
Ternyata menjalani hari-hariku dengan seorang yang sama sekali tak ada di hatiku memang sulit. Ada rasa segan yang begitu kuat ketika David menggenggam tanganku di hadapan adiknya. Itu ia lakukan berkali-kali. Entah apa maksudnya, tapi yang kurasakan adalah tatapan sinis dari Davin. Tapi saat rasa segan itu bermunculan, pikiranku mulai berbicara. "Seharusnya kalau memang ia tidak suka, katakan. Jangan hanya diam saja. Dave sudah pernah bilang dengan jelas bahwa ia tidak suka padamu, Renata. Dan itu artinya memang ia tidak suka. Sudahlah, untuk apa sungkan? Toh, Dave tidak ada hati padamu. Kau saja yang seperti orang bodoh, menganggapnya ada hati padamu. Sekarang sudah ada pangeran yang begitu menyayangimu di hadapanmu dan kau akan menyia-nyiakan kesempatan emas ini? Ia begitu perhatian padamu dan terlihat begitu sempurna. Apa kau yakin dengan tindakanmu ini?" Saat itu aku hanya bisa menghela nafas. Mengakhirinya begitu saja akan membuatnya sakit. Aku tak ingin dianggap sebagai seorang gadis yang hobinya menyakiti hati orang lain. Tapi aku juga tak ingin hatiku tersakiti seperti ini. Jelas-jelas orang yang kusayangi hanya Dave seorang, tapi kenapa aku malah melakukan hal bodoh seperti ini? Dasar Renata bodoh, makiku sekali lagi pada diriku sendiri. Memalukan.
"Kau tak apa, Ren?" tanyanya sambil membantuku mencuci piring di dapur.
Lamunanku buyar. Otakku kembali berputar normal. "Euh... ya, aku tak apa kok," jawabku sambil menarik paksa senyumku.
"Syukurlah kalau kau tak apa. Kupikir kau sedang sakit."
"Mmm... tidak kok. Aku sehat-sehat saja." Semoga ia tak menyadari kepalsuan senyumku.
"Apa kau ingin izin pulang sekarang?"
"Tidak, ini masih terlalu sore. Lagipula masih banyak pelanggan," sahutku sambil mematikan air kran. "Hmm, aku ke sana dulu. Kelihatannya ada pelanggan yang baru datang." Secara halus, aku menghindar dari David. Berharap ia tidak sadar akan hal ini.
Cepat atau lambat, David akan mengetahui hal ini. Ia akan segera mencium keanehan yang terjadi dan saat itu juga mungkin keadaan akan semakin ruwet. Haruskah aku mengakuinya di hadapan David bahwa sesungguhnya yang ada di hatiku hanyalah Davin seorang? Atau aku harus terus diam dan membiarkan keadaan ini berlangsung lama? Toh, suatu saat rasa sayang itu bisa saja muncul dengan sendirinya, pikirku.
Hujan turun dan aku mulai benci hujan. Tetesan air yang membasahi bahkan membanjiri bumi ini membuatku kembali mengenang Dave. Rasanya ingin kubunuh semua ingatanku mengenai dirinya. Namun, apa daya, aku tak sanggup. Dalam hatiku, rasa sayangku padanya masih terawat bak bunga yang dirawat dengan benar hingga bermekaran. Tiap kali memoriku memutar ulang momen indahku bersamanya, senyumku pasti mengembang. Tapi ketika aku kembali terkenang akan penolakannya terhadapku tempo hari, air mata mulai membasahi pipi. Apa aku sedemikian jatuh hati padanya? Kalau Tuhan izinkan, aku ingin memori ini dihapus. Atau jika perlu, buatlah aku lupa akan semua kejadian, termasuk pertemuanku dengan Davin maupun David. Sayangnya, Tuhan masih begitu mencintaiku. Mungkin Ia tak tega melihatku semakin menderita karena lupa ingatan seperti yang kukehendaki.
"Kau takkan kabur lagi seperti waktu itu 'kan?" Tiba-tiba kudengar celetukan dari seseorang yang baru saja turun melalui tangga yang ada di pojok koridor sekolah. "Jangan nekat seperti waktu itu lagi ya." Begitu lanjutnya.
Aku cuma bisa tersenyum, tersenyum pahit. Lebih pahit dari buah mengkudu, mungkin. Apa urusannya, tanyaku marah dalam hati.
"Kakakku akan datang menjemput. Jadi, kau tak perlu hujan-hujanan seperti waktu itu. Kalau kau sampai nekat hujan-hujanan, aku yang akan kena marah oleh pacarmu," sambungnya dengna nada sinis.
"Apa maksudmu?"
"Ya, kakakku menyuruhku menjagamu. Dan aku sebagai adiknya, mau tak mau aku harus mendengarkan suruhannya dan melaksanakannya."
"Aku bukan anak kecil lagi, kau tahu?" Langkahku segera menjauhi dirinya. Hatiku sakit tiap mendengar ia menyinis seperti itu. Tak tahukah ia bahwa aku tengah mengalami dilema yang cukup merumitkan otakku? Tidak dapatkah ia membantuku walau hanya sedikit? Kembali aku menghela nafas.
Pada akhirnya, aku dan Davin memang harus ke kafetaria bersama. Ada David di sebelah kananku, tapi hampir tak kuanggap sama sekali. Aku tak ingin banyak bicara di depan Davin. Hujan terus mengguyur mobil David yang mungkin baru saja dicuci semalam. Sepanjang perjalanan, aku lebih memilih untuk diam. David sempat menanyaiku beberapa pertanyaan, tapi kujawab seperlunya saja. Aku tak ingin Davin mendengar sesuatu yang tidak perlu untuk didengar.
Pikiranku membuat aktivitasku terganggu. Ya, rasanya ingin kucabut sementara pikiran-pikiran yang tak perlu. Tapi itu mustahil. Walau sesaat ingin kucoba untuk lupakan, namun yang ada aku malah semakin memikirkannya. Bahkan, sambil berjalan pikiranku terus beraktivitas. Untungnya, aku tak melakukan kesalahan saat melayani para pelanggan. Aku boleh bernafas lega karenanya.
"Lagi-lagi kau terlihat seperti orang sakit. Kau sedang sakit ya, Ren?" David kembali menanyaiku saat Davin tengah membereskan kursi-kursi kafetaria. Kafetaria sudah tutup malam ini. Aku sedang ada di dapur, sedang mencuci piring-piring dan gelas-gelas kotor.
Kugelengkan kepalaku pelan sambil terus mencuci. Kedua mataku tidak berani bertatapan dengannya lama-lama. "Tidak kok, aku baik-baik saja." Kujawab dengan nada selembut mungkin agar ia tidak curiga.
David meraba keningku. Tidak panas, tentu saja. Aku sehat. Yang sakit adalah pikiranku, otakku, hatiku, dan perasaanku. "Kalau kau sedang ada masalah, apa tidak sebaiknya kau cerita padaku? Aku 'kan pacarmu, Ren. Siapa tahu aku bisa membantu."
Senyumku terlihat pahit kembali. "Tidak," jawabku. Dan kusambungkan dalam hati, "Tidak akan ada yang bisa membantuku dalam masalah ini."
"Apa nilaimu ada yang jelek di sekolah?"
"Tidak, nilai-nilaiku baik. Tidak ada masalah, tidak sakit, aku tidak apa-apa, David." Kuperjelas dengan nada selembut dan sepelan mungkin. Aku tak ingin David menyangka bahwa aku marah karenanya.
"Baiklah, aku percaya padamu." Ia mengusap kepalaku lembut.
Malam ini Ayah baru pulang jam setengah sembilan malam. Tentu saja ia lembur dan belum sempat makan makanan yang berat. Untung, aku sempat membuat makanan di rumah sehingga Ayah bisa ikut makan malam ini bersamaku. Aku juga tak senang hanya makan seorang diri di meja makan. "Bagaimana nilaimu, Nak? Tidak ada yang turun 'kan?" Pertanyaannya menjadi perbincangan di ruang makan. Sepi.
"Hmmm, tidak kok, Yah. Nilaiku baik-baik saja," jawabku sambil melahap potongan daging kecil yang kusendokkan baru saja.
"Baguslah kalau begitu. Lalu pekerjaan sambilanmu?"
Aku sempat terhenyak sebentar, tapi kulanjutkan untuk menjawab. "Baik juga kok, Yah." Nada bicaraku sedikit berbeda dan Ayah mungkin menyadarinya.
"Yang namanya bekerja itu memang tidak mudah, Nak. Banyak saingan, banyak pikiran, banyak beban." Ayah mulai menjelaskan. "Apalagi kalau sambil sekolah sepertimu. Karena itu, kau harus bisa pandai membagi waktu dan mencoba mengendalikan diri. Jangan sampai masalah sekolah kau bawa-bawa ke pekerjaan dan masalah pekerjaan kau bawa-bawa ke sekolah sampai-sampai nilaimu menurun. Ayah percaya, kau bisa."
"Iya, Ayah." Sebuah senyuman tertarik di bibirku.
Ayah menelan makanannya yang telah dikunyahnya hingga halus. "Apa kau sedang bermasalah dengan yang namanya cinta?" Deg! Siapa yang menyangka ayahku akan memperbincangkan hal ini di depanku? "Mungkin kau segan mengatakannya, tapi Ayah ingin kau bisa lebih terbuka pada Ayah. Sulit memang, karena sebenarnya Ayah juga tidak terlalu jago dalam hal ini. Andai Ibu ada di sini, mungkin kau bisa berbagi cerita dengannya."
Nafsu makanku turun seketika. "Ayah, bisakah Ayah berhenti bicara mengenai perempuan itu lagi? Aku muak mendengarnya."
Ayah juga menyudahi makannya. "Renata, kenapa kau sedemikian membenci ibumu sendiri, Nak?"
"Ayah, wanita itu nggak pantas disebut sebagai seorang ibu! Seenaknya saja meninggalkan kita seperti ini, di mana hati nuraninya sebagai seorang ibu dan seorang istri? Kurasa, sekarang ia memang telah melupakan kita. Aku sendiri juga sudah membuang semua kenanganku bersamanya."
"Tapi itu ibumu sendiri, Nak. Kau tahu, ibumu begitu kesakitan saat ia melahirkan..."
"Stop!! Aku nggak mau lagi dengar cerita tentang wanita itu. Maaf, Ayah..." Aku segera melangkahkan kakiku menuju kamarku. Betul-betul benci mendengar nama Ibu disebutkan dalam perbincangan. Perempuan itu tidak pantas menjadi ibuku. Ia lebih pantas disebut sebagai wanita rendah, batinku penuh amarah.







