10/08/2009

Between Girl and Boy 12

Kubiarkan Axel berdiam diri di dalam kamarnya beberapa hari ke depan karena aku paham bagaimana perasaannya. Hancur tanpa sisa. Hati siapa yang tidak hancur melihat pacarnya sendiri berselingkuh di belakangnya? Ini pengalaman tergila yang pernah kutemukan. Dan kuanggap bahwa cewek itu memang bukan cewek benar.
Hari ini Abel tidak datang ke rumah karena ada urusan yang perlu ditanganinya. Jadi, aku juga takkan memaksakannya datang kemari. Aku kembali terduduk di ruang tengah, di atas sofa sambil menonton televisi seperti biasa. Liburanku sedikit berkesan, tapi tidak terlalu mengesankan. Kucoba untuk menghubungi sahabatku, tapi telepon genggamnya tidak aktif. Semakin membosankan, keluhku sambil mencoba menikmati acara televisi yang itu-itu saja setiap harinya.
Aku tak sadar kalau Axel tengah melangkah menuruni anak-anak tangga. Rambutnya berantakan, wajahnya pun demikian. Dan dengan penampilannya yang paling kacau, ia menghampiriku. "Lir, jalan yuk!" ajaknya tiba-tiba. Aku kaget dan menoleh. Tidak salah dengar nih, sentakku dalam hati. "Gue traktir lo deh, pake gaji pertama gue. Mau gak? Kalo gak mau, ya udah. Gue ajak yang laen aja." Axel hendak berlalu meninggalkanku.
"Eh, eh, Xel." Aku mencegahnya sambil nyengir kuda. "Gak mungkin gue nolak ajakan lo dong. Apalagi kalo gue ditraktir. 'Kan jarang-jarang tuh, gue ditraktir sama lo, Xel."
"Dasar lo, mau ngatain gue pelit gitu?"
"Ya, bukan gitu juga sih, Xel." Kembali aku menunjukkan gigi-gigi putihku nan lucu. "Terus mau ke mana nih?" tanyaku mengembalikan topik pembicaraan semula.
"Yang pasti cari makan. Gue laper berat. Mandi dulu ah. Bau gue."
"Baru nyadar, Pak?" ledekku iseng.
"Oh gitu ya. Ya udah, gak jadi gue traktir."
"Eh, iya, iya, iya. Ampun, Xel. Gak bermaksud." Senang juga karena setidaknya Axel bisa diajak bercanda lagi. Semoga ini pertanda baik, harapku dalam hati.

Axel mengajakku makan di Pizza Hut. Yummy, pekikku kegirangan dalam hati. "Nah, lo boleh pesen apa yang lo mau. Tapi inget budget ya."
"Siap, Bos." Kuberi hormat padanya dengan gaya selucu mungkin. Kuharap, dengan begini ia bisa lebih terhibur. "Xel, gue mau sop, salad, pizza, garlic bread, spaghetti..."
"Woi, woi, lo gila ya? Emang lo bisa habisin semuanya?"
Aku cuma nyengir, lalu menjawab, "Ya, nggak sih."
"Pesen secukupnya. Ntar kalo mau nambah, tinggal pesen lagi. Mubazir tau, kalo sampe gak habis."
"Iya deh." Aku segera memutuskan apa yang mau kupesan. "Lo mau yang mana, Xel?" tanyaku saat bingung memutuskan.
"Apa aja. Gue mah pemakan segala jenis makanan halal." Geli juga mendengarnya.
Selagi menunggu, aku lebih memilih untuk diam dan membungkamkan mulutku. Kusingkirkan segala jenis pertanyaan yang menumpuk di benakku. Lebih baik aku tak bertanya apa-apa daripada harus merusak suasana yang mulai kembali ceria.
"Lir, Abel mana?" tanyanya mendadak.
Aku segera menjawabnya. "Eum... katanya, hari ini gak bisa dateng. Soalnya mau ngurusin sesuatu gitu, entah apa. Kenapa? Kangen lo sama dia?" godaku lagi.
"Bukannya kebalik tuh?" Sial, godaanku malah berbalik arah padaku. Senjata makan tuan. "Ngomong-ngomong, lo berdua pacaran?" Deg! Kenapa tiba-tiba ia menanyakan hal ini ya, batinku ragu.
"Dibilang pacaran nggak, dibilang nggak pacaran juga nggak. Kenapa, lo cemburu?"
"Gue? Cemburu? Lo kata gue homo?"
"Yaa, siapa tau gitu. Di balik kegagahan seorang Axel, ternyata dia..."
"Gak jadi gue traktir ah."
"Bercanda, Xel. Lo mah maenannya ngancem mulu."
"Bercanda, Lir. Lo mah maenannya ngambek mulu."
"Huh!" Sebal aku, gerutuku.
"Yah, ngambek beneran. Masa iya gue mesti minta mbak yang itu bikinin balon buat lo, Lir?"
"Gue mau balon."
"Woi, sadar umur."
"Gak peduli. Pokoknya gue mau balon."
Axel menghela nafas. "Adik gue yang satu ini kalo lagi manja, manjaaaa banget. Capek gue jadinya."
"Biarin. 'Kan lo yang bikin gue ngambek, tanggung jawab dong."
"Iya, iya." Axel bangkit dari tempat duduknya dan dengan menahan segala rasa malunya, ia memintanya. Sementara aku mengeluarkan segala rasa kegelian di perutku melihat tingkahnya. Puas rasanya mengerjainya.
Begitu Axel kembali, aku berhenti tertawa. "Mana balonnya?"
"Sabar. Mbaknya ntar ke sini buat bikinin lo balon. Childish banget sih."
"Biarin. Gini-gini juga adik lo. Lo mesti tanggung jawab dong, udah bikin gue kesel."
"Terserah lo deh." Mbak yang tadi dimintai Axel untuk membuatkan balon mendekati meja kami.
"Permisi, Kak. Tadi Kakak yang minta balon ya?" tanyanya sopan sambil tersenyum ramah.
"Eum, bukan saya, Mbak. Tapi anak satu ini."
"Oh iya. Saya buatkan ya." Dengan lincah ia membuat balon unik untukku. Hebat. "Buat pacarnya ya, Kak?" goda mbak itu.
"Eh, bukan, Mbak. Dia adik saya." Buru-buru Axel mengelak.
"Oh..." Ia tersenyum. "Nah, sudah selesai. Ada lagi?"
"Nggak, gak ada lagi." Axel menjawab buru-buru sebelum aku membuatnya lebih malu lagi.
"Kalau gitu, saya permisi." Lagi-lagi ia menunjukkan senyuman ramahnya.
Aku nyengir. "Makasih ya, Xel."
"Iya, makasih juga udah bikin gue malu."
"Aduh, jangan gitu dong. 'Kan adikmu ini hanya ingin bersenang-senang sedikit."
"Puas lo sekarang?"
"Belom sih, tapi gue kasian sama lo. Ntar kalo gue bikin lo lebih malu lagi, gue juga yang kena batunya."
Pesanan datang dan kami menyantapnya bersama. Enak sekali, apalagi kalau perut sedang lapar. Semakin nikmat saja hidangan ini. "Wah, gue masih laper nih. Pesen lagi dong, Lir." Axel tengah mengunyah pinggiran pizza yang ada di piringnya. Kupesankan beberapa pizza lagi untukku dan untuk Axel. Dan tak lama, pesanan ke dua kami tiba. Langsung saja kami menyerbunya sebelum perut terlanjur kenyang.

Kuceritakan semuanya lewat telepon pada Abel mengenai hari ini. Dan Abel merespon positif. "Syukur deh, Lir. Salam ya, buat Axel. Mungkin besok gue bisa maen ke rumah lo, tapi gue belom bisa janji sih. Takutnya besok gue mesti ngurusin ini-itu lagi."
"Oh, emang urusan apa sih?"
"Eum... jadi tuh, gue mau bikin band gitu sama temen-temen gue. Dan supaya band ini diakui, kita mesti bikin proposal ini-itu, terus harus jelas kegiatannya, jadwal latiannya juga harus jelas. Pokoknya sibuk banget deh."
"Oh, good luck ya, Bel."
"Iya, thanks banget, Lir."
"Emmm... Sabtu lo juga sibuk ya?"
"Mungkin. Emang kenapa?"
"Pengen jalan sama lo. Tapi kalo lo gak bisa juga gapapa."
"Gue usahain deh. Atau lusa gue kasih kabar kepastiannya, gimana?"
"Oke. Gue tunggu ya."
"Sip."

to be continued...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar