Kutunggu kepulangan kakakku yang sejak pagi tak terlihat batang hidungnya hingga larut malam. Dan memang, ia pulang kembali ke rumah. Tapi penampilannya membuatku semakin bertanya-tanya. "Habis dari mana?" tanyaku ingin tahu dengan nada dingin sambil terduduk di ruang tengah.
Axel menoleh ke arahku dan dengan wajah tanpa senyum sedikitpun mulutnya melontarkan jawaban. "Dari luar," jawabnya dengan singkat. Jelas saja itu bukanlah jawaban yang membuatku puas.
"Dari luar mana? Lo pergi dari pagi, terus pulang malem dalam keadaan dekil kayak gini. Jawab yang jujur, lo dari mana, Xel?" Aku mulai emosi menghadapinya malam ini.
Dan aku juga tidak tahu kalau Axel akan semarah ini. "Jangan ikut campur urusan gue. Soal gue habis dari mana dan habis ngapain, itu bukan urusan lo, Lir," gertaknya lantang. Gertakkannya membuatku tersentak dan seketika hatiku seakan tersayat mendengarnya. Axel langsung meninggalkanku yang berdiri mematung di ruang tengah seorang diri. Apakah aku salah memerhatikan kakak laki-lakiku satu-satunya? Seolah Axel tak menganggapku adiknya, hatiku menciut.
Axel membersihkan dirinya yang penuh daki di dalam kamar mandi dengan sabun hingga ia terlihat bersih kembali. Rambutnya yang basah dibasuhnya dengan handuk kering miliknya yang berwarna oranye. Setelah yakin bahwa dirinya sudah tak lagi dekil seperti tadi, ia keluar dari kamar mandi dan mengurung diri di dalam kamar tidurnya. Aku tak tahu, apakah ia sudah makan atau belum. Aku juga tak tahu, ke mana ia hari ini. Dan mungkin aku memang tak boleh tahu tentang hal itu. Hufff... aku seperti orang asing di matanya.
"Jadi, lagi-lagi Axel gak keliatan lagi sejak tadi pagi?" Hari ini Abel main lagi ke rumahku. Tujuan utamanya sih, bertemu Axel. Tapi berhubung Axel tak ada, tujuannya beralih menjadi menemaniku di rumah. Kuanggukkan kepalaku, menjawab pertanyaan Abel tadi. Mulutku malas untuk bicara. Sementara otakku terus berputar dan bertanya, kenapa. "Apa perlu dimata-matain?"
Ide bagus, batinku menjerit. Tapi aku takut Axel marah lagi seperti kemarin malam. "Dia bilang, dia gak mau gue ikut campur urusannya. Kalo dia marah, gimana?"
"Ya, jangan sampe ketahuan kalo kita buntutin dia. Seenggaknya, tujuan kita buntutin dia 'kan cuma pengen tau aja, dia ngapain seharian." Ya, aku setuju dengan idenya. Aku benar-benar ingin tahu rahasia yang tengah Axel sembunyikan dariku, adiknya sendiri.
Pagi-pagi benar mataku sudah terbuka. Jantungku berdebar kencang sekali, deg-degan. Akan seperti apakah pencarian hari ini? Akankah berhasil? Ah, berserah sajalah. "Udah siap, Lir?" tanya Abel di telepon. Jam enam ia meneleponku.
"Yap, lo sendiri?"
"Udah. Gue udah mau sampe di rumah lo sih. Tapi, mending gue ngumpet dulu ya. Ntar kalo gue udah liat Axel, gue telepon lo lagi deh. Lo stand by aja ya."
"Sip." Kutunggu telepon dari Abel di dalam kamar. Sambil aku menunggu, aku sempat mendengar suara pintu kamar Axel terbuka dan langkah kakinya menuju kamar mandi, mungkin. Pasti ia mau siap-siap untuk pergi lagi. Hampir setengah jam ke depan, akhirnya Abel meneleponku kembali. "Dia udah nongol?" tanyaku gugup.
"Iya. Ayo, cepetan." Aku segera berlari menuruni anak tangga dan kutemui Abel tengah berdiri di depan pagar rumahku. Kali ini kami mengejarnya dengan motor Abel yang baru pertama kali kulihat. Kami benar-benar melakukannya, membuntuti kakakku sendiri diam-diam. Perasaanku jadi tak enak ketika Axel membelokkan motornya dan memarkirnya di depan gedung yang sedang dibangun. Ia melepas helmetnya dan masuk ke dalam gedung tersebut setelah mengunci motornya dengan benar.
"Pagi amat datengnya, Xel?" Salah seorang rekannya menyapanya pagi ini begitu ia melangkah masuk ke dalam.
"Iya, pagi-pagi 'kan harus semangat, ya gak?" tuturnya sambil tertawa kecil.
"Ih, Axel ngapain sih, di dalem?" Aku mulai jengkel.
"Satu-satunya jawaban yang terlintas di pikiran gue sih, dia kerja sambilan."
"Ha, kerja sambilan? Buat apaan?" Abel mengangkat kedua bahunya, tidak tahu. "Ck, samperin ke dalem aja, Bel."
"Eh, eh, eh... 'kan tujuan kita buntutin dia cuma sekedar pengen tau dia ke mana, Lir. Kalo lo samperin, ntar dia malah marah sama lo lagi. Ntar malah makin kacau."
"Tapi..." Aku sejujur-jujurnya tidak bisa terima Abel mencegahku, tapi memang ada benarnya juga sih. Aku nggak mau semua jadi kacau hanya gara-gara tindakanku yang gegabah. Harus segera kutemukan bagaimana cara mengorek kebenaran ini lebih dalam.
Malam ini kukumpulkan seluruh keberanianku untuk bicara baik-baik pada kakakku. "Xel, boleh ngobrol?" tanyaku perlahan.
"Ngobrolin apaan?" Seperti biasa, ketus. Tapi tak apalah.
"Hm... apa ajalah. Habis gue ngerasa, kayaknya udah lama banget gak ngobrol sama lo."
"Ah, lebay lo."
"Bukannya lebay. 'Kan dari pagi lo pergi melulu sampe malem. Jadi, wajar dong, kalo gue ngerasa kayak gitu." Axel kali ini tidak bersuara. "Lo ke mana aja sih, sampe-sampe ngebiarin gue sendiri di rumah?" Ia belum juga angkat bicara. "Xel, kalo lo lagi ada masalah atau lagi ada sesuatu, apa nggak sebaiknya lo berbagi sama gue? Gue 'kan adik lo, Xel. Lagian siapa tau gue bisa bantuin lo, walau kadang gue rada gak guna juga sih."
"Ah, siapa bilang gue lagi ada masalah? Gak kok." Masih saja mengelak, batinku kesal.
"Tapi gue ngerasa lho, makin lama lo jadi makin berubah. Lo jadi... pemurung."
"Sotoy lo," ledeknya lagi.
"Bukannya sok tau, tapi emang gue ngerasa gitu. Hmm... lo lagi perlu sesuatu ya, sampe kerja sambilan... ups!" Duh, keceplosan.
Sorot mata Axel langsung berubah. "Lo tau dari mana gue kerja sambilan?" tanyanya tegas.
"Eum... gak, gue cuma nebak aja..." Uh, aku tak mampu meyakinkannya.
"Jawab yang jujur, lo tau dari mana?"
"Itu... gak, gue..."
"Denger ya, Lir, mulai sekarang, berhenti ikut campur urusan gue. Bukannya gue udah pernah bilang sama lo ya, jangan ikut campur urusan gue!?"
"Bukannya mau ikut campur, Xel, tapi..."
"Diem!! Pokoknya mulai sekarang urus aja diri lo sendiri, ngerti?" Baru pertama kali aku melihat Axel sedemikian mengerikan, seperti kerasukan sesuatu. Hiii... ngeri.
to be continued...
9/15/2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar