
Gaun itu hanya sampai batas selutut panjangnya. Warnanya merah muda, terlihat lembut seperti warna kesukaanku. Kukenakan itu sejak jam enam sore. Tentu saja aku penasaran akan siapa pengirim bunga dan gaun ini. Aku terduduk di meja rias sambil terus memandangi bunga-bunga yang berjejer di atas meja riasku. Mereka masih saja wangi. Rambut panjangku kubiarkan tergerai dan poniku kukesampingkan sehingga wajahku terlihat lebih dewasa. Tas tangan berwarna pink muda yang dihadiahkan padaku kubiarkan tergeletak di atas ranjang. Aku menunggu kehadirannya selama hampir satu jam.
Jam tujuh kurang kudengar bel rumahku berbunyi. Itu pasti dia, terkaku. Kubukakan pagar rumahku dengan penuh keraguan. Bagaimana kalau ia orang jahat dan ingin melakukan rencana kejahatan terhadapku? Aku harus siaga, pikirku sebelum benar-benar kubukakan pagar. Pagar rumahku yang dicat warna keemasan dilapisi oleh sesuatu yang aku tak tahu namanya sehingga orang dalam tidak bisa melihat orang yang berada di luar sana. Demikian juga orang luar takkan bisa menerawang ke dalam.
Saat aku benar-benar telah membuka pagar rumah, seorang pemuda gagah datang menghadapku sambil menutupi wajahnya dengan sekumpulan bunga yang dihias demikian indahnya. "Siapa?" Kutanya begitu.
"Coba tebak, siapa." Tentu aku tak menjawab karena aku memang tidak tahu siapa. Sama sekali tidak ada persediaan nama di benakku saat ini. Perlahan tapi pasti ia menunjukkan wajahnya yang tadi disembunyikannya di balik bunga-bunga yang ada dalam genggaman tangannya. "Taraaaaaa..." Aku tahu maksudnya, ia ingin membuat kejutan untukku.
Tapi aku begitu terhenyak ketika mengetahui siapa pemuda ini. "David?" Hampir tak percaya aku melihat sosoknya ada di hadapanku. "Rupanya selama ini kamu yang..."
Ia menarik bibirnya. "Tidak suka ya?" tanyanya.
"Bu-bukan begitu, tapi..." Aku mulai bingung harus bagaimana menanggapinya. Senangkah atau malah kecewa, aku tak mengerti.
"Kalau begitu..." David berlutut di hadapanku. "Maukah kamu menerima ajakanku untuk makan malam bersamaku?" Gayanya seperti sedang melamar orang. Ia menyerahkan bunga yang ada dalam genggamannya padaku. "Kalau kau mau, terimalah bunga ini. Tapi kalau kau tidak bersedia, abaikan saja."
Rasa haru, kecewa, dan bimbang campur aduk mengisi ruang hatiku yang kosong. Dan tanpa berpikir apa-apa lagi aku menerima bunga tersebut. Mungkin aku tak bisa mengetahui seberapa girang hati David saat aku memutuskan untuk menerima ajakannya. Tapi yang jelas, ia segera menuntunku untuk masuk ke dalam mobilnya dengan wajah bahagia.
Sebuah gedung mewah yang ruangannya terlihat artistik dan romantis. Aku suka gaya gedung tersebut. Indah dan unik. Hanya lampu remang yang menerangi ruangan tersebut. Setiap meja terdapat setangkai mawar hidup yang diletakkan di dalam pot berair dan ditaruh di tengah-tengah meja makan. David mempersilakan aku untuk duduk di salah satu kursi, baru ia duduk tepat di hadapanku. "Bagaimana menurutmu?"
"Apanya?" Bingung.
"Tempat ini... kau suka?"
"Ya, tempat ini indah dan unik menurutku."
"Baguslah kalau kau memang menyukainya. Oh ya, kau ingin makan apa?"
Buku menu tersedia di depanku dan ketika kubuka, mataku sempat melotot sebentar. "David," bisikku memanggilnya.
"Ya, kenapa?" tanyanya dengan wajah santai.
"Apa harganya tidak terlalu mahal?" Masih dalam keadaan berbisik, aku bertanya padanya. Aku syok melihat harga makanannya selangit. Jelas aku takkan mampu membayarnya.
Lagi-lagi senyuman manisnya dipamerkannya padaku. "Kau tak perlu panik. Pesan saja apa yang kau mau. Tak perlu memikirkan soal harga, oke?" Bagaimana aku tidak memikirkannya, batinku. Dengan sangat hati-hati aku memilih makanan yang hendak kusantap. Aku takkan memilih makanan yang mahal-mahal karena aku tak ingin merepotkannya.
Aku dan David memang harus menunggu hingga masakan itu selesai dimasak dan dihidangkan. "Terimakasih sudah mengajakku ke sini."
"Tidak perlu berterimakasih. Mmm... kau terlihat berbeda hari ini."
"Berbeda bagaimana?" Jantungku mulai berdegup lebih kencang dari biasanya. Berharap ia tak mengetahuinya.
"Kau terlihat lebih cantik dan anggun. Aku suka melihatmu yang seperti ini juga seperti biasanya."
"Terimakasih," ucapku grogi.
"Kau sendirian di rumah?"
"Iya, ayahku belum pulang tadi."
"Jadi kau tidak pamit pada ayahmu?"
"Sudah, aku sudah pamit hari sebelumnya."
"Syukurlah. Kalau kau belum pamit, aku bingung bagaimana aku harus menghadap ayahmu dan menjelaskan tentang hari ini." Aku tertawa kecil. "Oh ya..." David membetulkan posisi duduknya. Kedua tangannya menggenggam tangan kananku secara tiba-tiba. Herannya, aku malah membiarkannya. "Aku..." Kelihatannya ia bingung untuk berkata-kata. Raut wajahnya juga sempat memerah sesaat. Tapi berubah menjadi tegas kembali setelah beberapa detik. "Ada satu hal yang ingin kutanyakan."
Kedua alis mataku saling bertautan keheranan. "Apa?"
"Maukah kamu menjadi pacarku?" Suaranya begitu tegas dan jelas. Wajahku merona mendengar 'penembakkan' yang dilakukannya.
Semakin ruwet saja pikiranku. Aku tak bisa memutuskannya sekarang. "Aku tak bisa menjawabnya sekarang," kataku lirih.
"Iya, aku mengerti kok. Aku akan memberimu waktu untuk menjawab dan takkan memaksamu." David membuatku merasa lebih damai dengan senyumannya. Oh Tuhan, it's complicated!!!!
Hampir satu minggu berlalu dan aku belum juga menemukan jawabannya. Jujur, aku bingung jawaban apa yang harus kuberikan. Ini kenyataannya, dari lubuk hatiku yang paling dalam aku memiliki rasa khusus terhadap Davin dan hingga saat ini aku belum bisa menyingkirkannya dari hatiku. Tapi David itu kakaknya. Semestinya sifatnya tidak beda jauh dengan sang adik. Sungguh, aku tak mengerti apa yang harus kulakukan saat ini.
"Renata..." Seseorang memanggil namaku. Ia Davin. Lamunanku hancur berantakan. "Kau melamun?" lanjutnya.
"Nggg... tidak kok. Aku hanya..."
"Jangan melamun terus. Pekerjaan masih banyak lho."
"Iya, iya." Kucoba untuk tersenyum padanya. Tidak tahukah ia, sebagai seorang adik, tentang rencana kakaknya ini, hatiku bertanya-tanya.
Saat ini David tidak ada di kafetaria ini. Ia sibuk mengurus sesuatu yang penting, begitu kata Davin menjelaskan saat aku menanyakan keberadaannya. Hanya aku dan Davin yang mengurus kafetaria ini untuk beberapa waktu ke depan. Aku enjoy, tapi ada kekuatiran di dalam hatiku. Apa itu, aku sendiri tak tahu-menahu. Sementara matahari sudah mulai menyelimuti dirinya di balik awan sore, aku masih harus membersihkan piring dan wadah lain yang kotor. Davin masih sibuk melayani beberapa pelanggan yang baru muncul sore ini. Kedua mataku sesekali memandanginya dari balik dapur. Tahukah ia tentang insiden 'penembakkan' yang dilakukan David, kakaknya, terhadapku? Lantas apa reaksinya? Apa ia sebegitu cueknya terhadap situasi membingungkan seperti ini? Ah, aku yang terlalu bodoh memang. Jelas-jelas Davin tidak ada hati padaku. Aku saja yang terlalu gede rasa sampai mengharapkan ia mencemaskan insiden itu. Renata bodoh, makiku pada diriku sendiri.
TO BE CONTINUED...
gaunnya kereeeeenn!!!
BalasHapus