Hampir dua minggu aku benar-benar mendiamkan Axel, demikian juga Axel. Ia memintaku untuk tidak mencampuri urusannya, jadi aku memilih untuk diam. Abel juga ikut diam karena merasa tak berhak tahu persoalan sahabatnya itu. Kami berdua bingung, tapi tak mampu melakukan apapun untuk memecahkan batu kebingungan itu. Uh, sebal!!
Tak seperti biasanya, hari ini Axel tetap di rumah walau jarum pendek pada jam di dinding rumahku menunjuk ke angka delapan. Tumben, kataku dalam hati. Aku ingin bertanya, tapi kukurungkan niatku itu. Jam setengah sepuluh lewat dua belas menit Axel mengeluarkan mobil dan pergi entah ke mana. Sementara aku hanya terduduk di ruang tengah seorang diri. Abel tidak lagi main kemari sejak kuceritakan puncak kemarahan Axel tempo hari. Sisa liburanku jadi kembali membosankan. Rasanya aku malas menjalani hari liburku yang seperti ini. Ini sungguh menyedihkan.
Mobil Axel terparkir rapi di depan rumah Vira yang tampak sepi. Hanya ada sebuah mobil sedan yang terparkir di dalam garasi rumahnya. Axel menekan bel rumah Vira dan tampak sesosok perempuan berbando ungu di depan daun pintu rumah. "Axel?" Ia tampak kaget melihat kehadiran pemuda tampan bernama Axel ini.
"Vira..." Senyumnya mengembang melihat Vira di depan matanya. "Kamu baik-baik aja 'kan?" tanyanya.
"I-iya kok. Kamu ngapain ke sini?"
"Mau jenguk kamu. Aku boleh masuk, Vir?" Vira membuka pagar rumah dan Axel segera memeluknya saat tak ada lagi penghalang antara dirinya dengan Vira, perempuan yang begitu disayanginya. "Aku seneng banget bisa ketemu kamu," begitu katanya. "Oh iya, sekarang aku udah kerja dan ini gaji pertama aku. Kamu pake aja ya." Axel melanjutkan.
"Eum... makasih, Xel, tapi..." Baru saja Vira ingin melanjutkan kalimatnya, seseorang muncul di belakang Axel. "Sayang, sori banget aku bikin kamu nunggu lama. Eh... ada temen kamu ya, Yang?" tanyanya sambil berjalan mendekati Vira. Kembali Vira melanjutkan kalimatnya yang sempat terpotong tadi. "Xel, maafin aku karena aku gak bisa terima ini." Vira mengembalikan sebuah amplop cokelat yang tadi Axel berikan padanya. "Ini calon suami aku... bentar lagi aku akan nikah dan..." Air mata mengalir di wajah Vira. Sementara Axel hanya terbengong mendengar pengakuan yang begitu mengejutkannya. Apa lagi ini?!
Jujur, aku prihatin melihat kondisi Axel yang kian memburuk. Ia jadi lebih suka mengurung diri di dalam kamar dan tidak mau keluar sedetikpun. Aku jadi kebingungan dan aku tak tahu apa yang harus kulakukan untuk menghiburnya. Apa lebih baik kalau kutelepon... "Bel..." Aku terisak begitu memanggilnya di telepon. Dan malam itu berakhir begitu saja.
Kedua mataku terlihat sembap dan bengkak. Semalaman aku menangis di dalam kamar. Dan hari ini aku berharap segalanya bisa terselesaikan. "Yang penting, jangan emosi." Abel mengingatkanku saat kami berada di dalam mobilnya.
"Semoga nggak emosi...," desisku pelan. Mobil Abel melaju kencang menuju suatu tempat yang menjadi tujuan utama kami.
Abel menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah yang tak pernah kukunjungi sebelumnya. Aku langsung turun dan menekan bel rumah tersebut. Sebelum aku benar-benar bertemu dengna pemilik rumah, aku menarik nafas panjang lalu menghembuskannya kembali. Semoga semuanya lancar. "Vira, ini Lira." Kuucapkan salam pembuka sebelum Vira membukakan pagar rumahnya.
"Eh, hai, Lir. Kenapa nih?" tanyanya sambil membukakan pagar.
"Boleh ngobrol?" Nada bicaraku masih terdengar ramah, walau sebenarnya hatiku mendidih.
"Silakan." Ia mengajakku dan Abel untuk masuk ke dalam rumahnya. Rumahnya cukup besar dan mewah. Banyak sekali piala yang terpajang di lemari kaca yang berada di ruang tamu. "Mau minum apa?"
"Gak usah repot-repot. Gue ke sini juga gak lama-lama kok." Kusunggingkan senyumku. Aku masih bisa bersabar nih.
"Eum... kalo gitu, mau ngobrolin apa nih? Kok keliatannya serius banget."
"Tentang Axel, kakak gue. Lo tau sesuatu tentang dia?" Aku bisa membacanya, air muka Vira seketika itu juga berubah drastis. "Vir, lo tau, kenapa belakangan ini dia jadi berubah?"
"Eh, sori banget, Lir, gue lagi gak mau ngomongin soal... Axel."
"Kenapa? Lo berdua berantem?"
"Bukan... eum..."
Aku mulai tak sabar dan akhirnya nada bicaraku mulai tegas. "Dia berubah karena lo?" Vira tak menjawabnya. "Lo tau selama ini dia pergi pagi pulang malem?" Sepertinya ia tak tahu tentang itu. "Lo tau apa yang dia lakuin?" Perempuan yang sejak tadi membisu itu hanya menggeleng. "Dia kerja sambilan. Dan lo tau kenapa dia kerja sambilan?"
"Gue gak tau apa-apa, Lir." Setelah lama membisu, akhirnya ia mulai angkat bicara.
"Jadi lo juga gak tau apa yang bikin Axel sampe gak mau keluar dari kamarnya?"
"Gue bilang, gue gak tau apa-apa."
"Kalo gitu, biar gue kasih tau ya. Dia kayak gitu karena lo!"
"Apa salah gue? Gue gak berbuat apa-apa kok."
"Brengsek lo, Vir!" makiku yang tak bisa lagi menguasai kemarahanku. "Gara-gara lo putusin Axel, dia jadi berubah. Habis lo bilang putus, lo dateng ke rumah gue dan nangis-nangis di depan Axel buat minta balik, tapi apa yang lo lakuin? Lo jalan sama cowok lain 'kan? Lo tuh bener-bener cewek paling brengsek yang pernah gue temuin, tau gak?" PLAK!!! Vira menampar pipiku.
"Jaga ucapan lo!"
"Lho? Gue gak merasa salah dengan ucapan gue. Emang kenyataannya begitu 'kan? Gue nyesel bisa kenal sama lo. Lo bener-bener memalukan kaum cewek!" Mulutku tak bisa kukuasai lagi. Rasanya kekesalan ini membuatku semakin sembarangan berkata-kata. Vira tak membalas lagi. Yang dilakukannya hanyalah menangis dan menangis. Cih!
to be continued...
9/16/2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar