5/31/2009

It's Complicated Part 8


Ternyata menjalani hari-hariku dengan seorang yang sama sekali tak ada di hatiku memang sulit. Ada rasa segan yang begitu kuat ketika David menggenggam tanganku di hadapan adiknya. Itu ia lakukan berkali-kali. Entah apa maksudnya, tapi yang kurasakan adalah tatapan sinis dari Davin. Tapi saat rasa segan itu bermunculan, pikiranku mulai berbicara. "Seharusnya kalau memang ia tidak suka, katakan. Jangan hanya diam saja. Dave sudah pernah bilang dengan jelas bahwa ia tidak suka padamu, Renata. Dan itu artinya memang ia tidak suka. Sudahlah, untuk apa sungkan? Toh, Dave tidak ada hati padamu. Kau saja yang seperti orang bodoh, menganggapnya ada hati padamu. Sekarang sudah ada pangeran yang begitu menyayangimu di hadapanmu dan kau akan menyia-nyiakan kesempatan emas ini? Ia begitu perhatian padamu dan terlihat begitu sempurna. Apa kau yakin dengan tindakanmu ini?" Saat itu aku hanya bisa menghela nafas. Mengakhirinya begitu saja akan membuatnya sakit. Aku tak ingin dianggap sebagai seorang gadis yang hobinya menyakiti hati orang lain. Tapi aku juga tak ingin hatiku tersakiti seperti ini. Jelas-jelas orang yang kusayangi hanya Dave seorang, tapi kenapa aku malah melakukan hal bodoh seperti ini? Dasar Renata bodoh, makiku sekali lagi pada diriku sendiri. Memalukan.
"Kau tak apa, Ren?" tanyanya sambil membantuku mencuci piring di dapur.
Lamunanku buyar. Otakku kembali berputar normal. "Euh... ya, aku tak apa kok," jawabku sambil menarik paksa senyumku.
"Syukurlah kalau kau tak apa. Kupikir kau sedang sakit."
"Mmm... tidak kok. Aku sehat-sehat saja." Semoga ia tak menyadari kepalsuan senyumku.
"Apa kau ingin izin pulang sekarang?"
"Tidak, ini masih terlalu sore. Lagipula masih banyak pelanggan," sahutku sambil mematikan air kran. "Hmm, aku ke sana dulu. Kelihatannya ada pelanggan yang baru datang." Secara halus, aku menghindar dari David. Berharap ia tidak sadar akan hal ini.
Cepat atau lambat, David akan mengetahui hal ini. Ia akan segera mencium keanehan yang terjadi dan saat itu juga mungkin keadaan akan semakin ruwet. Haruskah aku mengakuinya di hadapan David bahwa sesungguhnya yang ada di hatiku hanyalah Davin seorang? Atau aku harus terus diam dan membiarkan keadaan ini berlangsung lama? Toh, suatu saat rasa sayang itu bisa saja muncul dengan sendirinya, pikirku.

Hujan turun dan aku mulai benci hujan. Tetesan air yang membasahi bahkan membanjiri bumi ini membuatku kembali mengenang Dave. Rasanya ingin kubunuh semua ingatanku mengenai dirinya. Namun, apa daya, aku tak sanggup. Dalam hatiku, rasa sayangku padanya masih terawat bak bunga yang dirawat dengan benar hingga bermekaran. Tiap kali memoriku memutar ulang momen indahku bersamanya, senyumku pasti mengembang. Tapi ketika aku kembali terkenang akan penolakannya terhadapku tempo hari, air mata mulai membasahi pipi. Apa aku sedemikian jatuh hati padanya? Kalau Tuhan izinkan, aku ingin memori ini dihapus. Atau jika perlu, buatlah aku lupa akan semua kejadian, termasuk pertemuanku dengan Davin maupun David. Sayangnya, Tuhan masih begitu mencintaiku. Mungkin Ia tak tega melihatku semakin menderita karena lupa ingatan seperti yang kukehendaki.
"Kau takkan kabur lagi seperti waktu itu 'kan?" Tiba-tiba kudengar celetukan dari seseorang yang baru saja turun melalui tangga yang ada di pojok koridor sekolah. "Jangan nekat seperti waktu itu lagi ya." Begitu lanjutnya.
Aku cuma bisa tersenyum, tersenyum pahit. Lebih pahit dari buah mengkudu, mungkin. Apa urusannya, tanyaku marah dalam hati.
"Kakakku akan datang menjemput. Jadi, kau tak perlu hujan-hujanan seperti waktu itu. Kalau kau sampai nekat hujan-hujanan, aku yang akan kena marah oleh pacarmu," sambungnya dengna nada sinis.
"Apa maksudmu?"
"Ya, kakakku menyuruhku menjagamu. Dan aku sebagai adiknya, mau tak mau aku harus mendengarkan suruhannya dan melaksanakannya."
"Aku bukan anak kecil lagi, kau tahu?" Langkahku segera menjauhi dirinya. Hatiku sakit tiap mendengar ia menyinis seperti itu. Tak tahukah ia bahwa aku tengah mengalami dilema yang cukup merumitkan otakku? Tidak dapatkah ia membantuku walau hanya sedikit? Kembali aku menghela nafas.
Pada akhirnya, aku dan Davin memang harus ke kafetaria bersama. Ada David di sebelah kananku, tapi hampir tak kuanggap sama sekali. Aku tak ingin banyak bicara di depan Davin. Hujan terus mengguyur mobil David yang mungkin baru saja dicuci semalam. Sepanjang perjalanan, aku lebih memilih untuk diam. David sempat menanyaiku beberapa pertanyaan, tapi kujawab seperlunya saja. Aku tak ingin Davin mendengar sesuatu yang tidak perlu untuk didengar.
Pikiranku membuat aktivitasku terganggu. Ya, rasanya ingin kucabut sementara pikiran-pikiran yang tak perlu. Tapi itu mustahil. Walau sesaat ingin kucoba untuk lupakan, namun yang ada aku malah semakin memikirkannya. Bahkan, sambil berjalan pikiranku terus beraktivitas. Untungnya, aku tak melakukan kesalahan saat melayani para pelanggan. Aku boleh bernafas lega karenanya.
"Lagi-lagi kau terlihat seperti orang sakit. Kau sedang sakit ya, Ren?" David kembali menanyaiku saat Davin tengah membereskan kursi-kursi kafetaria. Kafetaria sudah tutup malam ini. Aku sedang ada di dapur, sedang mencuci piring-piring dan gelas-gelas kotor.
Kugelengkan kepalaku pelan sambil terus mencuci. Kedua mataku tidak berani bertatapan dengannya lama-lama. "Tidak kok, aku baik-baik saja." Kujawab dengan nada selembut mungkin agar ia tidak curiga.
David meraba keningku. Tidak panas, tentu saja. Aku sehat. Yang sakit adalah pikiranku, otakku, hatiku, dan perasaanku. "Kalau kau sedang ada masalah, apa tidak sebaiknya kau cerita padaku? Aku 'kan pacarmu, Ren. Siapa tahu aku bisa membantu."
Senyumku terlihat pahit kembali. "Tidak," jawabku. Dan kusambungkan dalam hati, "Tidak akan ada yang bisa membantuku dalam masalah ini."
"Apa nilaimu ada yang jelek di sekolah?"
"Tidak, nilai-nilaiku baik. Tidak ada masalah, tidak sakit, aku tidak apa-apa, David." Kuperjelas dengan nada selembut dan sepelan mungkin. Aku tak ingin David menyangka bahwa aku marah karenanya.
"Baiklah, aku percaya padamu." Ia mengusap kepalaku lembut.

Malam ini Ayah baru pulang jam setengah sembilan malam. Tentu saja ia lembur dan belum sempat makan makanan yang berat. Untung, aku sempat membuat makanan di rumah sehingga Ayah bisa ikut makan malam ini bersamaku. Aku juga tak senang hanya makan seorang diri di meja makan. "Bagaimana nilaimu, Nak? Tidak ada yang turun 'kan?" Pertanyaannya menjadi perbincangan di ruang makan. Sepi.
"Hmmm, tidak kok, Yah. Nilaiku baik-baik saja," jawabku sambil melahap potongan daging kecil yang kusendokkan baru saja.
"Baguslah kalau begitu. Lalu pekerjaan sambilanmu?"
Aku sempat terhenyak sebentar, tapi kulanjutkan untuk menjawab. "Baik juga kok, Yah." Nada bicaraku sedikit berbeda dan Ayah mungkin menyadarinya.
"Yang namanya bekerja itu memang tidak mudah, Nak. Banyak saingan, banyak pikiran, banyak beban." Ayah mulai menjelaskan. "Apalagi kalau sambil sekolah sepertimu. Karena itu, kau harus bisa pandai membagi waktu dan mencoba mengendalikan diri. Jangan sampai masalah sekolah kau bawa-bawa ke pekerjaan dan masalah pekerjaan kau bawa-bawa ke sekolah sampai-sampai nilaimu menurun. Ayah percaya, kau bisa."
"Iya, Ayah." Sebuah senyuman tertarik di bibirku.
Ayah menelan makanannya yang telah dikunyahnya hingga halus. "Apa kau sedang bermasalah dengan yang namanya cinta?" Deg! Siapa yang menyangka ayahku akan memperbincangkan hal ini di depanku? "Mungkin kau segan mengatakannya, tapi Ayah ingin kau bisa lebih terbuka pada Ayah. Sulit memang, karena sebenarnya Ayah juga tidak terlalu jago dalam hal ini. Andai Ibu ada di sini, mungkin kau bisa berbagi cerita dengannya."
Nafsu makanku turun seketika. "Ayah, bisakah Ayah berhenti bicara mengenai perempuan itu lagi? Aku muak mendengarnya."
Ayah juga menyudahi makannya. "Renata, kenapa kau sedemikian membenci ibumu sendiri, Nak?"
"Ayah, wanita itu nggak pantas disebut sebagai seorang ibu! Seenaknya saja meninggalkan kita seperti ini, di mana hati nuraninya sebagai seorang ibu dan seorang istri? Kurasa, sekarang ia memang telah melupakan kita. Aku sendiri juga sudah membuang semua kenanganku bersamanya."
"Tapi itu ibumu sendiri, Nak. Kau tahu, ibumu begitu kesakitan saat ia melahirkan..."
"Stop!! Aku nggak mau lagi dengar cerita tentang wanita itu. Maaf, Ayah..." Aku segera melangkahkan kakiku menuju kamarku. Betul-betul benci mendengar nama Ibu disebutkan dalam perbincangan. Perempuan itu tidak pantas menjadi ibuku. Ia lebih pantas disebut sebagai wanita rendah, batinku penuh amarah.

5/26/2009

It's Complicated Part 7


David mengantarku pulang dengan mobilnya setelah kafetaria tutup. Sepanjang perjalanan mulutku membisu, bibirku terkatup erat. Tak ada satu patah katapun yang terucap dari bibir mungilku.
David menyalakan lampu sen kiri pada mobilnya dan tibalah kami di muka rumahku. Kulepaskan safety belt yang sejak tadi seakan mengikatku sepanjang perjalanan pulangku. "Terimakasih," ucapku singkat. Aku tak tahu harus mengucapkan apa lagi. Hari ini memang melelahkan bagiku dan jujur, aku sedang tak ingin banyak berbicara.
Saat aku hendak turun dari mobil, ternyata David ikut turun. Dan setelah aku menutup pintu mobilnya dan berdiri di sisi mobilnya, pemuda itu sudah berdiri tepat di hadapanku, seolah ia mencegah kepulanganku. "Kamu kelihatan lelah sekali hari ini," katanya. Aku hanya tersenyum. "Eum... aku hanya ingin bertanya sesuatu, boleh?" Kuanggukkan kepalaku sambil mengupingi rambutku yang tergerai. "Aku hanya ingin memastikan tentang... pernyataanku waktu itu. Apa kau mau jadi pacarku?" Deg! Kenapa malam ini, Tuhan, keluhku. Keadaanku sedang tidak baik dan tentu saja pikiranku ikut terpengaruh. Entahlah, malam ini begitu indah, sampai-sampai aku mau saja menerima David. Aku merasa dipermainkan oleh keadaan. "Kamu sungguh-sungguh mau jadi pacarku, Ren?" David kembali meyakinkanku dan bodohnya, lagi-lagi aku menganggukkan kepalaku. Rasanya ingin kubenturkan kepalaku. Bodoh sekali, makiku. Jelas-jelas yang kusukai hingga detik ini hanyalah Davin, tapi kenapa aku malah menerima pernyataan cinta dari kakaknya? Seketika David memelukku. "Thanks ya." Hanya beberapa detik ia mendekapku, kemudian ia melepaskan pelukannya. "Aku senang karena kamu mau menerima aku." Senyumannya mengembang. Sebuah senyuman yang muncul dari lubuk hatinya yang paling dalam. "Ya sudah, istirahatlah yang cukup. Jangan sampai kamu sakit."
"Hmm... aku masuk dulu ya," tuturku pelan. Dan sebelum aku benar-benar masuk ke dalam rumahku, David menarik lenganku dan mengecup keningku. Oh Tuhan, terang saja aku terkejut karenanya. Lututku sampai lemas rasanya. Untunglah, ia segera membiarkanku masuk ke dalam rumahku. Dan aku segera masuk ke dalam kamar. Kuraba keningku yang tadi David kecup dengan lembut. Aku hanya bisa menghela nafas. "Apakah dengan begini, aku bisa melupakan Davin?" gumamku bertanya.

Dengan langkah ragu aku masuk ke dalam ruang ganti untuk mengganti seragam sekolahku dengan seragam kafetaria. Aku harus kembali bekerja dan melupakan kejadian semalam sejenak. Tahukah Davin akan kisah semalam, aku bertanya-tanya. Saat kedua mataku memerhatikan sosok Davin dari ruang dapur, tiba-tiba pemuda yang tengah melayani para pelanggan itu menoleh ke arahku. Spontan, aku segera memalingkan pandanganku. Semoga ia tak menyadarinya bahwa sejak tadi aku terus mengawasinya, harapku cemas. Davin melangkah mendekatiku. "Siapkan pesanan meja nomor 12." Hanya itu yang diucapkannya, kemudian ia pergi. Aku boleh bernafas lega karena ia tidak bicara yang macam-macam. Dengan segera, kulakukan apa yang Davin perintahkan padaku tadi. Setelah siap semua pesanannya, aku segera mengantarkannya ke meja yang dimaksud. Di sana duduk sepasang kekasih yang tengah bersenda-gurau. Riang sekali, nilaiku dalam hati.
Waktu memang berjalan cepat sekali. Malam telah menjelang dan kafetaria lagi-lagi ditutup. Padahal aku merasa bahwa baru saja aku melangkah masuk ke dalam kafetaria, tapi sekarang aku harus kembali ke rumahku. "Biar kuantar kau pulang ya," kata David. "Davin, titip kafetaria dulu."
"Ya, ya, ya." Davin menjawab dengan nada ogah-ogahan.
Aku yakin sekali kalau Davin melihat tanganku digenggam oleh sang kakak. Kira-kira apa penilaiannya ya? Apakah ia akan menganggap aku sebagai perempuan rendah? Air mataku hampir meleleh begitu di telingaku terngiang kata 'perempuan rendah'.
"Mau makan malam dulu? Kamu belum makan 'kan?" David membuyarkan lamunanku mengenai Davin.
"Ah, eh..." Bingung harus menjawab apa pada ajakannya.
"Kamu nggak lapar?"
"Ehh... iya," jawabku singkat. Memang sejak tadi cacing-cacing dalam perutku mulai berlomba untuk meneriaki kata 'lapar'.
"Kalau begitu, kita makan dulu saja ya."
"Lalu bagaimana dengan Davin?" Ups, seharusnya aku tak menanyakan soal ini. David pasti akan marah.
"Oh, Davin sudah makan tadi," jawab David sambil membelokkan stir mobil ke arah kanan setelah menyalakan lampu sen kanan.
Bibirku kembali terkatup rapat. Jangan sampai aku menanyakan pertanyaan yang bersangkutan dengan Davin lagi di depan kakaknya. Bisa-bisa David salah sangka dan mengetahui isi hatiku.
"Kamu mau makan apa, Ren?" tanyanya setelah sampai di sebuah restoran sederhana di samping jalan.
Mataku terus menelusuri nama makanan satu ke nama yang lainnya. "Nasi cap cay," jawabku singkat. Aku suka nasi cap cay karena di dalamnya ada sayuran yang dinamai brokoli oleh seseorang entah siapa.
Selagi menunggu, Davin dan aku berbincang-bincang. Tapi aku tetap menjaga bibirku agar tidak salah bicara. Karena sekali saja salah bicara, mungkin keadaan akan kacau.

5/22/2009

It's Complicated Part 6


Gaun itu hanya sampai batas selutut panjangnya. Warnanya merah muda, terlihat lembut seperti warna kesukaanku. Kukenakan itu sejak jam enam sore. Tentu saja aku penasaran akan siapa pengirim bunga dan gaun ini. Aku terduduk di meja rias sambil terus memandangi bunga-bunga yang berjejer di atas meja riasku. Mereka masih saja wangi. Rambut panjangku kubiarkan tergerai dan poniku kukesampingkan sehingga wajahku terlihat lebih dewasa. Tas tangan berwarna pink muda yang dihadiahkan padaku kubiarkan tergeletak di atas ranjang. Aku menunggu kehadirannya selama hampir satu jam.
Jam tujuh kurang kudengar bel rumahku berbunyi. Itu pasti dia, terkaku. Kubukakan pagar rumahku dengan penuh keraguan. Bagaimana kalau ia orang jahat dan ingin melakukan rencana kejahatan terhadapku? Aku harus siaga, pikirku sebelum benar-benar kubukakan pagar. Pagar rumahku yang dicat warna keemasan dilapisi oleh sesuatu yang aku tak tahu namanya sehingga orang dalam tidak bisa melihat orang yang berada di luar sana. Demikian juga orang luar takkan bisa menerawang ke dalam.
Saat aku benar-benar telah membuka pagar rumah, seorang pemuda gagah datang menghadapku sambil menutupi wajahnya dengan sekumpulan bunga yang dihias demikian indahnya. "Siapa?" Kutanya begitu.
"Coba tebak, siapa." Tentu aku tak menjawab karena aku memang tidak tahu siapa. Sama sekali tidak ada persediaan nama di benakku saat ini. Perlahan tapi pasti ia menunjukkan wajahnya yang tadi disembunyikannya di balik bunga-bunga yang ada dalam genggaman tangannya. "Taraaaaaa..." Aku tahu maksudnya, ia ingin membuat kejutan untukku.
Tapi aku begitu terhenyak ketika mengetahui siapa pemuda ini. "David?" Hampir tak percaya aku melihat sosoknya ada di hadapanku. "Rupanya selama ini kamu yang..."
Ia menarik bibirnya. "Tidak suka ya?" tanyanya.
"Bu-bukan begitu, tapi..." Aku mulai bingung harus bagaimana menanggapinya. Senangkah atau malah kecewa, aku tak mengerti.
"Kalau begitu..." David berlutut di hadapanku. "Maukah kamu menerima ajakanku untuk makan malam bersamaku?" Gayanya seperti sedang melamar orang. Ia menyerahkan bunga yang ada dalam genggamannya padaku. "Kalau kau mau, terimalah bunga ini. Tapi kalau kau tidak bersedia, abaikan saja."
Rasa haru, kecewa, dan bimbang campur aduk mengisi ruang hatiku yang kosong. Dan tanpa berpikir apa-apa lagi aku menerima bunga tersebut. Mungkin aku tak bisa mengetahui seberapa girang hati David saat aku memutuskan untuk menerima ajakannya. Tapi yang jelas, ia segera menuntunku untuk masuk ke dalam mobilnya dengan wajah bahagia.
Sebuah gedung mewah yang ruangannya terlihat artistik dan romantis. Aku suka gaya gedung tersebut. Indah dan unik. Hanya lampu remang yang menerangi ruangan tersebut. Setiap meja terdapat setangkai mawar hidup yang diletakkan di dalam pot berair dan ditaruh di tengah-tengah meja makan. David mempersilakan aku untuk duduk di salah satu kursi, baru ia duduk tepat di hadapanku. "Bagaimana menurutmu?"
"Apanya?" Bingung.
"Tempat ini... kau suka?"
"Ya, tempat ini indah dan unik menurutku."
"Baguslah kalau kau memang menyukainya. Oh ya, kau ingin makan apa?"
Buku menu tersedia di depanku dan ketika kubuka, mataku sempat melotot sebentar. "David," bisikku memanggilnya.
"Ya, kenapa?" tanyanya dengan wajah santai.
"Apa harganya tidak terlalu mahal?" Masih dalam keadaan berbisik, aku bertanya padanya. Aku syok melihat harga makanannya selangit. Jelas aku takkan mampu membayarnya.
Lagi-lagi senyuman manisnya dipamerkannya padaku. "Kau tak perlu panik. Pesan saja apa yang kau mau. Tak perlu memikirkan soal harga, oke?" Bagaimana aku tidak memikirkannya, batinku. Dengan sangat hati-hati aku memilih makanan yang hendak kusantap. Aku takkan memilih makanan yang mahal-mahal karena aku tak ingin merepotkannya.
Aku dan David memang harus menunggu hingga masakan itu selesai dimasak dan dihidangkan. "Terimakasih sudah mengajakku ke sini."
"Tidak perlu berterimakasih. Mmm... kau terlihat berbeda hari ini."
"Berbeda bagaimana?" Jantungku mulai berdegup lebih kencang dari biasanya. Berharap ia tak mengetahuinya.
"Kau terlihat lebih cantik dan anggun. Aku suka melihatmu yang seperti ini juga seperti biasanya."
"Terimakasih," ucapku grogi.
"Kau sendirian di rumah?"
"Iya, ayahku belum pulang tadi."
"Jadi kau tidak pamit pada ayahmu?"
"Sudah, aku sudah pamit hari sebelumnya."
"Syukurlah. Kalau kau belum pamit, aku bingung bagaimana aku harus menghadap ayahmu dan menjelaskan tentang hari ini." Aku tertawa kecil. "Oh ya..." David membetulkan posisi duduknya. Kedua tangannya menggenggam tangan kananku secara tiba-tiba. Herannya, aku malah membiarkannya. "Aku..." Kelihatannya ia bingung untuk berkata-kata. Raut wajahnya juga sempat memerah sesaat. Tapi berubah menjadi tegas kembali setelah beberapa detik. "Ada satu hal yang ingin kutanyakan."
Kedua alis mataku saling bertautan keheranan. "Apa?"
"Maukah kamu menjadi pacarku?" Suaranya begitu tegas dan jelas. Wajahku merona mendengar 'penembakkan' yang dilakukannya.
Semakin ruwet saja pikiranku. Aku tak bisa memutuskannya sekarang. "Aku tak bisa menjawabnya sekarang," kataku lirih.
"Iya, aku mengerti kok. Aku akan memberimu waktu untuk menjawab dan takkan memaksamu." David membuatku merasa lebih damai dengan senyumannya. Oh Tuhan, it's complicated!!!!

Hampir satu minggu berlalu dan aku belum juga menemukan jawabannya. Jujur, aku bingung jawaban apa yang harus kuberikan. Ini kenyataannya, dari lubuk hatiku yang paling dalam aku memiliki rasa khusus terhadap Davin dan hingga saat ini aku belum bisa menyingkirkannya dari hatiku. Tapi David itu kakaknya. Semestinya sifatnya tidak beda jauh dengan sang adik. Sungguh, aku tak mengerti apa yang harus kulakukan saat ini.
"Renata..." Seseorang memanggil namaku. Ia Davin. Lamunanku hancur berantakan. "Kau melamun?" lanjutnya.
"Nggg... tidak kok. Aku hanya..."
"Jangan melamun terus. Pekerjaan masih banyak lho."
"Iya, iya." Kucoba untuk tersenyum padanya. Tidak tahukah ia, sebagai seorang adik, tentang rencana kakaknya ini, hatiku bertanya-tanya.
Saat ini David tidak ada di kafetaria ini. Ia sibuk mengurus sesuatu yang penting, begitu kata Davin menjelaskan saat aku menanyakan keberadaannya. Hanya aku dan Davin yang mengurus kafetaria ini untuk beberapa waktu ke depan. Aku enjoy, tapi ada kekuatiran di dalam hatiku. Apa itu, aku sendiri tak tahu-menahu. Sementara matahari sudah mulai menyelimuti dirinya di balik awan sore, aku masih harus membersihkan piring dan wadah lain yang kotor. Davin masih sibuk melayani beberapa pelanggan yang baru muncul sore ini. Kedua mataku sesekali memandanginya dari balik dapur. Tahukah ia tentang insiden 'penembakkan' yang dilakukan David, kakaknya, terhadapku? Lantas apa reaksinya? Apa ia sebegitu cueknya terhadap situasi membingungkan seperti ini? Ah, aku yang terlalu bodoh memang. Jelas-jelas Davin tidak ada hati padaku. Aku saja yang terlalu gede rasa sampai mengharapkan ia mencemaskan insiden itu. Renata bodoh, makiku pada diriku sendiri.


TO BE CONTINUED...

5/21/2009

It's Complicated Part 5


Hari-hariku terasa kosong belakangan ini. Rasanya tak ada semangat untuk menjalaninya. Rutinitas yang begitu melelahkan mampu mematahkan kekuatanku untuk melangkah. Bahkan, sempat terpikir olehku untuk tidak masuk sekolah setiap pagi. Kalau bukan berkat dorongan Ayah, aku takkan masuk sekolah seminggu ini. Sempat Ayah menanyakan, "Apa kamu ada masalah, Nak?" Tapi tak ada satupun jawaban yang menceritakan kejadian sesungguhnya keluar dari bibirku. Aku tak ingin semakin membebaninya lagi. Sudah cukup ia dibebani oleh pekerjaannya dan masalah pribadinya.
"Nggak kok, Yah. Aku baik-baik saja. Kenapa?" tanyaku pura-pura bodoh, pura-pura tidak mengerti. Seolah memang tak ada yang terjadi dalam kehidupanku pribadi.
"Belakangan ini Ayah sering melihatmu lesu dan sering diam. Padahal biasanya kau ceria."
"Biasa saja kok. Aku tidak apa-apa," jawabku mengelak. Semoga ia tak menyadari penyangkalanku.
"Bagus kalau kau tidak apa-apa. Tapi kalau kau memang punya masalah, ceritakanlah. Siapa tahu Ayah bisa membantumu."
"Beres, Yah. Ayah nggak perlu khawatir." Kami melanjutkan makan malam kami bersama di meja makan.
Nafsu makanku berkurang belakangan ini, jujur. Bahkan, seringkali aku tak mampu menghabiskan jatah makan malamku. Dan mungkin ini juga faktor yang membuat Ayah bertanya seperti itu. Setiap kali aku menimbang berat badanku, pasti selalu berkurang satu kilo. Sehari berkurang satu kilo, apa aku memang se-stres ini? Jangan sampai orang-orang menyadarinya. Aku tak ingin membuat orang lain, terutama Ayah, khawatir.
"Kau kurusan, Ren?" Deg! Seseorang yang tepat berdiri di belakangku mulai mengucapkan kalimat mematikan bagiku.
Aku langsung menengok dan melihatnya. Itu David. "Oh ya? Padahal belakangan ini nafsu makanku meningkat." Bohong!!!! Aku tahu aku sedang berbohong dan aku sadar akan apa yang kulakukan. Tapi ini kulakukan dengan penuh keterpaksaan. Aku tak ingin masalahku terbeberkan.
"Kau yakin? Kau benar-benar tambah kurus lho. Wajahmu juga pucat. Apa kau sakit?"
"Tidak, aku sehat. Sehat sekali malah."
David melangkah mendekatiku, membantuku mencuci piring-piring kotor yang menumpuk di tempat cucian. "Biar kubantu. Kau pasti lelah 'kan?"
"Tidak sama sekali. Aku senang bisa bekerja di tempat ini."
Mendengar kata-kataku barusan, David hanya menyunggingkan senyumannya. "Kau tahu, aku juga senang kau bekerja di tempat ini. Aku terbantu karena kehadiranmu di sini."
Jelas saja aku merasa tersanjung dengan ungkapannya. Ternyata aku memang dibutuhkan, batinku girang.
"Dan sejak kau bekerja di sini, entah kenapa, pikiranku selalu dipenuhi olehmu. Aku sendiri juga tak begitu mengerti, tapi... mungkin aku menyukaimu." PRAAANGG!!!! Sebuah piring tanpa sengaja kujatuhkan ke lantai. Licin. Aku panik dan ketakutan. Segera kupungut pecahan piring tersebut tanpa pikir panjang dan aku mengaduh kesakitan. Pecahan piring itu melukaiku. "Kau terluka. Biar kuobati." David segera membawaku ke kantornya dan mengobati lukaku begitu melihat darah segar mengalir dari balik kulitku. Perih, rintihku dalam hati. "Tak semestinya kau memungut pecahan itu dengan tangan telanjang. Jadi terluka 'kan?" David membersihkan lukaku dengan kapas yang telah dibasahi oleh alkohol.
"Maaf, Kak," ucapku lirih.
"Tidak apa. Aku tak begitu mempermasalahkan piring yang pecah. Aku lebih mementingkan keselamatanmu." Lagi-lagi aku tersanjung. Tapi ada sesuatu yang mengganjal di hatiku. "Nah, sudah kuobati. Lain kali hati-hatilah. Aku tak ingin melihatmu terluka."
"Terimakasih, Kak."
"Eum... kalau aku boleh meminta, tolong jangan panggil aku dengan embel-embel seperti itu. Panggil namaku saja. Toh, umur kita tak terpaut terlalu jauh. Panggil aku David saja."
"Iya... David." Agak ragu untuk mengucapkan namanya, tapi akan kulakukan kalau itu memang maunya. Keinginan yang sederhana.

Kuperhatikan dari hari ke hari, David memang lebih perhatian dan seringkali menjagaku. Ketika aku sedang mencuci piring di dapur dan saat sedang sepi pengunjung, ia kerap membantuku di dapur untuk mencuci. Sementara Davin membersihkan meja-meja dan kursi-kursi yang ada. Apakah Davin menyadari sesuatu, hatiku mulai menerka-nerka.
"Davin, kau jaga kafe sebentar ya. Aku ingin mengantar Renata pulang dulu." Tentu saja Davin mengiyakannya. Dan setelah David mengantarku, ia segera kembali ke kafetaria milik keluarganya.
Sekembalinya, David segera masuk ke dalam kantornya untuk mengurus sesuatu. Itu memang biasanya dilakukannya setelah kafetaria tutup. "Tumben hari ini Kakak yang mengantarnya pulang." Davin muncul sambil membawakan segelas minuman untuk sang kakak.
David menoleh sejenak, lalu kembali mengurus urusannya. "Ya, aku cuma ingin tahu saja rumahnya ada di mana. Lagipula kulihat tadi kau sibuk sekali. Karena tak mungkin membiarkannya pulang seorang diri malam-malam begini, jadi kuantar saja," jelas David.
"Kakak jatuh hati padanya ya?" terka Davin yang telah duduk tepat di hadapan meja kerja David yang penuh dengan buku dan berkas.
Lagi-lagi David menoleh sebentar, lalu tersenyum. "Kalau iya, kenapa? Kamu juga suka padanya?"
"Hm... nggak kok. Siapa bilang aku suka padanya?"
"Bagus deh, kalau kau tidak suka padanya. Berarti aku punya peluang besar untuk menarik hatinya," canda David sambil terus sibuk menulis.
"Memangnya Kakak benar-benar suka padanya?"
"Ya begitulah." Jawaban singkat itu membuat Davin terdiam dan tak lagi bertanya.
Malam ini pikiranku penuh. Bahkan, mungkin kapasitas otakku takkan sanggup untuk menampung pikiran-pikiran yang aneh itu. Ada sebuah dilema yang kurasakan. Haruskah aku tetap pada perasaanku atau aku harus mengambil tindakan nekat, aku tak mampu memilih. Biarkan waktu yang memilih, itu putusku.
Pagi menjelang dan aku ingat persis jam berapa pagi ini. Jam enam kurang dua menit aku melangkah keluar dari pagar rumahku. Tiba-tiba seorang tukang pos mendekatiku. "Mbak Renata?"
"Iya, saya sendiri," jawabku agak ragu. Tumben sekali ada kiriman untukku. Jelas saja aku bingung.
"Ada kiriman untuk Mbak. Mohon ditandatangan di sini."
"Eum... dari siapa ya?"
"Wah, tidak diberitahu nama pengirimnya, Mbak. Silakan." Kutandatangani kertas yang disodorkannya padaku. Setelah itu, tukang pos itu pergi. Kiriman itu berupa setangkai bunga yang harumnya luar biasa. Aku suka dengan wanginya. Yang terikat pada tangkai bunga tersebut hanyalah sebuah kartu ucapan yang berbunyi, "Selamat pagi." Aku semakin penasaran siapa pengirimnya. Kuletakkan bunga itu di kamarku, baru aku berangkat ke sekolah.
Pagi berikutnya, hal yang sama terjadi. Entah mengapa, tukang pos itu senang sekali datang mendekatiku dan berkata, "Ada kiriman untuk Mbak Renata." Aku yang semakin hari semakin dibuat bingung oleh kiriman itu, langsung menerimanya setelah tandatangan. Lagi-lagi ada sebuah kartu ucapan yang bertuliskan, "Have a nice day." Ini berlangsung terus hingga seminggu. Sudah ada tujuh bunga di dalam kamarku dan mereka memiliki wangi yang sama harumnya. Setiap hari kuciumi bunga itu karena memang aku suka wanginya. Hingga pada hari ke delapan, sebuah kiriman kembali tiba di rumahku. Kali ini bukan bunga lagi. Sebuah boks yang dibungkus kertas cokelat. Aku semakin heran apa isinya dan dari siapa. Bahkan, kiriman ini membuatku tak bisa berkonsentrasi menjalani waktuku di sekolah dan di kafetaria.
"Kau sedang memikirkan sesuatu?" tanya David saat senggang. Bedanya, saat ini kami tidak sedang mencuci piring bersama. Ia mengantarku pulang.
"Hm, tidak. Kenapa?"
"Sepertinya hari ini kau sering sekali melamun."
"Oh ya?"
"Sedang ada masalah? Kalau memang sedang ada masalah, ceritakan saja padaku. Aku siap untuk menjadi pendengar yang baik kok."
"Tidak, aku sedang baik-baik saja. Tidak ada masalah apapun." Untunglah David percaya pada ucapanku dan segera pamit pulang.
Langkahku kupercepat saat otakku kembali mengingatkanku akan kiriman yang tadi pagi dikirim untukku. Aku segera membuka bungkusan tersebut dan betapa terkejutnya aku saat aku melihat sebuah gaun mewah terdapat di dalamnya. Ups, ada surat di dalamnya. "Pakailah gaun ini dan aku akan menjemputmu hari Sabtu jam tujuh malam di rumahmu." Oh Tuhan, siapa lagi ini? Orang yang samakah dengan pengirim bunga yang selama seminggu ini memberiku bunga wangi tersebut?

5/18/2009

It's Complicated Part 4


Dalam ketidakberdayaan diriku, kubilas tubuhku dengan air bersih yang begitu dingin. Kuusap seluruh bagian tubuhku dengan sabun mandi beraroma citrus. Rambut panjangku kubersihkan dengan shampoo yang biasa kupakai. Sebelum aku benar-benar selesai mandi, kubilas seluruh bagian tubuhku dengan air bersih. Langkah kakiku lesu menuju kamarku. Rasa-rasanya aku mulai sakit kepala. Mungkin karena terkena hujan tadi. Saat aku membaringkan badanku di atas ranjang pun otakku terus berputar, berpikir. "Kenapa aku sebodoh ini? Padahal aku berjanji untuk tidak membeberkan perasaanku padanya. Sekarang pasti semuanya jadi berantakan dan tidak akan berjalan seperti dulu lagi. Pasti dia merasa canggung denganku, begitu pula aku. Lantas aku harus berbuat apa?" desisku pelan seorang diri. Air mataku hampir tumpah dari pelupuk mataku. Tapi tak jadi karena rasa sakit yang semakin menjadi pada kepalaku membuatku tak kuat untuk menangis. Akhirnya air mata di pelupuk mataku mengering.
Aku takkan lupa bagaimana respon Dave saat mulutku mengumbarkan perasaanku. Memalukan. Rasanya aku takkan punya muka untuk berhadapan dengan Dave lagi. Tapi aku juga tak ingin kehilangan pekerjaan di kafetaria itu. Aku suka bekerja di sana. Masakan aku harus keluar dari sana, secara aku baru saja bekerja beberapa hari di sana. Aku sungguh bimbang.
"Nata," panggil ayahku saat ia baru saja pulang. Aku masih tertidur di dalam kamarku. Rasanya ada api yang begitu membara di dalam tubuhku. Panas. Ayah terus mencari tahu keberadaanku. "Renata." Sekali lagi ia memanggil namaku. Nama itu nama yang indah yang diberikan Ayah padaku saat aku baru lahir. Ayah sering bercerita bagaimana sulitnya mencari nama untukku yang saat itu masih berada dalam kandungan ibuku. Saat Ibu mengandungku, Ayahlah yang paling repot karena Ibu suka mengidam yang macam-macam. Tapi karena ayahku adalah tipe penyayang, ia rela membelikan yang diinginkan ibuku. Ah, tapi memang ibuku yang tidak tahu diri, seenaknya saja meninggalkan ayahku dan berkeluarga dengan orang lain. Sinting, makiku padanya. "Rena..." Akhirnya ayahku menemukanku terbaring di atas ranjang kamarku. "Nak." Ayah mendekat dan mengusap keningku. Panas, itu yang ia rasakan. "Astaga, Nata, kamu sakit ya?" Wajahnya berubah menjadi khawatir.
Aku baru saja membuka mataku. "Eh, Ayah sudah pulang?" Segera aku bangkit dari posisi tidurku. Aku belum menyiapkan makan malam.
"Badanmu panas, Nak. Kamu sakit?"
"Nggak kok, Yah. Mungkin karena baru bangun tidur saja, jadi terasa panas."
"Tidak, kamu demam. Berbaringlah. Ayah bawakan termometer untukmu ya." Ayah begitu perhatian padaku, tidak seperti Ibu. Aku lebih sayang pada ayahku ketimbang Ibu yang telah melahirkanku, namun sama sekali tidak merawatku dengan baik. "Coba, diukur dulu. Ayah ambilkan air dingin sebentar ya." Ia kembali sibuk menyiapkan sebaskom air dingin untuk mengompresku. Oh Tuhan, setidaknya aku bersyukur karena ada Ayah yang begitu menyayangiku. Tidak terlalu lama ia meninggalkanku di kamar, ia sudah kembali beberapa menit setelahnya. "Biar Ayah lihat suhu tubuhmu." Termometer itu diambilnya dan dilihatnya. "Benar 'kan, kau demam. Suhu tubuhmu cukup tinggi, Nak. Kau istirahat saja dulu. Biar Ayah buatkan kau makanan ya." Ayah meletakkan handuk kecil yang dilipat-lipat dan sudah dingin. Ia meletakkannya di atas keningku tepat.
Hari ini aku banyak merepotkan Ayah. Ada sedikit perasaan bersalah karenanya, tapi untunglah ayahku orang yang pegertian.
Malam ini aku ingin makan bubur hangat sejujurnya. Tapi apapun yang ayahku buatkan untukku akan kuterima dengan senang hati. Siapa yang tak senang memakan masakan ayah sendiri? Kutunggu hingga ayahku kembali dan benar, ia kembali dengan membawakanku makanan. "Ayah buatkan kau bubur hangat. Dimakan ya, Nak, supaya kau cepat sembuh. Lalu kalau sudah makan, jangan lupa minum obat. Baru boleh tidur." Betapa girangnya saat ayahku ternyata tahu apa yang kuinginkan.
"Terimakasih, Yah. Maaf ya, Ayah jadi repot mengurusku."
"Nata, kamu ini 'kan anak Ayah. Mana ada ayah yang diam melihat anaknya sakit? Apalagi suhu badanmu cukup tinggi. Bisa bahaya kalau dibiarkan. Ini, dimakan. Apa perlu Ayah suapi?"
Aku tergelak. "Aku bisa sendiri kok, Yah. Makasih ya, Yah." Senyumku mengembang di bibirku.
Malam begitu dingin. Udara tidak bersahabat denganku. Tubuhku hampir menggigil kedinginan karenanya. Untung saja ada selimut tebal yang mampu menghangatkan tubuhku yang kedinginan. Aku bermimpi tentang sesuatu yang aneh. Padahal jelas-jelas aku sudah ditolak secara tak langsung, tapi entah mengapa Dave muncul dalam mimpiku dan aku terlihat begitu bahagia bersamanya. Tuhan, aku tak ingin lagi memikirkannya. Sudah cukup, aku ingin semuanya berakhir. Ia tak memiliki perasaan yang sama denganku. Dan aku sedih karenanya, bukan senang seperti itu. Ini keliru. Ada yang salah dengan mimpiku. Kata orang, mimpi itu buah pikiran. Apa iya, aku masih saja memikirkan lelaki yang jelas-jelas tidak menyukaiku? Tidak, aku tak mau dihantui pikiran bodoh seperti itu. Aku harus melupakannya. Ya, aku harus melupakan semuanya tentang dirinya. Jangan seperti orang bodoh karena aku memang tidak bodoh.

Seperti tidak terjadi apa-apa, dengan santai aku berhadapan dengan Dave dan kakaknya di kafetaria. Sementara di sekolah, aku sudah jarang berbincang dengannya. Ia juga sepertinya menghindariku. Jadi, aku juga takkan terus mendekatinya. Aku tidak mau mengganggu kehidupannya. Dengan memicu semangatku kembali, aku terus bekerja. Tanpa memerhatikan lagi Dave, aku menjalani hari-hariku yang kembali kosong. Tidak masalah bagiku karena memang ia bukan untukku. Jadi, takkan kupaksakan. Toh, aku percaya akan ada yang lebih baik darinya.
"Kau lesu hari ini. Ada masalah?" Oow, ini dia yang kuhindari. David mengajakku bicara tentang keadaanku. Padahal sebisa mungkin kupaksakan diriku untuk bersemangat. "Hari ini kau tidak bersemangat seperti kemarin-kemarin," sambungnya sambil berdiri tepat di sebelahku. Pelanggan masih sepi.
Akan kucoba untuk mengelak. "Eum, tidak, tidak ada apa-apa. Aku baik-baik saja kok."
"Itu bagus." Ia tersenyum, lalu meninggalkanku. Aku bisa bernafas lega ketika ia melangkah menjauhiku. Aku memang ingin seorang diri. Tidak ada yang bertanya, tidak ada yang menjawab, tidak ada yang berkomentar. Semua diam!!
Hidup itu memang berkaitan erat dengan realita. Ketika seseorang memiliki hidup, ia harus mampu menghadapi kenyataan hidup yang pahit sekalipun baginya. Walau kadangkala merasa tak kuat dengan kenyataan yang muncul di hadapannya, percuma saja lari darinya. Toh, suatu saat kenyataan yang sama akan kembali menghadang. Justru dari kenyataan nan pahit itu, seharusnya seseorang mencari tahu jalan keluarnya supaya ketika menghadapi kenyataan yang sama, ia tahu bagaimana menanganinya.
"Sudah mau pulang?" tanya David saat aku sudah berganti seragam sekolah. Aku sudah meransel tas sekolahku.
Mataku menatapnya. "Ya, aku sudah harus pulang. Apa masih ada yang harus kukerjakan?" tanyaku sebelum aku benar-benar pulang.
"Hm, kurasa tidak. Biar Davin yang mengantarmu pulang ya."
"Tidak perlu, Kak. Aku bisa pulang sendiri kok. Lagipula sepertinya ia sedang sibuk, jadi aku tak enak mengganggunya."
"Tidak, kau tidak mengganggunya kok."
Aku tersenyum. Ingin menghindar. "Tidak, aku sudah banyak merepotkannya. Kalau begitu, aku pulang dulu, Kak. Permisi." Aku segera melangkahkan kakiku keluar dari kafetaria. Terburu-buru ingin menghindar dari Dave sebisa mungkin.
David masih berdiri di posisi yang sama. Kedua matanya mengawasiku dari dalam kafetaria. "Davin," panggilnya masih saja mengamatiku berjalan.
"Ya, Kak?" Dave segera meninggalkan kesibukannya membereskan meja dan mendekati kakaknya.
"Kau bertengkar dengan Renata?"
Tentu saja Dave bingung ditanya seperti itu. "Bertengkar? Tidak kok. Memangnya kenapa?"
"Sepertinya hari ini Renata seakan menghindarimu. Kau sedang ada masalah dengannya?"
Dengan mantap Dave menggeleng. "Tidak kok, tidak ada masalah apapun."
"Oh, ya sudah." David manggut-manggut. Masih menjadi tanda tanya besar baginya tentang sikapku hari ini, tapi yang pasti, aku tak ingin siapapun tahu soal ini.
Sembari kakiku melangkah, otakku kembali berpikir. Ah, aku tak suka kalau otakku terus berputar untuk memikirkan Dave. Aku tak mau terlarut dalam keretakan hatiku ini. Seseorang, bantulah aku keluar dari kesedihan ini. Dan bantu aku menyambungkan kembali hati yang mulai retak, bahkan patah ini.

It's Complicated Part 3


Tentu saja aku lebih bersemangat menjalani hari-hariku di tempatku bekerja sambilan. Ada Dave di sana. Aku sungguh beruntung bisa diterima di sini. Semoga saja hubunganku dengannya semakin dekat dan apa yang kuharapkan terkabul.
"Renata." Sesosok lelaki berkemeja lengan panjang memanggilku dari ambang pintu dapur. Aku tengah mencuci piring-piring yang kotor di sana. "Ada pengunjung datang. Layanilah. Biar piring-piring itu aku yang cuci." Senyumku mengembang.
Segera kulangkahkan kakiku untuk menyambut kedatangan pelanggan yang masih ragu untuk masuk sebenarnya. "Selamat datang," sambutku dengan penuh riang. Hatiku sedang bahagia. Melihat senyumku yang ramah, mungkin pelanggan tersebut mulai hilang keraguannya dan dengan langkah yang mantap, pelanggan itu masuk ke dalam kafetaria ini. "Silakan duduk." Kupersilakannya duduk. Buku menu bersampul warna-warni kusodorkan di atas meja.
"Apa menu spesial hari ini?" tanyanya menembakku.
"Eum... hari ini ada
hot rainbow choco sauce, lalu ada juga yoghurt almond cake. Lalu..."
Belum selesai aku menyebutkan menu spesial hari ini, pelanggan itu langsung menjawab, "Aku pesan yang itu."
"
Yoghurt almond cake?" Kembali kupastikan.
"Ya, ya. Lalu untuk minumnya..." Ia membaca buku menu kembali.
Kucatat satu pesanan makanannya.
Yoghurt almond cake adalah kue cokelat pekat yang ditaburi banyak kacang almond di atas permukaannya. Dan yoghurt digunakan untuk menghilangkan rasa eneg karena manisnya cokelat dari kue tersebut. Penataannya adalah dengan menuangkan saus yoghurt ke atas kue tersebut hingga wujud kue tersebut tenggelam. Dan biasanya dalam penyajiannya, ada daun mint yang senantiasa menghias permukaan kue yang tenggelam di dalam saus yoghurt.
"
Milk mint shake? Apa itu?"
"
Milk mint shake itu seperti milk shake biasa, tapi ada dibubuhi daun mint yang sudah ditumbuk halus. Jadi, rasa minuman itu terasa unik."
"Ya, baiklah, aku pesan itu." Pelanggan yang satu ini sepertinya suka sekali dengan minuman yang mengandung
mint.
"Saya ulangi ya. Satu
yoghurt almond cake dan satu milk mint shake. Ada tambahan?"
"Tidak, itu saja."
"Baik, kalau begitu, ditunggu sebentar ya." Kutarik senyumku sebelum aku melangkah meninggalkan pelanggan tersebut.
Begitu aku kembali ke dapur untuk mempersiapkan pesanannya, acungan jempol dari kakak Dave yang pertama kali tampak dalam penglihatanku. "Kau sungguh luar biasa. Pelanggan itu pasti suka dengan pelayananmu," katanya memuji. Aku hanya bisa tersipu malu. Sementara Dave, kulihat ia begitu sibuk mengurusi rombongan pelanggan yang sepertinya sedang berlibur kemari.
Hari ini waktu terasa begitu cepat. Rasa-rasanya tadi aku baru saja mengawali hariku bekerja. Tapi sekarang sudah jam tujuh malam. Aku segera mengganti seragam kerjaku dengan seragam sekolahku seperti semula. Harus buru-buru pulang, itu pikirku. Pasti ayahku sudah menungguku di rumah. Sudah makankah ia, tanyaku pada diriku sendiri. Bodoh, tentu saja tak ada yang menjawabnya.
"Renata," panggil David untuk yang ke dua kalinya hari ini. Aku menoleh untuk menatapnya. "Kau sudah mau pulang?"
"Hmm, ya. Ada apa?" Tentu saja aku harus mengutamakan pekerjaanku kalau memang masih ada kerjaan di sini.
"Hanya ingin memberimu oleh-oleh. Ini untukmu. Anggap saja hadiah karena kau begitu bersemangat hari ini."
"Untukku?" Aku tertawa kecil. "Tapi..."
"Sudahlah, tak apa. Oh ya, biar Davin yang mengantarmu pulang ya. Ini sudah malam. Tidak baik kalau seorang perempuan pulang sendiri malam-malam. Lagipula sepertinya Davin mengkhawatirkanmu. Dia sudah menunggumu di depan."
Siapa yang akan menolak untuk pulang bersamanya? Aku takkan pastinya. Sambil meransel tas sekolahku, aku melangkah keluar dari kafetaria tersebut. "Sudah?" Dave bertanya padaku.
"Apanya yang sudah?" Jelas saja aku keheranan.
"Sudah siap kuantar atau belum?"
"Tidak merepotkan?"
"Tentu saja tidak. Lagipula ini sudah malam. Bahaya kalau kau pulang sendirian."
Jawaban yang sama dengan kakaknya. Apa mereka begitu sehati ya, gumamku penasaran. Aku naik dan duduk di atas jok belakang motor. Ia menyuruhku pegangan agar aku tidak terjatuh. Tangan kiriku hanya menggenggam kuat pegangan yang ada di belakang jok motor. Sepanjang jalan menuju rumahku, jantungku berdegup tak keruan. Jelas saja, baru kali ini ia mengantarku pulang.
"Di mana rumahmu?" Dave bertanya.
"Lurus saja terus," jawabku singkat. Aku tak bisa menjawab dengan jawaban yang panjang-panjang karena nafasku ikut terengah-engah akibat degupan jantung yang semakin lama semakin cepat saja. Rasanya aku semakin menyukai sosok Dave yang menurutku unik.

Hari-hariku semakin indah karena aku dan Dave semakin lama juga semakin dekat. Kami sering mengobrol ketika di sekolah, sering saling menyapa, bahkan ia tak lagi melupakanku. Inikah tanda khusus, alias sinyal darinya? Kuharap demikian. Tapi adakah sosok perempuan yang sedang ditaksirnya? Sesaat pertanyaan itu muncul di benakku. Aku ingin berharap, tapi terlalu berharap bisa menyebabkan kekecewaan. Tidak mungkin aku menanyakan padanya. Apa jadinya kalau kutanyakan dirinya mengenai hal-hal yang privasi? Bisa-bisa ia salah sangka dan mengetahui perasaanku padanya. Oh, no! Lebih baik kupendam itu seorang diri. Sebisa mungkin, aku takkan memberitahukannya soal perasaan ini. Bisa saja perasaan ini semakin lama semakin lenyap dan ia hanya kuanggap sebagai teman untuk selanjutnya.
"Aku ingin minta pendapat darimu." Dave mengeluarkan secarik kertas yang ada dalam sakunya. Kertas itu dilipat-lipat hingga muat berada di dalam saku kemejanya. "Bagaimana menurutmu?" Kulihat sebuah sketsa gambar sebuah kue yang cukup unik dan menggiurkan.
Kedua alis mataku saling bertautan, keheranan. "Apa ini?" tanyaku bodoh.
"Itu
cupcake. Tapi kubuat sedemikian unik agar menarik perhatian. Tak cuma itu, aku juga menambahkan beberapa topping di atasnya. Dan tentu topping yang kubuat berbeda jauh dari topping lain yang sudah pernah ada." Dengan wajah serius Dave menjelaskan gagasannya padaku. "Bagaimana menurutmu, ada sesuatu yang perlu kutambah untuk membuat orang tertarik?" lanjutnya.
Otakku kembali berpikir. Tentu saja aku tak ingin asal menjawab. "Apa tidak terlalu ramai?" Kulontarkan pertanyaan.
"Maksudmu?"
Mulai kujelaskan maksud pertanyaan itu. Aku juga ingin mengeluarkan gagasanku yang tepat. Rasanya aku merasa dihargai olehnya dengan dimintai pendapat seperti ini. Tuhan, betulkah rasa suka ini telah berkembang menjadi rasa sayang yang dalam padanya? Pasalnya, aku tak bisa berhenti berharap untuk ia memiliki rasa yang sama terhadapku. Gawat, aku mulai egois. Inikah rasa sayang itu, egois? Kalau memang ya, aku ingin menikmatinya, tapi tak untuk seterusnya. Aku hanya ingin menikmatinya beberapa saat saja. Karena kalau sampai rasa egois ini terus ada dalam hatiku dan aku terus berharap untuk bisa memilikinya, aku takkan bisa melupakannya seumur hidupku. Dan buruknya, aku akan terus mengejar-ngejarnya. Oh tidak, aku takkan mau dianggap perempuan rendah yang mengejar-ngejar Dave seperti itu. Aku masih punya harga diri!!
"Terimakasih untuk gagasanmu. Idemu betul-betul cemerlang dan sekarang aku tahu apa yang harus aku lakukan dengan kue baru ini. Kau mau membantuku 'kan?" tanyanya sambil tersenyum. Tentu saja aku mau, jawabku dalam hati yang kemudian kujawab dengan sebuah anggukkan kepala. Demi orang yang kusayangi, batinku.

Diawali dengan gerimis, hari ini berlanjut dengan hujan lebat. Lagi-lagi hanya aku dan Dave yang masih tertinggal di sekolah. Beruntungnya mereka yang pulang dengan jemputan atau yang dijemput oleh supir pribadi. Ah, aku jadi iri. Aku berdiri menunggu hujan reda di koridor bawah sekolah. Hujan bukannya semakin reda malah semakin menjadi. Bagaimana cara kami ke kafetaria? Dave bilang, kakaknya tak bisa menjemputnya karena kafetaria sedang ramai. Wah, aku semakin cemas dengan keadaan di sana. Tak mungkin juga kami nekat ke kafetaria hujan-hujanan. Bisa-bisa David marah pada adik laki-laki satu-satunya ini.
Dave melangkah mendekatiku dan berdiri tepat di sebelah kiriku. Dekat sekali, bahkan mungkin tanganku dan tangannya bisa saja saling bersentuhan. Tapi kuputuskan untuk bersikap biasa saja. Tentu saja itu sulit. Keadaan hari ini membuatku meledak-ledak. Bahaya, jeritku was-was. "Bagaimana cara kita ke kafetaria kalau hujannya tidak juga berhenti?" tutur Dave entah pada siapa.
Aku menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya. "Entahlah, aku juga tak mengerti. Mungkin hujan baru akan berhenti nanti sore menjelang malam."
"Kau tahu dari mana?"
"Hanya menerka," jawabku sambil terus berdiri tegap dan menatap hujan yang turun membasahi aspal.
"Ah, aku benci hujan," ujarnya mendadak.
Otomatis, aku menoleh. "Kenapa?"
"Entahlah, hujan itu sepertinya mengingatkanku pada sesuatu yang tidak baik. Tapi itu hanya perasaanku saja mungkin."
"Aku suka hujan."
Dave meniru gayaku, ia menoleh. "Kenapa?" Pertanyaan yang sama diajukannya dengan nada bicara yang berbeda.
"Entahlah, mungkin karena... berkat hujan, kita bisa mengobrol seperti ini sambil menunggu hujan reda."
Aku sudah tahu bagaimana reaksi Dave mendengarkan jawabanku. Diam.
Mulutku tak terkendali karena hatiku memang sedang tidak bisa diajak kompromi. "Waktu itu juga hujan dan berkat hujan, aku bisa berkenalan lagi denganmu."
"Apa maksudnya?"
"Kau mau tahu maksudku? Maksudnya adalah sudah sejak lama aku menyukaimu. Tidak sadarkah bahwa aku selalu mengamatimu dari sudut kantin sekolah?"
"Kau?" Tatapannya heran.
"Mungkin terdengar aneh kalau aku mengungkapkannya seperti ini, tapi aku tak mampu menutupi fakta."
Dave tertawa geli. Mungkin karena mendengar pernyataanku yang dianggapnya sebagai sebuah kekonyolan belaka. "Kau pasti sedang bercanda."
"Sayangnya, aku tidak sedang bergurau denganmu."
Ia diam mendengar responku. Tatapan matanya lurus ke depan, memperhatikan bagiamana air hujan jatuh ke atas aspal dan membanjirinya. "Aku... sedang menyukai seseorang, tapi aku ragu tentang perasaan itu. Jadi..."
"Ya, aku sudah tahu apa lanjutkan kalimatmu. Lupakan apa yang tadi kulontarkan, anggap saja aku tak pernah bilang seperti itu." Kutarik paksa senyum manisku. "Terimakasih sudah mendengarkanku," lanjutku. "Oh ya, sepertinya hari ini aku tak bisa ke kafetaria. Hujan ini takkan reda, menurutku. Jadi, sebaiknya aku nekat pulang saja. Sampai bertemu besok. Maaf karena aku tak bisa ke sana hari ini. Salam untuk kakakmu." Aku pamit tanpa mendengar kata-kata dari Dave lagi. Hujan hari ini memang menyakitkan bagiku. Tiap tetesan yang jatuh ke atas tubuhku membuatku perih, termasuk hatiku hari ini. Memalukan, makiku pada diriku sendiri.

5/16/2009

It's Complicated Part 2


"Apa, kerja sambilan? Untuk apa, Nak?" Sudah kuduga, reaksi ayahku pasti seperti ini. Tapi keinginanku untuk membantu mereka lebih kuat dan aku takkan mengganti keputusanku. "Memangnya uang sakumu kurang? Atau kamu ingin Ayah menaikkan uang jajanmu dalam sehari?" Ayahku duduk tepat di hadapanku. Kami sedang makan malam bersama di sebuah restoran sederhana.
"Bukan, bukan soal kekurangan uang saku kok. Aku cuma ingin merasakan saja bagaimana rasanya bekerja sambilan. Lagipula aku ingin membantu temanku. Boleh ya, Yah?" Kubujuk ia. Aku harus bisa membuat ayahku meluluskan permintaanku. Kalau tidak, ini akan menjadi penyesalanku yang luar biasa. Selain alasan yang kusebutkan tadi, ada satu alasan khusus mengapa aku ingin bekerja sambilan di kafetaria itu. Aku ingin lebih mengenal Dave. Ternyata aku memang menyukainya.
Ayah menelan potongan daging yang telah dikunyahnya. "Lalu bagaimana dengan prestasimu di sekolah? Kau akan merelakan prestasimu demi kerja sambilan itu?" Jantungku berdebar semakin kencang.
Mimik wajahku berubah. Aku mulai berusaha untuk meyakinkan ayahku yang masih mengenakan kemeja rapi. "Ayah, aku berjanji prestasiku di sekolah takkan turun hanya karena itu. Kumohon, aku ingin sekali bekerja sambilan."
Mulut ayahku terkatup sesaat. Dan setelah ia kembali selesai mengunyah makanannya, ia baru merespon, "Biar Ayah pikirkan dulu." Kuharap ia mau mengerti dan meluluskan keinginanku.
Sudah hampir tiga tahun aku hanya tinggal bersama ayahku di rumah. Ibuku menghilang entah ke mana saat aku masih duduk di bangku SMP, tepatnya saat aku masih kelas 1 SMP. Sama sekali tak ada niat di hatiku untuk mencari ibuku. Kabar terakhir yang kudengar dari bisikan para tetangga bahwa ibuku sudah menikah lagi dan memiliki keluarga yang lebih harmonis. Entahlah itu benar atau tidak, tapi aku tak peduli. Dari kecil, aku memang tidak dekat dengan Ibu. Setiap hari kerjaannya hanyalah arisan dan memamerkan hartanya. Bahkan, ia kerap menelantarkanku. Makanya, aku membencinya. Dan aku takkan mengharapkannya kembali. Berbeda denganku, ayahku setiap malam berdoa untuk ibuku agar ia kembali. Tapi itu hak Ayah dan tak ada urusan denganku. Yang terpenting bagiku adalah hidupku sendiri, bukan hidup orang lain. Mungkin terdengar egois, tapi memang itu yang terpikir di kepalaku saat ini.
Kunyalakan air panas untuk ayahku yang terlihat lelah dan penat malam ini. "Air panasnya sudah kuhidupkan, Yah," kataku setelah selesai kunyalakan.
"Oh ya, terimakasih, Nak." Ayah duduk bersandar di ruang tengah dan terlelap sejenak. Sementara aku menyusun buku untuk jadwal esok hari di dalam kamarku yang pintunya terbuka lebar.
Malam ini tenang sekali. Rumahku memang setiap hari terasa tenang sejak tidak ada Ibu. Aku ingat betul bagaimana keadaan rumah ini saat Ibu masih ada. Berisik. Ayah juga sering menegur Ibu karena kelakuannya yang seenaknya. Tapi itu masa lalu dan tak ingin aku bahas lebih lagi. Aku ingin menjalani hari-hariku ke depan dan bukan ke belakang.

Matahari, burung-burung, ayam jago, dan para makhluk lainnya menyambut pagi dengan gembira. Sinar matahari masuk ke dalam rumahku melalui jendela yang terbuka lebar. Aku yang telah berseragam tengah membuatkan sarapan untuk ayahku. Ia masih tertidur di kamarnya. Sudah jam setengah tujuh kurang dua puluh menit. Aku harus buru-buru berangkat ke sekolah atau aku akan terlambat dan dihukum oleh guru piket hari ini. Tas sekolahku segera kuraih dan dengan langkah kaki yang lebar aku berjalan menuju sekolah. Untungnya jarak sekolah dengan rumahku tidak begitu jauh, jadi lima belas menit cukup untuk sampai ke sana. Gerbang sekolah sudah hampir ditutup rapat. Tapi masih ada celah untuk aku masuk, artinya aku masih diizinkan masuk. Saat aku baru masuk ke dalam kelasku, bel masuk berbunyi. Pas sekali, aku bernafas lega.
"Kumpulkan tugas kalian." Pelajaran pertama adalah pelajaran Bahasa Indonesia. Aku takkan lupa dengan tugasnya karena aku cinta sekali pelajaran Bahasa Indonesia. Pak Dedi, guru Bahasa Indonesia kami, juga mengasyikkan dalam mengajar. Beliau selalu mendorong para muridnya untuk berpikir kreatif.
Entah hanya perasaanku saja atau memang kenyataannya demikian, hari ini aku merasa amat sangat lelah. Aku tak tahu apa yang membuatku kelelahan seperti ini. Yang pasti, sepulang sekolah sekujur tubuhku lesu dan tidak bergairah melakukan apapun. Yang aku lakukan hanyalah berbaring dan tertidur pulas di atas tempat pembaringanku yang empuk.

Semua makan malam akulah yang membuatnya. Kutunggu ayahku pulang hingga jam tujuh sore. "Makan malamnya sudah siap, Yah," kataku sambil membantunya membawakan tas kerjanya.
"Iya. Ayah lapar." Pria yang rambutnya sudah beruban itu melangkah menuju meja makan. "Kau yang masak semua?" Dan kuanggukkan kepalaku. Ia tersenyum. "Kau benar-benar pandai masak seperti ibumu." Deg! Aku benci ia menyebut-nyebut nama Ibu. Mengapa Ayah masih saja memikirkan wanita tidak tahu diri sepertinya sih, geramku dalam hati. "Nah, ayo makan."
Nafsu makanku berkurang setelah Ayah mengungkit kembali soal Ibu. Sudah kuberitahu bahwa aku tak ingin sekalipun Ayah membahas mengenai dirinya. "Ayah, bagaimana soal kerja sambilan itu?" tanyaku mengangkat topik pembicaraan yang baru, yang lebih berbobot pastinya.
Ia berhenti mengunyah sesaat, kemudian kembali mengunyah makanannya dan menelannya untuk dicerna. "Ayah sudah memikirkannya. Ayah pikir, kalau kau bisa mempertahankan prestasimu di sekolah, kenapa tidak? Toh, kamu memang harus memiliki banyak pengalaman dalam hidupmu. Tapi ingat, prestasimu tidak boleh menurun."
"Serius, Yah?" Aku terlonjak girang. Tak percaya Ayah mau meluluskan keinginan hatiku.
"Ya, tapi ingat janjimu ya." Ayah kembali menegaskan.
Aku segera bangkit dari tempat dudukku dan memeluk ayahku. Kukecup pipi ayahku. "Terimakasih ya, Ayah." Betapa girangnya aku hari ini. Besok aku akan ke kafetaria itu lagi untuk menawarkan bantuanku.

Tak sabar menanti bel pulang sekolah berdering dan menjemput anak-anak untuk pulang ke rumah masing-masing. Aku segera melangkah mencari keberadaan Dave yang sepertinya masih ada di dalam lingkungan sekolah. Mataku menemukannya tengah memesan minuman di kantin sekolah. "Dave," panggilku dengan penuh percaya diri. Ups. Dave menoleh ke arahku.
"Ya, ada perlu apa ya?"
"Boleh bicara sebentar?" Tentu aku tak suka pembicaraanku dengannya didengar oleh teman-temannya. Dave menuruti permintaanku itu. "Eumm... sebenarnya aku ingin menawarkan jasaku di kafetaria itu." Air muka Dave berubah menjadi kebingungan.
"Maksudmu?"
"Beberapa hari yang lalu, kulihat kau dan kakakmu begitu sibuk melayani para pelanggan. Kalau boleh, aku ingin membantu kalian."
"Dengan cara?"
"Bekerja di sana juga, sebagai apapun boleh."
"Kau yakin? Apa orangtuamu sudah memberi izin? Dengar ya, pekerjaan itu tidak mudah. Bisa saja kau kelelahan karena kau harus mampu menyeimbangkan waktu antara belajar dan bekerja."
"Kupikir, kalau kau saja bisa, kenapa aku tidak? Lagipula aku ingin menambah pengalamanku."
Dave kehilangan kata-kata. "Berundinglah dengan kakakku. Aku tak punya hak untuk memutuskannya." Aku dan Dave pergi bersama menuju kafetaria yang kebetulan sedang tidak terlalu ramai. Aku dibawa ke dalam sebuah kantor kecil yang berada di samping dapur. Kecil, tapi artistik.
"Siapa namamu?" tanya seorang laki-laki yang mirip dengan Dave. Ia adalah kakak Dave. Selisih umurnya denganku hanya tiga tahun.
"Namaku Renata, Kak." Aku menjawab dengan penuh keraguan. Grogi.
"Oh, Renata. Kau sekelas dengan Davin ya?"
"Tidak. Dave berbeda kelas denganku."
"Oh, begitu. Oh ya, kenalkan. Namaku David. Seperti yang kau tahu, aku kakak Davin." Astaga. Mereka memiliki wajah yang mirip, nama mirip pula. "Aku sudah dengar dari Davin, katanya kau mau bekerja sambilan di sini ya?" Aku mengangguk mantap. "Kenapa?"
"Kulihat tempat ini ramai dan pasti melelahkan sekali melayani banyak orang seperti itu. Jadi, aku ingin menawarkan bantuanku. Lagipula aku ingin mencari pengalaman bekerja, Kak."
"Oke, jawaban yang bagus. Lalu orangtuamu sudah mengizinkan?"
"Aku sudah meminta izin dan aku diizinkan," jawabku mantap.
"Bagus kalau begitu. Dan bagaimana dengan upahnya?"
Aku diam dalam hal ini. Tak tahu harus menjawab apa, akhirnya aku menjawab, "Itu terserah Kakak saja."
"Eum... baiklah. Akan kujelaskan tentang upahnya." Ia menjelaskanku tentang upahnya hingga aku benar-benar mengerti. "Sudah mengerti?" Kuanggukkan kepalaku lagi untuk ke sekian kalinya. "Bagus. Kau boleh mulai bekerja hari ini. Dan ini seragammu. Kau tak mungkin bekerja dengan menggunakan seragam, bukan?"
"Terimakasih, Kak." Betul-betul senang karena aku diterima pada akhirnya. Ternyata bekerja itu begitu menyenangkan.

TO BE CONTINUED...

It's Complicated Part 1


Sssstttt...aku jatuh cinta pada seseorang. Tiap hari kuamati dirinya di sekolah dari kejauhan. Setiap kali orang itu berada di kantin, diam-diam aku mengawasi gerak-geriknya di sudut kantin sekolah. Dengan pura-pura membaca buku atau melahap makanan di pojok ruangan, kedua mataku terus memperhatikannya. Ia adalah sesosok laki-laki yang berbadan tinggi tegap. Rambutnya hitam pekat dan lurus. Hidungnya sedikit mancung, matanya tidak terlalu sipit dan tidak terlalu belo, alis matanya cukup lebat, dan bibirnya seksi. Sejak beberapa minggu yang lalu, aku terus mengamatinya, tapi aku tak berani mendekatinya. Pertama kali aku dan ia bertemu saat ia tak sengaja menabrakku dari belakang hingga aku tersungkur di lantai koridor sekolah. Dan ia meminta maaf padaku sambil menanyakan namaku. Setelah itu, bubar. Kami berdua tak lagi saling menyapa atau setidaknya tersenyum.
Saat ini laki-laki itu sedang bersama teman-temannya menikmati sarapan pagi di kantin sekolah. Nasi uduk Mang Asep memang sarapan pagi yang benar-benar sempurna. Harganya murah dan rasanya enak. Membuat kenyang pula. Sementara aku di kantin sekolah hanya terduduk di pojokkan mengawasi dirinya sambil meneguk segelas teh manis hangat. Sesekali aku mengaduk-aduk minumanku, hanya iseng belaka. Sembari aku mengamatinya, otakku ikut berpikir, berandai-andai. Aku tahu ini tak baik, tapi memang seperti itulah otakku. Saat aku termenung ataupun terdiam, ia beraktivitas dengan penuh semangat dan enerjik.
Namanya Davin. Biasanya teman-temannya memanggilnya dengan nama Dave. Setidaknya, itulah yang aku curi-curi dengar dari orang-orang yang selalu berada di sekelilingnya. Sadarkah ia bahwa aku terus mengamatinya sejak beberapa minggu yang lalu? Saat aku bertanya demikian dalam hatiku pada diriku sendiri, secara spontan kualihkan pandanganku pada minumanku yang sudah tinggal separuh gelas karena Dave menoleh ke arahku. Semoga ia tidak menyadarinya, harapku cemas. Perasaanku berkata bahwa ia sedang melangkah mendekati mejaku. Dan ternyata dugaanku benar. Gee, aku grogi.
"Bangkunya kosong?" Ups, Dave pasti mau menemaniku ngobrol karena ia tahu aku seorang diri sejak tadi. Ya ampun, betapa beruntungnya aku, jeritku kegirangan dalam hati. Kuanggukkan kepalaku perlahan. Mataku tak berani beradu dengan kedua matanya. Masihkah ia mengenaliku, tanyaku bodoh. "Kalo begitu, boleh dibawa ke sana ya. Kebetulan, aku butuh bangku." Gubrak!! Sial, aku terlalu pe-de. Kupaksa untuk tersenyum dan kembali kuanggukkan kepalaku. Memang tidak mungkin ia mau menemaniku. Secara, ia tak mengenaliku. Jadi, sekarang apa yang harus kulakukan? Jawabannya adalah terus mengintai.

Hari ini pulang lebih awal dari biasanya. Kabarnya sih, karena hari ini ada rapat guru. Beruntung bagiku. Aku punya rencana yang lebih sempurna dibandingkan pulang ke rumah. Dengan berpura-pura melangkah pulang, aku berjalan tepat di belakangnya. Ia pulang seorang diri dengan berjalan kaki. Dan dari kejauhan, aku mengawasinya. Kira-kira seperti apa rumahnya ya, aku terus bertanya-tanya sepanjang perjalanan. Kubayangkan rumah bak istanalah yang ia miliki. Semua yang ia butuhkan tersedia dan semuanya boleh ia gunakan. Wah, sungguh luar biasa. Tapi aku terkejut saat melihat Dave berhenti di sebuah kafetaria yang ada di tepi jalan. Tempat itu memiliki arsitektur yang indah dan menawan. Romantis, itu penilaian paling pertama dariku. Dave masuk ke sana dan mengobrol dengan salah seorang waiter yang tengah melayani salah seorang pelanggannya dengan penuh senyum. Aku melangkah masuk dengan langkah ragu-ragu ketika Dave sudah entah berada di mana. Tempat yang menjadi sasaranku adalah sudut ruangan kafetaria tersebut.
"Selamat datang!" Itulah kata sambutan yang dilontarkan pada waiter yang baru saja kulihat tadi. Dan seseorang datang mendekatiku. Wajahnya samar-samar, belum bisa kulihat jelas itu siapa. Ia semakin mendekat, mendekat, dan... "Silakan dilihat buku menunya." Aku nyaris melompat dari tempat dudukku. Itu Dave, Davin yang selama ini kuamati, jeritku histeris dalam hati tentunya.
Kuusahakan untuk tetap tenang sambil menerima buku menu yang disodorkannya tadi. Halaman demi halaman kubuka dan kuperhatikan. "Eum... aku pesan ini saja." Telunjukku menunjuk pada salah satu gambar yang tertera pada buku menu.
"Oh, itu namanya Rainbow Cheese Cake."
"Ya, aku pesan itu."
"Lalu untuk minumnya?" Dave kembali bertanya. Tidak kenalkah ia padaku?
"Cold Frappe," jawabku singkat. Hatiku tersiksa begitu membayangkan ia tidak lagi mengenalku. Memang sih, kami hanya pernah bertemu dan berkenalan satu kali. Tapi semestinya ia masih mengingatku setidaknya.
"Oke, pesanannya ditunggu ya." Dave segera berlalu dan masuk ke dalam ruangan yang hanya boleh dimasuki oleh orang-orang tertentu. Orang-orang yang berkepentingan tentunya. Seemntara aku menunggu, aku hanya termenung sambil berpangku tangan. Ia benar-benar tak mengenaliku. Mungkin memang harus kulupakan ya, batinku putus asa. Kuacungkan jempol pada pelayanan kafetaria ini. Selain ramah, penyajiannya juga cepat dan higienis. Bukannya promosi, tapi aku memang puas dengan pelayanannya. "Silakan dinikmati." Setelah itu, ia kembali bekerja di dapur. Huh, aku tak bisa mengawasinya lagi dari kejauhan karena jarak antara tempat dudukku dengan dapur cukup jauh. Dan lagi ruang dapur itu tertutup. Aku hanya bisa menghela nafas.
Kakiku melangkah lesu menuju rumahku. Hari ini rasanya aku lelah sekali. Sia-sia dan percuma, itu yang kurasakan saat aku tiba di dalam kamarku. Kuhempaskan tubuhku yang letih ke atas ranjang. Kupejamkan kedua mataku sambil terus berpikir. Enam menit aku berposisi seperti itu dan akhirnya aku segera bangkit. "Cukup! Aku tak boleh terlalu memikirkannya. Memang dia bukan untukku." Kutegaskan pada diriku sendiri. Geli aku melihat sikapku yang terpantul di cermin. Hampir tertawa, tapi aku kembali menegaskan diriku.

Seperti biasa, aku datang ke sekolah, belajar, istirahat, kembali masuk ke kelas untuk melanjutkan pelajaran, istirahat lagi, kembali masuk lagi, dan akhirnya pulang. Hufff... melelahkan sekali hari-hariku di sekolah. Rutinitas itu membosankan. Bedanya, hari ini aku tidak begitu semangat melangkah pulang. Hujan pula. Aku tak mungkin pulang hujan-hujanan. Bisa-bisa orang rumah mengomeliku begitu aku sampai. Terpaksa aku menunggu hujan reda di koridor sekolah yang sepi. Satu per satu mulai dijemput dengan mobil dan akhirnya pulang. Tinggal aku sendiri di sekolah, begitu pikirku.
"Kau juga menunggu hujan reda?" tanya seseorang yang berdiri di belakangku. Kutolehkan kepalaku dan mata kepalaku sendiri melihat sosok Dave berdiri sambil kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celananya. Tampannya, pujiku dalam hati berbunga-bunga.
Ups, tapi aku harus melupakannya. "Ya, begitulah," jawabku sepentingnya saja. Toh, ia takkan mengingatku. Bahkan, namapun mungkin ia takkan ingat.
"Hari ini kau juga ingin ke 'Flavia Cafe'?" Itu nama kafetaria yang kemarin kukunjungi. Oh Tuhan, ia ingat padaku? "Kau yang kemarin ke kafetaria itu, bukan?" Kuanggukkan pelan kepalaku. Ragu. "Maaf, siapa namamu? Aku lupa."
Antara kecewa dan senang, akupun menjawab, "Namaku Renata." Hatiku mulai berbunga-bunga kembali. Bunga-bunga yang tertanam dalam tanah hatiku mulai bermekaran.
"Oh, aku Davin. Biasa orang memanggilku Dave." Ia memperkenalkan dirinya lagi. "Hari ini kau ingin ke kafetaria lagi?" tanyanya.
"Entahlah, aku tak tahu."
"Kalau kau memang ingin ke sana, kita pergi bersama."
"Hujan-hujan begini?" Kedua alis mataku bertautan.
"Tentu tidak. Aku sudah menyuruh kakakku menjemputku. Bagaimana?"
"Kurasa, tidak usah. Aku tak ingin merepotkan siapapun."
"Takkan merepotkan siapa-siapa. Sekalian mencicipi kue baru buatan kakakku." Aku hanya termenung, berpikir. "Kutraktir," lanjutnya. Aku memang terlalu lama berpikir sampai-sampai jemputan Dave telah tiba. Ia menarik tanganku tanpa mendengar jawaban dariku. Aku benar-benar dibawa ke kafetaria itu lagi. Kenapa ini semua bisa terjadi? Padahal aku ingin melupakannya dan ingin memulai hari-hariku tanpa harus mengikuti jejaknya lagi. Tapi mengapa seakan nasib mempermainkan perasaanku? "Duduklah, biar kuambilkan kue yang kumaksud tadi." Aku terduduk di tempat duduk yang sama dengan yang kemarin dan menunggu Dave kembali dengan kue yang ia maksud. "Silakan dinikmati," ujarnya sambil menghidangkannya. "Aku harus kembali bekerja. Jadi, aku tak bisa menemanimu. Maaf ya." Dave segera melayani para pelanggan yang mulai berdatangan. Hari ini sepertinya lebih ramai dari biasanya. Kulihat, Dave dan kakaknya kerepotan dalam menangani para pelanggan yang datang dalam jumlah yang banyak.
Aku ingin membantunya, tapi bagaimana? Otakku kembali berpikir sambil terus melihat Dave dan kakaknya sibuk berlalu-lalang di hadapanku. Aku tahu, jeritku dalam hati. Aku akan membantu mereka berdua.


TO BE CONTINUED...

5/14/2009

School's experiences


Sekolah itu bak neraka ke dua bagiku setelah sekian tahun bersekolah. Kutimba ilmu di sana, namun rasa ketidaknyamanan turut menyelimuti hati. Tak ada orang terdekat di sana, satupun tiada. Menjalani hari-hari di sekolah dengan penuh kesendirian adalah hal biasa bagiku sejak aku duduk di awal bangku SD. Sifat pendiamku membuatku terisolasi di dalam kelasku. Ke mana-mana seorang diri, mengerjakan sesuatunya pun sendirian. Berat memang, tapi kupikir, itu jalan teraman yang bisa kutempuh. Kenapa aman? Entahlah, saat aku masih kecil hanya itu yang terlintas di pikiranku tanpa ada suatu alasan yang spesifik. Di usiaku yang ke-12 aku masih saja bangga dengan keadaanku yang seperti ini. Sendirian, tiada teman dekat di sekitarku. Teman banyak, tapi hanya sebatas teman untuk menyapa. Tepat saat aku berumur 12 tahun, aku dipindahkan oleh kedua orangtuaku. Tidak ada komentar, tidak ada perbantahan dari dalam diriku karena memang aku tidak begitu peduli dengan teman-temanku. Tidak ada rasa kehilangan yang mengintip dalam batinku. Dan aku pindah. Awal mula aku masuk ke sekolah yang baru, aku disapa begitu hangat oleh teman-teman baruku. Mereka menyukaiku, tapi itu awalnya. Sifatku yang pendiam dan gemar menyendirilah yang membuat teman-temanku mulai mengacuhkanku. Lagi-lagi mereka hanyalah teman untuk saling menyapa apabila bertemu ataupun berpapasan. Tidak ada yang khusus. Bagiku, hidup dalam kesendirian itu adalah jalan yang paling aman untuk ditempuh. Tidak akan ada pertentangan, pertikaian, pertengkaran, atau semacamnya. Aman, damai, tenteram, harmonis, tenang. Pertengahan semester, aku mulai dekat dengan seseorang. Perempuan, imut, religius, pintar, baik hati, itu penilaianku terhadapnya. Kami duduk sebangku dan sering mengobrol. Lama-kelamaan, kami jadi akrab dan sering bersama-sama. Otakku kembali berputar, salahkah? Tapi tetap kujalani hari-hariku bersamanya. Senang, bahkan lebih menyenangkan daripada seorang diri. Aku mulai bersemangat menjalani hari sekolahku, dan itu semua berkatnya. Setiap kali ke kantin, kami berdua selalu bersama. Tapi siapa yang sangka bahwa aku bisa menyakiti hatinya? Secara tak sengaja, aku telah mengecewakannya. Jujur, aku tak merasa bahwa aku telah melakukan kesalahan, tapi teman-teman dekatnya yang mendukungnya langsung ambil tindakan atas perlakuanku padanya. Oow, aku dalam bahaya, aku tahu itu.

Satu kalimat yang takkan pernah bisa terlupakan dari memoriku, "Percuma, dia nggak akan bisa berubah! Udah begitu, begitu aja!" Takkan ada yang bisa membayangkan bagaimana panas hatiku mendengar pernyataan yang diungkapkannya. Sejak detik itu, aku memutuskan untuk menunjukkan padanya bahwa aku bisa berubah. Aku takkan menyakiti siapapun lagi, itu janjiku pada diriku sendiri dalam hatiku. Yang kulakukan setelah teman-temannya menegurku adalah mendekati teman dekatku itu dan meminta maaf. Walau aku tak salah, tidak ada salahnya kalau aku meminta maaf. Sikap kerendahan hati memang sangat diperlukan dalam berteman, itu kebijakanku. Takkan pernah bisa kulupakan, kami berdua menangis bersama di dalam kelas. Kesalahpahaman itu terselesaikan pada akhirnya. Dan waktu terus bergulir, melangkah maju, dan membuatku mengambil sebuah kesimpulan mengenai pertemanan. Aku tak butuh teman karena hidup tanpa teman lebih aman dan lebih damai. Tapi semakin usiaku beranjak, temanlah yang semakin kubutuhkan. Namun, kenangan pahit itu masih melingkupiku dan membuatku takut untuk berteman. Kuakui, aku masih butuh diproses. Aku awam dalam hal pertemanan ataupun persahabatan. Mungkin terdengar aneh, tapi memang seperti itulah kenyataan. Bahkan, saat duduk di bangku SMP pun aku masih tidak mengerti apa yang harus kulakukan dalam berteman. Dan sebuah proses kembali berlangsung dalam kehidupan bertemanku. Kutemui kembali seorang sahabat yang unik bagiku. Ia perempuan, cantik, pintar, dan berkarisma. Segala sifat yang mungkin tak begitu kusenangi kuanggap sebagai kekurangannya. Aku menerimanya apa adanya, aku mengasihinya. Tapi hatiku diremukkannya saat ia mengatakan bahwa aku hanyalah patung baginya. Ia berujar bahwa ia hanya bergurau, namun tahukah ia akan kehancuran hatiku yang mendengarnya? Tidak! Ia tidak sadar akan hal itu. Ia malah semakin memperolokku, mempermainkanku. Bodohnya, aku masih saja mau berteman dengannya. Bodohkah? Beranjak SMA, aku masih saja berteman dengannya, walau ada sedikit jarak antara aku dan dirinya. Hingga saat usiaku 16 tahun, aku harus merasakan bagaimana rasanya terkhianati oleh teman sendiri. Hatiku bagai kertas yang dirobek-robek saat melihat kenyataan. Tiada sepatah katapun yang terucap dari bibirku. Bahkan, saat ia memperolokku di belakangku, aku hanya bisa membungkam. Teringat jelas di benakku saat ia dan teman-temannya melingkariku dan mengadiliku. Satu per satu mulai bersuara dan menyebutkan apa-apa saja kesalahanku. Aku tahu, aku memang salah. Tapi tak pernahkah mereka berkaca, mereka juga seperti apa yang mereka lontarkan padaku, protesku membatin. "Lu tuh egois, pemarah, suka ngebanding-bandingin." Penghakiman dimulai di dalam kelas. Saat itu aku hanya duduk diam dan mendengarkan. Minta maaf adalah satu-satunya jalan keluar bagiku. Aku memang harus menjadi seorang yang lebih baik lagi. Semua sifat burukku harus kubuang jauh-jauh. Tanpa mereka ketahui, aku selalu menaruh dendam pada mereka. Aku hanya menuntut keadilan. Seharusnya mereka kuhadapkan dengan kaca supaya mereka juga berkaca bahwa merekapun tak sempurna. Sayangnya, keberanian itu tak muncul saat aku berhadapan dengan mereka. Yang bisa kulakukan hanyalah menyimpan kenangan pahit itu. Kucoba untuk merubah kebiasaan burukku dan menjadi seorang yang lebih baik dari siapapun. Sejujur-jujurnya, berkat penghakiman mereka, aku tak bisa lagi menjadi diriku sendiri. Setiap kali aku hendak berangkat ke sekolah, rasa takut acap menyelimutiku. Takut kalau mereka mengolokku lagi, takut dijauhi mereka, takut diacuhkan, takut ini, dan takut itu. Topenglah yang selalu menempel pada wajahku, lekat sekali bahkan sukar untuk dilepas. Sadarkah mereka, kerap aku bertanya pada diriku sendiri. Kuhargai cara mereka menyampaikan kejujuran hati mereka, tapi tidak caranya. Dan aku hanya bisa menunggu di sini, menunggu suatu perubahan dalam diri mereka. Akankah mereka terus seperti ini atau mereka akan berubah, hanya merekalah yang bisa menentukan jalannya sendiri.