
Yah, kujalani hari-hariku seperti biasa kembali. Aku kembali menjadi anak sekolah pada umumnya tanpa bekerja sambilan. Setiap hari kegiatanku kembali seperti semula. Pagi-pagi bangun untuk beberes rumah, kemudian mandi dan siap-siap untuk bersekolah, menyiapkan sarapan pagi untuk keluarga, berangkat ke sekolah, pulang kembali, dan fokus pada tugas serta pekerjaan yang diberikan. Mungkin terasa sedikit membosankan, tapi aku tak peduli. Lebih baik begini, fokus pada satu hal dan menjadikan hal tersebut berhasil sehingga segala sesuatu terlihat memuaskan.
Aku tak lagi memikirkan apapun. Soal David, Davin, Ibu... semuanya telah berlalu begitu. Aku belajar untuk menghadapi sesuatu yang ada di depanku, sesuatu yang jelas di hadapan mataku. Tak ingin lagi berandai-andai karena bagiku itu hanyalah suatu penghalang untuk aku melangkah dan buang-buang waktu saja. Semuanya itu sia-sia. Lebih baik kujalani semua yang ada di depan mata dengan sebaik mungkin, maka hasil yang akan kudapat akan amat sangat memuaskan.
"Renata." Ups, seseorang memanggilku dari belakang. Aku yang tengah melangkah menuju perpustakaan sekolah untuk mengembalikan buku-buku yang kupinjam beberapa hari yang lalu segera menoleh sesaat. Kulihat sosok pemuda yang amat kukenal. Ya, ia adalah Dave, alias Davin. "Mau ke mana?" tanyanya sambil memperlebar langkahnya untuk mendekati keberadaanku.
"Ke perpus." Jawaban yang singkat, padat, dan jelas. Sebisa mungkin aku ingin terlihat cool saat ini, walau sesungguhnya jantungku masih sering berdebar ketika berada di dekat laki-laki ini. Uh, aku benci momen ini.
Davin membantuku membawakan buku-buku yang dari tadi berada dalam gendonganku. "Sini, biar kubantu. Kau pinjam buku sebanyak ini?" Sambil berjalan, ia mengajakku berbincang.
"Ya, untuk membuat tugas."
"Ternyata kau benar-benar ingin fokus pada pelajaran ya. Kupikir alasanmu itu hanya bohongan saja."
Aku tertawa kecil. "Untuk apa aku berbohong? Bohong itu dosa."
"Semua orang juga tahu akan hal itu, kupikir." Rasanya aku ingin melambatkan langkah kakiku, tapi aku tak mau ia curiga. Bisa-bisa ia mengira aku yang tidak-tidak. "Oh ya, besok kau ada acara?" Mendadak ia mengganti topik pembicaraan. Topiknya menegangkan bagiku.
"Hmmm, kurasa tidak ada."
"Aku ingin mengajakmu pergi, itupun kalau kau mau."
"Pergi? Ke mana?" Kukernyitkan dahiku. Heran.
Davin tersenyum penuh arti. "Itu nanti aku baru beri tahu. Nanti malam kutelepon."
"Apa bedanya dengan memberitahuku sekarang?" Aku semakin tak mengerti jalan pikirannya, apa maksudnya.
"Jelas saja berbeda. Pokoknya nanti malam kau kutelepon, oke?"
Aku menghela nafas. "Terserahlah," jawabku mengakhiri percakapan kami karena kami sudah melangkah melewati pintu perpustakaan sekolah. Dan di mana-mana semua orang tahu bahwa tidak boleh berisik di dalam perpustakaan.
Aku tengah membaca buku di ruang tengah sambil mengunyah camilan yang tersedia di atas meja ruang tamu. Sebenarnya hal ini jarang kulakukan. Biasanya, aku selalu membaca di dalam kamarku. Tapi kali ini karena aku sedang menunggu telepon dari... RRRRRR!!! Ups, telepon rumahku berdering. Itu pasti Dave, pikirku girang. Ternyata dugaanku tak meleset. "Bisa bicara dengan Renata?"
"Ya, ini aku," jawabku yang sudah mengenal suara Dave. Walaupun Davin dan David kakak-adik, tapi aku bisa membedakan suara mereka. Suara mereka jelas berbeda. Suara Davin lebih rendah dibandingkan suara kakaknya.
"Eumm... boleh aku minta nomor ponselmu?"
"Untuk apa?"
"Untuk meneleponmu."
"Bukankah kau memang sudah meneleponku?"
"Maksudku, aku ingin menelepon ke ponselmu saja, bukan ke rumahmu."
"Oh, baiklah. Nomor ponselku 081806787511."
"Oke, terimakasih. Tunggu sebentar ya, sebentar lagi aku akan meneleponmu lagi."
Sungguh aneh, bisikku pada diriku sendiri. Dan benar, tak sampai satu menit, Dave langsung menelepon ke ponselku. Ada satu nomor tak dikenal di layar ponselku, tapi aku merasa yakin kalau ini nomornya. "Ya?"
"Ini nomorku, Nat." Davin di seberang sana. Ternyata benar dugaanku.
"Oh ya." Hanya itu responku. Habis, aku bingung harus merespon apa lagi.
"Kau sedang apa?"
"Sedang... membaca buku," jawabku singkat.
"Oh... oh ya, aku hampir melupakan tujuan utamaku meneleponmu. Hmm... ini soal ajakanku tadi di sekolah, kau bisa?"
"Pergi ke mana? Kapan?"
"Aku ingin mengajakmu makan malam, kalau kau tak keberatan. Kalau kau mau, besok jam tujuh aku akan menjemputmu. Bagaimana, kau mau?"
"Makan malam?" Memoriku langsung memutar kembali rekaman makan malamku dengan David waktu kami masih pacaran. Oh Tuhan, itu merupakan memori hitam bagiku.
"Ya, bagaimana?"
Lama aku terdiam. Bagaimana mungkin aku bisa melewati hari esok kalau memori hitam ini masih melekat di dalam benakku? Sungguh, aku merasa berdosa karena telah membohongi perasaanku waktu itu. Bodohnya aku. Bodoh, bodoh, bodoh, makiku lagi.
"Renata?" Dave membuyarkan keheningan. "Kau masih di sana 'kan?"
"Ya, ya, aku masih di sini. Aku hanya..."
"Kau tak mau ya?"
"Bukan, bukan begitu..."
"Kalau begitu, kau mau?"
"Eumm, ya..." Jujur, aku agak ragu menerima ajakannya, tapi aku juga tak ingin melewatkan kesempatan ini. Inilah kesempatan emas yang selama ini kunanti, kalau boleh kubeberkan.
"Yess, terimakasih sudah mau menerima ajakanku. Kalau begitu, besok jam tujuh malam kujemput ya."
"Ya."
Mungkinkah aku salah karena aku menerima ajakannya? Tapi untuk kali ini saja aku ingin lebih jujur pada kata hatiku. Aku masih menyukainya, menyayanginya. Walaupun aku pernah mengambil keputusan yang bodohnya luar biasa, tapi kali ini aku ingin menjalani sesuatu yang sesuai dengan apa kata hatiku. Semoga ini tidak salah, harapku dalam hati.
TO BE CONTINUED...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar