. Aku belajar untuk menghadapi sesuatu yang ada di depanku, sesuatu yang jelas di hadapan mataku. Tak ingin lagi berandai-andai karena bagiku itu hanyalah suatu penghalang untuk aku melangkah dan buang-buang waktu saja. Semuanya itu sia-sia. Lebih baik kujalani semua yang ada di depan mata dengan sebaik mungkin, maka hasil yang akan kudapat akan amat sangat memuaskan.
"Renata." Ups, seseorang memanggilku dari belakang. Aku yang tengah melangkah menuju perpustakaan sekolah untuk mengembalikan buku-buku yang kupinjam beberapa hari yang lalu segera menoleh sesaat. Kulihat sosok pemuda yang amat kukenal. Ya, ia adalah Dave, alias Davin. "Mau ke mana?" tanyanya sambil memperlebar langkahnya untuk mendekati keberadaanku.
"Ke perpus." Jawaban yang singkat, padat, dan jelas. Sebisa mungkin aku ingin terlihat cool saat ini, walau sesungguhnya jantungku masih sering berdebar ketika berada di dekat laki-laki ini. Uh, aku benci momen ini.
Davin membantuku membawakan buku-buku yang dari tadi berada dalam gendonganku. "Sini, biar kubantu. Kau pinjam buku sebanyak ini?" Sambil berjalan, ia mengajakku berbincang.
"Ya, untuk membuat tugas."
"Ternyata kau benar-benar ingin fokus pada pelajaran ya. Kupikir alasanmu itu hanya bohongan saja."
Aku tertawa kecil. "Untuk apa aku berbohong? Bohong itu dosa."
"Semua orang juga tahu akan hal itu, kupikir." Rasanya aku ingin melambatkan langkah kakiku, tapi aku tak mau ia curiga. Bisa-bisa ia mengira aku yang tidak-tidak. "Oh ya, besok kau ada acara?" Mendadak ia mengganti topik pembicaraan. Topiknya menegangkan bagiku.
"Hmmm, kurasa tidak ada."
"Aku ingin mengajakmu pergi, itupun kalau kau mau."
"Pergi? Ke mana?" Kukernyitkan dahiku. Heran.
Davin tersenyum penuh arti. "Itu nanti aku baru beri tahu. Nanti malam kutelepon."
"Apa bedanya dengan memberitahuku sekarang?" Aku semakin tak mengerti jalan pikirannya, apa maksudnya.
"Jelas saja berbeda. Pokoknya nanti malam kau kutelepon, oke?"
Aku menghela nafas. "Terserahlah," jawabku mengakhiri percakapan kami karena kami sudah melangkah melewati pintu perpustakaan sekolah. Dan di mana-mana semua orang tahu bahwa tidak boleh berisik di dalam perpustakaan.
Aku tengah membaca buku di ruang tengah sambil mengunyah camilan yang tersedia di atas meja ruang tamu. Sebenarnya hal ini jarang kulakukan. Biasanya, aku selalu membaca di dalam kamarku. Tapi kali ini karena aku sedang menunggu telepon dari... RRRRRR!!! Ups, telepon rumahku berdering. Itu pasti Dave, pikirku girang. Ternyata dugaanku tak meleset. "Bisa bicara dengan Renata?"
"Ya, ini aku," jawabku yang sudah mengenal suara Dave. Walaupun Davin dan David kakak-adik, tapi aku bisa membedakan suara mereka. Suara mereka jelas berbeda. Suara Davin lebih rendah dibandingkan suara kakaknya.
"Eumm... boleh aku minta nomor ponselmu?"
"Untuk apa?"
"Untuk meneleponmu."
"Bukankah kau memang sudah meneleponku?"
"Maksudku, aku ingin menelepon ke ponselmu saja, bukan ke rumahmu."
"Oh, baiklah. Nomor ponselku 081806787511."
"Oke, terimakasih. Tunggu sebentar ya, sebentar lagi aku akan meneleponmu lagi."
Sungguh aneh, bisikku pada diriku sendiri. Dan benar, tak sampai satu menit, Dave langsung menelepon ke ponselku. Ada satu nomor tak dikenal di layar ponselku, tapi aku merasa yakin kalau ini nomornya. "Ya?"
"Ini nomorku, Nat." Davin di seberang sana. Ternyata benar dugaanku.
"Oh ya." Hanya itu responku. Habis, aku bingung harus merespon apa lagi.
"Kau sedang apa?"
"Sedang... membaca buku," jawabku singkat.
"Oh... oh ya, aku hampir melupakan tujuan utamaku meneleponmu. Hmm... ini soal ajakanku tadi di sekolah, kau bisa?"
"Pergi ke mana? Kapan?"
"Aku ingin mengajakmu makan malam, kalau kau tak keberatan. Kalau kau mau, besok jam tujuh aku akan menjemputmu. Bagaimana, kau mau?"
"Makan malam?" Memoriku langsung memutar kembali rekaman makan malamku dengan David waktu kami masih pacaran. Oh Tuhan, itu merupakan memori hitam bagiku.
"Ya, bagaimana?"
Lama aku terdiam. Bagaimana mungkin aku bisa melewati hari esok kalau memori hitam ini masih melekat di dalam benakku? Sungguh, aku merasa berdosa karena telah membohongi perasaanku waktu itu. Bodohnya aku. Bodoh, bodoh, bodoh, makiku lagi.
"Renata?" Dave membuyarkan keheningan. "Kau masih di sana 'kan?"
"Ya, ya, aku masih di sini. Aku hanya..."
"Kau tak mau ya?"
"Bukan, bukan begitu..."
"Kalau begitu, kau mau?"
"Eumm, ya..." Jujur, aku agak ragu menerima ajakannya, tapi aku juga tak ingin melewatkan kesempatan ini. Inilah kesempatan emas yang selama ini kunanti, kalau boleh kubeberkan.
"Yess, terimakasih sudah mau menerima ajakanku. Kalau begitu, besok jam tujuh malam kujemput ya."
"Ya."
Mungkinkah aku salah karena aku menerima ajakannya? Tapi untuk kali ini saja aku ingin lebih jujur pada kata hatiku. Aku masih menyukainya, menyayanginya. Walaupun aku pernah mengambil keputusan yang bodohnya luar biasa, tapi kali ini aku ingin menjalani sesuatu yang sesuai dengan apa kata hatiku. Semoga ini tidak salah, harapku dalam hati.TO BE CONTINUED...
Sudah tiga hari berlalu sejak aku melihat tubuh Ibu terkulai tanpa nyawa di atas ranjang rumah sakit. Aku masih saja mengurung diri dan tidak membiarkan satu orangpun mengganggu kesendirianku di dalam kamar. Tak terkecuali ayahku. Setiap kali kuingat apa yang telah terjadi, air mata kepedihan kembali membasahi pipi dan sarung bantalku. Tak mampu kuhentikan deraian air mata ini, walau telah kucoba.
Hari ke empat Ayah mencoba mengetuk pintu kamarku. Aku tahu itu Ayah, tapi aku berpura-pura tak mendengar. Aku tak menggubrisnya sama sekali, walau sesungguhnya hati kecilku terus menggedor pintu hatiku untuk membukakan pintu baginya. Karena tak kuat, aku terpaksa membuka pintu kamarku. Ayah melihat wajahku yang lusuh, mataku yang basah, dan rambutku yang berantakan. Ia memelukku dengan penuh kasih. "Ayah tahu kau bersedih, tapi kumohon jangan sampai seperti ini. Sudah empat hari kau tidak keluar kamar sama sekali, kau tidak makan pula. Ayah tak mau kau sakit, Nak." Aku tak mengeluarkan sepatah katapun padanya. Yang kuinginkan ialah ibuku. Tapi itu tak mungkin. "Makanlah sekarang." Ayah memintaku dengan tatapan mata yang lembut. Hati kecilku lagi-lagi mendorongku untuk menuruti kemauannya. Nafsu makanku hilang sejak ibuku pergi.
Aku menyendokkan nasi ke mulutku sendiri, hanya beberapa sendok. Setelah itu, aku meninggalkannya begitu saja. Perutku tak ingin menerima makanan apapun saat ini. Karena itu, aku kembali memuntahkannya setelah aku tiba di dalam kamar mandi.
Malam ini begitu dingin, membuat perutku berbunyi kelaparan. Kubuka pintu kamarku dan memutuskan untuk melangkah menuju dapur, mencari makanan. Kudapati makanan kecil di dalam kulkas, lalu kumakan hingga perutku kenyang. Setelah meneguk segelas air, kuamati cahaya lampu yang masih menyala dari kamar ayahku. Kuintip dari celah pintu yang terbuka. Hatiku hancur lebur saat melihat air mata ayahku membasahi kedua belah pipinya. Kedua tangannya memegang sebuah foto yang berbingkai indah. Itu foto ibuku. Oh Tuhan, ternyata Ayahpun sosok manusia yang rapuh, batinku menangis. Apa yang kulakukan selama ini adalah salah. Ya, salah. Aku begitu egois, tidak memikirkan bahwa ayahkupun sedih atas kepergian ibuku. Astaga, apa yang kulakukan selama ini, aku membuat ayahku khawatir akan keadaanku. Aku sama sekali tak memikirkan perasaannya. Bodoh, lagi-lagi kumaki diriku dalam hati. Aku kembali ke kamar dengan berlaksa penyesalan dalam hati.
Kubuka mataku dengan segera sebelum jam bekerku memanggilku untuk bangun. Kurapikan kamarku, lalu aku melangkah menuju kamar mandi setelah kusiapkan seragam sekolahku. Aku siap untuk menghadapi hari ini apapun keadaannya. Aku harus kuat, kusemangati diriku sendiri. Setelah siap beberes, aku menyiapkan sarapan sederhana untuk hari ini. Kubuat sarapan itu dengan penuh semangat. Roti panggang yang kutaburi meses cokelat dan susu kental. Harum sekali dan pastinya nikmat, aku membatin.
Ayahku kusapa dengan penuh senyum saat ia baru keluar dari kamarnya. Ayah sudah terlihat rapi dengan mengenakan kemeja putih bergaris hitam dan celana bahannya. Rambutnya sudah tersisir rapi, wajahnya juga tidak semurung kemarin malam. "Pagi, Ayah," sapaku dengan ceria. Setidaknya aku harus menunjukkan padanya bahwa aku sudah tidak lagi terhanyut dalam kepedihan, walau sejujurnya itu hanyalah topeng.
Ayah tersenyum melihat senyumku mengembang. "Pagi, Nat. Kau sudah siap berangkat ke sekolah?" tanya Ayah sambil merapikan dasinya.
"Iya, Yah," jawabku sambil mengangguk.
"Berangkatnya bareng Ayah ya." Lagi-lagi kuanggukkan kepalaku. "Makan, Yah." Kupersilakan Ayah menikmati sarapannya yang telah selesai kusiapkan. Aku duduk di hadapan Ayah, kami menyantap sarapan bersama. Rindu sekali momen seperti ini. Apalagi kalau ada Ibu di antara kami. Uh, aku masih merindukannya.
Tak kusangka kalau pihak sekolahpun tahu bahwa ibuku sudah tiada. Dan mereka turut sepenanggungan, katanya. Aku hanya mengucapkan rasa terima kasihku pada mereka, tapi aku yakin bahwa mereka takkan bisa memahami perasaanku.
"Mau ke kafetaria?" Davin bertanya saat aku tengah melangkah menuju luar gerbang sekolah. Ia tengah mengendarai motornya.
Aku menoleh ke arahnya, tersenyum sebentar, lalu menjawab, "Ya, untuk mengajukan surat pengunduran diri."
"Naiklah, kita ke sana sama-sama." Aku duduk di jok belakang, membiarkan angin sore meniup wajah dan rambutku.
Kurasa tak sampai lima belas menit, kami sudah sampai di kafetaria milik keluarga Davin. Kurapikan rambutku yang berantakan, lalu kami berdua melangkah masuk ke kafetaria. "Akhirnya kau datang juga, Nat. Aku turut sepenanggungan atas kepergian ibumu." David segera menyambutku dengan jabatan tangannya.
Kusambut jabatan tangannya itu. "Ya, terimakasih," ucapku lirih. "Eum... ada yang ingin kubicarakan hari ini. Karena itu, aku datang kemari."
"Hmm, masuklah ke kantorku. Davin, kau langsung bekerja ya."
"Ya, ya, aku tahu." Davin segera mengganti seragamnya di kamar ganti pria.
Sementara aku dan David melangkah bersama menuju kantornya. Jantungku berdebar kencang saat hendak mengajukan surat pengunduran diri. Saat David membukanya dan membaca surat yang kubuat semalam, ia hanya menghela nafas. "Jadi, kau ingin mengundurkan diri karena kau ingin fokus pada pelajaran dulu?"
"Ya, kurang lebih begitu."
"Hmm, ya, kurasa kau memang harus fokus pada pendidikan terlebih dahulu." Ia tersenyum. Kupikir ia akan marah, ternyata berbeda sekali dengan apa yang kubayangkan. Tapi kalau marah, apa haknya ia marah? Ah, aku yang terlalu berlebihan memikirkan reaksinya. "Baiklah," katanya. Ia mengambil amplop cokelat yang disimpannya di laci brankasnya. "Ini gajimu." Kuterima amplop cokelat itu. "Kalau kau mau kemari, kau boleh kemari. Tempat ini terbuka untukmu kok." Ia tersenyum. Kubalas senyumannya.
"Terimakasih, Kak."
"Hei, jangan mentang-mentang kita sudah putus kau jadi kembali memanggilku dengan embel-embel 'kak'. Aku tak suka kau memanggilku seperti itu."
"Ya, baiklah... terimakasih, David."
"Nah, itu yang aku mau. Terimakasih kembali, Renata. Aku sungguh berterimakasih karena kau mau membantu di sini walau hanya sebentar. Kupikir, kau pegawai yang paling rajin di sini."
"Terimakasih untuk pujiannya."
"Aku bukan memujimu, tapi aku mengatakan berdasarkan fakta."
"Ya, terimakasih untuk semuanya di sini."
David tertawa dan mengusap kepalaku sebentar. Dan dari kejauhan, Davin menyaksikannya dengan pandangan yang sinis tanpa kusadari.
TO BE CONTINUED...