8/15/2009

Between Girl and Boy 3

Kucoba menghubungi salah satu sahabatku yang entah sedang melakukan apa di hari libur seperti ini. Firasatku berkata bahwa ia sedang asyik dengan waktu-waktu berharganya. "Lagi apa, Des?" tanyaku tanpa pakai embel-embel apapun karena aku tahu pasti yang menjawab panggilan ini pasti si pemilik ponsel, Desti.
"Hei, Lir. Gue lagi di pantai nih. Lo sendiri lagi apa?" Terdengar desiran ombak yang begitu menyejukkan hati dari seberang sana. Juga terdengar tawa riang di sana. Uh, aku jadi ingin ke sana bersamanya.
"Ke pantai sama siapa? Kok kagak ngajak-ngajak?"
Desti tertawa geli. "Sama Yuda nih," jawabnya malu-malu. Kalau sudah begini, aku jadi merasa bersalah karena sudah menghubunginya sekaligus mengganggu momen indahnya dengan sang kekasih. Ah, senangnya punya pacar, batinku iri.
"Ya udah deh, gue gak ganggu lagi. Maaf ya, udah ngeganggu waktu kalian. Have fun, Des." Aku langsung membiarkan mereka berdua menikmati masa indahnya. Sendiri lagi deh, keluhku sebal.
Lima menit kemudian, telepon rumah berdering nyaring memanggilku untuk mengangkatnya. Biasanya sih, yang mengangkat Axel. Tapi berhubung ia sedang asyik di dunianya bersama sahabatnya, jadi terpaksa akulah yang harus mengangkatnya.
"Halo..." Nada bicaraku pelan sekali. Lemas.
"Lira?" Aku tahu persis suara ini. Suara ini tak asing lagi di telingaku.
"Mama? Kenapa?"
"Kamu lagi apa, sayang? Kok tadi Mama telepon ke handphone kamu, sibuk terus?"
"Oh, tadi habis nelepon temen, Ma."
"Kamu sehat 'kan? Baik-baik aja 'kan?"
"Iya, Mama, aku baik-baik aja."
"Axel mana?"
"Tuh, di kamarnya, lagi main game sama temennya."
"Oh, ya udah. Salam buat Axel ya, sayang. Kalo ada apa-apa, telepon Mama ya."
"Iya, Ma." Huff... liburan yang benar-benar membosankan. Orangtua di luar kota, teman-teman asyik sendiri dengan kesibukannya, pacar nggak punya, aku sendiri deh. Lagi-lagi aku hanya bisa mengeluh dan menghela nafas.
Abel dan Axel menuruni anak tangga dan langsung menuju ruang tengah. "Lir, Mbok Ati masak apa?" tanyanya tiba-tiba.
"Mana gue tau? Gue aja dari tadi di sini doang. Kalo mau nanya, nanya langsung sama Mbok Ati lah."
"Lho? Ditanya baik-baik, kok jawabnya malah gitu sih? Gak sopan deh. Gue laporin nyokap lho."
"Emang gue anak kecil lagi? Gue udah gede tau!" Aku langsung bangkit dari atas sofa dan masuk ke dalam kamarku. Bete!
"Ih, aneh banget sih, tuh anak. Kagak ada angin, kagak ada hujan, tiba-tiba ngamuk. Serem gue," celetuk Axel. "Eh, makan yuk, Bel." Axel mengajak sahabatnya ke ruang makan untuk menyantap makanan siang yang sudah tersedia di balik tudung saji di atas meja.
"Adik lo gak ikut makan, Xel?"
"Ah, biarin aja. Ntar kalo laper juga dia cari makan. Yuk ah!"
Entah kenapa, hari ini segalanya membuatku kesal. Padahal tadi pagi hatiku berbunga-bunga, tapi entah sejak jam berapa, menit ke berapa, dan detik ke berapa, hatiku jadi tercemari oleh asap hitam. Uh, sebal!!!!!
Rasa kesal di hati membuatku lelah dan akhirnya terlelap di dalam kamarku hingga sore menjelang. Saat kedua mataku terbuka, kulihat jarum pendek jam dinding kamarku sudah mendekati angka tiga. Sementara jarum panjang menunjuk ke angka sembilan. Sudah jam tiga kurang lima belas. Aku harus segera mandi, pikirku. Langsung saja kubuka lemari pakaianku dan kuambil pakaian santai yang kuanggap pantas untuk kukenakan. Begitu aku hendak melangkah untuk masuk ke dalam kamar mandi, tiba-tiba kudengar pintu kamar mandi terbuka dan muncul sesosok laki-laki di hadapanku. Terang saja aku terkejut. Astaga, ternyata Abel belum pulang. Ia masih di sini dan sekarang di hadapanku. Aduh, sungguh memalukan. Mana penampilanku berantakan karena baru bangun tidur pula. Uh, sial!!!
"Hai," sapanya pelan sambil tersenyum. Aku hanya membalasnya dengan senyuman. Malu sekali rasanya. Ingin sekali wajah ini kusembunyikan di dalam lemari pakaianku untuk sesaat.
Aku buru-buru masuk ke dalam kamar mandi untuk bersembunyi. Hufff... rambutku berantakan sekali. Wajahku juga kusam. Kulihat pantulan diriku di dalam cermin, buruk sekali. Sama sekali tak pantas untuk dilihat.

to be continued...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar