5/14/2009

School's experiences


Sekolah itu bak neraka ke dua bagiku setelah sekian tahun bersekolah. Kutimba ilmu di sana, namun rasa ketidaknyamanan turut menyelimuti hati. Tak ada orang terdekat di sana, satupun tiada. Menjalani hari-hari di sekolah dengan penuh kesendirian adalah hal biasa bagiku sejak aku duduk di awal bangku SD. Sifat pendiamku membuatku terisolasi di dalam kelasku. Ke mana-mana seorang diri, mengerjakan sesuatunya pun sendirian. Berat memang, tapi kupikir, itu jalan teraman yang bisa kutempuh. Kenapa aman? Entahlah, saat aku masih kecil hanya itu yang terlintas di pikiranku tanpa ada suatu alasan yang spesifik. Di usiaku yang ke-12 aku masih saja bangga dengan keadaanku yang seperti ini. Sendirian, tiada teman dekat di sekitarku. Teman banyak, tapi hanya sebatas teman untuk menyapa. Tepat saat aku berumur 12 tahun, aku dipindahkan oleh kedua orangtuaku. Tidak ada komentar, tidak ada perbantahan dari dalam diriku karena memang aku tidak begitu peduli dengan teman-temanku. Tidak ada rasa kehilangan yang mengintip dalam batinku. Dan aku pindah. Awal mula aku masuk ke sekolah yang baru, aku disapa begitu hangat oleh teman-teman baruku. Mereka menyukaiku, tapi itu awalnya. Sifatku yang pendiam dan gemar menyendirilah yang membuat teman-temanku mulai mengacuhkanku. Lagi-lagi mereka hanyalah teman untuk saling menyapa apabila bertemu ataupun berpapasan. Tidak ada yang khusus. Bagiku, hidup dalam kesendirian itu adalah jalan yang paling aman untuk ditempuh. Tidak akan ada pertentangan, pertikaian, pertengkaran, atau semacamnya. Aman, damai, tenteram, harmonis, tenang. Pertengahan semester, aku mulai dekat dengan seseorang. Perempuan, imut, religius, pintar, baik hati, itu penilaianku terhadapnya. Kami duduk sebangku dan sering mengobrol. Lama-kelamaan, kami jadi akrab dan sering bersama-sama. Otakku kembali berputar, salahkah? Tapi tetap kujalani hari-hariku bersamanya. Senang, bahkan lebih menyenangkan daripada seorang diri. Aku mulai bersemangat menjalani hari sekolahku, dan itu semua berkatnya. Setiap kali ke kantin, kami berdua selalu bersama. Tapi siapa yang sangka bahwa aku bisa menyakiti hatinya? Secara tak sengaja, aku telah mengecewakannya. Jujur, aku tak merasa bahwa aku telah melakukan kesalahan, tapi teman-teman dekatnya yang mendukungnya langsung ambil tindakan atas perlakuanku padanya. Oow, aku dalam bahaya, aku tahu itu.

Satu kalimat yang takkan pernah bisa terlupakan dari memoriku, "Percuma, dia nggak akan bisa berubah! Udah begitu, begitu aja!" Takkan ada yang bisa membayangkan bagaimana panas hatiku mendengar pernyataan yang diungkapkannya. Sejak detik itu, aku memutuskan untuk menunjukkan padanya bahwa aku bisa berubah. Aku takkan menyakiti siapapun lagi, itu janjiku pada diriku sendiri dalam hatiku. Yang kulakukan setelah teman-temannya menegurku adalah mendekati teman dekatku itu dan meminta maaf. Walau aku tak salah, tidak ada salahnya kalau aku meminta maaf. Sikap kerendahan hati memang sangat diperlukan dalam berteman, itu kebijakanku. Takkan pernah bisa kulupakan, kami berdua menangis bersama di dalam kelas. Kesalahpahaman itu terselesaikan pada akhirnya. Dan waktu terus bergulir, melangkah maju, dan membuatku mengambil sebuah kesimpulan mengenai pertemanan. Aku tak butuh teman karena hidup tanpa teman lebih aman dan lebih damai. Tapi semakin usiaku beranjak, temanlah yang semakin kubutuhkan. Namun, kenangan pahit itu masih melingkupiku dan membuatku takut untuk berteman. Kuakui, aku masih butuh diproses. Aku awam dalam hal pertemanan ataupun persahabatan. Mungkin terdengar aneh, tapi memang seperti itulah kenyataan. Bahkan, saat duduk di bangku SMP pun aku masih tidak mengerti apa yang harus kulakukan dalam berteman. Dan sebuah proses kembali berlangsung dalam kehidupan bertemanku. Kutemui kembali seorang sahabat yang unik bagiku. Ia perempuan, cantik, pintar, dan berkarisma. Segala sifat yang mungkin tak begitu kusenangi kuanggap sebagai kekurangannya. Aku menerimanya apa adanya, aku mengasihinya. Tapi hatiku diremukkannya saat ia mengatakan bahwa aku hanyalah patung baginya. Ia berujar bahwa ia hanya bergurau, namun tahukah ia akan kehancuran hatiku yang mendengarnya? Tidak! Ia tidak sadar akan hal itu. Ia malah semakin memperolokku, mempermainkanku. Bodohnya, aku masih saja mau berteman dengannya. Bodohkah? Beranjak SMA, aku masih saja berteman dengannya, walau ada sedikit jarak antara aku dan dirinya. Hingga saat usiaku 16 tahun, aku harus merasakan bagaimana rasanya terkhianati oleh teman sendiri. Hatiku bagai kertas yang dirobek-robek saat melihat kenyataan. Tiada sepatah katapun yang terucap dari bibirku. Bahkan, saat ia memperolokku di belakangku, aku hanya bisa membungkam. Teringat jelas di benakku saat ia dan teman-temannya melingkariku dan mengadiliku. Satu per satu mulai bersuara dan menyebutkan apa-apa saja kesalahanku. Aku tahu, aku memang salah. Tapi tak pernahkah mereka berkaca, mereka juga seperti apa yang mereka lontarkan padaku, protesku membatin. "Lu tuh egois, pemarah, suka ngebanding-bandingin." Penghakiman dimulai di dalam kelas. Saat itu aku hanya duduk diam dan mendengarkan. Minta maaf adalah satu-satunya jalan keluar bagiku. Aku memang harus menjadi seorang yang lebih baik lagi. Semua sifat burukku harus kubuang jauh-jauh. Tanpa mereka ketahui, aku selalu menaruh dendam pada mereka. Aku hanya menuntut keadilan. Seharusnya mereka kuhadapkan dengan kaca supaya mereka juga berkaca bahwa merekapun tak sempurna. Sayangnya, keberanian itu tak muncul saat aku berhadapan dengan mereka. Yang bisa kulakukan hanyalah menyimpan kenangan pahit itu. Kucoba untuk merubah kebiasaan burukku dan menjadi seorang yang lebih baik dari siapapun. Sejujur-jujurnya, berkat penghakiman mereka, aku tak bisa lagi menjadi diriku sendiri. Setiap kali aku hendak berangkat ke sekolah, rasa takut acap menyelimutiku. Takut kalau mereka mengolokku lagi, takut dijauhi mereka, takut diacuhkan, takut ini, dan takut itu. Topenglah yang selalu menempel pada wajahku, lekat sekali bahkan sukar untuk dilepas. Sadarkah mereka, kerap aku bertanya pada diriku sendiri. Kuhargai cara mereka menyampaikan kejujuran hati mereka, tapi tidak caranya. Dan aku hanya bisa menunggu di sini, menunggu suatu perubahan dalam diri mereka. Akankah mereka terus seperti ini atau mereka akan berubah, hanya merekalah yang bisa menentukan jalannya sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar