11/05/2009

Between Girl and Boy 16

Di dalam satu ruangan berlampu remang-remang, di sanalah aku dan Abel berada. Ini masih jam lima pagi dan Axel belum juga bangun dari mimpinya yang indah. Keadaan rumahku masih sepi dan waktunya kami berdua beraksi bersama. Kutancapkan beberapa benda kecil berbentuk silinder yang berwarna-warni. Setelah yakin bahwa benda itu takkan jatuh, barulah kubiarkan cucu dari si raja merah melahapnya perlahan-lahan.
Kami berdua, aku dan Abel, melangkah perlahan-lahan menaiki anak-anak tangga dan berhenti tepat di depan pintu kamar Axel yang masih tertidur pulas. Abel membuka pintu kamar itu pelan-pelan dan aku terus melangkah dengan mengendap-endap, seperti seorang pencuri. Setelah pas dengan posisi berdiriku, aku dan Abel baru membuat keributan di dalam kamar Axel yang sunyi sebelumnya.
"Happy birthday to you, happy birthday to you, happy birthday dear Axel... happy birthday to you..." Axel yang terganggu akan keberisikan yang kami ciptakan, mulai membuka matanya pelan-pelan dan melihat keberadaan kami di hadapannya. "Bangun, bangun, udah pagi," seruku sambil terus memegang kue ulangtahun Axel yang kubuat sendirian semalam.
"Hei, Xel, met pagi." Abel cuma tersenyum.
Axel baru benar-benar duduk di atas ranjangnya dengan tampang berantakan karena baru bangun. Matanya masih belum sepenuhnya terbuka. "Aduh," keluhnya dengan suara sedikit serak. "Ini baru jam lima kali. Gue masih ngantuk nih." Ia hampir saja memutuskan untuk tidur lagi, tapi kucegah dengan cipratan air dingin yang Abel bawa di tangannya.
"Bangun, bangun. Udah pagi tau. Atau lo mau gue guyur aja sekalian, Xel?"
"Iya, iya, iya... lo pada ganggu mimpi indah gue aja."
"Biarin. Lagian lo juga sering gitu ama gue 'kan, Xel? Bales dendam nih."
"Make a wish dulu, Xel." Abel menyuruh. Sementara Axel menutup matanya untuk make a wish, telunjukku sudah siap dengan setumpuk kecil krim kue yang ada di pinggir kue. Saat Axel selesai meniup lilin-lilin yang ada, kucolek mukanya dengan krim kue yang menempel di jari telunjukku. Kini, wajah Axel terlihat berantakan dan mau tak mau ia harus membersihkan diri dengan air, alias mandi.
"Eits, sebelum mandi, ada kado nih, dari gue." Kusodorkan sekotak kado yang sudah kusiapkan beberapa hari yang lalu. Ini spesial untuk kakakku tercinta yang hari ini berulangtahun.
"Apaan nih? Dikerjain lagi nih, gue?" tanya Axel berburuk sangka. Jahatnya, padahal aku benar-benar tulus memberikannya hadiah. "Bercanda, Lir. Thanks ya." Ia mengusap rambutku. "Terus kado dari lo apa, Bel?" candanya setengah tertawa.
"Nih." Aku tidak tahu kalau Abel juga sudah mempersiapkan kado untuk Axel.
"Thanks, Bel. Padahal gue cuma bercanda nanyainnya, ternyata beneran dapet kado dari Abel." Ia tertawa senang. Memang seharusnya hari ini Axel merasa senang karena hari ini spesial baginya. Hari ini umurnya tepat 18 tahun.

Rencana hari ini berhasil dan jelas saja aku senang. Untung Abel menepati janjinya hari ini. Kujalani waktu-waktuku di sekolah seperti biasa bersama teman-temanku. Dan aku merasa sedikit iri ketika melihat salah satu sahabatku tengah berdua bersama pacarnya di sudut kelas. Aku juga mau seperti itu, pekikku dalam hati. Tapi rasanya itu tak mungkin ya, aku malah jadi pesimis. Ah, masa bodo lah.
Di tengah teriknya matahari aku menunggu Abel di koridor bawah sekolah. Hari ini aku dan Abel akan pulang bersama. Senangnya, tapi kuharap ia tak lupa lagi dengan janjinya. Kedua mataku menemukan sosok Abel yang tengah duduk di atas motor. Ia men-starter motornya dan menggasnya pelan, lalu berhenti sejenak. Otomatis aku segera bangkit dan melangkah mendekatinya. Tapi baru saja aku melangkah dua-tiga langkah, Abel langsung buru-buru pergi meninggalkan sekolah dengan membonceng seorang gadis yang tak kukenal. Mungkin itu temannya, tapi bukannya ia janji untuk pulang denganku? Kucoba menekan setiap amarah yang ada di dada dan kubiarkan diriku terduduk di bangku koridor sambil menunggu kedatangan Abel kembali.
Kupikir Abel hanya mengantarnya sebentar, lalu kembali ke sekolah untuk menjemputku. Tapi sampai dua jam aku menunggu, bahkan sampai sekolah sepi, aku tak melihat sosoknya kembali ke lingkungan sekolah. Kucoba meneleponnya untuk menanyakan keberadaannya, tapi tidak aktif. Jelas emosiku meledak dan kuputuskan untuk pulang sendiri jalan kaki.

Axel masih ikut ekskul dan ia masih berada di sekolah sampai jam empat sore. Seusai ekskul, Axel masih berkumpul dengan teman-teman dekatnya di kantin sekolah untuk tertawa bersama. Dan tiba-tiba sesosok perempuan muncul di hadapan Axel dan teman-temannya. Semua langsung terdiam, termasuk Axel.
"Eumm... Xel, aku cuma mau kasih ini ke kamu..." Ia terlihat malu-malu.
Axel bangkit dan berdiri tepat di hadapannya. Ia tahu apa yang seharusnya ia lakukan. "Apa itu?" tanyanya dingin.
"Hadiah ulangtahun... hari ini 'kan kamu ulangtahun."
Senyuman dingin Axel menghiasi wajahnya. "Masih inget juga toh? Aku pikir, kamu lupa sama ulangtahun aku karna terlalu banyak cowok yang kamu gaet." Jelas, itu kata-kata yang tajam. "Denger ya, aku udah gak peduli lagi sama kamu dan aku harap kamu juga jangan peduli lagi sama aku." Gadis itu langsung menggunakan air matanya sebagai tameng. "Udahlah, gak usah nangis-nangis lagi. Simpen aja tuh air mata buat cowok-cowok bego yang kamu gaet. Aku udah muak ngeliat kamu nangis." Axel langsung menjauhinya dan kembali pada perkumpulannya. Dalam hatinya, ia benar-benar menyesal atas perkataannya yang tajam pada gadis yang benar-benar ia sayangi, tapi ia merasa benar dengan perlakuannya. Tidak mungkin ia terus hidup dalam kesedihan seperti ini. Toh, suatu saat akan ada gadis yang lebih baik yang akan bersamanya.

to be continued...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar