Jarum pendek pada jam dinding rumahku menunjuk ke angka 9. Sementara jarum panjangnya menunjuk ke antara angka satu dan dua. Sudah malam. Mungkin sebentar lagi sudah waktunya untuk menutup kedua mataku di kamar tidurku. Selagi aku menyandarkan diri di atas sofa ruang tengah seperti biasanya, ponselku berdering. Ada satu panggilan masuk dari... Abel. "Halo." Tanpa berpikir dua kali aku segera mengangkatnya dengan riang gembira.
"Hai, Lir. Lagi apa?" tanyanya berbasa-basi.
"Eum, lagi nonton aja nih. Lo sendiri?"
"Baru pulang dari latian."
"Malem banget. Jangan sampe kecapekan lho. Lo udah makan?"
"Udah kok. Lo udah?"
"Udah tadi."
"Emmm... oh ya, gue mau kasih kabar soal kepastian hari Sabtu nih. Hmm... Sabtu ini gue bisa sih, tapi mungkin agak siang, gapapa?"
"Gapapa kok. Jam berapa?"
"Mungkin sekitar jam satu gitu. Lo bisa?"
"Bisa kok. Sabtu ini gue free."
"Oh, baguslah. Gue jemput lo ya."
"Oke, gue tunggu."
"Ngomong-ngomong, mau ke mana nih?"
"Ke mana ya? Gue juga belom tau nih. Ada ide?"
"Hmmm... ke Ancol yuk. Mau gak?"
"Boleh aja sih."
"Oke deh, kalo gitu sampe ketemu hari Sabtu ya."
"Sip."
"Good night." Abel melantunkan salam.
"Night," balasku singkat.
Dari pagi aku sudah mempersiapkan segalanya. Mulai dari baju yang akan kukenakan, rambut akan kuapakan, tas yang akan kubawa, sepatu yang akan kupakai, semuanya sudah kuatur sedemikian rupa. Dan tanpa terasa, sudah hampir saatnya aku mulai berias. Sudah jam setengah dua belas lewat tujuh belas menit. Aku bergegas mengganti pakaianku, lalu mulai merias di depan cermin di dalam kamarku. Pertama, dimulai dari rambutku. Kuputuskan untuk mengikat semua rambutku ke belakang sehingga seluruh wajahku bisa terlihat. Dan terakhir adalah bibirku, kupoles dengan lip balm rasa cherry yang kusimpan di dalam laci meja riasku. Aku siap untuk berangkat dan kutunggu kedatangan Abel di ruang tengah.
"Buset, rapi amat. Mau kencan ya?" tanya Axel yang melihat penampilanku hari ini.
"Gak bisa dibilang gitu juga sih." Aku berusaha menghindar dari ledekannya.
"Halah, mau kencan bilang aja. Gak usah ditutup-tutupin. Lo kira, gue mau ngeganggu acara lo? Gak bakal deh. Gue udah punya acara sendiri hari ini."
"Oh ya? Mau ngapain lo emangnya?"
"Gue mau ke rumah temen gue, mau maen bareng di rumahnya."
"Oh, bagus deh."
"Jangan lupa oleh-oleh ya."
"Oleh-oleh? Gak ah, gak punya duit."
"Beuh... kencan bisa, tapi beliin oleh-oleh gak mau. Pelit."
"Biarin. Lo 'kan juga gitu."
"Eits, gue gak pelit ya. Buktinya kemaren-kemaren gue nraktir lo makan sepuasnya."
"Itu mah karena emang lo lagi baek. Coba kalo lagi pelit, pelitnya setengah hidup."
"Tuh 'kan, gak tau berterima kasih. Kebiasaan deh."
"Iya, iya, apa kata lo dah, Xel."
Sudah jam satu lewat lima menit dan Abel belum juga muncul. Apa ia masih sibuk ya? Kuputuskan untuk menunggunya. Mungkin sedang di jalan, begitu pikirku pada mulanya. Tapi setelah dibuat satu jam menunggu, aku mulai tak sabar dan kuputuskan untuk menghubungi telepon genggamnya. Sayangnya, tidak bisa dihubungi. Kesal? Pasti! Ini sudah lewat dari jam perjanjian. Masa aku harus terus menunggu di sini seperti orang bodoh? Aku nggak mau!! Abel tidak juga datang, padahal sudah sore. Sudah hampir jam empat. Huh, aku semakin pesimis dan semakin sebal menunggu. Takkan kulupakan ini, ujarku geram.
Sampai malam kutunggu pun, Abel tak kunjung menampakkan batang hidungnya di hadapanku. Aku betul-betul kecewa padanya. Masih mending kalau ia memberi kabar padaku, tapi ini sama sekali tidak. Apa-apaan ini, makiku dalam hati. Sepanjang malam ini aku memasang wajah cemberut di rumah. Tidak jadi pergi dan ini semua menjengkelkan.
Liburan sekolah hampir usai. Dan kesimpulan yang kuambil adalah bahwa liburan kali ini hanya sedikit berkesan. Aku amat sangat bersyukur karena akhirnya bisa kembali melakukan aktivitas di sekolah bersama teman-teman. Aku bosan di rumah terus sepanjang liburan. Hari terakhir libur Abel datang ke rumah untuk bermain dengan Axel karena memang sudah lama tidak bermain bersama. Aku yang masih jengkel karena menunggu beberapa hari yang lalu memutuskan untuk mendiamkannya. Aku takkan bersuara di hadapannya, itu janjiku pada diriku sendiri, sampai ia menyadari kesalahannya dan meminta maaf. Terdengar egois memang, tapi apa ia tidak berpikir bahwa menunggu itu mengesalkan?! Huh!
"Eh, bentar, Bel. Gue mau ke WC dulu. Kebelet gue."
"Sip." Abel menghampiriku yang sedang berada di ruang tengah seorang diri sambil menonton televisi dengan wajah cemberut. "Gak jalan-jalan, Lir?" tanyanya seolah tidak terjadi apa-apa. Jelas saja aku takkan menjawab pertanyaan ini. Aku sudah janji untuk tidak bicara sepatah katapun padanya. "Lira?" Pura-puranya aku ini tuli dan bisu. Abel menghela nafas. "Kenapa sih, kok tiba-tiba ngediemin aku kayak gini?" Astaga, orang ini nggak sadar juga? "Emang aku bikin salah apa?"
Terang saja pertanyaan ini membuatku meledak-ledak. "Lo nggak nyadar ya, lo bikin salah apa sama gue, Bel?"
"Lah? Lo gak ngomong, mana gue tau, Lir?"
"Ih, parah ya lo! Kemaren lo ke mana, Bel?"
"Gue latian sama temen-temen gue."
"Oh, latian. Sampe jam berapa?" tanyaku sinis.
"Sampe jam setengah dua."
"Terus habis latian, lo ke mana?"
"Pergi makan-makan sama temen-temen gue. Kenapa sih? Kok kayak polisi gitu sih, diinterogasi."
"Lo masih nanya kenapa? Ck ck ck... lo punya penyakit pikun ya?"
"Maksud lo?"
"Woi, lo inget gak sih, kemaren kita janjian mau pergi jalan-jalan ke Ancol?" Aku mulai naik pitam.
Abel melotot sambil menepuk dahinya. "Astaga, gue lupa! Sori, sori banget, Lir. Gue bener-bener lupa soal itu."
"Enak banget ya, lo bilang sori. Lo kata enak disuruh nunggu berjam-jam? Untung gue nunggunya di rumah. Coba kalo gue nunggu di Ancol sendirian, bisa disangka orang bego gue."
"Beneran, Lir, gue minta maaf soal kemaren. Asli, gue lupa. Serius." Aku tak meresponinya. "Gini deh, besok 'kan kita udah sekolah. Hmmm... pulangnya kita jalan-jalan deh, gimana? Yah, sebagai ganti kemaren."
Aku membisu sebentar, lalu mencoba meresponinya. "Tapi gak pake telat ya?"
"Tenang aja. Kalo kita jalannya habis pulang sekolah, pasti gak bakal lupa. Besok gue yang ke kelas lo deh."
"Janji?"
"Iya." Kali ini, aku benar-benar plong mendengarnya. Semoga ia tidak mengingkarinya lagi, harapku dalam hati. Seiring selesainya permasalahanku dengan Abel, Axel keluar dari kamar mandi dengan wajah lega.
to be continued...
10/08/2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar