Hari ini berakhir dengan penuh kebahagiaan dalam hatiku. Siapa yang menyangka kalau Abel akan memintaku untuk menjadi pacarnya dengan cara seperti itu. Setiap kali mengenangnya, aku jadi merasa geli sendiri.
Uh, aku kesal karena waktu begitu cepat berlalu. Pada akhirnya, kami semua harus segera pulang karena tempat ini akan segera ditutup. Padahal aku masih ingin menikmati kebersamaanku dengan Abel di sini. "Eh, mau mampir ke toko cinderamata dulu gak?" tawar Abel semangat. Tangan kirinya menggandeng tangan kananku tiba-tiba. Deg! Kalau keadaan sedang sepi dan hening, suara debaran jantung ini pasti kedengaran.
"Gue ke mobil dulu aja ya, Bel." Tumben, gumamku dalam hati. Tapi aku takkan peduli. Axel dan Vira, pacarnya, melangkah bersamaan menuju mobil. Sementara aku dan Abel, kami berdua masih mampir ke kios yang berisikan oleh-oleh dari tempat bermain ini.
Begitu banyak boneka nan lucu dan imut yang terpajang di atas kaca. "Lo mau, Lir?" tanyanya yang seakan tahu kalau aku menginginkannya.
Sebelum menjawab, aku nyengir dulu. "Gak lah, gue udah punya banyak boneka di rumah."
Abel mengambil salah satu boneka yang kuinginkan sejujurnya dan membawanya ke tempat kasir yang ada di tengah ruangan, lalu membayarnya dengan uang cash. Setelah boneka itu dimasukkan ke dalam kantong plastik yang berlogokan boneka Dufan, cowok cool itu langsung menyodorkannya padaku. "Nih, buat lo." Senyumnya mengembang. "Kenang-kenangan...," begitu lanjutnya.
"Serius?" Aku jadi grogi sendiri menerima hadiah darinya.
"Iya, beneran," jawabnya sambil menganggukkan kepala dan tersenyum padaku. Senangnyaaaa!!!!
Axel duduk di balik stir kemudi, sedangkan Vira duduk di sebelahnya. Pertamanya, mereka hanya diam dalam keheningan selama beberapa menit. Hingga pada menit ke empat, akhirnya Axel memutuskan untuk memecah keheningan yang tercipta dalam mobil. "Boleh aku tau, kenapa kamu mutusin aku?" tanyanya baik-baik. Sayangnya, Vira tidak berkata apa-apa. Seolah jawaban itu tidak ada. "Vira, aku sayang sama kamu..." Ia mendesis.
"Sori, Xel, aku gak bisa jawab pertanyaan kamu."
"Kenapa?" Axel mulai naik pitam. "Seenaknya aja kamu mutusin aku, tapi kamu gak punya alasan untuk itu? Gak logis banget."
"Aku... aku bukannya gak punya alasan, tapi..."
"Tapi apa, Vir?"
"...tapi aku gak bisa kasih tau alasannya ke kamu sekarang...," jawabnya dengan suara yang hampir tak terdengar.
Axel kembali mengatupkan bibirnya selama dua menit, lebih dari itu ia mulai angkat bicara dengan suara bergetar. "Apa jangan-jangan... kamu main di belakang aku?" Sorot matanya menajam ke arah Vira yang terus tertunduk sejak tadi. Dan ia tak menjawabnya lagi. "Vira, kamu bener-bener selingkuh?" Entah apa yang membuat Axel begitu yakin akan prasangkanya. Naluri pria, mungkin.
"Aku... aku gak bermaksud buat selingkuh, Xel, tapi..."
"Tapi apa lagi?" Kali ini Axel sudah benar-benar merasa yakin dengan prasangkanya dan ia marah betul mendengar Vira terus mengelak seperti ini. Yang ia inginkan adalah kejujuran dari Vira yang telah menjadi bagian dari masa lalunya, mantan pacarnya. "Kenapa kamu selalu bilang 'tapi', terus diem dan gak dilanjutin? Jawab, Vir, kamu bener-bener selingkuh?" Tatapan matanya semakit tajam dan membuat Vira semakin tertunduk. "Aku tanya, apa kamu bener-bener selingkuh, Vira? Jawab yang jujur!" Suaranya lantang membuat Vira tersentak.
Yang ada hanyalah deraian air mata yang sama sekali bukan jawaban bagi Axel. "Aku gak nyangka, ternyata kamu itu rendah banget... aku salah nilai kamu, Vir." Percakapan berakhir tanpa adanya penjelasan dari pihak Vira.
Sepanjang perjalanan, Vira dan Axel terus terkurung dalam keheningan. Vira menutupi wajahnya yang kusam karena air mata. Sementara Axel menyembunyikan emosinya yang meluap-luap dalam hati. Aku dan Abel sama sekali tak tahu apa-apa, jadi kami terus mengobrol berdua di jok belakang.
Aku keheranan dengan Axel yang hari ini sama sekali tidak meledekku ataupun memakiku seperti hari-hari sebelumnya. Sakitkah ia? Sejak tadi pagi ia tak keluar kamar. Bahkan, ia tak ingin menemui Abel yang sudah datang sejak tadi. Padahal biasanya, ia langsung semangat dan mengajaknya ke kamarnya untuk main game. "Lo gak tau soal Axel?" tanya Abel yang sama bingungnya.
"Have no idea," jawabku. "Lo sama sekali gak tau, Bel? Lo 'kan sohibnya."
"Gak, sama kayak lo."
Hening. Sunyi. Aku dan Abel sama-sama sedang memikirkan tentang hal yang membuat Axel jadi bersikap aneh sepanjang hari ini. "Apa jangan-jangan lagi ada masalah sama Vira?" celetukku asal.
"Eh, mungkin juga. Soalnya dari kemaren kayaknya mereka diem-dieman, semenjak habis naik bianglala tuh."
"Oh ya? Kok gue gak nyadar ya?" Aku menggaruk-garuk kepalaku yang tak gatal sama sekali. "Apa kita tanyain dia aja, Bel?"
"Mendingan sih, jangan. Itu 'kan urusan pribadi dia. Yah, tunggu sampe dia tenang dulu ajalah. Ntar kalo dia mau cerita, dia pasti cerita 'kan?" Memang sih, tapi aku lebih suka langsung mendapatkan jawabannya sekarang. Aku ingin tahu sekali soal ini.
to be continued...
9/05/2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar