5/18/2009

It's Complicated Part 4


Dalam ketidakberdayaan diriku, kubilas tubuhku dengan air bersih yang begitu dingin. Kuusap seluruh bagian tubuhku dengan sabun mandi beraroma citrus. Rambut panjangku kubersihkan dengan shampoo yang biasa kupakai. Sebelum aku benar-benar selesai mandi, kubilas seluruh bagian tubuhku dengan air bersih. Langkah kakiku lesu menuju kamarku. Rasa-rasanya aku mulai sakit kepala. Mungkin karena terkena hujan tadi. Saat aku membaringkan badanku di atas ranjang pun otakku terus berputar, berpikir. "Kenapa aku sebodoh ini? Padahal aku berjanji untuk tidak membeberkan perasaanku padanya. Sekarang pasti semuanya jadi berantakan dan tidak akan berjalan seperti dulu lagi. Pasti dia merasa canggung denganku, begitu pula aku. Lantas aku harus berbuat apa?" desisku pelan seorang diri. Air mataku hampir tumpah dari pelupuk mataku. Tapi tak jadi karena rasa sakit yang semakin menjadi pada kepalaku membuatku tak kuat untuk menangis. Akhirnya air mata di pelupuk mataku mengering.
Aku takkan lupa bagaimana respon Dave saat mulutku mengumbarkan perasaanku. Memalukan. Rasanya aku takkan punya muka untuk berhadapan dengan Dave lagi. Tapi aku juga tak ingin kehilangan pekerjaan di kafetaria itu. Aku suka bekerja di sana. Masakan aku harus keluar dari sana, secara aku baru saja bekerja beberapa hari di sana. Aku sungguh bimbang.
"Nata," panggil ayahku saat ia baru saja pulang. Aku masih tertidur di dalam kamarku. Rasanya ada api yang begitu membara di dalam tubuhku. Panas. Ayah terus mencari tahu keberadaanku. "Renata." Sekali lagi ia memanggil namaku. Nama itu nama yang indah yang diberikan Ayah padaku saat aku baru lahir. Ayah sering bercerita bagaimana sulitnya mencari nama untukku yang saat itu masih berada dalam kandungan ibuku. Saat Ibu mengandungku, Ayahlah yang paling repot karena Ibu suka mengidam yang macam-macam. Tapi karena ayahku adalah tipe penyayang, ia rela membelikan yang diinginkan ibuku. Ah, tapi memang ibuku yang tidak tahu diri, seenaknya saja meninggalkan ayahku dan berkeluarga dengan orang lain. Sinting, makiku padanya. "Rena..." Akhirnya ayahku menemukanku terbaring di atas ranjang kamarku. "Nak." Ayah mendekat dan mengusap keningku. Panas, itu yang ia rasakan. "Astaga, Nata, kamu sakit ya?" Wajahnya berubah menjadi khawatir.
Aku baru saja membuka mataku. "Eh, Ayah sudah pulang?" Segera aku bangkit dari posisi tidurku. Aku belum menyiapkan makan malam.
"Badanmu panas, Nak. Kamu sakit?"
"Nggak kok, Yah. Mungkin karena baru bangun tidur saja, jadi terasa panas."
"Tidak, kamu demam. Berbaringlah. Ayah bawakan termometer untukmu ya." Ayah begitu perhatian padaku, tidak seperti Ibu. Aku lebih sayang pada ayahku ketimbang Ibu yang telah melahirkanku, namun sama sekali tidak merawatku dengan baik. "Coba, diukur dulu. Ayah ambilkan air dingin sebentar ya." Ia kembali sibuk menyiapkan sebaskom air dingin untuk mengompresku. Oh Tuhan, setidaknya aku bersyukur karena ada Ayah yang begitu menyayangiku. Tidak terlalu lama ia meninggalkanku di kamar, ia sudah kembali beberapa menit setelahnya. "Biar Ayah lihat suhu tubuhmu." Termometer itu diambilnya dan dilihatnya. "Benar 'kan, kau demam. Suhu tubuhmu cukup tinggi, Nak. Kau istirahat saja dulu. Biar Ayah buatkan kau makanan ya." Ayah meletakkan handuk kecil yang dilipat-lipat dan sudah dingin. Ia meletakkannya di atas keningku tepat.
Hari ini aku banyak merepotkan Ayah. Ada sedikit perasaan bersalah karenanya, tapi untunglah ayahku orang yang pegertian.
Malam ini aku ingin makan bubur hangat sejujurnya. Tapi apapun yang ayahku buatkan untukku akan kuterima dengan senang hati. Siapa yang tak senang memakan masakan ayah sendiri? Kutunggu hingga ayahku kembali dan benar, ia kembali dengan membawakanku makanan. "Ayah buatkan kau bubur hangat. Dimakan ya, Nak, supaya kau cepat sembuh. Lalu kalau sudah makan, jangan lupa minum obat. Baru boleh tidur." Betapa girangnya saat ayahku ternyata tahu apa yang kuinginkan.
"Terimakasih, Yah. Maaf ya, Ayah jadi repot mengurusku."
"Nata, kamu ini 'kan anak Ayah. Mana ada ayah yang diam melihat anaknya sakit? Apalagi suhu badanmu cukup tinggi. Bisa bahaya kalau dibiarkan. Ini, dimakan. Apa perlu Ayah suapi?"
Aku tergelak. "Aku bisa sendiri kok, Yah. Makasih ya, Yah." Senyumku mengembang di bibirku.
Malam begitu dingin. Udara tidak bersahabat denganku. Tubuhku hampir menggigil kedinginan karenanya. Untung saja ada selimut tebal yang mampu menghangatkan tubuhku yang kedinginan. Aku bermimpi tentang sesuatu yang aneh. Padahal jelas-jelas aku sudah ditolak secara tak langsung, tapi entah mengapa Dave muncul dalam mimpiku dan aku terlihat begitu bahagia bersamanya. Tuhan, aku tak ingin lagi memikirkannya. Sudah cukup, aku ingin semuanya berakhir. Ia tak memiliki perasaan yang sama denganku. Dan aku sedih karenanya, bukan senang seperti itu. Ini keliru. Ada yang salah dengan mimpiku. Kata orang, mimpi itu buah pikiran. Apa iya, aku masih saja memikirkan lelaki yang jelas-jelas tidak menyukaiku? Tidak, aku tak mau dihantui pikiran bodoh seperti itu. Aku harus melupakannya. Ya, aku harus melupakan semuanya tentang dirinya. Jangan seperti orang bodoh karena aku memang tidak bodoh.

Seperti tidak terjadi apa-apa, dengan santai aku berhadapan dengan Dave dan kakaknya di kafetaria. Sementara di sekolah, aku sudah jarang berbincang dengannya. Ia juga sepertinya menghindariku. Jadi, aku juga takkan terus mendekatinya. Aku tidak mau mengganggu kehidupannya. Dengan memicu semangatku kembali, aku terus bekerja. Tanpa memerhatikan lagi Dave, aku menjalani hari-hariku yang kembali kosong. Tidak masalah bagiku karena memang ia bukan untukku. Jadi, takkan kupaksakan. Toh, aku percaya akan ada yang lebih baik darinya.
"Kau lesu hari ini. Ada masalah?" Oow, ini dia yang kuhindari. David mengajakku bicara tentang keadaanku. Padahal sebisa mungkin kupaksakan diriku untuk bersemangat. "Hari ini kau tidak bersemangat seperti kemarin-kemarin," sambungnya sambil berdiri tepat di sebelahku. Pelanggan masih sepi.
Akan kucoba untuk mengelak. "Eum, tidak, tidak ada apa-apa. Aku baik-baik saja kok."
"Itu bagus." Ia tersenyum, lalu meninggalkanku. Aku bisa bernafas lega ketika ia melangkah menjauhiku. Aku memang ingin seorang diri. Tidak ada yang bertanya, tidak ada yang menjawab, tidak ada yang berkomentar. Semua diam!!
Hidup itu memang berkaitan erat dengan realita. Ketika seseorang memiliki hidup, ia harus mampu menghadapi kenyataan hidup yang pahit sekalipun baginya. Walau kadangkala merasa tak kuat dengan kenyataan yang muncul di hadapannya, percuma saja lari darinya. Toh, suatu saat kenyataan yang sama akan kembali menghadang. Justru dari kenyataan nan pahit itu, seharusnya seseorang mencari tahu jalan keluarnya supaya ketika menghadapi kenyataan yang sama, ia tahu bagaimana menanganinya.
"Sudah mau pulang?" tanya David saat aku sudah berganti seragam sekolah. Aku sudah meransel tas sekolahku.
Mataku menatapnya. "Ya, aku sudah harus pulang. Apa masih ada yang harus kukerjakan?" tanyaku sebelum aku benar-benar pulang.
"Hm, kurasa tidak. Biar Davin yang mengantarmu pulang ya."
"Tidak perlu, Kak. Aku bisa pulang sendiri kok. Lagipula sepertinya ia sedang sibuk, jadi aku tak enak mengganggunya."
"Tidak, kau tidak mengganggunya kok."
Aku tersenyum. Ingin menghindar. "Tidak, aku sudah banyak merepotkannya. Kalau begitu, aku pulang dulu, Kak. Permisi." Aku segera melangkahkan kakiku keluar dari kafetaria. Terburu-buru ingin menghindar dari Dave sebisa mungkin.
David masih berdiri di posisi yang sama. Kedua matanya mengawasiku dari dalam kafetaria. "Davin," panggilnya masih saja mengamatiku berjalan.
"Ya, Kak?" Dave segera meninggalkan kesibukannya membereskan meja dan mendekati kakaknya.
"Kau bertengkar dengan Renata?"
Tentu saja Dave bingung ditanya seperti itu. "Bertengkar? Tidak kok. Memangnya kenapa?"
"Sepertinya hari ini Renata seakan menghindarimu. Kau sedang ada masalah dengannya?"
Dengan mantap Dave menggeleng. "Tidak kok, tidak ada masalah apapun."
"Oh, ya sudah." David manggut-manggut. Masih menjadi tanda tanya besar baginya tentang sikapku hari ini, tapi yang pasti, aku tak ingin siapapun tahu soal ini.
Sembari kakiku melangkah, otakku kembali berpikir. Ah, aku tak suka kalau otakku terus berputar untuk memikirkan Dave. Aku tak mau terlarut dalam keretakan hatiku ini. Seseorang, bantulah aku keluar dari kesedihan ini. Dan bantu aku menyambungkan kembali hati yang mulai retak, bahkan patah ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar