9/14/2009

Between Girl and Boy 9

"Axel mana, Lir?" tanya Abel saat datang bermain ke rumahku. Ia sedang duduk tepat di sebelahku di sofa ruang tengah.
"Gak tau, dari pagi gak keliatan. Emang dia gak bilang apa-apa ke lo, Bel?" Sedikit sedih menerima kenyataan ini, aku dan Abel pacaran tapi tak seperti orang pacaran. Tidak pernah ada satu kata manis yang keluar dari bibir Abel, begitu pula aku. Tak mungkin aku yang memulai 'kan? Tengsin!
"Nggak sih. Dia juga gak bilang apa-apa ke lo?" Abel balik bertanya dan kujawab dengan sebuah gelengan pelan. Sebenarnya sih, aku tak begitu peduli soal kakak laki-lakiku yang satu itu. Kupikir, ia sudah cukup besar untuk menjaga dirinya baik-baik, jadi buat apa dikhawatirkan lagi? "Eum, mau jalan-jalan?" tawarnya mengganti topik pembicaraan.
"Eh, ke mana?" Tumben sekali, gumamku senang.
"Ya, ke mana aja yang lo mau. Lo maunya ke mana?"
"Ke mal, cari baju." Aku nyengir kuda.
"Ya udah, gue temenin." Aku buru-buru ke kamarku dan mengganti pakaianku. Ini kencan ke duaku, tuturku di depan cermin. "Udah?" tanyanya saat kedua matanya menangkap sosokku yang sedang menuruni anak tangga dengan lincah.
"Yap," jawabku mantap. Aku memakai kaos bergaris dan celana jins hitam panjang bermerk T2000.
Dengan mobil jazz biru milik Abel, kami berdua pergi menuju tempat tujuan. Jalanan sepi sekali karena sedang libur panjang. Jadi, pasti banyak yang berlibur ke luar negeri atau ke luar kota.
"Nelepon siapa sih? Kayaknya dari tadi sibuk amat." Aku jadi penasaran melihatnya dari tadi sibuk dengan telepon genggam pribadinya.
"Gue lagi nyoba nelepon Axel."
"Buat?"
"Lah, emang lo gak khawatir sama kakak lo sendiri, Lir?"
"Ya ampun, dia bukan anak kecil lagi kali. Ngapain dikhawatirin sih?" Aku mulai kesal karena... cemburu? Oh bukan, nggak mungkin aku cemburu cuma gara-gara begituan. Childish sekali.
"Emang sih, tapi..."
"Ya udahlah. Gak usah ngebahas begituan lagi." Kupotong kalimat Abel dengan nada ketus. Dan kami berdua sama-sama terbungkam.
Aku memutuskan untuk berpura-pura, seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya. Aku ingin menikmati kencan ke duaku ini dengan Abel. Banyak pasangan yang kutemukan di dalam mal ini. Dan salahkah aku kalau aku iri melihat kebanyakan dari mereka terlihat dekat sekali dengan pasangannya masing-masing? Kubandingkan dengan diriku, aku dan Abel malah lebih terlihat sebagai teman biasa. Kami berjalan berjauh-jauhan, seperti sedang saling menghindar. Uh, lama-lama kesal juga menghadapi kenyataan pahit ini.
"Eh, liat deh, Bel. Bajunya bagus gak?" tanyaku mencairkan suasana hening yang tercipta sejak dalam perjalanan menuju kemari.
Abel terlihat dingin dan menjawabnya hanya dengan sebuah senyuman kering.
"Cocok gak?" Kembali aku bertanya padanya, tapi ia hanya menganggukkan kepalanya satu kali dengan perlahan. Awalnya, kuacuhkan sikap dinginnya itu. Tapi lama-lama aku jadi tak tahan sendiri. Geram melihatnya. "Kenapa sih? Masih marah soal tadi ya?"
"Marah soal apaan sih?" Nada bicaranya meninggi, seolah benar-benar masih marah padaku.
"Lo masih mikirin soal Axel?"
"Gak, biasa aja."
"Bohong. Kalo biasa aja, kenapa dari tadi cemberut gitu sih?"
"Siapa juga yang cemberut? Lo kenapa sih, sentimen banget."
"Lo tuh, yang sentimen. Dari tadi keliatan lesu gitu, tapi kalo gue tanya, lo jawab gapapa. Terus nada bicaranya ngeselin banget lagi."
"Jadi, gue mesti gimana?"
"Yaaa... eh, itu 'kan..." Aku langsung tersentak saat melihat sosok seseorang yang kukenal. "Vira?" desisku kaget.
"Mana?" Abel jadi ikutan ingin melihat. "Eh, iya, itu ceweknya Axel. Dia bareng Axel?"
"Bukan, itu bukan Axel. Gue yakin banget, itu bukan Axel. Samperin aja, Bel." Aku sudah melangkah maju tiga langkah, tapi Abel langsung menghambat langkah kakiku.
"Dari jauh aja, Lir. Jangan sampe dia tau kita di sini." Kali ini, kuturuti apa katanya. Mungkin memang harus dari jauh saja. Setidaknya untuk memastikan siapa lelaki yang ada di sisinya saat ini.
"Iya, bener, itu bukan Axel. Wah, ini sih, kacau." Aku geleng-geleng kepala melihat kenyataan ini. Gila!
"Udahlah, Lir. Jangan dibuntutin terus. Udah selesai jadi mata-matanya." Abel mencegahku untuk bertindak lebih jauh. Sebal sih, tapi ya sudahlah. Aku tahu, Axel dan Vira sudah putus. Tapi firasatku mengatakan bahwa tujuan Vira datang ke rumahku semalam adalah untuk berbaikkan. Kalau memang benar untuk berbaikkan, kok sekarang pergi dengan cowok lain? Itu yang menjadi sebuah tanda tanya besar di kepalaku. Ah, pusing.

to be continued...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar