
Sudah tiga hari berlalu sejak aku melihat tubuh Ibu terkulai tanpa nyawa di atas ranjang rumah sakit. Aku masih saja mengurung diri dan tidak membiarkan satu orangpun mengganggu kesendirianku di dalam kamar. Tak terkecuali ayahku. Setiap kali kuingat apa yang telah terjadi, air mata kepedihan kembali membasahi pipi dan sarung bantalku. Tak mampu kuhentikan deraian air mata ini, walau telah kucoba.
Hari ke empat Ayah mencoba mengetuk pintu kamarku. Aku tahu itu Ayah, tapi aku berpura-pura tak mendengar. Aku tak menggubrisnya sama sekali, walau sesungguhnya hati kecilku terus menggedor pintu hatiku untuk membukakan pintu baginya. Karena tak kuat, aku terpaksa membuka pintu kamarku. Ayah melihat wajahku yang lusuh, mataku yang basah, dan rambutku yang berantakan. Ia memelukku dengan penuh kasih. "Ayah tahu kau bersedih, tapi kumohon jangan sampai seperti ini. Sudah empat hari kau tidak keluar kamar sama sekali, kau tidak makan pula. Ayah tak mau kau sakit, Nak." Aku tak mengeluarkan sepatah katapun padanya. Yang kuinginkan ialah ibuku. Tapi itu tak mungkin. "Makanlah sekarang." Ayah memintaku dengan tatapan mata yang lembut. Hati kecilku lagi-lagi mendorongku untuk menuruti kemauannya. Nafsu makanku hilang sejak ibuku pergi.
Aku menyendokkan nasi ke mulutku sendiri, hanya beberapa sendok. Setelah itu, aku meninggalkannya begitu saja. Perutku tak ingin menerima makanan apapun saat ini. Karena itu, aku kembali memuntahkannya setelah aku tiba di dalam kamar mandi.
Malam ini begitu dingin, membuat perutku berbunyi kelaparan. Kubuka pintu kamarku dan memutuskan untuk melangkah menuju dapur, mencari makanan. Kudapati makanan kecil di dalam kulkas, lalu kumakan hingga perutku kenyang. Setelah meneguk segelas air, kuamati cahaya lampu yang masih menyala dari kamar ayahku. Kuintip dari celah pintu yang terbuka. Hatiku hancur lebur saat melihat air mata ayahku membasahi kedua belah pipinya. Kedua tangannya memegang sebuah foto yang berbingkai indah. Itu foto ibuku. Oh Tuhan, ternyata Ayahpun sosok manusia yang rapuh, batinku menangis. Apa yang kulakukan selama ini adalah salah. Ya, salah. Aku begitu egois, tidak memikirkan bahwa ayahkupun sedih atas kepergian ibuku. Astaga, apa yang kulakukan selama ini, aku membuat ayahku khawatir akan keadaanku. Aku sama sekali tak memikirkan perasaannya. Bodoh, lagi-lagi kumaki diriku dalam hati. Aku kembali ke kamar dengan berlaksa penyesalan dalam hati.
Kubuka mataku dengan segera sebelum jam bekerku memanggilku untuk bangun. Kurapikan kamarku, lalu aku melangkah menuju kamar mandi setelah kusiapkan seragam sekolahku. Aku siap untuk menghadapi hari ini apapun keadaannya. Aku harus kuat, kusemangati diriku sendiri. Setelah siap beberes, aku menyiapkan sarapan sederhana untuk hari ini. Kubuat sarapan itu dengan penuh semangat. Roti panggang yang kutaburi meses cokelat dan susu kental. Harum sekali dan pastinya nikmat, aku membatin.
Ayahku kusapa dengan penuh senyum saat ia baru keluar dari kamarnya. Ayah sudah terlihat rapi dengan mengenakan kemeja putih bergaris hitam dan celana bahannya. Rambutnya sudah tersisir rapi, wajahnya juga tidak semurung kemarin malam. "Pagi, Ayah," sapaku dengan ceria. Setidaknya aku harus menunjukkan padanya bahwa aku sudah tidak lagi terhanyut dalam kepedihan, walau sejujurnya itu hanyalah topeng.
Ayah tersenyum melihat senyumku mengembang. "Pagi, Nat. Kau sudah siap berangkat ke sekolah?" tanya Ayah sambil merapikan dasinya.
"Iya, Yah," jawabku sambil mengangguk.
"Berangkatnya bareng Ayah ya." Lagi-lagi kuanggukkan kepalaku. "Makan, Yah." Kupersilakan Ayah menikmati sarapannya yang telah selesai kusiapkan. Aku duduk di hadapan Ayah, kami menyantap sarapan bersama. Rindu sekali momen seperti ini. Apalagi kalau ada Ibu di antara kami. Uh, aku masih merindukannya.
Tak kusangka kalau pihak sekolahpun tahu bahwa ibuku sudah tiada. Dan mereka turut sepenanggungan, katanya. Aku hanya mengucapkan rasa terima kasihku pada mereka, tapi aku yakin bahwa mereka takkan bisa memahami perasaanku.
"Mau ke kafetaria?" Davin bertanya saat aku tengah melangkah menuju luar gerbang sekolah. Ia tengah mengendarai motornya.
Aku menoleh ke arahnya, tersenyum sebentar, lalu menjawab, "Ya, untuk mengajukan surat pengunduran diri."
"Naiklah, kita ke sana sama-sama." Aku duduk di jok belakang, membiarkan angin sore meniup wajah dan rambutku.
Kurasa tak sampai lima belas menit, kami sudah sampai di kafetaria milik keluarga Davin. Kurapikan rambutku yang berantakan, lalu kami berdua melangkah masuk ke kafetaria. "Akhirnya kau datang juga, Nat. Aku turut sepenanggungan atas kepergian ibumu." David segera menyambutku dengan jabatan tangannya.
Kusambut jabatan tangannya itu. "Ya, terimakasih," ucapku lirih. "Eum... ada yang ingin kubicarakan hari ini. Karena itu, aku datang kemari."
"Hmm, masuklah ke kantorku. Davin, kau langsung bekerja ya."
"Ya, ya, aku tahu." Davin segera mengganti seragamnya di kamar ganti pria.
Sementara aku dan David melangkah bersama menuju kantornya. Jantungku berdebar kencang saat hendak mengajukan surat pengunduran diri. Saat David membukanya dan membaca surat yang kubuat semalam, ia hanya menghela nafas. "Jadi, kau ingin mengundurkan diri karena kau ingin fokus pada pelajaran dulu?"
"Ya, kurang lebih begitu."
"Hmm, ya, kurasa kau memang harus fokus pada pendidikan terlebih dahulu." Ia tersenyum. Kupikir ia akan marah, ternyata berbeda sekali dengan apa yang kubayangkan. Tapi kalau marah, apa haknya ia marah? Ah, aku yang terlalu berlebihan memikirkan reaksinya. "Baiklah," katanya. Ia mengambil amplop cokelat yang disimpannya di laci brankasnya. "Ini gajimu." Kuterima amplop cokelat itu. "Kalau kau mau kemari, kau boleh kemari. Tempat ini terbuka untukmu kok." Ia tersenyum. Kubalas senyumannya.
"Terimakasih, Kak."
"Hei, jangan mentang-mentang kita sudah putus kau jadi kembali memanggilku dengan embel-embel 'kak'. Aku tak suka kau memanggilku seperti itu."
"Ya, baiklah... terimakasih, David."
"Nah, itu yang aku mau. Terimakasih kembali, Renata. Aku sungguh berterimakasih karena kau mau membantu di sini walau hanya sebentar. Kupikir, kau pegawai yang paling rajin di sini."
"Terimakasih untuk pujiannya."
"Aku bukan memujimu, tapi aku mengatakan berdasarkan fakta."
"Ya, terimakasih untuk semuanya di sini."
David tertawa dan mengusap kepalaku sebentar. Dan dari kejauhan, Davin menyaksikannya dengan pandangan yang sinis tanpa kusadari.
TO BE CONTINUED...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar