5/16/2009

It's Complicated Part 1


Sssstttt...aku jatuh cinta pada seseorang. Tiap hari kuamati dirinya di sekolah dari kejauhan. Setiap kali orang itu berada di kantin, diam-diam aku mengawasi gerak-geriknya di sudut kantin sekolah. Dengan pura-pura membaca buku atau melahap makanan di pojok ruangan, kedua mataku terus memperhatikannya. Ia adalah sesosok laki-laki yang berbadan tinggi tegap. Rambutnya hitam pekat dan lurus. Hidungnya sedikit mancung, matanya tidak terlalu sipit dan tidak terlalu belo, alis matanya cukup lebat, dan bibirnya seksi. Sejak beberapa minggu yang lalu, aku terus mengamatinya, tapi aku tak berani mendekatinya. Pertama kali aku dan ia bertemu saat ia tak sengaja menabrakku dari belakang hingga aku tersungkur di lantai koridor sekolah. Dan ia meminta maaf padaku sambil menanyakan namaku. Setelah itu, bubar. Kami berdua tak lagi saling menyapa atau setidaknya tersenyum.
Saat ini laki-laki itu sedang bersama teman-temannya menikmati sarapan pagi di kantin sekolah. Nasi uduk Mang Asep memang sarapan pagi yang benar-benar sempurna. Harganya murah dan rasanya enak. Membuat kenyang pula. Sementara aku di kantin sekolah hanya terduduk di pojokkan mengawasi dirinya sambil meneguk segelas teh manis hangat. Sesekali aku mengaduk-aduk minumanku, hanya iseng belaka. Sembari aku mengamatinya, otakku ikut berpikir, berandai-andai. Aku tahu ini tak baik, tapi memang seperti itulah otakku. Saat aku termenung ataupun terdiam, ia beraktivitas dengan penuh semangat dan enerjik.
Namanya Davin. Biasanya teman-temannya memanggilnya dengan nama Dave. Setidaknya, itulah yang aku curi-curi dengar dari orang-orang yang selalu berada di sekelilingnya. Sadarkah ia bahwa aku terus mengamatinya sejak beberapa minggu yang lalu? Saat aku bertanya demikian dalam hatiku pada diriku sendiri, secara spontan kualihkan pandanganku pada minumanku yang sudah tinggal separuh gelas karena Dave menoleh ke arahku. Semoga ia tidak menyadarinya, harapku cemas. Perasaanku berkata bahwa ia sedang melangkah mendekati mejaku. Dan ternyata dugaanku benar. Gee, aku grogi.
"Bangkunya kosong?" Ups, Dave pasti mau menemaniku ngobrol karena ia tahu aku seorang diri sejak tadi. Ya ampun, betapa beruntungnya aku, jeritku kegirangan dalam hati. Kuanggukkan kepalaku perlahan. Mataku tak berani beradu dengan kedua matanya. Masihkah ia mengenaliku, tanyaku bodoh. "Kalo begitu, boleh dibawa ke sana ya. Kebetulan, aku butuh bangku." Gubrak!! Sial, aku terlalu pe-de. Kupaksa untuk tersenyum dan kembali kuanggukkan kepalaku. Memang tidak mungkin ia mau menemaniku. Secara, ia tak mengenaliku. Jadi, sekarang apa yang harus kulakukan? Jawabannya adalah terus mengintai.

Hari ini pulang lebih awal dari biasanya. Kabarnya sih, karena hari ini ada rapat guru. Beruntung bagiku. Aku punya rencana yang lebih sempurna dibandingkan pulang ke rumah. Dengan berpura-pura melangkah pulang, aku berjalan tepat di belakangnya. Ia pulang seorang diri dengan berjalan kaki. Dan dari kejauhan, aku mengawasinya. Kira-kira seperti apa rumahnya ya, aku terus bertanya-tanya sepanjang perjalanan. Kubayangkan rumah bak istanalah yang ia miliki. Semua yang ia butuhkan tersedia dan semuanya boleh ia gunakan. Wah, sungguh luar biasa. Tapi aku terkejut saat melihat Dave berhenti di sebuah kafetaria yang ada di tepi jalan. Tempat itu memiliki arsitektur yang indah dan menawan. Romantis, itu penilaian paling pertama dariku. Dave masuk ke sana dan mengobrol dengan salah seorang waiter yang tengah melayani salah seorang pelanggannya dengan penuh senyum. Aku melangkah masuk dengan langkah ragu-ragu ketika Dave sudah entah berada di mana. Tempat yang menjadi sasaranku adalah sudut ruangan kafetaria tersebut.
"Selamat datang!" Itulah kata sambutan yang dilontarkan pada waiter yang baru saja kulihat tadi. Dan seseorang datang mendekatiku. Wajahnya samar-samar, belum bisa kulihat jelas itu siapa. Ia semakin mendekat, mendekat, dan... "Silakan dilihat buku menunya." Aku nyaris melompat dari tempat dudukku. Itu Dave, Davin yang selama ini kuamati, jeritku histeris dalam hati tentunya.
Kuusahakan untuk tetap tenang sambil menerima buku menu yang disodorkannya tadi. Halaman demi halaman kubuka dan kuperhatikan. "Eum... aku pesan ini saja." Telunjukku menunjuk pada salah satu gambar yang tertera pada buku menu.
"Oh, itu namanya Rainbow Cheese Cake."
"Ya, aku pesan itu."
"Lalu untuk minumnya?" Dave kembali bertanya. Tidak kenalkah ia padaku?
"Cold Frappe," jawabku singkat. Hatiku tersiksa begitu membayangkan ia tidak lagi mengenalku. Memang sih, kami hanya pernah bertemu dan berkenalan satu kali. Tapi semestinya ia masih mengingatku setidaknya.
"Oke, pesanannya ditunggu ya." Dave segera berlalu dan masuk ke dalam ruangan yang hanya boleh dimasuki oleh orang-orang tertentu. Orang-orang yang berkepentingan tentunya. Seemntara aku menunggu, aku hanya termenung sambil berpangku tangan. Ia benar-benar tak mengenaliku. Mungkin memang harus kulupakan ya, batinku putus asa. Kuacungkan jempol pada pelayanan kafetaria ini. Selain ramah, penyajiannya juga cepat dan higienis. Bukannya promosi, tapi aku memang puas dengan pelayanannya. "Silakan dinikmati." Setelah itu, ia kembali bekerja di dapur. Huh, aku tak bisa mengawasinya lagi dari kejauhan karena jarak antara tempat dudukku dengan dapur cukup jauh. Dan lagi ruang dapur itu tertutup. Aku hanya bisa menghela nafas.
Kakiku melangkah lesu menuju rumahku. Hari ini rasanya aku lelah sekali. Sia-sia dan percuma, itu yang kurasakan saat aku tiba di dalam kamarku. Kuhempaskan tubuhku yang letih ke atas ranjang. Kupejamkan kedua mataku sambil terus berpikir. Enam menit aku berposisi seperti itu dan akhirnya aku segera bangkit. "Cukup! Aku tak boleh terlalu memikirkannya. Memang dia bukan untukku." Kutegaskan pada diriku sendiri. Geli aku melihat sikapku yang terpantul di cermin. Hampir tertawa, tapi aku kembali menegaskan diriku.

Seperti biasa, aku datang ke sekolah, belajar, istirahat, kembali masuk ke kelas untuk melanjutkan pelajaran, istirahat lagi, kembali masuk lagi, dan akhirnya pulang. Hufff... melelahkan sekali hari-hariku di sekolah. Rutinitas itu membosankan. Bedanya, hari ini aku tidak begitu semangat melangkah pulang. Hujan pula. Aku tak mungkin pulang hujan-hujanan. Bisa-bisa orang rumah mengomeliku begitu aku sampai. Terpaksa aku menunggu hujan reda di koridor sekolah yang sepi. Satu per satu mulai dijemput dengan mobil dan akhirnya pulang. Tinggal aku sendiri di sekolah, begitu pikirku.
"Kau juga menunggu hujan reda?" tanya seseorang yang berdiri di belakangku. Kutolehkan kepalaku dan mata kepalaku sendiri melihat sosok Dave berdiri sambil kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celananya. Tampannya, pujiku dalam hati berbunga-bunga.
Ups, tapi aku harus melupakannya. "Ya, begitulah," jawabku sepentingnya saja. Toh, ia takkan mengingatku. Bahkan, namapun mungkin ia takkan ingat.
"Hari ini kau juga ingin ke 'Flavia Cafe'?" Itu nama kafetaria yang kemarin kukunjungi. Oh Tuhan, ia ingat padaku? "Kau yang kemarin ke kafetaria itu, bukan?" Kuanggukkan pelan kepalaku. Ragu. "Maaf, siapa namamu? Aku lupa."
Antara kecewa dan senang, akupun menjawab, "Namaku Renata." Hatiku mulai berbunga-bunga kembali. Bunga-bunga yang tertanam dalam tanah hatiku mulai bermekaran.
"Oh, aku Davin. Biasa orang memanggilku Dave." Ia memperkenalkan dirinya lagi. "Hari ini kau ingin ke kafetaria lagi?" tanyanya.
"Entahlah, aku tak tahu."
"Kalau kau memang ingin ke sana, kita pergi bersama."
"Hujan-hujan begini?" Kedua alis mataku bertautan.
"Tentu tidak. Aku sudah menyuruh kakakku menjemputku. Bagaimana?"
"Kurasa, tidak usah. Aku tak ingin merepotkan siapapun."
"Takkan merepotkan siapa-siapa. Sekalian mencicipi kue baru buatan kakakku." Aku hanya termenung, berpikir. "Kutraktir," lanjutnya. Aku memang terlalu lama berpikir sampai-sampai jemputan Dave telah tiba. Ia menarik tanganku tanpa mendengar jawaban dariku. Aku benar-benar dibawa ke kafetaria itu lagi. Kenapa ini semua bisa terjadi? Padahal aku ingin melupakannya dan ingin memulai hari-hariku tanpa harus mengikuti jejaknya lagi. Tapi mengapa seakan nasib mempermainkan perasaanku? "Duduklah, biar kuambilkan kue yang kumaksud tadi." Aku terduduk di tempat duduk yang sama dengan yang kemarin dan menunggu Dave kembali dengan kue yang ia maksud. "Silakan dinikmati," ujarnya sambil menghidangkannya. "Aku harus kembali bekerja. Jadi, aku tak bisa menemanimu. Maaf ya." Dave segera melayani para pelanggan yang mulai berdatangan. Hari ini sepertinya lebih ramai dari biasanya. Kulihat, Dave dan kakaknya kerepotan dalam menangani para pelanggan yang datang dalam jumlah yang banyak.
Aku ingin membantunya, tapi bagaimana? Otakku kembali berpikir sambil terus melihat Dave dan kakaknya sibuk berlalu-lalang di hadapanku. Aku tahu, jeritku dalam hati. Aku akan membantu mereka berdua.


TO BE CONTINUED...

1 komentar:

  1. bagus fel:)
    link blog gw dums... niknoksyalala.blogspot.com
    ntr punya lo gw link balik. tx

    BalasHapus