8/15/2009

Between Girl and Boy 2

Jam delapan pagi wajahku sudah terlihat cerah. Aku sudah mandi jam setengah tujuh tadi. Memang, air pagi itu dingin dan benar-benar menyegarkan sampai-sampai mataku langsung melek begitu tetesan air bersih yang keluar dari shower menyentuh tubuhku. Brrrrrr... dingin!!!
Kukeluarkan telur, tepung terigu, tepung cokelat, mentega, gula, baking powder, dan semua alat bahan yang ingin digunakan untuk membuat kue. Kue cokelat istimewa, itulah yang ingin kubuat pagi ini. "Bikin apaan tuh?" Tiba-tiba makhluk menyebalkan yang baru saja bangun muncul di hadapanku dengan penampilannya yang super berantakan.
"Menurut lo?" Kujawab dengan nada jengkel. Pasti orang ini ingin meledekku lagi, makanya aku siap-siap mendirikan pertahanan.
"Ah, paling produk gagal," tuturnya, lalu pergi. Hiiihhh... kenapa ia begitu menjengkelkan sih, geramku dalam hati. Tapi aku tak terlalu menggubrisnya. Aku terus mengocok adonan yang hampir jadi dengan hati yang sudah tercemari dengan setetes rasa kesal.
Seperti hari kemarin, Abel -itu nama teman Axel- datang saat aku sedang sibuk menuang adonan ke atas loyang yang sudah dilumuri mentega dan sedikit tepung terigu. Lagi-lagi tak sempat menemuinya. Aku nyaris kembali bersungut-sungut, tapi tak lama kemudian aku kembali berjingkrak kegirangan karena sesuatu. Kulihat Abel tengah duduk di sofa ruang tengah, seperti orang yang sedang menantikan sesuatu. "Lho? Axel mana?" tanyaku saat ia melihatku yang baru keluar dari ruang dapur.
"Eum, katanya mau mandi dulu, jadi gue tunggu di sini," begitu jawabnya. Ini pertama kalinya aku mengobrol dengannya.
"Oh, mau gue buatin minuman? Mau minum apa?"
"Eh, nggak usah, gapapa. Gue gak haus kok." Senyumnya mengembang dan membuatku terpesona melihat wajahnya yang begitu indah untuk dipandang.
Aku ikut duduk di sofa ruang tengah menemaninya mengobrol. "Rumah lo di mana?" tanyaku basa-basi. Habis, aku juga bingung mau membicarakan apa.
"Hm, rumah gue gak jauh dari sini kok. Pas di belakang rumah lo." Sempat kaget, tapi juga senang mendengarnya. Berarti rumah kami tak terlalu jauh.
Baru saja aku ingin mengobrol lebih lanjut, si pengganggu datang untuk mengganggu. "Ngapain lo di sini?" tanyanya sambil menutup wajahku dengan handuknya yang basah.
Aku buru-buru menjauhkan handuk tersebut dari wajahku. "Iiihhh, jorok banget sih!! Itu handuk 'kan bekas pakai, masa lo tempelin ke muka gue sih? Ngeselin banget sih, lo!!" omelku kesal.
"Biarin, handuk 'kan milik bersama. Kenapa rewel amat sih?"
"Ihhh, kesel gue!" Kulempar wajahnya dengan bantal sofa yang kebetulan ada di pangkuanku, lalu kembali ke dapur untuk memeriksa kue buatanku. Sudah hampir jadi. Yang kulihat, kuenya sudah mulai mengembang. Wah, sepertinya kue buatanku kali ini benar-benar berhasil.
Tujuh menit berikutnya, kubuka pintu oven dan kukeluarkan loyang berisi kue buatanku yang begitu harum. Akhirnya jadi juga, gumamku girang. "Non, mau sarapan apa?" Mbok Ati baru turun dari lantai atas.
Tanpa menoleh, aku menjawab pertanyaannya. "Bikinin mie aja, Mbok. Kalo buat si Axel, gak usah bikinin makanan. Biar aja dia mati kelaperan," jawabku dengan nada setengah jengkel. Tapi ujung-ujungnya, Mbok Ati tetap membuatkan makanan untuk Axel dan Abel saat Axel menjerit kelaparan dari lantai atas. Untuk sementara, kue buatanku masih dalam tahap pengademan di dapur.
Jam sepuluh lewat satu menit Axel dan Abel turun ke bawah. Aku yang tengah menonton TV di ruang tengah sambil bersantai di atas sofa agak terkejut melihat Abel turun. "Lir, ada cemilan gak? Laper nih." Axel mencoba membuka pintu kulkas. "Eh, brownies buatan lo nih, Lir?" tanya Axel sambil mengeluarkan seloyang brownies yang tadi pagi kubuat sendirian.
"Iya," jawabku ketus sambil terus menonton TV.
"Bagi ya, Lir. Gue bawa ke atas semua ya."
"Hah? Emang bisa habis tuh?" tanyaku tak percaya. Di dalam loyang itu ada dua puluh empat potong brownies yang berbentuk persegi panjang. Masakan Axel akan menghabiskannya sekaligus? Gila!
"Tenang aja, lagi laper nih. Gue bawa ya." Axel dan Abel langsung ngacir kembali ke kamar Axel yang ada di lantai atas. Aku hanya geleng-geleng kepala, lalu kembali terfokus pada acara TV yang amat sangat membosankan.

to be continued...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar