9/09/2009

Between Girl and Boy 8

Axel terduduk lemas di sofa ruang tengah dengan pandangan kosong ke depan. Aku baru saja selesai mandi sore ini dan kembali menuju ruang tengah yang sepi. "Xel, kenapa lo?" tanyaku sambil menyikut bahunya. Tak biasanya ia diam seperti ini. Biasanya aku pasti jadi bahan cemoohannya tiap menit, sampai-sampai aku tak tahan berada di dekatnya.
"Hm... nggak papa kok. Emang gue kenapa?" tanyanya balik dengan ekspresi yang tengah menyembunyikan sesuatu dariku, adik kandungnya sendiri.
"Alah, gak usah pura-pura deh. Lo lagi punya masalah 'kan?"
"Kagak kok. Sotoy lo," makinya lagi.
"...gue ini bukan anak kecil yang bisa lo bego-begoin. Dari tampang lo keliatan kok, lo lagi ada masalah. Ceritalah, Xel. Gue 'kan adik lo, masa gue ga boleh sih, jadi tempat penampungan curhat lo? Padahal selama ini kalo ada apa-apa, gue suka cerita ke lo 'kan?"
Cowok bertampang lusuh itu menoleh ke arahku. "Ya itu 'kan salah lo sendiri, Lir. Siapa suruh cerita-cerita ke gue? Gue gak minta lo cerita 'kan?"
Jujur, aku sedikit merasa tersinggung saat kakakku yang sebenarnya aku sayangi bilang begitu, tapi yah, mungkin dalam hal ini aku tak boleh ikut campur. Ya sudahlah, aku akan diam dan membiarkannya untuk sesaat. Aku mulai mencari kesibukan di ruang tengah selain menonton televisi. Kubongkar majalah-majalah yang menumpuk di dalam rak dan mencoba mencari-cari resep makanan yang unik untuk dicoba.
"Gue sama Vira putus, Lir." Satu kalimat yang tiba-tiba terlontar dari bibir Axel cukup membuatku syok seketika.
"Putus? Kapan?"
"Dua hari yang lalu."
"Dia mutusin lo atau..."
Axel tersenyum pahit. "Gak mungkin gue mutusin dia, Lir. Gue sayang banget sama dia."
"Jadi dia yang mutusin lo?" Ia menganggukkan kepalanya, membenarkan dugaanku. "Alasannya?"
"No reason." Gokil, seruku dalam hati. "Sampe sekarang gue juga belom tau kenapa dia mutusin gue. Waktu itu gue udah sempet nanya ke dia, tapi dia bilang kalo dia gak bisa kasih tau alasannya ke gue. Tapi gue rasa, dia mutusin gue karena dia udah punya yang laen. Yah, intinya sih, dia ada maen di belakang gue."
"Gila juga tuh cewek. Eum... tapi, Xel, boleh gue jujur?"
"Apa?" Nada bicaranya melemah dan ini untuk pertama kalinya ia seperti ini.
"Lo inget 'kan, gue pernah cerita ke lo soal kisah pasangan yang hot banget di mal waktu itu?" Dua kali Axel menganggukkan kepalanya. "Tampang ceweknya mirip dia...," desisku pelan.
Axel menghela nafas dengan berat. "Mungkin dugaan gue emang bener ya." Aku tak menyangka kalau ternyata cinta itu bisa melemahkan seorang seperti kakakku. Hebat juga.
"Udahlah, Xel, cewek gak cuma dia doang. Masih banyak cewek yang lebih baik dari Vira. Lagian sekarang lo udah tau 'kan, belangnya dia kayak apa. Mendingan cari yang lain aja, Xel."
"Ngomong sih, gampang, Lir. Ngelakuinnya yang susah." Iya sih, aku ikut membenarkan dalam hati.

"Hai, say, ada apa nih, tiba-tiba manggil aku ke sini?" Cowok berkemeja biru itu mengecup pipi cewek yang sudah lama duduk di meja nomor 12 yang ada di sudut kafe, setelah itu baru ikut duduk di hadapan si cewek.
Jantung cewek berambut panjang itu berdegup begitu kencang. Gugup. "Eh, Nik, aku perlu ngomong sama kamu. Maksudku, ada yang mau aku ngomongin ke kamu."
"Oh ya, mau ngomong apa? Ngomong aja, aku dengerin kok."
Ia membetulkan posisi duduknya untuk melepas ketegangannya sedikit. "Pertama... aku mau kasih tau kalo akhirnya cowok itu udah nggak akan ngeganggu aku lagi..."
"Oh, itu bagus. Karena aku gak suka kalo dia deketin kamu. Terus?"
"Yang ke dua..." Cewek itu semakin gugup. Kedua tangannya saling meremas. Keringat dingin membasahi kedua telapak tangannya.
"Apa?" Sepertinya cowok ini tak sabar untuk mendengar kabar yang akan pacarnya sampaikan.
"Niko... aku hamil..." Suaranya terdengar berat, ia hampir menangis saat mengucapkan kalimat terakhir ini.
"Bohong." Dengan enteng, cowok bernama Niko ini mengelak. "Kamu jangan suka bercanda kayak gini, Vir. Aku nggak suka lho."
Cewek itu menggeleng mantap sambil berujar, "Aku nggak bohong, Nik. Aku nggak lagi bercanda." Air matanya mulai membasahi kedua pipinya.
"Vira, jangan main-main kamu. Kamu tau 'kan, aku lagi punya banyak masalah dan aku gak mungkin nikahin kamu karena kamu hamil kayak gini." Niko mulai cemas dan sesaat ia terdiam untuk berpikir. Sementara pacarnya, Vira, hanya terisak menantikan pertanggungjawaban dari sosok Niko. "Oke, aku putuskan untuk gugurin kandungan itu." Vira terhenyak mendengar keputusan gila yang dibuat pacarnya.
"Kamu gila ya!? Ini anak kamu juga, Nik."
"Eits, belom tentu 'kan? Aku gak yakin kalo itu murni anak aku. Bisa aja 'kan, itu anak cowok lain yang pernah tidur sama kamu."
PLAAAKKK!!! Spontan, tangan Vira melayang dan sebuah tamparan kencang mendarat di pipi Niko, ayah dari janin yang tengah dikandungnya. Setelah itu, ia pergi meninggalkan kafe sambil menutupi wajahnya yang basah akan air mata.

Bel rumahku berbunyi berkali-kali. Saat pintu sudah dibukakan, tiba-tiba Vira muncul di ruang tengah dengan wajah berantakan di hadapan kami, aku dan Axel. Terang saja itu membuat Axel terkejut sekaligus marah. "Ngapain kamu ke sini lagi?" tanyanya ketus.
Vira langsung berlari dan memeluk kakakku sambil terus terisak. Tak ada satu katapun yang terucap saat itu. Axel yang tadinya mencoba untuk bersikap dingin, segera luruh saat Vira memeluknya. Ia menenangkan mantan pacarnya setelah menyuruhku meninggalkan mereka berdua. Aku tak setuju, tapi semoga saja tidak terjadi sesuatu yang mengacaukan.
"Vira, tenang... kamu kenapa?" Nada bicara Axel melembut. Sedapat mungkin ia menenangkan mantan kekasihnya yang sesungguhnya ingin dilupakannya.
"Axel... maafin aku... aku bener-bener minta maaf karena aku udah ninggalin kamu...," katanya sambil terisak. "Aku nyesel banget..." Axel sepertinya tak tahan dengan permintaan maaf Vira ini.
"Iya, aku udah maafin kok... kamu jangan nangis lagi ya."
Vira mulai mencoba untuk tenang dan mereka berbincang di ruang tengah berdua.
"Sebenernya ada apa sih? Kok kamu nangis?" Axel mulai bertanya baik-baik saat Vira mulai tenang.
"Xel, sebenernya ada yang aku sembunyiin dari kamu..."
Deg! "Soal apa?" tanyanya ingin segera tahu.
"Banyak... dan aku yakin, kalo aku cerita, kamu pasti gak akan maafin aku."
Axel menahan nafas sejenak, berpikir, lalu mulai angkat bicara. "Aku mau denger."
"Tapi aku mohon, jangan marah..."
"Bilang aja."
"Waktu kita masih jadian, aku... aku emang selingkuh." Axel tidak begitu terkejut soal ini karena memang dirinya sudah menduga-duga sebelumnya. Dan ternyata dugaannya 100% tepat. "Terus... sekarang aku... aku hamil..." Tidak ada yang bisa menggambarkan bagaimana perasaan Axel saat mendengar kabar itu. Hancur berkeping-keping, bahkan tak berbentuk lagi.

to be continued...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar