8/29/2009

Between Girl and Boy 4

Kembali aku ditemani acara televisi yang begitu garing untuk disaksikan. Sambil bersandar pada sandaran sofa ruang tengah, kutonton film yang sama sekali tak masuk ke dalam otakku. Mendadak aku membetulkan posisi dudukku saat mendengar Axel dan temannya tengah menuruni anak tangga. "Game-nya seru banget, Bel. Besok lanjutin lagi yuk. Lo besok bisa dateng 'kan?" tanya Axel yang sepertinya ketagihan main.
"Iya, kalo gak ada halangan, gue pasti dateng kok. Ntar malem gue kabarin lagi deh. Hm, besok harus udah tamat tuh, game-nya," tuturnya dengan penuh semangat.
Aku tak mengerti, kenapa anak cowok begitu menyukai game. Yang ada di pikirannya hanyalah game, game, dan game. Dan parahnya, setiap kali bermain game, semua pasti dilupakan. Lupa makan, lupa mandi, bahkan orang terdekatnyapun dilupakan.
"Eum, gue pulang dulu ya, Xel. Udah sore banget nih. Thanks banget, udah ngizinin gue ke sini."
"Justru gue yang mestinya say thanks, lo udah mau dateng ke sini."
"Eh, tapi lo gak jalan sama cewek lo, Xel? Vira apa kabarnya?" Aku sedikit terkejut mendengar kabar itu, entah benar atau tidak.
"Astaga! Gue lupa kasih kabar ke dia." Axel menepuk dahinya. Tuh 'kan, pacar sendiri saja bisa dilupakan karena game. Dasar cowok, celaku dalam hati.
"Ya udah, gue pulang dulu deh. Lir, pulang dulu ya." Deg! Abel pamit padaku? Senangnya!!! Siapa yang menyangka kalau ia menganggapku. Jarang-jarang begini 'kan?! Kutanggapi dengan senyuman paling manis.
"Yah, ada yang kegirangan gara-gara gebetannya ngajak ngobrol. Plus ada yang sedih juga gara-gara yayangnya mau pulang." Lagi-lagi Axel meledekku.
"Sial lo!" makiku kesal. "Sana lo, jauh-jauh dari gue!" Aku mengusirnya, tapi tentu saja tidak sungguhan.
"Tuh 'kan, kalo lagi butuh aja deket-deket. Kalo keinginan terwujud, gue langsung diusir. Ah, habis manis sepah dibuang tuh!"
"Biarin. Emang orang kayak lo cocoknya digituin. Rese sih, lo!"

Axel menekan nomor satu agak lama, lalu membiarkan nada sambung pribadi pacarnya menggema di telinganya. "Halo, Sayang, kamu lagi di mana?" Axel langsung menanyakan keberadaan sang pacar yang saat ini sepertinya sedang berada di luar rumah.
"Aku lagi di... mal. Kenapa?"
"Oh, sori ya, aku baru nelepon kamu. Tadi habis main sama Abel. Kamu udah makan?"
"Ini, lagi makan."
"Sama siapa?"
"Sama temen-temen nih. Eum, ntar telepon lagi ya. Berisik banget di sini, jadi susah ngobrolnya. Ntar malem aku sms kamu deh, ya?"
"Ya udah, ntar malem aku telepon kamu lagi ya. Have fun, Hon." Axel memutus sambungannya dan berbaring di atas ranjang melepas lelah.
Tiga menit berlalu dan aku yang merasa bosan langsung berteriak memanggil kakakku yang menyebalkan. "Axel!" panggilku dari lantai bawah.
Pintu kamarnya langsung terbuka dan ia muncul di dekat tangga. "Gak usah pake teriak kali, gue gak tuli."
"Bosen nih."
"Terus, apa urusannya sama gue?"
"Jalan-jalan yuk."
"Males ah, gue capek. Lo aja jalan-jalan sendiri."
"Gak ada yang nemenin. Masa iya gue jalan-jalan sendirian kayak orang bego? Lo tega ih, Xel."
"Lah? Manja banget sih, nih anak. Mobil ada, supir ada, punya duit, kaki juga lengkap..."
"Ck... ya udah, gue jalan-jalan sendiri aja." Aku langsung berpaling dan menuju ke kamar tidurku sambil ngedumel.
Bingung juga mau apa di mal sendirian. Tapi sepertinya aku tertarik untuk melihat-lihat baju yang sedang nge-trend sekarang-sekarang ini. Satu per satu kios kuhampiri. Saat sedang menikmati pencarianku, aku diperhadapkan dengan satu pemandangan yang menggerahkan. Jelas saja aku jengkel karenanya.
"Ini 'kan tempat umum. Kalo mau mesra-mesraan, ya jangan di sini. Sana, di hotel." Aku memaki mereka dalam hati. Sayang, nyaliku tak seberapa untuk mengungkapkannya di depan pasangan tak tahu malu itu.
Ujung-ujungnya, aku pulang dengan tangan kosong. Tak ada satupun yang kubeli dari mal. Tak ada yang menarik sih. "Cepet amat pulangnya." Pulang-pulang, Axel langsung nyeletuk. Ia lagi duduk di depan televisi sambil mengunyah kerupuk mini yang tersimpan di dalam toples yang ada di atas meja ruang tengah.
"Ngapain lama-lama? Lagian ini 'kan udah malem. Kalo tiba-tiba gue diapa-apain, gimana?"
"Halah, gak mungkinlah ada yang mau ngapa-ngapain lo. Ge-er banget sih." PAK!! Kupukul lengan Axel sekeras mungkin. "Aduh, sakit tau! Maennya mukul ih!"
"Habis lo rese sih! Makanya jangan rese, jangan banyak omong." Aku kesal. "Eh, masa tadi pas gue lagi asyik-asyik cari baju, tiba-tiba ada pemandangan yang gak sedap dilihat."
"Oh ya? Pemandangan apaan?"
"Yah, yang begituan."
"Ck ck ck... anak di bawah umur dilarang ngeliat begituan tuh. Mestinya gue ada di situ ya, jadi bisa nutupin mata lo."
"Gue udah cukup gede kali, jadi gue udah boleh ngeliat begituan. Lagian gue juga udah cukup berpengetahuan soal begituan."
"Hah? Wah, jangan-jangan..." PAAK!! Lagi-lagi kugebuk lengannya. Merahlah lengan kanannya itu. "Aduh, mukul melulu nih!"
"Jangan mikir yang nggak-nggak deh. Otak lo tuh, mesti dicuci dulu, biar gak ngeres."
"Siapa yang otaknya ngeres? Lo aja tuh, yang pikirannya jorok melulu." Ingin sekali kugebuk lengannya untuk ke sekian kalinya, tapi kuurung niatku itu.
"By the way, lo udah punya cewek ya? Kok gak ngasih tau gue sih?" Kuganti topik pembicaraan kami berdua.
"Bah, ngapain gue ngasih tau lo? Emang pengumuman penting apa?"
"Ih, lo tuh ngeselin banget sih, Xel?! Jawab baik-baik nggak bisa ya?"
Axel menghela nafas. "Iya, gue udah punya cewek, kenapa? Lo cemburu?"
"Gue? Cemburu? Penting gak sih?!"
"Terus ngapain nanya-nanya?"
"Ya, gue 'kan cuma pengen tau. Sebagai adik perempuan lo yang paling imut, gue wajib tau dong."
"Emang sejak kapan ada undang-undang begituan?"
"Sejak dulu kali. Lo aja yang gak pernah tau. Makanya, rajin-rajin baca buku undang-undang. Tiap tahun beli buku undang-undang, ujung-ujung cuma buat nemenin tidur. Pelajar macam apa ini?!" cemoohku.

Gadis berambut cokelat yang mengenakan mini dress bermotif bunga berwarna biru muda tengah menggandeng lengan sesosok pria bertubuh tinggi tegap berkaos biru tua polos. "Dia ngeganggu kamu lagi, Say?" tanya pria berwajah tampan itu.
"Ck, biarin aja. Makhluk kayak gitu mah, gak usah dihirauin. Ntar juga lenyap sendiri."
"Tapi aku 'kan gak mau kamu diganggu cowok macam dia terus. Aku juga keki lah."
"Udah, cuekin aja. Lagian aku gak mau kamu terlibat masalah sama orang gak penting kayak dia. Udahlah, jangan ngebahas soal gituan lagi ya?"
Cowok itu tersenyum, membuat wajahnya masih memesona. "Iya deh, demi kamu." Ia mencium pipi gadis yang ada di sampingnya dengan lembut.

TO BE CONTINUED...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar