
David mengantarku pulang dengan mobilnya setelah kafetaria tutup. Sepanjang perjalanan mulutku membisu, bibirku terkatup erat. Tak ada satu patah katapun yang terucap dari bibir mungilku.
David menyalakan lampu sen kiri pada mobilnya dan tibalah kami di muka rumahku. Kulepaskan safety belt yang sejak tadi seakan mengikatku sepanjang perjalanan pulangku. "Terimakasih," ucapku singkat. Aku tak tahu harus mengucapkan apa lagi. Hari ini memang melelahkan bagiku dan jujur, aku sedang tak ingin banyak berbicara.
Saat aku hendak turun dari mobil, ternyata David ikut turun. Dan setelah aku menutup pintu mobilnya dan berdiri di sisi mobilnya, pemuda itu sudah berdiri tepat di hadapanku, seolah ia mencegah kepulanganku. "Kamu kelihatan lelah sekali hari ini," katanya. Aku hanya tersenyum. "Eum... aku hanya ingin bertanya sesuatu, boleh?" Kuanggukkan kepalaku sambil mengupingi rambutku yang tergerai. "Aku hanya ingin memastikan tentang... pernyataanku waktu itu. Apa kau mau jadi pacarku?" Deg! Kenapa malam ini, Tuhan, keluhku. Keadaanku sedang tidak baik dan tentu saja pikiranku ikut terpengaruh. Entahlah, malam ini begitu indah, sampai-sampai aku mau saja menerima David. Aku merasa dipermainkan oleh keadaan. "Kamu sungguh-sungguh mau jadi pacarku, Ren?" David kembali meyakinkanku dan bodohnya, lagi-lagi aku menganggukkan kepalaku. Rasanya ingin kubenturkan kepalaku. Bodoh sekali, makiku. Jelas-jelas yang kusukai hingga detik ini hanyalah Davin, tapi kenapa aku malah menerima pernyataan cinta dari kakaknya? Seketika David memelukku. "Thanks ya." Hanya beberapa detik ia mendekapku, kemudian ia melepaskan pelukannya. "Aku senang karena kamu mau menerima aku." Senyumannya mengembang. Sebuah senyuman yang muncul dari lubuk hatinya yang paling dalam. "Ya sudah, istirahatlah yang cukup. Jangan sampai kamu sakit."
"Hmm... aku masuk dulu ya," tuturku pelan. Dan sebelum aku benar-benar masuk ke dalam rumahku, David menarik lenganku dan mengecup keningku. Oh Tuhan, terang saja aku terkejut karenanya. Lututku sampai lemas rasanya. Untunglah, ia segera membiarkanku masuk ke dalam rumahku. Dan aku segera masuk ke dalam kamar. Kuraba keningku yang tadi David kecup dengan lembut. Aku hanya bisa menghela nafas. "Apakah dengan begini, aku bisa melupakan Davin?" gumamku bertanya.
Dengan langkah ragu aku masuk ke dalam ruang ganti untuk mengganti seragam sekolahku dengan seragam kafetaria. Aku harus kembali bekerja dan melupakan kejadian semalam sejenak. Tahukah Davin akan kisah semalam, aku bertanya-tanya. Saat kedua mataku memerhatikan sosok Davin dari ruang dapur, tiba-tiba pemuda yang tengah melayani para pelanggan itu menoleh ke arahku. Spontan, aku segera memalingkan pandanganku. Semoga ia tak menyadarinya bahwa sejak tadi aku terus mengawasinya, harapku cemas. Davin melangkah mendekatiku. "Siapkan pesanan meja nomor 12." Hanya itu yang diucapkannya, kemudian ia pergi. Aku boleh bernafas lega karena ia tidak bicara yang macam-macam. Dengan segera, kulakukan apa yang Davin perintahkan padaku tadi. Setelah siap semua pesanannya, aku segera mengantarkannya ke meja yang dimaksud. Di sana duduk sepasang kekasih yang tengah bersenda-gurau. Riang sekali, nilaiku dalam hati.
Waktu memang berjalan cepat sekali. Malam telah menjelang dan kafetaria lagi-lagi ditutup. Padahal aku merasa bahwa baru saja aku melangkah masuk ke dalam kafetaria, tapi sekarang aku harus kembali ke rumahku. "Biar kuantar kau pulang ya," kata David. "Davin, titip kafetaria dulu."
"Ya, ya, ya." Davin menjawab dengan nada ogah-ogahan.
Aku yakin sekali kalau Davin melihat tanganku digenggam oleh sang kakak. Kira-kira apa penilaiannya ya? Apakah ia akan menganggap aku sebagai perempuan rendah? Air mataku hampir meleleh begitu di telingaku terngiang kata 'perempuan rendah'.
"Mau makan malam dulu? Kamu belum makan 'kan?" David membuyarkan lamunanku mengenai Davin.
"Ah, eh..." Bingung harus menjawab apa pada ajakannya.
"Kamu nggak lapar?"
"Ehh... iya," jawabku singkat. Memang sejak tadi cacing-cacing dalam perutku mulai berlomba untuk meneriaki kata 'lapar'.
"Kalau begitu, kita makan dulu saja ya."
"Lalu bagaimana dengan Davin?" Ups, seharusnya aku tak menanyakan soal ini. David pasti akan marah.
"Oh, Davin sudah makan tadi," jawab David sambil membelokkan stir mobil ke arah kanan setelah menyalakan lampu sen kanan.
Bibirku kembali terkatup rapat. Jangan sampai aku menanyakan pertanyaan yang bersangkutan dengan Davin lagi di depan kakaknya. Bisa-bisa David salah sangka dan mengetahui isi hatiku.
"Kamu mau makan apa, Ren?" tanyanya setelah sampai di sebuah restoran sederhana di samping jalan.
Mataku terus menelusuri nama makanan satu ke nama yang lainnya. "Nasi cap cay," jawabku singkat. Aku suka nasi cap cay karena di dalamnya ada sayuran yang dinamai brokoli oleh seseorang entah siapa.
Selagi menunggu, Davin dan aku berbincang-bincang. Tapi aku tetap menjaga bibirku agar tidak salah bicara. Karena sekali saja salah bicara, mungkin keadaan akan kacau.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar