5/16/2009

It's Complicated Part 2


"Apa, kerja sambilan? Untuk apa, Nak?" Sudah kuduga, reaksi ayahku pasti seperti ini. Tapi keinginanku untuk membantu mereka lebih kuat dan aku takkan mengganti keputusanku. "Memangnya uang sakumu kurang? Atau kamu ingin Ayah menaikkan uang jajanmu dalam sehari?" Ayahku duduk tepat di hadapanku. Kami sedang makan malam bersama di sebuah restoran sederhana.
"Bukan, bukan soal kekurangan uang saku kok. Aku cuma ingin merasakan saja bagaimana rasanya bekerja sambilan. Lagipula aku ingin membantu temanku. Boleh ya, Yah?" Kubujuk ia. Aku harus bisa membuat ayahku meluluskan permintaanku. Kalau tidak, ini akan menjadi penyesalanku yang luar biasa. Selain alasan yang kusebutkan tadi, ada satu alasan khusus mengapa aku ingin bekerja sambilan di kafetaria itu. Aku ingin lebih mengenal Dave. Ternyata aku memang menyukainya.
Ayah menelan potongan daging yang telah dikunyahnya. "Lalu bagaimana dengan prestasimu di sekolah? Kau akan merelakan prestasimu demi kerja sambilan itu?" Jantungku berdebar semakin kencang.
Mimik wajahku berubah. Aku mulai berusaha untuk meyakinkan ayahku yang masih mengenakan kemeja rapi. "Ayah, aku berjanji prestasiku di sekolah takkan turun hanya karena itu. Kumohon, aku ingin sekali bekerja sambilan."
Mulut ayahku terkatup sesaat. Dan setelah ia kembali selesai mengunyah makanannya, ia baru merespon, "Biar Ayah pikirkan dulu." Kuharap ia mau mengerti dan meluluskan keinginanku.
Sudah hampir tiga tahun aku hanya tinggal bersama ayahku di rumah. Ibuku menghilang entah ke mana saat aku masih duduk di bangku SMP, tepatnya saat aku masih kelas 1 SMP. Sama sekali tak ada niat di hatiku untuk mencari ibuku. Kabar terakhir yang kudengar dari bisikan para tetangga bahwa ibuku sudah menikah lagi dan memiliki keluarga yang lebih harmonis. Entahlah itu benar atau tidak, tapi aku tak peduli. Dari kecil, aku memang tidak dekat dengan Ibu. Setiap hari kerjaannya hanyalah arisan dan memamerkan hartanya. Bahkan, ia kerap menelantarkanku. Makanya, aku membencinya. Dan aku takkan mengharapkannya kembali. Berbeda denganku, ayahku setiap malam berdoa untuk ibuku agar ia kembali. Tapi itu hak Ayah dan tak ada urusan denganku. Yang terpenting bagiku adalah hidupku sendiri, bukan hidup orang lain. Mungkin terdengar egois, tapi memang itu yang terpikir di kepalaku saat ini.
Kunyalakan air panas untuk ayahku yang terlihat lelah dan penat malam ini. "Air panasnya sudah kuhidupkan, Yah," kataku setelah selesai kunyalakan.
"Oh ya, terimakasih, Nak." Ayah duduk bersandar di ruang tengah dan terlelap sejenak. Sementara aku menyusun buku untuk jadwal esok hari di dalam kamarku yang pintunya terbuka lebar.
Malam ini tenang sekali. Rumahku memang setiap hari terasa tenang sejak tidak ada Ibu. Aku ingat betul bagaimana keadaan rumah ini saat Ibu masih ada. Berisik. Ayah juga sering menegur Ibu karena kelakuannya yang seenaknya. Tapi itu masa lalu dan tak ingin aku bahas lebih lagi. Aku ingin menjalani hari-hariku ke depan dan bukan ke belakang.

Matahari, burung-burung, ayam jago, dan para makhluk lainnya menyambut pagi dengan gembira. Sinar matahari masuk ke dalam rumahku melalui jendela yang terbuka lebar. Aku yang telah berseragam tengah membuatkan sarapan untuk ayahku. Ia masih tertidur di kamarnya. Sudah jam setengah tujuh kurang dua puluh menit. Aku harus buru-buru berangkat ke sekolah atau aku akan terlambat dan dihukum oleh guru piket hari ini. Tas sekolahku segera kuraih dan dengan langkah kaki yang lebar aku berjalan menuju sekolah. Untungnya jarak sekolah dengan rumahku tidak begitu jauh, jadi lima belas menit cukup untuk sampai ke sana. Gerbang sekolah sudah hampir ditutup rapat. Tapi masih ada celah untuk aku masuk, artinya aku masih diizinkan masuk. Saat aku baru masuk ke dalam kelasku, bel masuk berbunyi. Pas sekali, aku bernafas lega.
"Kumpulkan tugas kalian." Pelajaran pertama adalah pelajaran Bahasa Indonesia. Aku takkan lupa dengan tugasnya karena aku cinta sekali pelajaran Bahasa Indonesia. Pak Dedi, guru Bahasa Indonesia kami, juga mengasyikkan dalam mengajar. Beliau selalu mendorong para muridnya untuk berpikir kreatif.
Entah hanya perasaanku saja atau memang kenyataannya demikian, hari ini aku merasa amat sangat lelah. Aku tak tahu apa yang membuatku kelelahan seperti ini. Yang pasti, sepulang sekolah sekujur tubuhku lesu dan tidak bergairah melakukan apapun. Yang aku lakukan hanyalah berbaring dan tertidur pulas di atas tempat pembaringanku yang empuk.

Semua makan malam akulah yang membuatnya. Kutunggu ayahku pulang hingga jam tujuh sore. "Makan malamnya sudah siap, Yah," kataku sambil membantunya membawakan tas kerjanya.
"Iya. Ayah lapar." Pria yang rambutnya sudah beruban itu melangkah menuju meja makan. "Kau yang masak semua?" Dan kuanggukkan kepalaku. Ia tersenyum. "Kau benar-benar pandai masak seperti ibumu." Deg! Aku benci ia menyebut-nyebut nama Ibu. Mengapa Ayah masih saja memikirkan wanita tidak tahu diri sepertinya sih, geramku dalam hati. "Nah, ayo makan."
Nafsu makanku berkurang setelah Ayah mengungkit kembali soal Ibu. Sudah kuberitahu bahwa aku tak ingin sekalipun Ayah membahas mengenai dirinya. "Ayah, bagaimana soal kerja sambilan itu?" tanyaku mengangkat topik pembicaraan yang baru, yang lebih berbobot pastinya.
Ia berhenti mengunyah sesaat, kemudian kembali mengunyah makanannya dan menelannya untuk dicerna. "Ayah sudah memikirkannya. Ayah pikir, kalau kau bisa mempertahankan prestasimu di sekolah, kenapa tidak? Toh, kamu memang harus memiliki banyak pengalaman dalam hidupmu. Tapi ingat, prestasimu tidak boleh menurun."
"Serius, Yah?" Aku terlonjak girang. Tak percaya Ayah mau meluluskan keinginan hatiku.
"Ya, tapi ingat janjimu ya." Ayah kembali menegaskan.
Aku segera bangkit dari tempat dudukku dan memeluk ayahku. Kukecup pipi ayahku. "Terimakasih ya, Ayah." Betapa girangnya aku hari ini. Besok aku akan ke kafetaria itu lagi untuk menawarkan bantuanku.

Tak sabar menanti bel pulang sekolah berdering dan menjemput anak-anak untuk pulang ke rumah masing-masing. Aku segera melangkah mencari keberadaan Dave yang sepertinya masih ada di dalam lingkungan sekolah. Mataku menemukannya tengah memesan minuman di kantin sekolah. "Dave," panggilku dengan penuh percaya diri. Ups. Dave menoleh ke arahku.
"Ya, ada perlu apa ya?"
"Boleh bicara sebentar?" Tentu aku tak suka pembicaraanku dengannya didengar oleh teman-temannya. Dave menuruti permintaanku itu. "Eumm... sebenarnya aku ingin menawarkan jasaku di kafetaria itu." Air muka Dave berubah menjadi kebingungan.
"Maksudmu?"
"Beberapa hari yang lalu, kulihat kau dan kakakmu begitu sibuk melayani para pelanggan. Kalau boleh, aku ingin membantu kalian."
"Dengan cara?"
"Bekerja di sana juga, sebagai apapun boleh."
"Kau yakin? Apa orangtuamu sudah memberi izin? Dengar ya, pekerjaan itu tidak mudah. Bisa saja kau kelelahan karena kau harus mampu menyeimbangkan waktu antara belajar dan bekerja."
"Kupikir, kalau kau saja bisa, kenapa aku tidak? Lagipula aku ingin menambah pengalamanku."
Dave kehilangan kata-kata. "Berundinglah dengan kakakku. Aku tak punya hak untuk memutuskannya." Aku dan Dave pergi bersama menuju kafetaria yang kebetulan sedang tidak terlalu ramai. Aku dibawa ke dalam sebuah kantor kecil yang berada di samping dapur. Kecil, tapi artistik.
"Siapa namamu?" tanya seorang laki-laki yang mirip dengan Dave. Ia adalah kakak Dave. Selisih umurnya denganku hanya tiga tahun.
"Namaku Renata, Kak." Aku menjawab dengan penuh keraguan. Grogi.
"Oh, Renata. Kau sekelas dengan Davin ya?"
"Tidak. Dave berbeda kelas denganku."
"Oh, begitu. Oh ya, kenalkan. Namaku David. Seperti yang kau tahu, aku kakak Davin." Astaga. Mereka memiliki wajah yang mirip, nama mirip pula. "Aku sudah dengar dari Davin, katanya kau mau bekerja sambilan di sini ya?" Aku mengangguk mantap. "Kenapa?"
"Kulihat tempat ini ramai dan pasti melelahkan sekali melayani banyak orang seperti itu. Jadi, aku ingin menawarkan bantuanku. Lagipula aku ingin mencari pengalaman bekerja, Kak."
"Oke, jawaban yang bagus. Lalu orangtuamu sudah mengizinkan?"
"Aku sudah meminta izin dan aku diizinkan," jawabku mantap.
"Bagus kalau begitu. Dan bagaimana dengan upahnya?"
Aku diam dalam hal ini. Tak tahu harus menjawab apa, akhirnya aku menjawab, "Itu terserah Kakak saja."
"Eum... baiklah. Akan kujelaskan tentang upahnya." Ia menjelaskanku tentang upahnya hingga aku benar-benar mengerti. "Sudah mengerti?" Kuanggukkan kepalaku lagi untuk ke sekian kalinya. "Bagus. Kau boleh mulai bekerja hari ini. Dan ini seragammu. Kau tak mungkin bekerja dengan menggunakan seragam, bukan?"
"Terimakasih, Kak." Betul-betul senang karena aku diterima pada akhirnya. Ternyata bekerja itu begitu menyenangkan.

TO BE CONTINUED...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar