11/17/2009

Between Girl and Boy 17

Di kantin sekolah, di sanalah aku terduduk seorang diri sambil mengaduk-aduk teh manis hangat yang kupesan pagi ini. Aku sedang malas berada di dalam kelas. Alasannya sudah jelas karena tiap pagi aku harus melihat sahabatku dan pacarnya berduaan di sudut ruang kelas. Membuatku iri saja, gerutuku kesal. Aku tidak mengharapkan seseorang datang menghampiriku dan mengajakku berbincang sebentar, sama sekali tidak. Tapi yang terjadi malah sesosok pemuda yang sama sekali tak ingin kutemui mendekatiku dan duduk tepat di hadapanku dengan wajah seolah tidak ada masalah apapun. Dengan wajah polosnya itu, ia berceletuk, "Tumben ke kantin pagi-pagi." Rasa kesal memenuhi hatiku, sehingga tak kugubris celetukannya ini walau hanya dengan segaris senyum di bibirku. Aku betul-betul marah. "Kenapa sih, kok kayak bete gitu?"
Tak mampu menahan emosi, aku langsung menggertaknya. "Lo tuh emang pelupa atau emang sengaja lupa sih? Lo udah bikin gue keki, sekarang malah nanya kenapa? Perasaan lo tuh, di mana sih, Bel?" Tak peduli semua mata tertuju pada kami, aku cuma ingin meluapkan emosiku yang meledak-ledak dari semalam.
"Tunggu, tenang dulu dong, Lir. Lo kenapa tiba-tiba ngomel ke gue? Gue gak ngerti nih."
"Perlu gue jelasin? Oke, gue jelasin ya. Kemaren lo janji bakal pulang bareng gue sepulang sekolah. Lo bakal nganter gue pulang. Gue tungguin di koridor sekolah, tapi ternyata lo malah nganter cewek lain. Gue pikir, lo cuma nganter bentar. Tapi setelah berjam-jam gue nungguin lo, ternyata lo gak balik lagi ke sekolah. Dengan kata lain, lo lupa sama janji lo ke gue... lagi!!!" Ini sudah ke sekian kalinya ia melupakan janjinya. Entah pura-pura atau memang lupa, tapi yang jelas ini sudah kelewatan.
Abel nyaris mati gaya, tapi ia mencoba memberi penjelasan padaku. "Oke, gue salah. Tapi gue emang bener-bener lupa, Lir. Sumpah, gue..."
Aku tak memberinya kesempatan untuk melanjutkan penjelasannya. "Udahlah, Bel, gue udah capek. Mau berapa kali lo minta maaf sama gue sih? Gue aja udah bosen dengerinnya. Mendingan kita udahan aja, lagian kita pacaran juga cuma nyoba-nyoba." Aku langsung meninggalkannya tanpa menggubris panggilannya. Aku cuma bisa menangis di dalam hati, menyayangkan rusaknya hubunganku dengan Abel hanya karena masalah sepele yang sebenarnya bisa diperbaiki. Ah, tahu begitu lebih baik aku berteman saja dengannya, sesalku kemudian.

Axel sama sekali tidak tahu tentang keributan yang terjadi di kantin sekolah. Ia sedang asyik duduk di tempat duduknya sambil membaca buku catatannya. Sepertinya hari ini akan ada ulangan. Tiba-tiba kehadiran seseorang mengalihkan pandangan matanya dari buku. Sesosok yang berbeda di matanya muncul tepat di hadapannya. "Siapa ya?" Tanpa sadar, dari mulutnya keluar pertanyaan yang dianggapnya bodoh. Orang itu menoleh ke arah Axel dan barulah Axel mengenalnya. "Astaga, gue pikir siapa gitu. Ternyata lo, San."
"Lah? Emang lo pikir bakal ada anak baru yang masuk gitu?"
"Bukannya gitu sih. Eh, udah belajar buat ulangan?"
Gadis bernama Sandra itu meletakkan tas sekolahnya, lalu duduk di tempatnya dan menjawab, "Udah, sebagian. Lo?"
"Kurang lebih lah. Susah nih, ngafalinnya."
"Iya. Otak gue juga udah lumayan penat sama beginian. Pengen cepet-cepet ulangan, terus udah deh, lega." Sandra membuka lembaran catatannya dan mulai menghafal. Sementara mata Axel tidak bisa lepas dari sosok gadis yang tiba-tiba menjadi berbeda di pandangannya. "Eh, besok Alfa ulangtahun. Lo diundang juga 'kan?" tanyanya tiba-tiba, membuat Axel harus pura-pura mengalihkan pandangannya.
"Eum... iya, gue diundang kok. Lo ikut? Bareng yuk."
"Boleh aja sih, kalo gak ngerepotin lo."
"Gak, masa gitu aja ngerepotin? Gue gak merasa direpotin kok. Lo udah beli kado? Bingung mau kasih kado apa nih."
"Gue juga bingung. Habis gue juga gak pinter milih kado buat cowok."
"Pulang sekolah, milih kado bareng yuk."
"Boleh aja sih, tapi mungkin ntar bubar gue masih mau ke perpus dulu, mau balikin buku perpus."
"Sip, tenang aja. Ntar bareng ke perpus aja. Siapa tau dapet ide beli kado apa di perpus," kelakar Axel sehingga Sandra ikut tertawa kecil.

Abel duduk di antara kerumunan teman-temannya. Ia masih melamun, memikirkan kejadian di kantin tadi pagi. "Apa gue emang salah ya?" tanyanya pada dirinya sendiri, tapi ternyata teman-temannya mendengarnya.
"Salah apaan, Bel?"
"Euh... nggak kok, nggak papa."
"Duh, Bel, lo kalo ada masalah cerita-cerita dong. Lo lagi kenapa sih? Mikirin cewek?"
Abel tertawa kecil, tawa palsu. "Iya nih, baru diputusin cewek."
"Hah? Diputusin cewek? Emang kapan lo jadian, bro?"
"Kapan ya? Gue juga lupa."
"Ah, lo mah emang pelupa."
"Apa boleh buat, gue juga gak bisa apa-apa sama sifat pelupa gue."
"Tandain dong, di kalender."
"Masa iya gue bawa-bawa kalender ke sekolah?"
"By the way, terus kok bisa diputusin? Emang gimana ceritanya?"
"Yah, gitu... gara-gara sifat pelupa gue itu. Ah, gue jadi pusing sendiri mikirinnya."
"Ngomong-ngomong, mantan cewek lo emang siapa, Bel? Kok kita-kita gak pernah liat lo bareng ama dia?"
"Ada deh. Masa gue harus beberin semuanya ke lo pada? Ini 'kan termasuk privasi gue."
"Ah, gitu lo. Cerita-cerita dong, bro."
"Lo pada kayak cewek aja ya, demen banget ngegosip. Udah ah, gue pengen cari udara seger dulu." Abel pergi meninggalkan komunitasnya yang ramai sekali di dalam kelas.

to be continued...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar