5/18/2009

It's Complicated Part 3


Tentu saja aku lebih bersemangat menjalani hari-hariku di tempatku bekerja sambilan. Ada Dave di sana. Aku sungguh beruntung bisa diterima di sini. Semoga saja hubunganku dengannya semakin dekat dan apa yang kuharapkan terkabul.
"Renata." Sesosok lelaki berkemeja lengan panjang memanggilku dari ambang pintu dapur. Aku tengah mencuci piring-piring yang kotor di sana. "Ada pengunjung datang. Layanilah. Biar piring-piring itu aku yang cuci." Senyumku mengembang.
Segera kulangkahkan kakiku untuk menyambut kedatangan pelanggan yang masih ragu untuk masuk sebenarnya. "Selamat datang," sambutku dengan penuh riang. Hatiku sedang bahagia. Melihat senyumku yang ramah, mungkin pelanggan tersebut mulai hilang keraguannya dan dengan langkah yang mantap, pelanggan itu masuk ke dalam kafetaria ini. "Silakan duduk." Kupersilakannya duduk. Buku menu bersampul warna-warni kusodorkan di atas meja.
"Apa menu spesial hari ini?" tanyanya menembakku.
"Eum... hari ini ada
hot rainbow choco sauce, lalu ada juga yoghurt almond cake. Lalu..."
Belum selesai aku menyebutkan menu spesial hari ini, pelanggan itu langsung menjawab, "Aku pesan yang itu."
"
Yoghurt almond cake?" Kembali kupastikan.
"Ya, ya. Lalu untuk minumnya..." Ia membaca buku menu kembali.
Kucatat satu pesanan makanannya.
Yoghurt almond cake adalah kue cokelat pekat yang ditaburi banyak kacang almond di atas permukaannya. Dan yoghurt digunakan untuk menghilangkan rasa eneg karena manisnya cokelat dari kue tersebut. Penataannya adalah dengan menuangkan saus yoghurt ke atas kue tersebut hingga wujud kue tersebut tenggelam. Dan biasanya dalam penyajiannya, ada daun mint yang senantiasa menghias permukaan kue yang tenggelam di dalam saus yoghurt.
"
Milk mint shake? Apa itu?"
"
Milk mint shake itu seperti milk shake biasa, tapi ada dibubuhi daun mint yang sudah ditumbuk halus. Jadi, rasa minuman itu terasa unik."
"Ya, baiklah, aku pesan itu." Pelanggan yang satu ini sepertinya suka sekali dengan minuman yang mengandung
mint.
"Saya ulangi ya. Satu
yoghurt almond cake dan satu milk mint shake. Ada tambahan?"
"Tidak, itu saja."
"Baik, kalau begitu, ditunggu sebentar ya." Kutarik senyumku sebelum aku melangkah meninggalkan pelanggan tersebut.
Begitu aku kembali ke dapur untuk mempersiapkan pesanannya, acungan jempol dari kakak Dave yang pertama kali tampak dalam penglihatanku. "Kau sungguh luar biasa. Pelanggan itu pasti suka dengan pelayananmu," katanya memuji. Aku hanya bisa tersipu malu. Sementara Dave, kulihat ia begitu sibuk mengurusi rombongan pelanggan yang sepertinya sedang berlibur kemari.
Hari ini waktu terasa begitu cepat. Rasa-rasanya tadi aku baru saja mengawali hariku bekerja. Tapi sekarang sudah jam tujuh malam. Aku segera mengganti seragam kerjaku dengan seragam sekolahku seperti semula. Harus buru-buru pulang, itu pikirku. Pasti ayahku sudah menungguku di rumah. Sudah makankah ia, tanyaku pada diriku sendiri. Bodoh, tentu saja tak ada yang menjawabnya.
"Renata," panggil David untuk yang ke dua kalinya hari ini. Aku menoleh untuk menatapnya. "Kau sudah mau pulang?"
"Hmm, ya. Ada apa?" Tentu saja aku harus mengutamakan pekerjaanku kalau memang masih ada kerjaan di sini.
"Hanya ingin memberimu oleh-oleh. Ini untukmu. Anggap saja hadiah karena kau begitu bersemangat hari ini."
"Untukku?" Aku tertawa kecil. "Tapi..."
"Sudahlah, tak apa. Oh ya, biar Davin yang mengantarmu pulang ya. Ini sudah malam. Tidak baik kalau seorang perempuan pulang sendiri malam-malam. Lagipula sepertinya Davin mengkhawatirkanmu. Dia sudah menunggumu di depan."
Siapa yang akan menolak untuk pulang bersamanya? Aku takkan pastinya. Sambil meransel tas sekolahku, aku melangkah keluar dari kafetaria tersebut. "Sudah?" Dave bertanya padaku.
"Apanya yang sudah?" Jelas saja aku keheranan.
"Sudah siap kuantar atau belum?"
"Tidak merepotkan?"
"Tentu saja tidak. Lagipula ini sudah malam. Bahaya kalau kau pulang sendirian."
Jawaban yang sama dengan kakaknya. Apa mereka begitu sehati ya, gumamku penasaran. Aku naik dan duduk di atas jok belakang motor. Ia menyuruhku pegangan agar aku tidak terjatuh. Tangan kiriku hanya menggenggam kuat pegangan yang ada di belakang jok motor. Sepanjang jalan menuju rumahku, jantungku berdegup tak keruan. Jelas saja, baru kali ini ia mengantarku pulang.
"Di mana rumahmu?" Dave bertanya.
"Lurus saja terus," jawabku singkat. Aku tak bisa menjawab dengan jawaban yang panjang-panjang karena nafasku ikut terengah-engah akibat degupan jantung yang semakin lama semakin cepat saja. Rasanya aku semakin menyukai sosok Dave yang menurutku unik.

Hari-hariku semakin indah karena aku dan Dave semakin lama juga semakin dekat. Kami sering mengobrol ketika di sekolah, sering saling menyapa, bahkan ia tak lagi melupakanku. Inikah tanda khusus, alias sinyal darinya? Kuharap demikian. Tapi adakah sosok perempuan yang sedang ditaksirnya? Sesaat pertanyaan itu muncul di benakku. Aku ingin berharap, tapi terlalu berharap bisa menyebabkan kekecewaan. Tidak mungkin aku menanyakan padanya. Apa jadinya kalau kutanyakan dirinya mengenai hal-hal yang privasi? Bisa-bisa ia salah sangka dan mengetahui perasaanku padanya. Oh, no! Lebih baik kupendam itu seorang diri. Sebisa mungkin, aku takkan memberitahukannya soal perasaan ini. Bisa saja perasaan ini semakin lama semakin lenyap dan ia hanya kuanggap sebagai teman untuk selanjutnya.
"Aku ingin minta pendapat darimu." Dave mengeluarkan secarik kertas yang ada dalam sakunya. Kertas itu dilipat-lipat hingga muat berada di dalam saku kemejanya. "Bagaimana menurutmu?" Kulihat sebuah sketsa gambar sebuah kue yang cukup unik dan menggiurkan.
Kedua alis mataku saling bertautan, keheranan. "Apa ini?" tanyaku bodoh.
"Itu
cupcake. Tapi kubuat sedemikian unik agar menarik perhatian. Tak cuma itu, aku juga menambahkan beberapa topping di atasnya. Dan tentu topping yang kubuat berbeda jauh dari topping lain yang sudah pernah ada." Dengan wajah serius Dave menjelaskan gagasannya padaku. "Bagaimana menurutmu, ada sesuatu yang perlu kutambah untuk membuat orang tertarik?" lanjutnya.
Otakku kembali berpikir. Tentu saja aku tak ingin asal menjawab. "Apa tidak terlalu ramai?" Kulontarkan pertanyaan.
"Maksudmu?"
Mulai kujelaskan maksud pertanyaan itu. Aku juga ingin mengeluarkan gagasanku yang tepat. Rasanya aku merasa dihargai olehnya dengan dimintai pendapat seperti ini. Tuhan, betulkah rasa suka ini telah berkembang menjadi rasa sayang yang dalam padanya? Pasalnya, aku tak bisa berhenti berharap untuk ia memiliki rasa yang sama terhadapku. Gawat, aku mulai egois. Inikah rasa sayang itu, egois? Kalau memang ya, aku ingin menikmatinya, tapi tak untuk seterusnya. Aku hanya ingin menikmatinya beberapa saat saja. Karena kalau sampai rasa egois ini terus ada dalam hatiku dan aku terus berharap untuk bisa memilikinya, aku takkan bisa melupakannya seumur hidupku. Dan buruknya, aku akan terus mengejar-ngejarnya. Oh tidak, aku takkan mau dianggap perempuan rendah yang mengejar-ngejar Dave seperti itu. Aku masih punya harga diri!!
"Terimakasih untuk gagasanmu. Idemu betul-betul cemerlang dan sekarang aku tahu apa yang harus aku lakukan dengan kue baru ini. Kau mau membantuku 'kan?" tanyanya sambil tersenyum. Tentu saja aku mau, jawabku dalam hati yang kemudian kujawab dengan sebuah anggukkan kepala. Demi orang yang kusayangi, batinku.

Diawali dengan gerimis, hari ini berlanjut dengan hujan lebat. Lagi-lagi hanya aku dan Dave yang masih tertinggal di sekolah. Beruntungnya mereka yang pulang dengan jemputan atau yang dijemput oleh supir pribadi. Ah, aku jadi iri. Aku berdiri menunggu hujan reda di koridor bawah sekolah. Hujan bukannya semakin reda malah semakin menjadi. Bagaimana cara kami ke kafetaria? Dave bilang, kakaknya tak bisa menjemputnya karena kafetaria sedang ramai. Wah, aku semakin cemas dengan keadaan di sana. Tak mungkin juga kami nekat ke kafetaria hujan-hujanan. Bisa-bisa David marah pada adik laki-laki satu-satunya ini.
Dave melangkah mendekatiku dan berdiri tepat di sebelah kiriku. Dekat sekali, bahkan mungkin tanganku dan tangannya bisa saja saling bersentuhan. Tapi kuputuskan untuk bersikap biasa saja. Tentu saja itu sulit. Keadaan hari ini membuatku meledak-ledak. Bahaya, jeritku was-was. "Bagaimana cara kita ke kafetaria kalau hujannya tidak juga berhenti?" tutur Dave entah pada siapa.
Aku menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya. "Entahlah, aku juga tak mengerti. Mungkin hujan baru akan berhenti nanti sore menjelang malam."
"Kau tahu dari mana?"
"Hanya menerka," jawabku sambil terus berdiri tegap dan menatap hujan yang turun membasahi aspal.
"Ah, aku benci hujan," ujarnya mendadak.
Otomatis, aku menoleh. "Kenapa?"
"Entahlah, hujan itu sepertinya mengingatkanku pada sesuatu yang tidak baik. Tapi itu hanya perasaanku saja mungkin."
"Aku suka hujan."
Dave meniru gayaku, ia menoleh. "Kenapa?" Pertanyaan yang sama diajukannya dengan nada bicara yang berbeda.
"Entahlah, mungkin karena... berkat hujan, kita bisa mengobrol seperti ini sambil menunggu hujan reda."
Aku sudah tahu bagaimana reaksi Dave mendengarkan jawabanku. Diam.
Mulutku tak terkendali karena hatiku memang sedang tidak bisa diajak kompromi. "Waktu itu juga hujan dan berkat hujan, aku bisa berkenalan lagi denganmu."
"Apa maksudnya?"
"Kau mau tahu maksudku? Maksudnya adalah sudah sejak lama aku menyukaimu. Tidak sadarkah bahwa aku selalu mengamatimu dari sudut kantin sekolah?"
"Kau?" Tatapannya heran.
"Mungkin terdengar aneh kalau aku mengungkapkannya seperti ini, tapi aku tak mampu menutupi fakta."
Dave tertawa geli. Mungkin karena mendengar pernyataanku yang dianggapnya sebagai sebuah kekonyolan belaka. "Kau pasti sedang bercanda."
"Sayangnya, aku tidak sedang bergurau denganmu."
Ia diam mendengar responku. Tatapan matanya lurus ke depan, memperhatikan bagiamana air hujan jatuh ke atas aspal dan membanjirinya. "Aku... sedang menyukai seseorang, tapi aku ragu tentang perasaan itu. Jadi..."
"Ya, aku sudah tahu apa lanjutkan kalimatmu. Lupakan apa yang tadi kulontarkan, anggap saja aku tak pernah bilang seperti itu." Kutarik paksa senyum manisku. "Terimakasih sudah mendengarkanku," lanjutku. "Oh ya, sepertinya hari ini aku tak bisa ke kafetaria. Hujan ini takkan reda, menurutku. Jadi, sebaiknya aku nekat pulang saja. Sampai bertemu besok. Maaf karena aku tak bisa ke sana hari ini. Salam untuk kakakmu." Aku pamit tanpa mendengar kata-kata dari Dave lagi. Hujan hari ini memang menyakitkan bagiku. Tiap tetesan yang jatuh ke atas tubuhku membuatku perih, termasuk hatiku hari ini. Memalukan, makiku pada diriku sendiri.

1 komentar: