
Hari-hariku terasa kosong belakangan ini. Rasanya tak ada semangat untuk menjalaninya. Rutinitas yang begitu melelahkan mampu mematahkan kekuatanku untuk melangkah. Bahkan, sempat terpikir olehku untuk tidak masuk sekolah setiap pagi. Kalau bukan berkat dorongan Ayah, aku takkan masuk sekolah seminggu ini. Sempat Ayah menanyakan, "Apa kamu ada masalah, Nak?" Tapi tak ada satupun jawaban yang menceritakan kejadian sesungguhnya keluar dari bibirku. Aku tak ingin semakin membebaninya lagi. Sudah cukup ia dibebani oleh pekerjaannya dan masalah pribadinya.
"Nggak kok, Yah. Aku baik-baik saja. Kenapa?" tanyaku pura-pura bodoh, pura-pura tidak mengerti. Seolah memang tak ada yang terjadi dalam kehidupanku pribadi.
"Belakangan ini Ayah sering melihatmu lesu dan sering diam. Padahal biasanya kau ceria."
"Biasa saja kok. Aku tidak apa-apa," jawabku mengelak. Semoga ia tak menyadari penyangkalanku.
"Bagus kalau kau tidak apa-apa. Tapi kalau kau memang punya masalah, ceritakanlah. Siapa tahu Ayah bisa membantumu."
"Beres, Yah. Ayah nggak perlu khawatir." Kami melanjutkan makan malam kami bersama di meja makan.
Nafsu makanku berkurang belakangan ini, jujur. Bahkan, seringkali aku tak mampu menghabiskan jatah makan malamku. Dan mungkin ini juga faktor yang membuat Ayah bertanya seperti itu. Setiap kali aku menimbang berat badanku, pasti selalu berkurang satu kilo. Sehari berkurang satu kilo, apa aku memang se-stres ini? Jangan sampai orang-orang menyadarinya. Aku tak ingin membuat orang lain, terutama Ayah, khawatir.
"Kau kurusan, Ren?" Deg! Seseorang yang tepat berdiri di belakangku mulai mengucapkan kalimat mematikan bagiku.
Aku langsung menengok dan melihatnya. Itu David. "Oh ya? Padahal belakangan ini nafsu makanku meningkat." Bohong!!!! Aku tahu aku sedang berbohong dan aku sadar akan apa yang kulakukan. Tapi ini kulakukan dengan penuh keterpaksaan. Aku tak ingin masalahku terbeberkan.
"Kau yakin? Kau benar-benar tambah kurus lho. Wajahmu juga pucat. Apa kau sakit?"
"Tidak, aku sehat. Sehat sekali malah."
David melangkah mendekatiku, membantuku mencuci piring-piring kotor yang menumpuk di tempat cucian. "Biar kubantu. Kau pasti lelah 'kan?"
"Tidak sama sekali. Aku senang bisa bekerja di tempat ini."
Mendengar kata-kataku barusan, David hanya menyunggingkan senyumannya. "Kau tahu, aku juga senang kau bekerja di tempat ini. Aku terbantu karena kehadiranmu di sini."
Jelas saja aku merasa tersanjung dengan ungkapannya. Ternyata aku memang dibutuhkan, batinku girang.
"Dan sejak kau bekerja di sini, entah kenapa, pikiranku selalu dipenuhi olehmu. Aku sendiri juga tak begitu mengerti, tapi... mungkin aku menyukaimu." PRAAANGG!!!! Sebuah piring tanpa sengaja kujatuhkan ke lantai. Licin. Aku panik dan ketakutan. Segera kupungut pecahan piring tersebut tanpa pikir panjang dan aku mengaduh kesakitan. Pecahan piring itu melukaiku. "Kau terluka. Biar kuobati." David segera membawaku ke kantornya dan mengobati lukaku begitu melihat darah segar mengalir dari balik kulitku. Perih, rintihku dalam hati. "Tak semestinya kau memungut pecahan itu dengan tangan telanjang. Jadi terluka 'kan?" David membersihkan lukaku dengan kapas yang telah dibasahi oleh alkohol.
"Maaf, Kak," ucapku lirih.
"Tidak apa. Aku tak begitu mempermasalahkan piring yang pecah. Aku lebih mementingkan keselamatanmu." Lagi-lagi aku tersanjung. Tapi ada sesuatu yang mengganjal di hatiku. "Nah, sudah kuobati. Lain kali hati-hatilah. Aku tak ingin melihatmu terluka."
"Terimakasih, Kak."
"Eum... kalau aku boleh meminta, tolong jangan panggil aku dengan embel-embel seperti itu. Panggil namaku saja. Toh, umur kita tak terpaut terlalu jauh. Panggil aku David saja."
"Iya... David." Agak ragu untuk mengucapkan namanya, tapi akan kulakukan kalau itu memang maunya. Keinginan yang sederhana.
Kuperhatikan dari hari ke hari, David memang lebih perhatian dan seringkali menjagaku. Ketika aku sedang mencuci piring di dapur dan saat sedang sepi pengunjung, ia kerap membantuku di dapur untuk mencuci. Sementara Davin membersihkan meja-meja dan kursi-kursi yang ada. Apakah Davin menyadari sesuatu, hatiku mulai menerka-nerka.
"Davin, kau jaga kafe sebentar ya. Aku ingin mengantar Renata pulang dulu." Tentu saja Davin mengiyakannya. Dan setelah David mengantarku, ia segera kembali ke kafetaria milik keluarganya.
Sekembalinya, David segera masuk ke dalam kantornya untuk mengurus sesuatu. Itu memang biasanya dilakukannya setelah kafetaria tutup. "Tumben hari ini Kakak yang mengantarnya pulang." Davin muncul sambil membawakan segelas minuman untuk sang kakak.
David menoleh sejenak, lalu kembali mengurus urusannya. "Ya, aku cuma ingin tahu saja rumahnya ada di mana. Lagipula kulihat tadi kau sibuk sekali. Karena tak mungkin membiarkannya pulang seorang diri malam-malam begini, jadi kuantar saja," jelas David.
"Kakak jatuh hati padanya ya?" terka Davin yang telah duduk tepat di hadapan meja kerja David yang penuh dengan buku dan berkas.
Lagi-lagi David menoleh sebentar, lalu tersenyum. "Kalau iya, kenapa? Kamu juga suka padanya?"
"Hm... nggak kok. Siapa bilang aku suka padanya?"
"Bagus deh, kalau kau tidak suka padanya. Berarti aku punya peluang besar untuk menarik hatinya," canda David sambil terus sibuk menulis.
"Memangnya Kakak benar-benar suka padanya?"
"Ya begitulah." Jawaban singkat itu membuat Davin terdiam dan tak lagi bertanya.
Malam ini pikiranku penuh. Bahkan, mungkin kapasitas otakku takkan sanggup untuk menampung pikiran-pikiran yang aneh itu. Ada sebuah dilema yang kurasakan. Haruskah aku tetap pada perasaanku atau aku harus mengambil tindakan nekat, aku tak mampu memilih. Biarkan waktu yang memilih, itu putusku.
Pagi menjelang dan aku ingat persis jam berapa pagi ini. Jam enam kurang dua menit aku melangkah keluar dari pagar rumahku. Tiba-tiba seorang tukang pos mendekatiku. "Mbak Renata?"
"Iya, saya sendiri," jawabku agak ragu. Tumben sekali ada kiriman untukku. Jelas saja aku bingung.
"Ada kiriman untuk Mbak. Mohon ditandatangan di sini."
"Eum... dari siapa ya?"
"Wah, tidak diberitahu nama pengirimnya, Mbak. Silakan." Kutandatangani kertas yang disodorkannya padaku. Setelah itu, tukang pos itu pergi. Kiriman itu berupa setangkai bunga yang harumnya luar biasa. Aku suka dengan wanginya. Yang terikat pada tangkai bunga tersebut hanyalah sebuah kartu ucapan yang berbunyi, "Selamat pagi." Aku semakin penasaran siapa pengirimnya. Kuletakkan bunga itu di kamarku, baru aku berangkat ke sekolah.
Pagi berikutnya, hal yang sama terjadi. Entah mengapa, tukang pos itu senang sekali datang mendekatiku dan berkata, "Ada kiriman untuk Mbak Renata." Aku yang semakin hari semakin dibuat bingung oleh kiriman itu, langsung menerimanya setelah tandatangan. Lagi-lagi ada sebuah kartu ucapan yang bertuliskan, "Have a nice day." Ini berlangsung terus hingga seminggu. Sudah ada tujuh bunga di dalam kamarku dan mereka memiliki wangi yang sama harumnya. Setiap hari kuciumi bunga itu karena memang aku suka wanginya. Hingga pada hari ke delapan, sebuah kiriman kembali tiba di rumahku. Kali ini bukan bunga lagi. Sebuah boks yang dibungkus kertas cokelat. Aku semakin heran apa isinya dan dari siapa. Bahkan, kiriman ini membuatku tak bisa berkonsentrasi menjalani waktuku di sekolah dan di kafetaria.
"Kau sedang memikirkan sesuatu?" tanya David saat senggang. Bedanya, saat ini kami tidak sedang mencuci piring bersama. Ia mengantarku pulang.
"Hm, tidak. Kenapa?"
"Sepertinya hari ini kau sering sekali melamun."
"Oh ya?"
"Sedang ada masalah? Kalau memang sedang ada masalah, ceritakan saja padaku. Aku siap untuk menjadi pendengar yang baik kok."
"Tidak, aku sedang baik-baik saja. Tidak ada masalah apapun." Untunglah David percaya pada ucapanku dan segera pamit pulang.
Langkahku kupercepat saat otakku kembali mengingatkanku akan kiriman yang tadi pagi dikirim untukku. Aku segera membuka bungkusan tersebut dan betapa terkejutnya aku saat aku melihat sebuah gaun mewah terdapat di dalamnya. Ups, ada surat di dalamnya. "Pakailah gaun ini dan aku akan menjemputmu hari Sabtu jam tujuh malam di rumahmu." Oh Tuhan, siapa lagi ini? Orang yang samakah dengan pengirim bunga yang selama seminggu ini memberiku bunga wangi tersebut?
kyaaaaaa..pasti seneng ya dikasih bunga..hahaha..so romantic..
BalasHapusLupa ditulis..TO BE CONTINUED..
BalasHapus