8/29/2009

Between Girl and Boy 6

Sepanjang perjalanan Axel dan pacarnya tak banyak bicara. Keheningan tercipta tanpa tahu sebabnya. Vira, gadis yang usianya di bawah Axel satu tahun hanya memandangi pemandangan luar yang sama sekali tak indah untuk dipandangi. Sementara Axel hanya diam dan terfokus pada teknik menyetirnya.
Lama-lama Axel tak betah akan keheningan ini dan mengawali percakapan. "Kamu lagi sakit ya?" tanyanya seperti pertanyaan kemarin malam.
Vira menoleh dan menggelengkan kepalanya pelan. "Nggak kok," jawabnya singkat. Kemudian kembali membisu.
"Kok diem aja?"
"Hm, bingung mau ngomong apa."
"Lagi ada masalah?"
"Gak kok, aku gapapa. Aku baik-baik aja."
"Syukur deh, kalo baik-baik aja. Kalo lagi ada masalah, bilang aja. Siapa tau, aku bisa bantu kamu. Oh iya, kamu udah makan?"
"Udah, tadi di rumah. Kamu sendiri udah makan?"
"Belom. Paling ntar pulang makan dulu."
Axel mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi karena ia ingin segera tiba di rumah. Entah kenapa, perasaannya tak enak mendadak.
"Lir, Abel udah dateng?"
"Belom," jawabku yang lagi duduk di ruang tengah sambil baca majalah. Ups, ada sesosok gadis yang tak kukenal di balik tubuh Axel yang tinggi. "Cewek lo, Xel?" tanyaku ceplas-ceplos.
"Iya, ini Vira. Say, ini adik aku. Namanya Lira."
"Hai," sapanya lembut. Sementara aku hanya mengangguk kepalaku pelan sebagai tanda perkenalan. Sepertinya aku pernah melihat sosok gadis ini, tapi di mana ya? Otakku berusaha mengingatnya, tapi sia-sia saja. Aku tak mengingatnya.
"Ada makanan gak? Gue laper berat nih."
"Tuh, di meja."
"Lo udah makan, Lir?"
"Udah dari tadi kali." Aku kembali membaca majalah. Saat kusadari, gadis yang menjadi pacar kakakku tengah berdiri seorang diri. "Eh, duduk aja dulu, Vir..."
"Iya, makasih..." Sepertinya ia terlihat malu-malu.
"Sejak kapan jadi pacar Axel?" tanyaku iseng. Habis aku juga ingin tahu sih, seluk-beluk hubungan mereka.
"Sekitar tujuh bulan yang lalu," jawabnya dengan anggun. Astaga, gadis ini feminin sekali, seperti layaknya seorang tuan puteri. Aku jadi iri.
Aku manggut-manggut mendengar jawabannya. "Ceritain dong, gimana kalian bisa jadian," mintaku dalam bisikan. Aku takut terdengar Axel.
Ia tersenyum tipis. "Waktu itu..."
Baru saja aku begitu antusias mendengar cerita dari Vira, Axel langsung memotong. "Hayo, lagi ngomongin apa nih? Pasti lagi ngomongin gue ya?"
"Hiiihh, ge-er banget sih, lo! Gue lagi curhat sama Vira dari hati ke hati tau! Sana lo, pergi. Jangan ganggu."
"Curhat? Gue 'kan juga pengen tau."
"Gak boleh! Ini rahasia perempuan tau!"
"Kenapa gak boleh? Vira 'kan cewek gue, sedangkan lo adik gue. Berarti gak boleh ada rahasia-rahasiaan dong."
"Gak ada hukum kayak gitu! Gimanapun, ini urusan cewek. Kaum cowok dilarang ikut campur!" tegasku.
"Halah, anggep aja gue bagian dari kalian, susah amat!?"
"Ya jelas susahlah. Lo 'kan cowok, Xel. Udah ah, sana!"
"Ogah, gue mau ikut nimbrung."
Baru hendak kuusir kakakku yang begitu menyebalkan, Abel muncul di hadapan kami sambil meransel tas hitamnya. Penampilannya keren sekali hari ini, membuatku terpesona. "Hai, gue telat ya?" tanyanya sambil melihat jam.
"Gak kok, ini baru jam setengah sembilan," ujarku sambil tersenyum. Pokoknya hari ini harus bisa ngobrol banyak, tekadku.
"Nah, karna semuanya udah pada ngumpul, jalan sekarang yuk!" Axel langsung meraih kunci mobil dan melangkah keluar diiringi oleh aku, Vira, dan Abel.

Ternyata memang hari ini ramai. Permainan yang bisa kami nikmati hanya sedikit. Tapi tak apa, aku takkan patah semangat karenanya. Dari pagi hingga sore, hanya lima jenis permainan yang kami ikuti. Kora-kora, niagara-gara, arung jeram, tornado, dan halilintar. Permainan ke-enam sekaligus permainan terakhir yang akan kami naiki adalah... bianglala. Sambil menikmati langit senja nan indah, aku akan mengajak Abel mengobrol.
"Hoaaa... pemandangannya indah banget. Keren lho, foto di sini. Bel, gue foto lo deh, buat kenang-kenangan. Scene-nya bagus banget nih." Sebenarnya di samping itu ada alasan yang lain, tapi hanya aku yang tahu maksud tersembunyi itu.
"Lo juga mau gue foto?" Abel mengeluarkan ponselnya dan mulai mengambil ancang-ancang untuk mengambil fotoku.
"Boleh juga." Kyaaaa, senang, aku menjerit dalam hati kegirangan. "Wah, perasaan banyak banget ya, pasangan yang naik bianglala."
Abel tertawa kecil. "Emang nih permainan cocok buat pasangan sih."
Tentu aku ikut tertawa mendengar komentarnya. "Oh ya? Kalo gitu, kapan-kapan kalo gue udah punya pasangan, gue ajak main beginian aja kali ya?" gurauku tak serius.
"Emang lo belom punya pacar, Lir?" Kurasa, ia juga tak serius.
"Belomlah. Lo sendiri?" Abel menggeleng. "Belom pernah pacaran juga?" Ke dua kalinya ia menggelengkan kepalanya. "Masa sih? Gue gak percaya, lo belom pernah pacaran."
"Emang belom kok. Lo sendiri udah pernah pacaran?"
Aku nyengir kuda. "Belom juga sih." Malunya!!!
"Kalo gitu kita pacaran aja." Hee!!??? Aku nyaris teriak saat berada di puncak sana. Apa ia serius atau tidak, aku tak tahu. "'Kan kita berdua sama-sama belom pernah pacaran. Gak ada salahnya dicoba, ya 'kan?" Jantungku berdebar kencang sekali. Inikah pertanda baik atau malah sebaliknya? "Mau gak, Lir?" tanyanya membuyarkan keheningan yang sudah hampir dua menit tercipta.
"...yaaa, gak ada salahnya dicoba toh?" Aku pura-pura kuat, padahal saat ini aku nyaris meleleh dan tumpah ke permukaan. Uh, semoga ini pertanda baik, harapku cemas.

Vira dan Axel duduk berhadapan. Mereka saling diam untuk beberapa waktu lamanya, tapi kemudian keheningan itu hancur saat Vira mulai angkat bicara. "Aku boleh ngomong sesuatu, Xel?" Air mukanya terlihat begitu serius.
"Boleh kok, ngomong aja, Say." Axel tersenyum lembut pada gadis yang begitu ia sayangi.
Gadis itu tampak ragu mengungkapkannya. Tubuhnya bergetar tiba-tiba.
"Sayang, kamu gapapa?" tanya sang pacar khawatir.
"Gapapa kok, aku baik-baik aja."
"Terus kamu mau ngomong apa, Say?"
Keraguan itu masih tak bisa diluputkannya, tapi mendadak ada suatu kekuatan yang memampukannya untuk mengucapkan satu patah kata. "...putus..."
Axel tersentak. "Hah? Apa?" Berharap apa yang ia dengar barusan salah.
"...kita putus..." Seperti ada petir yang menyambarnya sore ini, Axel segera naik pitam.
"Apa-apaan sih, kamu, tiba-tiba ngomong kayak gitu? Emang kenapa, aku buat salah apa sama kamu, Vir?" Emosinya meluap-luap, tapi gadis itu tak melanjutkan ucapannya. Bahkan, sampai Axel mengguncang-guncangkan tubuh si gadis itupun, Vira hanya bisa menitikkan air mata tanpa satu patah katapun yang terlontar. Permainan selesai dan mereka berdua berakhir dalam keheningan.

to be continued...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar