
Hanya ada setitik rasa terkejut di sudut hatiku saat mendengar pengakuan yang terucap dari bibir David sore ini. "Besok pagi aku harus berangkat ke luar kota," tuturnya saat tengah membantuku mencuci piring kotor di dapur.
"Hm, besok? Untuk apa?" tanyaku dengan topeng wajah penasaranku.
"Akan segera dibuka cabang di Bandung. Jadi, aku harus ke sana untuk mengurus semuanya. Sekalian menemui orangtuaku di sana."
Bibirku membentuk huruf vokal o sambil manggut-manggut. Sama sekali tidak ada respon lain selain itu. Mungkin David menganggapku aneh. Ya, biarlah. Yang kukhawatirkan adalah kekhawatiranku akan menjadi kenyataan. Tidak, tegasku dalam hati. Aku tidak boleh mengkhawatirkan hal yang tak perlu dikhawatirkan atau semuanya akan terjadi.
Hari-hariku entah mengapa terasa lebih menyenangkan dan lebih bebas untuk kujalani saat David tidak berada di Jakarta. Apakah selama ini aku tertekan oleh karena keberadaannya di sisiku? Tidak ada ide untuk menjawabnya. Aku tak mengerti pastinya bagaimana.
"Kau mau pulang? Biar kuantar." Davin menawarkan diri mengantarku pulang ke rumahku. Wajahnya berseri-seri, tidak seperti biasanya.
"Aku bisa pulang sendiri." Tentu saja kutolak. Aku tak ingin perasaanku padanya semakin meluap-luap dan mengakibatkan diriku terjebak dalam istilah yang dinamakan cinta segitiga. Tidak!!!
"Ini sudah malam. Kau yakin mau pulang sendiri? Kalau kau kenapa-napa di tengah jalan, aku harus bilang apa pada kakakku?"
Aku terhenyak mendengar ucapannya. Benar juga apa yang dikatakannya. Aku sedikit paranoid pulang malam-malam. Lagipula kalau ayahku tahu, bisa-bisa ia memarahiku karena pulang seorang diri malam-malam begini. Ini sudah hampir jam sembilan malam. Apalagi tempat yang kulewati bisa dikategorikan sebagai tempat yang rawan. Jadi, mau tak mau, suka tak suka, aku harus pulang bersamanya. Davin akhirnya mengantarku pulang sampai aku tiba di rumah, tepat di muka rumahku. "Terimakasih," ucapku dengan kepala tertunduk. Kedua mataku tak berani menatap kedua matanya lama-lama. Bisa-bisa hatiku kembali meleleh dan akhirnya... oh, tidak! Aku tak berani membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Kau marah padaku?" Ia mulai mengungkapkan uneg-unegnya yang sepertinya telah lama ia sembunyikan dalam hati.
Kali ini, kalimat tanyanya membuatku terkejut dan akhirnya menatapnya. "Marah? Tidak," jawabku mantap. Aku tak mau ia salah paham. Aku tidak mungkin marah padanya karena... tidak dapat aku jelaskan.
"Jadi, kenapa kau sepertinya menjauhiku seakan-akan aku ini virus? Memangnya aku ini bakteri yang bisa mencelakaimu ya?" Nada bicaranya terdengar tersinggung akan perlakuanku padanya selama ini.
Ya, kuakui selama ini aku memang manghindarinya. Aku bukannya bermaksud demikian, tapi aku takut aku tak mampu menjaga sikapku di hadapannya. Aku ini sudah menjadi pacar kakaknya, jelas saja aku tak boleh dekat-dekat dan berharap lagi pada Davin yang jelas-jelas sudah menolakku. Padahal seharusnya ia tahu bahwa aku menyukainya. Tapi dari awal aku memang sudah salah. Kesalahan terletak pada diriku. Ya, diriku. Akulah yang bodoh, yang mau saja menerima David begitu saja, padahal sudah jelas hanya Davin yang ada di hatiku selama ini. Bodoh, bodoh, bodoh, makiku pada diriku sendiri. "Bukan begitu kok..." Suaraku pelan, terdengar ragu untuk melontarkannya.
"Lantas kenapa?"
Diam, aku membisu. Apa yang harus kututurkan padanya? "Ah, sudahlah, tak perlu dibahas lagi. Aku sedang tidak mood membicarakannya." Seketika itu juga, Davin menarik lenganku. "Apa lagi? Kelihatannya kau senang sekali membuatku sakit hati ya?" Emosiku mulai memuncak. Jantungku berdegup lebih kencang. Perutku terasa panas, seperti tersulut api besar. Aku seperti diputar-putar dengan kencang. Tidak lagi sadar apa yang kulontarkan malam ini. "Tidakkah kau mengerti bahwa aku juga tidak ingin ini semua terjadi. Kakakmu menyatakan perasaannya padaku tiba-tiba seperti itu dan memintaku untuk menjadi pacarnya. Dia tidak tahu bahwa yang ada di hatiku selama ini cuma kamu dan dengan bodohnya, aku mau saja menerimanya. Dan selama ini, hubungan ini kujalani dengan terpaksa, hanya karena aku merasa tidak enak dengan kakakmu. Kuanggap kau memang sudah menolakku dan sama sekali tidak ada perasaan apa-apa terhadapku. Tapi sekarang kau malah seakan memberiku harapan. Apa sih, maksud perlakuanmu ini? Kau mau mempermainkanku ya?" Aku berkata-kata tanpa lagi berpikir. Otakku sudah sekusut benang kusut, bahkan lebih parah dari itu.
Davin segera memelukku dan tess... air mataku menetes entah karena apa. "Maafkan aku. Aku tak bermaksud mempermainkanmu. Saat kau bilang kalau kau suka padaku, aku sebenarnya juga memiliki perasaan yang sama denganmu. Tapi aku ragu, apakah rasa itu sungguhan atau hanya sesaat belaka. Jadi, kuputuskan untuk menyembunyikannya dulu darimu. Tapi aku tak menyangka kalau semuanya akan jadi seperti ini. Maaf," katanya lirih di telingaku. Hatiku semakin sakit mendengar ungkapannya. Kenapa baru sekarang, sesalku dalam tangis.
Jadi, apa yang harus kulakukan sekarang? Aku menyukai Davin dan ia berkata hal yang sama. Tapi aku masih menjadi pacar David. Aku tak mungkin memutuskannya begitu saja dengan alasan yang tidak jelas, lalu seenaknya jalan dengan Davin. Bisa-bisa aku dianggap gadis rendah. Astaga, ujian apa lagi ini, keluhku semalaman.
Aku dan ayahku masih saling diam di meja makan saat makan bersama pagi ini. Hari ini hari Minggu. Jadi, kami mau tak mau harus sarapan bersama di ruang makan. Aku memasak omelet untuk sarapan pagi ini. Ayahku paling suka omelet buatanku. Lezat, begitu katanya. "Kamu masih marah sama Ayah, Nat?" tanyanya membuka percakapan di atas meja makan.
Sebentar kuhentikan kunyahanku, lalu kulanjutkan kembali. "Nggak kok, Yah," jawabku pelan.
Ayah tertawa kecil. "Kau bilang tidak, tapi dari raut wajahmu terlihat kau masih marah pada Ayah. Ayah minta maaf ya, soal dua hari yang lalu. Ayah bukannya..."
"Maaf, Yah, aku nggak mau mengungkit soal itu lagi. Lagipula aku memang tidak marah pada Ayah kok. Aku sayang Ayah, karena itu, aku takkan mungkin marah pada Ayah hanya karena hal sepele." Senyumku kukembangkan.
Lagi-lagi keadaan kembali hening. Diam. Sunyi. Aku tak mengucapkan lagi sepatah katapun. Demikian pula ayahku. Tapi beberapa menit kemudian, Ayah mulai angkat bicara. "Kemarin malam Ayah secara nggak langsung bertemu dengan ibumu." Deg! Siapa yang tidak kaget dengan pernyataan ayahku barusan.
"Ayah bertemu dengan wanita itu?" Kedua alis mataku saling bertautan. Terhenyak mendengarnya.
TO BE CONTINUED...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar